Sholat Subuh dalam Pandangan Tarjih Muhammadiyah: Ibadah yang Sarat Makna Doa

Stylesphere – Sholat dalam Islam bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan bentuk ibadah yang mengandung doa dalam setiap gerak dan bacaannya. Menurut pandangan Tarjih Muhammadiyah, sholat — termasuk sholat Subuh — adalah ibadah yang tersusun dari rangkaian perkataan dan perbuatan, dimulai dengan takbiratul ihram dan ditutup dengan salam.

Melansir Suara Muhammadiyah, Tarjih Muhammadiyah menekankan bahwa hakikat sholat adalah doa itu sendiri. Oleh karena itu, tidak ada satu bentuk doa tertentu yang dikhususkan secara mutlak dalam sholat Subuh. Bacaan dalam sholat, termasuk doa-doanya, dipahami sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Berikut Anugerahslot ulas lengkapnya, Minggu (6/7/2025).tulis ulang artikel:

Pendekatan Muhammadiyah: Berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis

Dalam praktiknya, sholat Subuh ala Muhammadiyah lebih menekankan pada pemurnian ajaran sesuai dengan pemahaman terhadap dalil-dalil syar’i. Doa dan bacaan yang digunakan dalam sholat merupakan hasil ijtihad terhadap tuntunan Al-Qur’an dan Hadits yang sahih.

Bagi Muhammadiyah, setiap bagian dari sholat merupakan bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Dengan pendekatan seperti ini, keikhlasan, pemahaman makna, dan kesadaran dalam berdoa menjadi lebih utama daripada hanya terpaku pada bentuk bacaan tertentu.

Kesimpulan

Sholat dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah bukan hanya ritual formal, tetapi perwujudan doa dan penghambaan secara utuh kepada Allah SWT. Terutama dalam sholat Subuh, pemaknaan terhadap isi doa lebih ditekankan daripada kekakuan pada format tertentu. Inilah yang menjadikan pendekatan Muhammadiyah kaya akan nilai spiritual sekaligus berpijak pada sumber-sumber Islam yang autentik.

Bacaan Doa dalam Sholat Subuh Sesuai Tarjih Muhammadiyah

Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, pelaksanaan sholat didasarkan pada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits sahih. Bacaan-bacaan dalam setiap gerakan sholat merupakan bagian tak terpisahkan dari ibadah yang mengandung doa dan makna mendalam. Melansir umj.ac.id, berikut beberapa bacaan doa dalam sholat Subuh sesuai dengan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah:

1. Doa I’tidal

Saat bangkit dari rukuk (i’tidal), dianjurkan membaca:

  • سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
    Sami’allahu liman hamidah
    Artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya.”
  • رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
    Rabbanaa wa lakal hamd
    Artinya: “Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.”

Atau dengan bacaan yang lebih panjang:

  • سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
    Sami’allahu liman hamidah. Allahumma rabbanaa lakal hamdu mil’us samaawaati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai’in ba’du
    Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit, bumi, dan semua yang Engkau kehendaki setelah itu.”

Atau bacaan lain yang dianjurkan:

  • سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
    Sami’allahu liman hamidah. Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih
    Artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, sebanyak-banyaknya, baik dan penuh keberkahan.”

2. Doa Sujud

Beberapa bacaan sujud dalam Tarjih Muhammadiyah antara lain:

  • سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
    Subhaanaka Allahumma rabbanaa wa bihamdika, Allahummaghfirlii
    Artinya: “Maha Suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan dengan pujian kepada-Mu, aku mohon ampun.”

Atau doa yang lebih ringkas:

  • سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى
    Subhaana rabbiyal a’laa
    Artinya: “Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi.”

Atau doa tambahan lainnya:

  • سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
    Subbuuhun qudduusun, rabbul malaaikati war ruuh
    Artinya: “Maha Suci, Maha Kudus, Tuhan para malaikat dan ruh (Jibril).”

3. Doa Tasyahud Akhir

Bacaan tasyahud akhir sesuai Tarjih Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

اَلتَّحِيَّاتُ لِلّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Attahiyyaatu lillaahi washsholawaatu waththayyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin. Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Artinya:
“Segala kehormatan, sholat, dan kebajikan adalah milik Allah. Keselamatan atasmu, wahai Nabi, beserta rahmat dan keberkahan Allah. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

4. Shalawat dan Doa Perlindungan

Shalawat Ibrahimiyah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiima wa ‘alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidun majiid.

Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan sholawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Limpahkan pula keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau berkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya.”

5. Doa Perlindungan

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Allahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannam, wa min ‘adzaabil qabr, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnatil masiihid-dajjaal.

Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah Dajjal.”

Pandangan Muhammadiyah tentang Qunut dalam Sholat Subuh

Perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan doa qunut dalam sholat Subuh sering menjadi perhatian di tengah umat Islam. Salah satu pandangan yang berbeda datang dari Muhammadiyah, yang melalui Majelis Tarjih dan Tajdid memiliki pendirian tersendiri mengenai praktik qunut.

Menurut penjelasan Syamsul Anwar sebagaimana dilansir dari muhammadiyah.or.id, hadis-hadis yang menyebut Nabi Muhammad SAW membaca qunut Subuh secara terus-menerus hingga wafat dinilai dhaif (lemah). Bahkan sebagian di antaranya tidak hanya lemah secara sanad (rantai periwayatan), tetapi juga bertentangan dengan hadis sahih yang lebih kuat.

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah membaca qunut hanya selama satu bulan, itupun dalam konteks musibah besar yang menimpa umat Islam (qunut nazilah). Setelah itu, beliau meninggalkannya dan tidak kembali melakukannya secara rutin. Atas dasar inilah Muhammadiyah berpendapat bahwa qunut tidak dilakukan dalam sholat Subuh secara tetap.

Pandangan ini selaras dengan prinsip purifikasi (tajdid) yang dianut Muhammadiyah, yaitu mengembalikan ajaran Islam kepada Al-Qur’an dan hadis sahih. Maka dari itu, dalam tuntunan ibadahnya, Muhammadiyah tidak menganjurkan pembacaan qunut pada sholat Subuh, kecuali jika dilakukan sebagai qunut nazilah, dalam kondisi darurat seperti bencana, peperangan, atau musibah besar lainnya.

Meskipun demikian, perbedaan praktik ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan di tengah umat Islam. Dalam khazanah keilmuan Islam, perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah dan diakui. Oleh karena itu, setiap Muslim diharapkan dapat saling menghormati perbedaan tersebut dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

Doa untuk Perempuan yang Sedang Sakit, Wujud Empati dan Ibadah Penuh Makna

Stylesphere – Sakit merupakan bagian dari ujian hidup yang hampir pasti dialami oleh setiap manusia. Dalam ajaran Islam, sakit tidak hanya dipandang sebagai gangguan fisik semata, tetapi juga sebagai pengingat dari Allah SWT agar manusia kembali merenungi keterbatasannya dan memperkuat ketergantungannya kepada Sang Pencipta.

Ketika seseorang yang kita kenal, terutama seorang perempuan, tengah diuji dengan sakit, maka mendoakannya adalah bentuk empati yang sangat dianjurkan. Selain sebagai ungkapan kasih sayang dan kepedulian, doa juga menjadi media spiritual untuk memohonkan kesembuhan dari Allah SWT.

Anjuran Mendoakan Orang Sakit dalam Islam

Mendoakan orang sakit merupakan amalan mulia yang memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Dalam hadis riwayat Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa mendoakan orang sakit termasuk salah satu dari lima hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Hak-hak tersebut mencakup:

  1. Menjawab salam
  2. Memenuhi undangan
  3. Mengiringi jenazah
  4. Mendoakan orang yang bersin
  5. Menjenguk dan mendoakan orang sakit

Dalam buku Fiqih Ibadah bagi Orang Sakit dan Bepergian karya Enang Hidayat, dijelaskan bahwa menjenguk dan mendoakan orang sakit merupakan amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, karena dapat menguatkan hubungan antarsesama dan menjadi sarana memperbanyak doa-doa yang mustajab.

Doa: Pengakuan Hamba kepada Sang Penyembuh

Berdoa bagi orang yang sedang sakit sejatinya merupakan pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan. Doa bukan sekadar ucapan, tetapi juga bentuk ibadah yang penuh makna dan ketulusan.

Mendoakan perempuan yang sedang sakit, baik itu keluarga, teman, maupun tetangga, menjadi wujud kepedulian dan cinta dalam Islam. Lebih dari itu, doa tersebut menjadi pengantar harapan agar Allah meringankan penderitaannya dan mengembalikan kesehatannya.

Berikut adalah kumpulan doa untuk perempuan yang sedang sakit, sebagaimana dirangkum oleh Anugerahslot, Sabtu (5/7/2025).

Doa untuk Perempuan yang Sedang Sakit Beserta Amalan agar Cepat Sembuh

Sakit bukan sekadar kondisi fisik, tapi juga ujian iman dan keteguhan hati. Dalam ajaran Islam, ketika seseorang—terutama perempuan—sedang sakit, kita dianjurkan untuk mendoakannya sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian sesama Muslim. Doa menjadi bukti bahwa kita percaya hanya Allah-lah yang mampu memberikan kesembuhan sejati.

Berikut ini beberapa doa untuk perempuan yang sedang sakit, mulai dari yang singkat hingga yang lengkap, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber.

1. Doa Singkat untuk Perempuan yang Sakit (Langsung Ditujukan)

اَللّٰهُ يَشْفِيْكِ
Syafakillah
Artinya: “Semoga Allah menyembuhkanmu.”

Doa ini diucapkan langsung kepada perempuan yang sedang sakit. Namun jika disebutkan kepada orang lain (pihak ketiga), bentuknya berubah:

  • Syafahallah – untuk satu perempuan yang sedang sakit, dibicarakan kepada orang lain.
  • Syafahunnallah – untuk lebih dari satu perempuan yang sakit.

2. Doa Lengkap untuk Kesembuhan

شَفَاكِ اللَّهُ لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Syafakillah laa ba’sa, thohurun insyaaAllah
Artinya: “Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu. Tidak mengapa, Insya Allah sakitmu ini menjadi penghapus dosa.”

Doa ini sering diucapkan sebagai bentuk penghiburan sekaligus harapan bahwa sakit yang dialami akan membawa kebaikan.

3. Doa Rasulullah SAW untuk Orang Sakit

Diriwayatkan dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, Rasulullah SAW sering membaca doa berikut saat menjenguk orang sakit:

اللَّهُمَّ رَبِّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allaahumma rabbannaas, adzhibil ba’sa, isyfii antasy-syaafii, laa syifaa’a illaa syifaa’uka, syifaa’an laa yughaadiru saqamaa
Artinya: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah dia. Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan selain dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun.”

4. Doa Tambahan Khusus untuk Perempuan

اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَتَكَ، يَا شَافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allahumma isyfii ‘abdataka, yaa Syaafii, laa syifaa-a illa syifaa-uka, syifaa-an laa yughaadiru saqamaa
Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba perempuan-Mu ini, wahai Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan selain dari-Mu. Kesembuhan yang sempurna, yang tidak menyisakan sakit sedikit pun.”

Amalan yang Dianjurkan Agar Cepat Sembuh

Selain doa, Islam juga menganjurkan beberapa amalan yang dapat dilakukan oleh orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses kesembuhan. Berikut di antaranya:

1. Ikhtiar dengan Pengobatan

Berobat adalah bentuk usaha dan tidak bertentangan dengan tawakal. Rasulullah SAW bersabda:

“Berobatlah, wahai hamba Allah, karena Allah tidak menciptakan suatu penyakit kecuali juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua.” (HR Ahmad)

Ikhtiar ini mencakup memeriksakan diri ke dokter, mengonsumsi obat, beristirahat cukup, dan menjaga pola makan yang sehat.

2. Memperbanyak Doa dan Dzikir

Doa adalah bentuk tawakal, dan dzikir menenangkan hati. Beberapa dzikir yang dianjurkan:

  • Istighfar – memohon ampun atas dosa-dosa.
  • Ya Shafi (يا شافي) – salah satu Asmaul Husna yang artinya Yang Maha Menyembuhkan.

3. Bersedekah

Sedekah diyakini sebagai salah satu wasilah kesembuhan. Rasulullah SAW bersabda:

“Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR Thabrani & Baihaqi)

Memberi kepada yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau anak yatim, menjadi sarana harapan agar Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya.

4. Bersabar dan Bertawakal

Kesabaran saat sakit adalah bentuk ibadah yang sangat bernilai. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi SAW berkata kepada seorang perempuan yang sakit:

“Jika kamu bersabar, kamu akan masuk surga. Tetapi jika kamu ingin, aku akan mendoakan kesembuhan untukmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Penutup

Mendoakan dan merawat perempuan yang sedang sakit tidak hanya bentuk kasih sayang, tapi juga ibadah yang dianjurkan oleh syariat. Doa-doa yang tulus, disertai usaha dan kesabaran, menjadi kombinasi terbaik dalam menjemput kesembuhan atas izin Allah SWT.

Sholat Dhuha: Niat dan Keutamaannya dalam Meraih Rezeki

Stylesphere – Sholat dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilaksanakan pada pagi hari hingga menjelang waktu zuhur. Ibadah ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya menjadi salah satu jalan untuk memperoleh rezeki serta pengampunan dari Allah SWT.

Sebelum melaksanakan sholat dhuha, penting bagi seorang Muslim untuk mengetahui dan mengucapkan niat dengan penuh kesungguhan. Niat tersebut menjadi penanda kesiapan hati dalam beribadah dan sekaligus membedakan jenis ibadah yang dilakukan.

Meskipun niat bisa diucapkan dengan kalimat yang singkat dan sederhana, ketulusan dalam hati adalah kunci utama. Dengan niat yang benar dan pemahaman yang baik, sholat dhuha 2 rakaat dapat dilakukan dengan mudah dan penuh kekhusyukan.

Bagi yang ingin mengamalkan sholat ini secara rutin, memahami bacaan niat sholat dhuha 2 rakaat menjadi hal yang penting. Sebab, hal ini tidak hanya menyangkut sah atau tidaknya ibadah, tetapi juga mencerminkan keseriusan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dirangkum Anugerahslot dari berbagai sumber, berikut niat sholat dhuha 2 rakaat yang dapat diamalkan, Jumat (4/7/2025).

Niat Sholat Dhuha 2 dan 4 Rakaat: Kunci Kesungguhan Ibadah Sunnah

Dalam buku The Power of Dhuha: Kunci Memaksimalkan Shalat Dhuha dengan Doa-doa Mustajab (2014) karya A’yunin, dijelaskan bahwa sholat dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha—yaitu saat matahari mulai meninggi hingga sebelum masuk waktu zuhur.

Sholat dhuha memiliki keutamaan besar, terutama sebagai amalan pembuka pintu rezeki dan penghapus dosa. Namun, sebagaimana ibadah lainnya, pelaksanaannya harus diawali dengan niat yang benar.

Pentingnya Niat dalam Sholat

Dalam setiap ibadah, niat adalah bagian yang sangat penting. Ia merupakan rukun sah sholat yang menunjukkan kesadaran dan kesungguhan hati seorang hamba dalam beribadah. Niat juga berfungsi membedakan antara satu jenis ibadah dengan yang lain.

Dalam praktiknya, niat tidak perlu diucapkan secara lisan, cukup dilafalkan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram—yaitu saat mengucapkan “Allahu Akbar” di awal sholat.

Lafal Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat

Bagi yang ingin mengerjakan sholat dhuha dua rakaat, berikut adalah lafal niatnya:

Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Ushalli sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa

Artinya:
“Aku niat sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Lafal Niat Sholat Dhuha 4 Rakaat

Sedangkan bagi yang ingin menunaikan empat rakaat, lafal niatnya menjadi:

Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Ushalli sunnatadh-dhuhaa arba’a raka’aatin lillaahi ta’aalaa

Artinya:
“Aku niat sholat sunnah Dhuha empat rakaat karena Allah Ta’ala.”

Jumlah Rakaat dan Tata Cara

Sholat dhuha dapat dikerjakan minimal dua rakaat dan maksimal delapan rakaat. Pelaksanaannya dilakukan dengan dua rakaat sekali salam, sebagaimana sholat sunnah lainnya.

Menghadirkan niat dengan benar sejak awal akan menyempurnakan ibadah yang dilakukan dan menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Konsistensi dan ketulusan dalam menunaikan sholat dhuha dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon keberkahan hidup.

Sholat Dhuha: Sunnah yang Dianjurkan Rasulullah dan Waktu Pelaksanaannya

Mengutip kajian dalam Jurnal Literasiologi Volume 11 Nomor 1, sholat dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Sholat ini termasuk amalan yang rutin dilakukan oleh Rasulullah SAW, dan beliau sangat menganjurkan umatnya untuk menunaikannya secara konsisten.

Sholat Dhuha Termasuk Sunnah Muakkad

Dilihat dari hukumnya, banyak ulama sepakat bahwa sholat dhuha termasuk dalam kategori sunnah muakkad—yaitu amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Status ini setara dengan sholat sunnah rawatib seperti qobliyah dan ba’diyah dalam sholat fardhu. Anjuran kuat ini berasal dari berbagai hadits shahih, salah satunya riwayat Abu Hurairah RA.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

“Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat sholat dhuha, dan sholat witir sebelum tidur.”
(HR Bukhari, No. 1178)

Hadits ini menjadi bukti bahwa sholat dhuha tidak hanya dianjurkan kepada Abu Hurairah, tetapi juga merupakan wasiat umum bagi seluruh umat Islam.

Waktu Pelaksanaan Sholat Dhuha

Sholat dhuha dikerjakan pada waktu pagi, dimulai setelah matahari terbit sempurna hingga menjelang masuknya waktu dzuhur. Secara umum, waktu pelaksanaannya berada di rentang:

  • Sekitar pukul 07.00 hingga 11.00 waktu setempat, tergantung posisi geografis.
  • Waktu terbaik untuk melaksanakan sholat dhuha adalah sekitar 15 hingga 45 menit setelah matahari terbit, yakni ketika matahari telah naik setinggi tombak. Pada saat ini, kondisi alam dianggap lebih tenang dan penuh keberkahan.

Waktu-Waktu yang Harus Dihindari

Agar ibadah lebih sah dan optimal, terdapat beberapa waktu yang perlu dihindari untuk sholat dhuha:

  1. Setelah sholat subuh hingga matahari terbit sempurna, yaitu sekitar 15 menit pertama setelah terbit. Ini adalah waktu larangan sholat karena matahari masih dalam posisi naik dari ufuk.
  2. Saat matahari berada tepat di atas kepala (zawal), biasanya sekitar 5–10 menit sebelum masuk waktu dzuhur.
  3. Menjelang waktu dzuhur, ketika waktu dhuha hampir habis dan sangat dekat dengan waktu sholat fardhu.

Dengan memahami batasan waktu ini, seorang Muslim dapat menunaikan sholat dhuha secara tepat dan mendapatkan keutamaan maksimal.

Kesimpulan

Sholat dhuha adalah amalan sunnah yang sarat keutamaan: membuka pintu rezeki, menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT, dan menjadi bagian dari wasiat Rasulullah SAW. Melaksanakannya secara rutin tidak hanya mendatangkan keberkahan di pagi hari, tetapi juga menunjukkan komitmen dalam mengikuti jejak Nabi.

Tata Cara Sholat Dhuha 2 Rakaat yang Benar

Sholat dhuha merupakan salah satu sholat sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) oleh Rasulullah SAW. Selain menjadi amalan pembuka pintu rezeki, sholat ini juga merupakan bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah setiap pagi. Pelaksanaannya cukup mudah dan secara umum serupa dengan sholat sunnah lainnya. Berikut adalah tata cara sholat dhuha 2 rakaat yang benar:

Langkah-langkah Sholat Dhuha 2 Rakaat

  1. Membaca niat dalam hati, sesuai jumlah rakaat yang akan dikerjakan, sambil memulai sholat: “Ushalli sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”
    Artinya: “Aku niat sholat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
  2. Takbiratul ihram, dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan.
  3. Membaca doa iftitah (sunah, boleh dibaca atau tidak).
  4. Membaca surat Al-Fatihah.
  5. Membaca surat pendek atau ayat Al-Qur’an. Disunnahkan:
    • Rakaat pertama: Surat Asy-Syams
    • Rakaat kedua: Surat Ad-Dhuha
  6. Rukuk, dengan membaca doa rukuk sambil membungkuk.
  7. I’tidal, berdiri kembali setelah rukuk, membaca doa i’tidal.
  8. Sujud pertama, membaca doa sujud.
  9. Duduk di antara dua sujud, membaca doa sesuai sunnah.
  10. Sujud kedua, kembali membaca doa sujud.
  11. Berdiri untuk rakaat kedua, ulangi langkah 4–10.
  12. Setelah sujud kedua di rakaat kedua, duduk tasyahud akhir, lalu membaca doa tasyahud.
  13. Mengakhiri sholat dengan salam, menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan:

“Assalamu’alaikum warahmatullah.”

Doa Setelah Sholat Dhuha

Setelah sholat selesai, dianjurkan membaca doa sebagai bentuk permohonan rezeki dan keberkahan. Salah satu doa yang populer dibaca setelah sholat dhuha berbunyi:

اللّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ، وَالبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
اللّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, dan perlindungan adalah perlindungan-Mu.
Ya Allah, jika rezekiku masih di langit, maka turunkanlah. Jika ada di bumi, keluarkanlah. Jika sulit, mudahkanlah. Jika haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah. Berkat dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepadaku sebagaimana Engkau melimpahkannya kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Keutamaan Sholat Dhuha dalam Pandangan Ulama dan Buku Tuntunan

Sholat dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam buku Tuntunan Praktis Shalat Dhuha karya Budiman Mustofa—sebagaimana dikutip dalam kajian yang dipublikasikan oleh situs IAIN Kediri—dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menjaga amalan ini. Beliau mendorong umatnya untuk melaksanakan sholat dhuha secara konsisten, agar memperoleh berbagai keutamaan yang tidak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga di akhirat.

Lebih lanjut, dalam Buku Pintar Shalat Lengkap yang juga dikutip dari sumber yang sama, dijelaskan bahwa sholat dhuha memiliki banyak keutamaan luar biasa bagi siapa saja yang mengerjakannya dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Beberapa di antaranya adalah:

  • Mendapat derajat yang mulia di sisi Allah SWT.
  • Termasuk golongan hamba yang taat dan dicintai Allah.
  • Pahalanya setara dengan ibadah umrah apabila dilaksanakan dengan niat yang lurus.
  • Dosa-dosa diampuni, bahkan meskipun sebanyak buih di lautan.
  • Pahalanya seperti orang yang ikut berperang lalu menang dengan cepat, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits.
  • Dilaksanakan di waktu mustajab, yaitu saat pagi hari penuh keberkahan.
  • Merespon panggilan Allah, sebagai bentuk ketaatan atas seruan ibadah.
  • Dijanjikan tempat khusus di surga bagi yang rajin mengamalkannya.
  • Menjadi sebab penghapus dosa, baik kecil maupun besar, sebagai bentuk rahmat Allah terhadap hamba-Nya.

Kesimpulan

Dengan begitu banyaknya keutamaan yang terkandung dalam sholat dhuha, tidak heran jika Rasulullah SAW menjadikannya sebagai amalan yang beliau wasiatkan kepada para sahabat, termasuk Abu Hurairah RA. Sholat dhuha bukan hanya ibadah sunnah, melainkan juga bentuk latihan spiritual yang mengasah kesyukuran, memperkuat ikatan dengan Allah, dan membuka pintu-pintu keberkahan dalam kehidupan.

Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Doa Akhir dan Awal Tahun Penuh Harapan

Stylesphere – Setiap pergantian tahun dalam kalender Hijriah membawa semangat baru bagi umat Islam. Salah satu bentuk kesiapan spiritual yang kerap dilakukan adalah membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun Hijriah. Amalan ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk refleksi diri dan harapan untuk perubahan hidup yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Kedua doa ini biasanya dibaca pada waktu transisi, yakni menjelang dan sesudah waktu Maghrib di malam 1 Muharam. Hal ini sesuai dengan sistem penanggalan Islam, di mana hari baru dimulai saat matahari terbenam. Karena itu, waktu Maghrib menjadi momen yang tepat untuk mengakhiri tahun dengan permohonan ampun, serta memulai tahun baru dengan doa dan harapan yang baik.

Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya memaknai waktu dan pergantian hari sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Umumnya, doa akhir tahun dan awal tahun dibaca masing-masing sebanyak tiga kali sebagai bentuk kesungguhan dalam memohon perlindungan, bimbingan, serta keberkahan dari Allah SWT.

Dengan mengamalkan doa-doa ini, diharapkan setiap Muslim di Anugerahslot dapat menyambut tahun baru Hijriah dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan tekad untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di bawah ridha dan anugerah Allah.

Doa Akhir Tahun Hijriah 1446 H: Momen Muhasabah dan Permohonan Ampunan

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H diperkirakan jatuh pada hari Jumat, 27 Juni 2025. Menyambut pergantian tahun Hijriah, umat Islam dianjurkan untuk melakukan muhasabah, yakni evaluasi diri atas segala amal dan perbuatan yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

Salah satu amalan yang dianjurkan menjelang tahun baru Islam adalah membaca doa akhir tahun Hijriah. Ulama seperti KH Soleh Darat dan Habib Utsman bin Yahya, tokoh besar di abad ke-19 hingga awal abad ke-20, menganjurkan umat Muslim untuk membaca doa ini sebanyak tiga kali sebelum waktu Maghrib pada hari terakhir bulan Dzulhijjah, yaitu Kamis, 26 Juni 2025.

Dalam karya Habib Utsman bin Yahya yang berjudul Maslakul Akhyar, beliau mencantumkan teks doa akhir tahun berikut:

Teks Arab Doa Akhir Tahun Hijriah

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ
بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ
فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ
رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Teks Latin

Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihi sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.

Artinya

“Tuhanku, aku memohon ampun atas semua perbuatanku di tahun ini yang Engkau larang, namun belum sempat aku taubati. Ampunilah segala dosaku yang telah Engkau maklumi karena kemurahan-Mu, padahal Engkau mampu menyiksaku. Engkau telah mengajakku untuk bertaubat setelah aku lancang bermaksiat kepada-Mu. Maka aku memohon ampunan-Mu. Terimalah segala amal yang Engkau ridai dan yang telah Engkau janjikan pahala atasnya. Jangan putuskan harapanku kepada-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Makna dan Tujuan Doa Akhir Tahun

Doa akhir tahun ini sarat akan makna penyesalan, pengakuan dosa, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Membacanya menjadi simbol kesiapan hati untuk meninggalkan kesalahan masa lalu dan menyongsong tahun baru Hijriah dengan semangat taubat dan perbaikan diri.

Selain itu, menurut para ulama, doa ini juga merupakan bentuk permohonan perlindungan dari segala godaan, terutama dari setan, selama tahun berikutnya.

Dengan membacanya secara khusyuk dan penuh keikhlasan, diharapkan seorang Muslim dapat memperoleh ampunan Allah SWT dan memulai tahun baru dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.

Manfaat Membaca Doa Akhir Tahun Hijriah: Ketenangan Batin dan Perlindungan Spiritual

Membaca doa akhir tahun Hijriah bukan hanya sebuah tradisi keagamaan, tetapi juga membawa dampak positif secara psikologis dan spiritual bagi yang mengamalkannya. Di antara manfaat yang dirasakan oleh banyak umat Muslim adalah:

  • Menenangkan batin
  • Menghadirkan kesadaran diri akan perbuatan selama setahun
  • Menumbuhkan semangat baru dan positif dalam menyambut tahun berikutnya

KH Sholeh Darat, salah satu ulama besar Nusantara, menjelaskan bahwa doa ini memiliki makna mendalam. Menurut beliau, siapa pun yang membacanya dengan hati yang tulus akan memperoleh perlindungan dari godaan setan dan mendapatkan pendampingan dari dua malaikat penjaga selama satu tahun penuh.

“Terlindungi dari godaan setan dan didampingi dua malaikat penjaga selama setahun,” jelas KH Sholeh Darat.

Beliau juga menambahkan bahwa setan tidak akan mampu mengganggu orang yang mengamalkan doa ini dengan niat yang ikhlas. Malaikat yang ditugaskan pun bukan hanya menjaga, tetapi juga membimbing orang tersebut agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.

Meskipun doa-doa ini tidak bersumber langsung dari hadis Nabi Muhammad SAW, para ulama besar telah menganjurkannya sebagai bagian dari amalan sunnah yang baik. Di antara referensi yang memuat doa akhir dan awal tahun Hijriah adalah:

  • Kitab Maslakul Akhyar karya Habib Utsman bin Yahya
  • Kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah karya KH Sholeh Darat

Amalan membaca doa ini sah secara syariat selama tidak diyakini sebagai ibadah wajib. Ia merupakan ekspresi spiritual yang murni, sebagai bentuk harapan, penyesalan, dan semangat memperbaiki diri — bukan sebuah bentuk bid’ah.

Dengan demikian, membaca doa akhir tahun menjadi salah satu cara menyambut pergantian tahun Hijriah secara penuh makna, sebagai upaya memperbarui hubungan dengan Allah SWT dan memulai tahun baru dengan hati yang bersih.

Menyambut Tahun Baru Islam, Inilah Makna dan Doa Awal Tahun 1 Muharam

Stylesphere – Tahun Baru Islam atau 1 Muharam merupakan momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Hari ini menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriah, sekaligus menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, memohon ampunan, dan menyambut tahun baru dengan penuh harapan serta doa terbaik kepada Allah SWT.

Salah satu amalan yang dianjurkan dalam menyambut 1 Muharam adalah membaca doa awal tahun. Doa ini dipanjatkan sebagai bentuk permohonan perlindungan dari berbagai godaan, bantuan dalam menahan hawa nafsu, dan harapan agar senantiasa diberi petunjuk serta didekatkan kepada Allah SWT sepanjang tahun yang akan dijalani.

Dalam kitab Al-Jami’ Al-Kabir karya Imam As-Suyuthi, doa awal dan akhir tahun turut dicantumkan sebagai bagian dari amalan yang dianjurkan. Menariknya, Mufti Batavia yang masyhur, Habib (Sayyid) Utsman bin Yahya, kemudian menambahkan lafaz shalawat di awal doa tersebut, memperindah susunannya dan memperkuat maknanya.

Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membuka lembaran baru dengan penuh kebaikan, membaca doa awal tahun menjadi langkah spiritual yang mendalam dan bermakna.

Berikut ulasan lengkapnya yang dirangkum Anugerahslot, Rabu (25/6/2025).

Doa Awal Tahun 1 Muharam: Amalan Awali Tahun Baru Islam dengan Harapan dan Keberkahan

Doa awal tahun 1 Muharam menjadi salah satu amalan penting yang dianjurkan untuk menyambut tahun baru Islam. Doa ini dipanjatkan agar setiap muslim mendapatkan perlindungan dan keberkahan sepanjang tahun yang akan datang.

Merujuk pada kitab Al-Jami’ Al-Kabir karya Imam As-Suyuthi, doa untuk akhir dan awal tahun telah dicantumkan secara khusus. Kemudian, Mufti Batavia, Habib (Sayyid) Utsman bin Yahya, menambahkan lafadz shalawat di awal doa tersebut sehingga maknanya semakin lengkap dan indah.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), waktu pembacaan doa awal tahun 1 Muharam hendaknya diperhatikan dengan baik agar mendapatkan manfaat maksimal.

Berikut adalah teks doa awal tahun yang bisa diamalkan:

Doa Awal Tahun 1 Muharam

Teks Arab:
اَللّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ. وَهَذَاعَامٌ جَدْيُدٌ قَدْ أَقْبَل. أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مَنَ الشْيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وِالْعَوْنَ عَلَى هَذه النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَصَلَّي اللهُ عَلَي سَيّدِنَا مُحَمّدً وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِه وَسَلَّم

Teks Latin:
“Allahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwal. Wa ‘alaa fadhlikal-‘azhimi wujuudikal-mu’awwal. Wa haadzaa ‘aamun jadiidun qad aqbal. Nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa-ihii wa junuudihii. Wal’auna ‘alaa haadzhihin-nafsil-ammarati bis-suu-i. Wal-isytighaala bimaa yuqorribuni ilaika zulfa. Yaa dzal-jalaali wal-ikraam. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam.”

Terjemahan Bahasa Indonesia:
“Ya Allah, Engkaulah Yang Kekal, Yang Awal dan Dahulu Ada. Kami memohon perlindungan hanya kepada anugerah-Mu yang agung dan kemurahan-Mu yang luas pada tahun yang baru ini, dari godaan setan, para pengikut dan tentaranya. Berikanlah kami pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu yang mengajak pada keburukan, serta agar kami selalu sibuk dengan amal yang mendekatkan diri kepada-Mu, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.”

Dengan membaca doa ini di awal tahun Hijriah, diharapkan setiap Muslim dapat menjalani tahun baru dengan penuh keberkahan dan terhindar dari segala godaan serta keburukan.

1 Muharam Tanggal 27 Juni 2025

Kapan 1 Muharam 2025? Mengutip dari SKB 3 Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, Nomor 2 Tahun 2024, dan Nomor 2 Tahun 2024 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025, Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 H atau Tahun Baru Islam 2025 diperingati pada Jumat (27/6). Hari itu juga merupakan libur nasional.

Itu artinya, 1 Muharam 1447 H atau 1 Muharam 2025 jatuh pada 27 Juni 2025. Ini juga sesuai dengan penanggalan dalam kalender Hijriah 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Berdasarkan kalender Hijriah 2025, 1 Muharam 2025 bertepatan dengan 27 Juni 2025. Jika mengikuti ketetapan tersebut, maka bulan Muharam 2025 berlangsung sampai tanggal 25 Juli 2025.

Berikut rincian tanggal-tanggal penting di bulan Muharam 1447 H (2025), melansir dari kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kemenag RI:

  1. 1 Muharam 1447 H: 27 Juni 2025
  2. 2 Muharam 1447 H: 28 Juni 2025
  3. 3 Muharam 1447 H: 29 Juni 2025
  4. 4 Muharam 1447 H: 30 Juni 2025
  5. 5 Muharam 1447 H: 1 Juli 2025
  6. 6 Muharam 1447 H: 2 Juli 2025
  7. 7 Muharam 1447 H: 3 Juli 2025
  8. 8 Muharam 1447 H: 4 Juli 2025
  9. 9 Muharam 1447 H: 5 Juli 2025
  10. 10 Muharam 1447 H: 6 Juli 2025
  11. 11 Muharam 1447 H: 7 Juli 2025
  12. 12 Muharam 1447 H: 8 Juli 2025
  13. 13 Muharam 1447 H: 9 Juli 2025
  14. 14 Muharam 1447 H: 10 Juli 2025
  15. 15 Muharam 1447 H: 11 Juli 2025
  16. 16 Muharam 1447 H: 12 Juli 2025
  17. 17 Muharam 1447 H: 13 Juli 2025
  18. 18 Muharam 1447 H: 14 Juli 2025
  19. 19 Muharam 1447 H: 15 Juli 2025
  20. 20 Muharam 1447 H: 16 Juli 2025
  21. 21 Muharam 1447 H: 17 Juli 2025
  22. 22 Muharam 1447 H: 18 Juli 2025
  23. 23 Muharam 1447 H: 19 Juli 2025
  24. 24 Muharam 1447 H: 20 Juli 2025
  25. 25 Muharam 1447 H: 21 Juli 2025
  26. 26 Muharam 1447 H: 22 Juli 2025
  27. 27 Muharam 1447 H: 23 Juli 2025
  28. 28 Muharam 1447 H: 24 Juli 2025
  29. 29 Muharam 1447 H: 25 Juli 2025

Amalan di Bulan Muharam

Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Terdapat berbagai amalan sunnah yang dapat dikerjakan untuk meraih keberkahan di bulan ini. Sujumlah amalan sunnah yang bisa dikerjakan di bulan Muharram adalah puasa awal Muharram, puasa Tasua, puasa Asyura, mengupas kepala anak yatim, bersedekah, dan memperbanyak istighfar.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

1. Puasa Awal Muharram

Berpuasa pada hari pertama bulan Muharram merupakan salah satu amalan sunnah yang dianjurkan untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan amal saleh. Puasa ini dikerjakan tepat pada tanggal 1 Muharram. Pada tahun 2025 ini, 1 Muharram 1447 H jatuh pada hari Jumat, 27 Juni 2025. Adapun niat puasa sunnah Muharram adalah sebagai berikut, melansir dari buku Meraih Surga dengan Puasa karya H Herdiansyah Achmad Lc:

Niat Puasa Awal Muharram

نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma-sy-syahri-l-muharrami sunnata-lillâhi ta’âla.

Artinya: “Saya berniat puasa bulan Muharram sunnah karena Allah Ta’ala.”

2. Puasa Tasua

Selain pada awal Muharram, umat muslim juga dianjurkan untuk mengerjakan puasa pada tanggal 9 Muharram atau dikenal dengan puasa Tasua. Puasa ini dianjurkan sebagai bentuk penyelisihan terhadap tradisi kaum Yahudi, yang hanya berpuasa pada hari Asyura saja. Puasa Tasua 2025 dikerjakan pada Sabtu, 5 Juli 2025. Berikut adalah niat puasa Tasua, melansir dari Buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَسُعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.

Arab Latin: Naiwaitu shauma tasu’aa-i sunnatan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Tasu’a karena Allah Ta’ala.

3. Puasa Asyura

Puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini merupakan salah satu puasa yang sangat dianjurkan di bulan Muharram. Puasa Asyura dikerjakan sebagai bentuk penghormatan terhadap kemenangan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun.

Puasa Asyura 2025 jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025. Adapun niat puasa Asyura adalah sebagai berikut, melansir dari Buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُرَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.

Arab Latin: Naiwaitu shauma ‘aasyura sunnatan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta’ala.”

4. Puasa 11 Muharram

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa juga pada tanggal 11 Muharram, selain tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 (Asyura). Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, melansir dari Buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid:

“Berpuasalah pada hari Asyura dan berbedalah dengan kaum Yahudi, dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.” (HR. Ahmad).

Niat Puasa 11 Muharram

نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma-sy-syahri-l-muharrami sunnata-lillâhi ta’âla.

Artinya: “Saya berniat puasa bulan Muharram sunnah karena Allah Ta’ala.”

5. Memperbanyak Istighfar

Di bulan Muharram, umat muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak permohonan ampun kepada Allah SWT. Salah satu bacaan istighfar yang paling utama dan sangat dianjurkan adalah sayyidul istighfar. Rasulullah SAW bersabda, melansir dari buku Doa & Dzikir Sepanjang Tahun karya H Hamdan Hamedan, M A:

“Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari no. 6.306)

Berikut ini bacaan sayyidul istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ.

Arab Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A-‘uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu-u laka bini’matika ‘alayya wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah Menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji- Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada- Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu.”

6. Puasa Ayyamul Bidh

Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada bulan Hijriah. Puasa ini merupakan salah satu amalan saleh yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap bulan, termasuk di bulan Muharram.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah SAW menekankan keutamaan puasa Ayyamul Bidh. Salah satunya tertuang dalam wasiat beliau kepada sahabat Abu Hurairah RA, melansir dari laman MUI:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّاامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْر

“Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulan (ayyamul bidh), mengerjakan sholat Dhuha, dan mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” (HR Bukhari no 1178)

Doa yang Dianjurkan Saat Mendengar Adzan, Menjaga Sunnah dan Mendekatkan Diri pada Allah

Stylesphere – Lima kali dalam sehari, suara adzan berkumandang dari menara masjid hingga perangkat digital di rumah-rumah kaum Muslimin. Panggilan suci ini bukan sekadar penanda waktu salat, tetapi sebuah ajakan penuh makna untuk meninggalkan kesibukan dunia dan menghadap Allah SWT.

Adzan bukan hanya seruan yang didengar, tapi juga panggilan yang seharusnya disambut dengan hati dan lisan. Rasulullah SAW mencontohkan agar umat Islam tidak melewatkan adzan begitu saja, melainkan menjawabnya dengan doa-doa yang dianjurkan, sebagai bentuk penghormatan dan penghayatan terhadap panggilan Ilahi.

Kebiasaan ini bukan hanya memperkuat kedekatan spiritual, tetapi juga merupakan cara untuk menjaga sunnah Nabi serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam rutinitas sehari-hari.

Mengutip laman Anugerahslot Online Jabar, Sabtu (14 Juni 2025), berikut adalah kumpulan doa yang dianjurkan saat mendengar adzan, sebagaimana tercantum dalam kitab al-Du’a:

  1. Menjawab lafaz adzan sesuai yang dikumandangkan muadzin, kecuali pada kalimat Hayya ‘ala al-shalah dan Hayya ‘ala al-falah, di mana kita dianjurkan menjawab dengan: “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”
  2. Setelah adzan selesai, membaca: “Allāhumma rabbā hāzihid-da‘watit-tāmmati waṣ-ṣalātil-qā’imah, ātِi Muḥammadan al-wasīlata wal-faḍīlah, wab‘ath-hu maqāman maḥmūdan allażī wa‘adtah.”
    (Artinya: Ya Allah, Tuhan panggilan yang sempurna ini dan salat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan al-Fadhilah, dan bangkitkanlah dia pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.)

Doa-doa ini menjadi bagian kecil namun bermakna besar dalam memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT. Menjawab adzan dengan sepenuh hati dan lisan adalah bentuk kesiapan kita memenuhi seruan-Nya, dan bukti cinta kepada sunnah Rasulullah SAW.

Doa Menyambut Adzan Maghrib: Warisan Rasulullah untuk Memohon Ampunan

Adzan maghrib menandai pergantian dari siang menuju malam—sebuah momen spiritual yang sarat makna dalam kehidupan seorang Muslim. Di waktu inilah Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada umatnya sebuah doa yang penuh ketundukan dan harapan akan ampunan dari Allah SWT.

Ummu Salamah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ secara langsung mengajarkannya untuk membaca doa berikut ketika mendengar adzan maghrib:

اللَّهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ لِي
“Allahumma hadzâ iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âtika faghfir lî.”
(Ya Allah, inilah malam-Mu yang datang, siang-Mu yang pergi, dan lantunan suara para pemanggil-Mu, maka ampunilah aku.)

Doa ini diriwayatkan oleh beberapa ulama besar seperti Imam al-Hakim, Imam Abu Dawud, dan Imam al-Baihaqi. Dalam Kitâb al-Du’â karya Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy (2007, hlm. 162), doa tersebut tercantum sebagai bentuk ibadah yang dianjurkan untuk diamalkan saat malam mulai menyapa.

Selain menjadi refleksi pergantian waktu, doa ini juga menunjukkan kedalaman spiritual dalam menyambut malam—bukan hanya dengan istirahat, tetapi juga dengan introspeksi dan permohonan ampunan kepada Allah SWT. Ia merupakan bagian dari warisan sunnah yang mengajarkan kita untuk terus menjaga hubungan vertikal dengan Allah, bahkan dalam momen-momen yang mungkin kita anggap biasa.

Menjadikan doa ini sebagai kebiasaan dapat menjadi salah satu cara memperhalus jiwa dan memperkuat keimanan, terutama di saat-saat sakral seperti waktu maghrib. Mari kita hidupkan kembali amalan ini dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat dan keluarganya.

Doa yang Diampuni Dosanya Saat Mendengar Adzan

Adzan bukan sekadar panggilan shalat. Ia adalah panggilan langit yang menggema di bumi, mengajak hati-hati yang beriman untuk kembali kepada Sang Pencipta. Di balik lantunan adzan, ternyata terdapat doa yang apabila dibaca oleh seorang Muslim, akan menjadi sebab ampunan dari Allah SWT.

Diriwayatkan dalam Kitâb al-Du’â karya Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy (Kairo: Dar al-Hadis, 2007, hlm. 160), Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَال حين يَسْمَع الأذان: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وحده لَا شَرِيْكَ لَه، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، غفر له

“Barangsiapa yang berucap ketika mendengar adzan: ‘Asyhadu allâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lah, radlîtu billâhi rabba wa bil-islâmi dîna wa bi-muhammadin nabiyya’ (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku), maka akan diampuni dosanya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa menjawab adzan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi pintu ampunan. Lafal yang singkat namun sarat makna ini mencerminkan kesaksian tauhid, keridhaan kepada Allah dan Islam, serta kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Membiasakan diri membaca doa ini setiap kali mendengar adzan adalah amalan ringan yang penuh keberkahan. Di tengah kesibukan dunia, mari kita latih hati dan lisan kita untuk selalu terhubung dengan Allah, meski hanya lewat kalimat-kalimat singkat yang mendalam seperti ini.

Doa Saat Adzan Maghrib yang Diajarkan Rasulullah kepada Ummu Salamah

Adzan Maghrib menandai pergantian waktu dari siang ke malam. Dalam momen sakral ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa indah yang penuh makna kepada Ummu Salamah, salah satu istri beliau. Doa ini menjadi pengingat bahwa waktu senja adalah waktu untuk merenung, kembali kepada Allah, dan memohon ampunan-Nya.

Dalam riwayat yang tercatat dalam Kitâb al-Du’â karya Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy (2007, hlm. 162), Ummu Salamah berkata:

عن أم سلمة قالت: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أقول عند أذان المغرب:

اَللَّهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ لِي

“Ya Allah, inilah datangnya malam-Mu, telah berlalu siang-Mu, dan terdengarlah lantunan doa dari para penyeru-Mu, maka ampunilah aku.”

Doa ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, Imam Abu Dawud, dan Imam Baihaqi. Kandungan doa tersebut mencerminkan kerendahan hati dan kesadaran seorang hamba akan pergantian waktu sebagai tanda kekuasaan Allah, sekaligus momentum untuk mendekatkan diri dan memohon ampunan-Nya.

Menjadikan doa ini sebagai amalan rutin saat mendengar adzan Maghrib bukan hanya menjaga sunnah Nabi ﷺ, tetapi juga bentuk introspeksi diri di akhir hari—sebuah kebiasaan yang sarat nilai spiritual.

Doa Setelah Pulang Haji: Ucapan Syukur dan Harapan untuk Tetap Istiqamah

Doa Setelah Pulang Haji: Ucapan Syukur dan Harapan untuk Tetap Istiqamah

Stylesphere – Menunaikan ibadah haji merupakan impian mulia bagi setiap Muslim. Setelah melewati serangkaian ibadah yang sarat dengan pengorbanan, keikhlasan, dan kesabaran di Tanah Suci, momen kepulangan jemaah haji ke tanah air menjadi saat yang sangat dinanti dan penuh haru.

Di tengah kegembiraan keluarga dan kerabat yang menyambut dengan suka cita, momen ini sebaiknya juga disertai dengan doa-doa penuh makna. Doa kepulangan dari haji tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan kelancaran perjalanan, tetapi juga merupakan ikhtiar spiritual untuk menjaga kemabruran haji yang telah diperjuangkan.

Dengan doa, seorang haji memohon kepada Allah agar diberikan keistiqamahan dalam beribadah, serta memohon keberkahan bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat sekitarnya. Doa ini menjadi langkah awal dalam mempertahankan semangat ibadah dan nilai-nilai yang didapat selama berada di Tanah Suci.

Dalam panduan ini, terdapat beberapa doa yang dianjurkan dibaca usai pulang dari ibadah haji, baik untuk diri sendiri maupun oleh para penyambut sebagai bentuk penghormatan dan harapan atas haji yang mabrur.

Berikut adalah rangkaian doa-doa yang dapat diamalkan, sebagaimana dikutip dari laman Anugerahslot Online Lampung, Senin (9/6/2025).

Rangkaian Doa Setelah Pulang Haji: Ucapan Syukur dan Permohonan Keberkahan

Menunaikan ibadah haji adalah puncak spiritualitas bagi seorang Muslim, yang sarat dengan pengorbanan, keikhlasan, dan penguatan iman. Setelah menjalani seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci, kepulangan para jemaah haji ke kampung halaman menjadi momen istimewa yang tak hanya disambut dengan suka cita keluarga, tetapi juga diiringi dengan doa-doa penuh makna.

Doa ketika pulang dari haji bukan sekadar ungkapan syukur atas perjalanan yang selamat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menjaga kemabruran haji dan memohon agar semangat ibadah terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa doa yang dianjurkan dibaca saat pulang dari haji, baik oleh jemaah haji sendiri maupun oleh keluarga yang menyambut:

1. Doa Ketika Telah Sampai di Tanah Air

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
Âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn.

Artinya:
(Kami) pulang, bertobat, menyembah, bersujud, dan memuji Tuhan kami.

Doa ini dibaca sebagai bentuk syukur atas kembalinya jemaah ke tanah air dengan selamat serta sebagai pengakuan atas ibadah yang telah dijalani dengan penuh keikhlasan.

2. Doa Saat Memasuki Kampung Halaman

بسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها، وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا
Bismillâh, allâhumma innî as-aluka khairahâ wa khaira ahlihâ wa khaira mâ fîhâ, wa a‘ûdzubika min syarrihâ wa syarri ahlihâ wa syarri mâ fîhâ.

Artinya:
Dengan nama Allah, ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan kampung ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan kampung ini, keburukan penduduknya, dan keburukan apa yang ada di dalamnya.

Doa ini mencerminkan harapan agar kepulangan membawa kebaikan, serta perlindungan dari potensi keburukan di tempat yang dituju.

Dengan membaca doa-doa ini, diharapkan para jemaah haji tidak hanya kembali secara fisik, tetapi juga membawa pulang ruh spiritual haji ke dalam kehidupan mereka. Doa menjadi jembatan antara ibadah yang telah dijalani dan komitmen untuk terus memperbaiki diri serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar

Semoga haji yang telah dilaksanakan diterima Allah sebagai haji yang mabrur, dan menjadi titik awal kehidupan yang lebih berkah dan bermakna.

Doa-Doa Kepulangan dari Ibadah Haji: Menyambut dengan Syukur dan Harapan

Kepulangan jemaah haji dari Tanah Suci adalah momen penuh haru dan kebahagiaan, tidak hanya bagi para jemaah itu sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat yang menanti. Di tengah suka cita, alangkah baiknya momen ini disertai dengan doa-doa syukur dan harapan, sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah yang telah dijalani, serta untuk menjaga semangat dan kemabruran haji yang diraih.

Berikut adalah rangkaian doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca oleh jemaah maupun orang-orang yang menyambut mereka:

1. Doa Syukur Saat Kembali ke Tanah Air

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
Âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn.

Artinya:
(Kami) pulang, bertobat, menyembah, bersujud, dan memuji Tuhan kami.

2. Doa Memasuki Kampung Halaman

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا
Bismillâh, allâhumma innî as-aluka khairahâ wa khaira ahlihâ wa khaira mâ fîhâ, wa a‘ûdzubika min syarrihâ wa syarri ahlihâ wa syarri mâ fîhâ.

Artinya:
Dengan nama Allah, ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan kampung ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan kampung ini, keburukan penduduknya, dan keburukan apa yang ada di dalamnya.

3. Doa Pertobatan yang Mendalam

تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حُوْبًا
Tauban, tauban, li rabbinâ awban, lâ yughâdiru hûban.

Artinya:
Kami sungguh memohon pertobatan. Kepada Tuhan kami, kami kembali, tobat yang tidak menyisakan dosa.

4. Doa dari Keluarga dan Penyambut Jemaah

قَبَّلَ اللهُ حَجَّكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ
Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.

Artinya:
Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu.

5. Doa dari Riwayat Imam Al-Baihaqi

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الحَاجُّ
Allâhummaghfir lil hâjj, wa li man istaghfara lahul hâjj.

Artinya:
Ya Allah, ampunilah dosa jemaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jemaah haji ini.

Membaca dan mengamalkan doa-doa ini saat menyambut kepulangan dari haji merupakan bentuk penghormatan terhadap perjalanan spiritual yang luar biasa. Semoga doa-doa ini menjadi peneguh bagi jemaah agar senantiasa istiqamah dalam kebaikan, serta menjadi sumber keberkahan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Masjid Ghamamah: Saksi Mukjizat Turunnya Hujan di Tengah Gurun Madinah

Masjid Ghamamah: Saksi Mukjizat Turunnya Hujan di Tengah Gurun Madinah

Stylesphere – Di tengah tanah Arab yang mayoritas berupa gurun gersang, hujan adalah anugerah langka dan berharga. Hingga kini, pada tahun 2025, peristiwa turunnya hujan tetap menjadi momen yang disambut dengan suka cita. Di kota suci Madinah, berdiri sebuah masjid yang menyimpan sejarah luar biasa terkait salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW—Masjid Ghamamah.

Masjid ini memang tidak sepopuler Masjid Nabawi, namun nilai spiritual dan historisnya sangat tinggi. Letaknya pun tak jauh dari Masjid Nabawi, menjadikannya salah satu lokasi ziarah yang penting bagi jamaah umrah dan haji yang ingin menyusuri jejak kehidupan Rasulullah SAW.

Nama “Ghamamah” berasal dari bahasa Arab yang berarti awan atau mendung. Nama itu berkaitan langsung dengan peristiwa luar biasa yang pernah terjadi di lokasi tersebut. Suatu waktu, kota Madinah dilanda kekeringan hebat. Tanah mengering dan retak, tanaman mati, dan kehidupan warga pun mulai terganggu.

Melihat kondisi itu, masyarakat Madinah memohon kepada Nabi Muhammad SAW untuk berdoa kepada Allah agar hujan diturunkan. Rasulullah pun mengajak mereka menuju sebuah lapangan terbuka—yang kelak menjadi tempat berdirinya Masjid Ghamamah. Di sana, beliau memimpin shalat istisqa, shalat sunnah khusus yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan.

Usai shalat, Rasulullah mengangkat tangan, memanjatkan doa-doa penuh harap. Suasana saat itu sangat khusyuk, para penduduk ikut menengadahkan tangan mereka, meneteskan air mata, dan berseru dalam harapan yang sama. Tak lama setelah itu, awan mendung mulai menggantung di langit Madinah, dan hujan pun turun dengan deras, menyiram tanah yang kering dan menghidupkan kembali harapan seluruh warga.

Masjid Ghamamah kini menjadi pengingat atas mukjizat tersebut—bahwa di tengah kegersangan sekalipun, rahmat Allah bisa turun melalui doa yang tulus dan penuh keyakinan.

Masjid Ghamamah: Saksi Bisu Mukjizat Hujan

Tak lama setelah lantunan doa Rasulullah SAW dan umat Madinah menggema di lapangan terbuka, tanda-tanda keajaiban mulai tampak di langit. Awan-awan perlahan berkumpul di atas kota yang semula cerah. Dari kejauhan terdengar gemuruh lembut, disertai hembusan angin sejuk yang menyapu Madinah, membawa harapan di tengah kekeringan panjang.

Langit yang tadinya cerah berubah menjadi kelabu. Awan mendung menebal, lalu hujan deras pun turun dengan derasnya, menyiram tanah Madinah yang kering. Air hujan itu menjadi berkah yang dinanti-nantikan, menjawab doa penuh harap yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW dan para penduduk kota.

Peristiwa tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Islam. Dari situlah nama Ghamamah, yang berarti awan, melekat pada tempat tersebut. Nama itu diabadikan sebagai pengingat mukjizat turunnya hujan sebagai jawaban atas doa sang Nabi.

Namun, keistimewaan Masjid Ghamamah tidak berhenti di situ. Masjid ini juga menjadi tempat Rasulullah SAW pertama kali memimpin shalat Idul Fitri di kota Madinah setelah hijrah dari Makkah. Dua momen besar ini—shalat istisqa dan shalat Id—menjadikan Masjid Ghamamah sebagai tempat penuh makna dalam perjalanan dakwah Rasulullah.

Kini, Masjid Ghamamah berdiri megah meski telah melalui berbagai tahap renovasi. Bangunannya tetap memancarkan nuansa sakral dan spiritual yang kuat. Siapa pun yang datang ke sana akan merasakan kedamaian, seakan diajak untuk kembali merenungi sejarah dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Doa Idul Adha Apa Boleh Digabungkan Dengan Qadha Ramadhan

Doa Idul Adha Apa Boleh Digabungkan Dengan Qadha Ramadhan

StylespherePuasa sunnah menjelang Idul Adha, seperti puasa Tarwiyah dan Arafah, sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Kedua puasa ini memiliki keutamaan besar, seperti menghapus dosa dan mendatangkan pahala yang berlimpah. Namun, bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, muncul pertanyaan: apakah boleh menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah tersebut?

Pertanyaan ini penting, karena banyak umat Islam ingin mengoptimalkan ibadah tanpa mengabaikan kewajiban. Menggabungkan dua niat dalam satu puasa—yaitu niat qadha dan niat sunnah—memerlukan pemahaman mendalam terhadap hukum Islam dan pandangan para ulama.

Secara umum, sebagian ulama membolehkan penggabungan niat qadha puasa Ramadhan dengan puasa sunnah seperti Arafah atau Tarwiyah, selama tujuan utama adalah menunaikan puasa wajib. Dalam hal ini, pahala puasa sunnah bisa tetap didapat sebagai bonus, walaupun yang diniatkan secara eksplisit adalah qadha.

Meski begitu, agar lebih aman dan jelas, disarankan untuk mendahulukan pelunasan puasa wajib, lalu mengerjakan puasa sunnah secara terpisah. Ini membantu memastikan keabsahan ibadah dan memperbesar peluang mendapatkan pahala penuh dari masing-masing jenis puasa.

Dengan memahami aturan ini, Anda bisa lebih bijak dalam menyusun jadwal puasa, menunaikan kewajiban qadha, sekaligus meraih keutamaan dari puasa-puasa sunnah menjelang Idul Adha. Berikut penjelasan tentang niat puasa Idul Adha dan qadha Ramadhan. Serta apakah keduanya boleh digabungkan, dirangkum Stylesphere

Pengertian Puasa Idul Adha

Dilansir dari laman Universitas KH. A Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang, puasa Idul Adha mencakup puasa yang dilakukan pada awal bulan Dzulhijjah, khususnya pada tanggal 8 (Tarwiyah) dan 9 (Arafah). Kedua hari ini sangat dianjurkan untuk berpuasa karena memiliki keutamaan besar.

Puasa Dzulhijjah sendiri dimulai sejak tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, meskipun puasa pada tanggal 8 dan 9 memiliki nilai yang lebih utama. Puasa Arafah, yang jatuh pada 9 Dzulhijjah, dikenal mampu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sementara itu, puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah juga sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Ibadah puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Ini adalah bentuk persiapan spiritual menjelang Hari Raya Idul Adha—momen untuk menyucikan diri, memperkuat ketakwaan, dan meningkatkan amal. Setiap ibadah yang dilakukan pada hari-hari ini memiliki nilai tinggi dan membawa keberkahan.

Arti Puasa Qadha Ramadan

Puasa qadha Ramadan adalah puasa yang dilakukan untuk mengganti hari-hari puasa yang ditinggalkan selama bulan Ramadan. Setiap Muslim yang tidak bisa berpuasa karena alasan syar’i seperti sakit, bepergian jauh, haid, atau kondisi lain yang dibenarkan, wajib menggantinya di luar bulan Ramadan sesuai dengan jumlah hari yang terlewat.

Puasa ini tidak terikat waktu tertentu, namun dianjurkan untuk segera ditunaikan setelah Ramadan berakhir agar tidak menjadi beban. Hukum qadha puasa adalah wajib bagi yang memiliki tanggungan, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Puasa qadha juga harus disertai dengan niat khusus yang diucapkan sebelum fajar. Meskipun sifatnya wajib, pelaksanaannya tetap harus dilakukan dengan keikhlasan dan tidak ditunda-tunda tanpa alasan yang jelas.

Apakah Puasa Idul Adha Boleh digabungkan dengan Qadha Ramadan?

Terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah seperti Arafah atau Tarwiyah. Dalam kitab I’anatut Thalibin dan Asnal Mathalib dijelaskan bahwa menggabungkan niat tetap dianggap sah. Artinya, meskipun niat utama ditujukan untuk qadha, pelaksana puasa tetap bisa memperoleh keutamaan dari puasa sunnah tersebut.

Meski demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa sebaiknya utang puasa Ramadhan ditunaikan lebih dahulu sebelum menjalankan puasa sunnah. Alasannya, qadha adalah kewajiban yang harus diprioritaskan, sedangkan puasa sunnah bisa dikerjakan setelah kewajiban selesai. Jika seseorang baru mengingat utang puasanya pada hari Arafah, disarankan langsung melakukan qadha pada hari itu juga.

Kesimpulannya, penggabungan niat puasa qadha dan sunnah memang diperbolehkan menurut sebagian ulama, tetapi yang lebih utama adalah menyelesaikan kewajiban terlebih dahulu agar ibadah yang dijalankan lebih sempurna dan keutamaannya tetap maksimal.

Doa Belajar Islam Lengkap Dengan Bahasa Arab dan Latin

Doa Belajar Islam Lengkap Dengan Bahasa Arab dan Latin

Stylesphere – Belajar adalah bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Islam memandang menuntut ilmu sebagai kewajiban, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” Namun, keberhasilan dalam belajar tidak hanya ditentukan oleh usaha, tetapi juga oleh doa dan keberkahan dari Allah SWT.

Doa belajar dalam Islam bukan sekadar bacaan, tetapi bentuk tawakal dan pengakuan bahwa semua ilmu bersumber dari Allah. Doa ini dapat dibaca sebelum dan sesudah belajar, dengan tujuan agar proses belajar diberi kemudahan, pemahaman yang mendalam, serta ilmu yang bermanfaat.

Doa Sebelum Belajar
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا
Allahumma infa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’ unii wa zidnii ‘ilmaa
Artinya: “Ya Allah, berikanlah manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan padaku, ajarkanlah ilmu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah kepadaku ilmu.”

Doa Sesudah Belajar
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
Alhamdulillahil ladzi hadana lihaza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami atas ini, dan tidaklah kami mendapat petunjuk kalau bukan karena petunjuk Allah.”

Dengan mengiringi ikhtiar belajar dengan doa, seorang muslim tidak hanya mengandalkan kemampuannya, tetapi juga memohon pertolongan dari Zat yang Maha Mengetahui. Ini adalah kunci untuk mendapatkan ilmu yang tidak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga menjadi cahaya di akhirat.

Doa Belajar Lengkap dalam Islam

Sebelum memulai belajar, dianjurkan membaca doa untuk memohon kemudahan, pemahaman, dan keberkahan ilmu. Berikut beberapa doa belajar lengkap dengan Arab, latin, dan artinya:

1. Doa Memohon Ilmu, Pemahaman, dan Kesalehan

Arab:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Latin:
Robbi zidnii ‘ilmaa, warzuqnii fahmaa, waj’alnii minash-sholihiin

Artinya:
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku, berilah aku pemahaman, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

2. Doa Memohon Keterbukaan dan Cahaya Ilmu

Arab:
اَللّٰهُمَّ اخْرِجْنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ…

Latin:
Allahumma akhrijnaa min dhulumaatil wahmi…

Artinya:
“Ya Allah, keluarkanlah kami dari gelapnya keraguan, muliakanlah kami dengan cahaya pemahaman, bukakanlah jalan ilmu, dan mudahkanlah karunia-Mu untuk kami.”

3. Doa Nabi Musa AS untuk Kelancaran dan Pemahaman

Arab:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي…

Latin:
Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii…

Artinya:
“Ya Rabbku, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, dan lancarkan lisanku agar mereka memahami perkataanku.”

4. Doa Belajar dengan Landasan Iman

Arab:
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا…

Latin:
Rodlitu billahi robba, wabi islaamidina…

Artinya:
“Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku. Ya Allah, tambahkanlah ilmuku dan berilah aku pemahaman.”

Doa-doa ini bisa dibaca sebelum belajar sebagai bentuk ikhtiar batin agar ilmu yang dicari bermanfaat dan penuh keberkahan.

Lanjutan Doa Belajar Islam

Doa 5 – Memohon Ilham dan Pemahaman seperti Para Nabi

Arab:
اَللّٰهُمَّ اَلْهِمْنَا عِلْمًا… وَارْزُقْنَا فَهْمًا…
Latin:
Allahumma alhimna ‘ilman nafqahu bihi awamiraka wa nawahi-ka…
Artinya:
“Ya Allah, ilhamkan kepada kami ilmu untuk memahami perintah dan larangan-Mu. Karuniakan pemahaman agar kami tahu bagaimana bermunajat kepada-Mu. Anugerahkan pemahaman seperti Nabi, hafalan seperti Rasul, dan ilham seperti malaikat-Mu yang dekat dengan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih.”

Doa ini menekankan pentingnya memahami ajaran agama secara utuh dan dalam.

Doa 6 – Perlindungan dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Arab:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ…
Latin:
Allahumma inni a’udzu bika min ‘ilmin la yanfa’u…
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.”

Doa ini mengajarkan pentingnya fokus pada ilmu dan ibadah yang berdampak positif.

Doa 7 – Memohon Ilmu yang Bermanfaat

Arab:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ…
Latin:
Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa a’udzu bika min ‘ilmin la yanfa’u.
Artinya:
“Ya Allah, aku memohon ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak berguna.”

Doa pendek ini sangat cocok diamalkan setiap memulai belajar.

oa 8 – Memohon Ilmu, Rezeki, dan Amal yang Diterima

Arab:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ…
Latin:
Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan tayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
Artinya:
“Ya Allah, aku mohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang Engkau terima.”

Doa ini menyeimbangkan aspek spiritual, materi, dan amal dalam kehidupan seorang penuntut ilmu.

Doa-doa ini bisa diamalkan sebelum belajar atau saat menghadapi kesulitan memahami pelajaran. Masing-masing mengajarkan pentingnya ilmu yang berkah, hati yang lapang, dan amal yang diterima oleh Allah SWT.