Stylesphere – Dalam Islam, ungkapan Subhanallah menjadi salah satu dzikir yang sarat makna. Kata ini diucapkan untuk menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan sekaligus mengagungkan kebesaran-Nya.
Secara harfiah:
Bacaan Arab:سُبْحَانَ اللّهُ
Bacaan Latin: Subhanallahu
Arti: Maha Suci Allah
Ungkapan ini dapat diucapkan dalam berbagai situasi, antara lain:
Menghadapi musibah atau cobaan Diucapkan sebagai bentuk penyerahan d iri kepada Allah dan pengakuan bahwa semua ketentuan-Nya adalah yang terbaik.
Melihat hal yang tidak pantas Menunjukkan penolakan terhadap kemungkaran sambil memohon perlindungan kepada Allah.
Saat terkejut atau takjub Menjadi respon alami ketika menyaksikan sesuatu yang mengagumkan atau di luar dugaan.
Dalam keadaan marah atau emosi Membantu menenangkan hati dan mengingatkan diri untuk bersabar.
Sebagai dzikir harian Menjadi bagian dari amalan pagi dan petang yang dianjurkan dalam ajaran Islam.
Mengutip dari Muhammadiyah.or.id, Rasulullah SAW bersabda:
“Kalimat thayyibah adalah sedekah, dan setiap langkah yang dijalankan menuju shalat atau masjid adalah sedekah.” (HR Ahmad)
Dengan demikian, Subhanallah bukan sekadar ucapan, melainkan bentuk pengagungan, pengingat diri, dan amalan yang membawa kebaikan dalam setiap keadaan.
Makna dan Bacaan Subhanallah
Subhanallah adalah salah satu kalimat thayyibah yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Ucapan ini berarti “Maha Suci Allah”, yang menjadi bentuk pengakuan hati dan lisan atas kesempurnaan, kesucian, dan kebebasan Allah SWT dari segala kekurangan. Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi sebuah dzikir yang penuh makna dan menjadi bagian dari ibadah sehari-hari umat Muslim, baik dalam shalat, doa, maupun di berbagai kesempatan.
Pengucapan Subhanallah mencerminkan kesadaran seorang Muslim terhadap kebesaran Allah SWT dan tanda kerendahan hati hamba di hadapan Sang Pencipta. Dalam kehidupan sehari-hari, kalimat ini sering diucapkan dalam beberapa keadaan, misalnya:
Ketika melihat keindahan ciptaan Allah, seperti pemandangan alam yang menakjubkan, lahirnya seorang bayi, atau peristiwa yang membangkitkan rasa takjub.
Saat menghadapi cobaan atau ujian hidup, sebagai bentuk penguatan iman bahwa segala yang terjadi merupakan bagian dari ketentuan Allah.
Dalam dzikir rutin, terutama setelah shalat fardhu, yang biasanya diucapkan 33 kali sebagai bagian dari tasbih, tahmid, dan takbir.
Untuk menghindari ucapan sia-sia atau negatif, menggantinya dengan dzikir yang membawa pahala.
Melansir dari Jurnal Tafse: Journal of Qur’anic Studies, kata tasbih beserta variasinya disebut sebanyak 92 kali dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuk. Hal ini menegaskan betapa pentingnya tasbih sebagai bentuk ibadah yang tidak hanya dilakukan oleh manusia, tetapi juga oleh seluruh makhluk ciptaan Allah, baik yang tampak maupun yang tidak kita lihat. Dalam beberapa ayat, Allah menyebutkan bahwa langit, bumi, dan segala isinya bertasbih kepada-Nya tanpa henti.
Tasbih, termasuk ucapan Subhanallah, memiliki banyak hikmah dan manfaat, di antaranya:
Menyucikan hati dari sifat sombong dan riya, karena mengingatkan manusia bahwa hanya Allah yang sempurna.
Menambah pahala yang akan menjadi bekal di akhirat, sebagaimana banyak disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Menentramkan jiwa, sebab dzikir adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menenangkan hati.
Menjaga lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat, menggantinya dengan kata-kata penuh kebaikan.
Dengan memahami makna dan waktu yang tepat untuk mengucapkan Subhanallah, setiap Muslim diharapkan dapat menjadikannya bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan hanya sebagai ungkapan spontan, tetapi sebagai cerminan keimanan yang mendalam. Tasbih ini mengajarkan kita untuk senantiasa memandang segala sesuatu dengan kesadaran bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah, sementara manusia adalah makhluk lemah yang selalu membutuhkan-Nya.
Waktu-Waktu Dianjurkan Mengucapkan Subhanallah
Subhanallah diucapkan ketika Muslim ingin mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai momen dalam kehidupan:
Setelah shalat fardhu – Sebagai bagian dari dzikir wirid dengan bacaan lengkap “Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar”
Saat pagi dan petang – Mengikuti sunnah Rasulullah dalam berzikir dengan kalimat thayyibah
Ketika menghadapi kesulitan – Subhanallah memberikan ketenangan hati dan pengingat akan pertolongan Allah
Saat melihat keajaiban ciptaan Allah – Mengagumi keindahan alam atau fenomena luar biasa
Dalam kondisi syukur – Meski lebih tepat dengan Alhamdulillah, Subhanallah juga bisa diucapkan sebagai pengakuan kebesaran Allah
Melansir dari Anugerahslot News, penting membedakan penggunaan Subhanallah dengan Masya Allah agar tidak keliru dalam konteks pengucapannya.
Hikmah dan Manfaat Mengucapkan Subhanallah
Berzikir dengan Subhanallah membawa berbagai manfaat spiritual dan psikologis bagi Muslim:
Membersihkan hati dari dosa – Setiap kalimat thayyibah bernilai sedekah di sisi Allah SWT
Menambah pahala – Hadis menyebutkan bahwa mengucapkan Subhanallah termasuk kalimat yang paling utama
Menenangkan jiwa – Dzikir memiliki efek terapeutik yang telah terbukti secara ilmiah
Meningkatkan ketaqwaan – Konsisten berzikir menguatkan hubungan dengan Allah
Perlindungan dari gangguan – Subhanallah menjadi benteng spiritual dari berbagai kemudharatan
Mengutip dari buku Yang Disenangi Nabi SAW dan Yang Tak Disukai oleh Adnan Tharsyah, Subhanallah artinya “Allah itu Maha tinggi dan Mahasuci” sebagai penyucian dari segala sesuatu buruk yang tidak pantas bagi Allah.
Dalil-Dalil tentang Keutamaan Subhanallah
Al-Quran dan hadis memberikan landasan kuat tentang keutamaan mengucapkan Subhanallah:
QS. Ar-Rum: 17-18 – Perintah bertasbih di waktu petang dan pagi
QS. Al-Baqarah: 32 – Pengakuan kesucian Allah oleh para malaikat
QS. Al-Isra: 44 – Seluruh alam bertasbih memuji Allah
Hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi ketika pagi dan petang, tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada yang ia bawa pada hari kiamat” (HR. Muslim).
Mengutip dari Tafse: Journal of Qur’anic Studies Vol. 5 No. 1, tasbih dalam bentuk perintah (fi’l al-amr) berfungsi sebagai peringatan untuk senantiasa bertasbih baik di dalam maupun luar waktu shalat.
Stylesphere – Dalam sebuah hubungan, restu orang tua kerap menjadi fondasi penting bagi kebahagiaan dan kelancaran perjalanan cinta. Namun, ketika restu itu belum didapatkan, salah satu bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan adalah memanjatkan doa, memohon agar hati orang tua dilunakkan dan diberi pemahaman.
Doa merupakan wujud penghambaan dan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Umat Islam meyakini bahwa doa memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah hati dan keadaan. Dengan bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya, diharapkan hati orang tua yang semula belum merestui dapat dipenuhi kelembutan dan kebijaksanaan.
Seperti dijelaskan dalam buku Menurut Al-Qur’an dan Sunnah: Panduan Doa dalam Islam karya Dr. Ahmad Al-Muzammil (2018), doa adalah ibadah yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Melalui doa, seorang hamba meminta pertolongan Allah dalam setiap urusan, termasuk dalam urusan hati dan hubungan dengan orang-orang yang dicintai.
Berikut ulasan lengkap yang dirangkum Anugerahslot Islamic dari berbagai sumber, Senin (11/08/2025).
Doa Meluluhkan Hati Orang Tua
Dalam Islam, doa menjadi senjata utama seorang hamba dalam menghadapi segala persoalan hidup, termasuk saat berusaha mendapatkan restu orang tua. Bagi pasangan yang hubungannya belum direstui, memohon kepada Allah SWT agar hati orang tua dilunakkan adalah salah satu ikhtiar spiritual yang dianjurkan.
Berikut adalah salah satu doa yang dapat diamalkan, lengkap dengan bacaan Arab, latin, dan artinya:
Bacaan Latin: Allahumma innaka antal ‘azizul kabir, wa anaa ‘abduka adhdhoiifudzdzaliil, alladzii laa haula wa laa quwwata illaa bika. Allahumma sakhkhir li (sebut nama orang dimaksud) kama sakhkharta firauna li musa, wa layyin li qolbahuu kama layyanta al-hadiida li dawuda, fa innahu la yantiqu illa bi idznika, nashiyatuhuu fii qobdhatika, wa qolbuhuu fii yadika, jalla tsanaa-u wajhik, yaa arhamar raahimiin.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Perkasa lagi Maha Besar, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah dan hina. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu. Ya Allah, tundukkanlah (sebut nama) kepadaku sebagaimana Engkau tundukkan Firaun kepada Musa, dan lembutkan hatinya sebagaimana Engkau melembutkan besi kepada Daud. Sesungguhnya ia tidak akan berbicara kecuali dengan izin-Mu. Ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Mu, dan hatinya berada di tangan-Mu. Maha Suci wajah-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”
Doa ini bisa diamalkan dengan menyebut nama orang tua yang ingin diluluhkan hatinya, sebagai wujud permohonan langsung kepada Allah SWT. Konsistensi dalam membacanya mencerminkan kesungguhan hati dalam mencari ridha Ilahi sekaligus restu orang tua.
Penelitian dari Journal of Islamic Psychology yang diterbitkan International Islamic University Malaysia (2020) menjelaskan bahwa doa untuk meluluhkan hati memiliki dasar yang kuat dalam tradisi Islam. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat kerap menjadikan doa sebagai media untuk menyentuh hati manusia, baik dalam urusan pribadi maupun sosial.
Doa-doa Pelengkap untuk Meluluhkan Hati dan Memohon Restu Orang Tua
Selain doa utama, terdapat sejumlah doa lain yang dapat diamalkan untuk memohon kelapangan hati, kemudahan urusan, dan restu dari orang tua. Doa-doa ini melengkapi ikhtiar spiritual dalam menghadapi situasi sulit terkait restu keluarga.
1. Doa Istikharah untuk Jodoh اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim.
Artinya:“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuatan-Mu, dan memohon karunia-Mu yang agung.” Doa ini sangat bermanfaat saat memohon petunjuk terbaik dalam memilih pasangan hidup sekaligus berharap mendapatkan restu orang tua.
2. Doa Nabi Musa untuk Melapangkan Dada رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي
Robbisrohli shodrii, wa yassirli amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.
Artinya:“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka memahami perkataanku.” Doa ini membantu kelancaran komunikasi dengan orang tua agar niat baik tersampaikan dengan jelas.
3. Doa Memohon Cinta Allah اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ
Allahumma inni as’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wal-‘amalalladzi yuballighuni hubbak.
Artinya:“Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.” Dengan memohon cinta Allah, diharapkan hati orang tua juga ikut tergerak untuk memberi restu.
4. Doa Nabi Daud untuk Melembutkan Hati اللَّهُمَّ لَيِّنْ لِي قَلْبَهُ، لَيِّنْتَ لِدَاوُدَ الْحَدِيدَ
Allahumma laiyin li qolbahu, laiyinta li Dawudal hadid.
Artinya:“Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan besi kepada Daud.” Doa ini sering diamalkan untuk memohon kelembutan hati seseorang, termasuk orang tua yang bersikap keras.
Artinya:“Ya Allah, tambahkanlah ilmuku, luaskan rezekiku, berkahilah apa yang Engkau karuniakan padaku. Jadikan aku dicintai di hati hamba-hamba-Mu, mulia di mata mereka, dan termasuk orang-orang yang dekat kepada-Mu di dunia dan akhirat. Wahai Yang Maha Pemurah, Maha Indah perbuatan-Nya, Yang Kekal tanpa akhir, dan Yang Memulai tanpa contoh sebelumnya. Segala puji, karunia, dan pengaturan hanyalah milik-Mu dalam setiap keadaan.” Doa ini dapat dimodifikasi dengan menambahkan “wa qalbi ummi” setelah kata “‘ibaadika” untuk secara khusus memohon agar disenangi di hati ibu.
Mengamalkan doa-doa ini secara rutin, disertai kesungguhan hati dan usaha nyata, menjadi bentuk kepasrahan penuh kepada Allah SWT. Setiap permohonan yang tulus akan selalu didengar dan direspon oleh-Nya dengan cara terbaik.
Waktu Mustajab untuk Berdoa Meluluhkan Hati Orang Tua
Menurut Adab al-Du‘a fi al-Islam karya Syaikh Abdullah Al-Fauzan (2019), terdapat waktu-waktu tertentu yang disebut mustajab untuk berdoa. Memanfaatkan momen-momen ini dengan penuh kekhusyukan dapat meningkatkan peluang terkabulnya doa, termasuk doa untuk meluluhkan hati orang tua yang belum merestui hubungan anaknya.
Berikut beberapa waktu yang dianjurkan untuk memanjatkan doa:
Sepertiga Malam Terakhir (Tahajud) Waktu antara pukul 00.00–03.00 dini hari adalah saat yang sangat dianjurkan untuk berdoa. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa pada waktu ini Allah SWT “turun” ke langit dunia dan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang memohon kepada-Nya.
Antara Azan dan Iqamah Berdasarkan hadis riwayat Ahmad, doa yang dipanjatkan di sela-sela azan dan iqamah tidak akan ditolak. Meski singkat, momen ini memiliki keberkahan yang besar.
Ketika Turun Hujan Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa saat hujan turun adalah waktu yang penuh rahmat. Berdoa di bawah rintik hujan membawa keberkahan dan peluang terkabul yang lebih besar.
Hari Jumat Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di hari Jumat terdapat satu waktu istimewa ketika doa seorang muslim pasti dikabulkan. Waktu ini diyakini berada pada sore hari menjelang magrib, khususnya setelah salat Ashar.
Saat Sujud dalam Shalat Momen sujud adalah saat terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak doa ketika sujud, karena kedekatan ini menjadikan doa lebih mustajab.
Setelah Shalat Fardhu Usai melaksanakan shalat wajib, dianjurkan untuk memanjatkan doa dengan hati yang tenang dan khusyuk. Waktu ini menjadi salah satu kesempatan emas untuk memohon kepada Allah SWT.
Dengan memanfaatkan waktu-waktu mustajab ini, doa untuk meluluhkan hati orang tua dapat disampaikan dalam kondisi spiritual terbaik. Selain menunjukkan kesungguhan, hal ini juga menjadi bentuk kepasrahan total kepada Allah SWT dalam mengharapkan restu dan ridha-Nya.
Adab Berdoa untuk Meluluhkan Hati Orang Tua
Dalam Islam, doa tidak hanya sekadar rangkaian kata permohonan, tetapi juga ibadah yang memiliki tata cara dan etika tertentu. Memperhatikan adab ketika memanjatkan doa, termasuk doa untuk meluluhkan hati orang tua, akan meningkatkan kualitas dan keberkahannya.
Berikut beberapa adab penting yang dianjurkan:
Niat yang Ikhlas dan Tujuan yang Baik Doa harus dipanjatkan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk tujuan yang merugikan atau menyakiti pihak lain. Niat harus terbebas dari unsur negatif seperti dendam, iri hati, atau keinginan menguasai.
Berada dalam Keadaan Suci Sebaiknya berdoa setelah berwudu dan dalam keadaan suci, menghadap kiblat. Hal ini menunjukkan penghormatan kepada Allah SWT sekaligus keseriusan dalam memohon.
Mengawali dengan Pujian dan Shalawat Sebelum menyampaikan permohonan, awali doa dengan memuji Allah SWT, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan menyadari kelemahan diri sebagai hamba.
Bertobat dan Memohon Ampunan Sebelum berdoa, hendaknya membersihkan diri dari dosa dengan bertobat dan memohon ampun. Hati yang bersih akan membuat doa lebih tulus dan mudah dikabulkan.
Penelitian yang dimuat dalam International Journal of Islamic Thought oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (2021) menegaskan bahwa etika berdoa dalam Islam menekankan aspek spiritual dan moral yang tinggi. Doa adalah dialog suci antara hamba dan Khaliq, sehingga harus disampaikan dengan kesadaran penuh akan kebesaran-Nya.
Dengan mematuhi adab ini, doa untuk meluluhkan hati orang tua akan memiliki makna yang lebih dalam dan peluang terkabul yang lebih besar.
Upaya Nyata untuk Meluluhkan Hati Orang Tua
Selain berdoa, Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan ikhtiar lahiriah—langkah-langkah praktis yang dapat membantu meluluhkan hati seseorang, termasuk orang tua yang belum memberikan restu. Usaha nyata ini menjadi pelengkap dari ikhtiar batin yang dilakukan melalui doa.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
Berperilaku Santun, Jujur, dan Amanah Sikap santun, kejujuran, dan amanah sering kali lebih menyentuh hati dibanding sekadar kata-kata manis. Tunjukkan kematangan pribadi serta rasa tanggung jawab melalui perilaku sehari-hari.
Memberikan Hadiah dan Perhatian Rasulullah SAW bersabda: “Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari). Hadiah sederhana namun tulus dapat menumbuhkan kasih sayang dan menunjukkan kepedulian.
Mendengarkan dengan Empati Jadilah pendengar yang baik dan tunjukkan empati terhadap perasaan orang tua. Memahami kekhawatiran mereka dengan sabar dapat membuka ruang dialog yang lebih hangat.
Bersabar dan Istiqamah Meluluhkan hati membutuhkan waktu. Hindari sikap terburu-buru atau memaksa. Tetaplah konsisten dan sabar dalam menunjukkan niat baik.
Bersikap Rendah Hati Kesombongan adalah sikap yang dibenci dalam Islam. Rendah hati akan membuat orang lain merasa lebih nyaman, terbuka, dan mau menerima kehadiran kita.
Menghormati dan Mematuhi Keluarga Perhatikan harapan dan nasihat keluarga selama tidak bertentangan dengan syariat. Kepatuhan kepada orang tua dan keluarga adalah bagian dari adab dalam memperjuangkan hubungan.
Menggabungkan doa yang tulus dengan tindakan nyata yang baik akan memberikan hasil yang lebih optimal dalam meraih restu. Dengan kesabaran, konsistensi, dan niat yang ikhlas, insyaAllah hati yang keras pun dapat menjadi lembut.
Kekuatan Doa dalam Meluluhkan Hati Menurut Sejarah Islam
Dalam sejarah Islam, terdapat banyak kisah yang menegaskan bahwa doa adalah senjata ampuh seorang mukmin. Doa tidak hanya menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk melembutkan hati seseorang—termasuk dalam konteks memohon restu orang tua.
Kisah-Kisah Teladan dalam Meluluhkan Hati
Nabi Sulaiman AS dan Ratu Bilqis Dalam surah An-Naml, diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman AS mengajak Ratu Bilqis kepada kebenaran melalui hikmah, kelembutan, dan doa. Pendekatan beliau menunjukkan bahwa kelembutan hati sering kali lahir dari kebijaksanaan yang disertai doa.
Nabi Ibrahim AS dan Kaumnya Walaupun kaumnya menolak keras ajakan kepada tauhid, Nabi Ibrahim AS tidak berhenti berdoa bagi kebaikan mereka. Kesabaran beliau menjadi contoh bahwa doa dapat menembus penolakan yang paling keras.
Rasulullah SAW dalam Dakwahnya Rasulullah SAW menghadapi banyak tantangan dari kaumnya, namun beliau menanggapi dengan kesabaran, akhlak mulia, dan doa. Allah SWT menegaskan dalam Ali Imran ayat 159: “Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
Doa-Doa yang Dianjurkan untuk Melembutkan Hati
Doa Nabi Daud AS Diriwayatkan dalam buku Setiap Doa Pasti Allah Kabulkan (Abu Ezza, 2012:27), doa ini dapat diamalkan untuk melembutkan hati: اللَّهُمَّ لَيِّنْ لِي قَلْبَهُ، لَيِّنْتَ لِدَاوُدَ الْحَدِيدَ Allahumma laiyin li qalbahu, laiyinta li Daudal hadid. Artinya: “Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan besi bagi Daud.”
Doa Meluluhkan Hati dari Jarak Jauhاللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَبِيرُ… Allaahumma innaka antal azizul kabir… (teks lengkap seperti di atas) Doa ini dianjurkan ketika ingin meluluhkan hati seseorang yang berada jauh dari kita, termasuk orang tua.
Doa untuk Orang yang Membenci Kita Dikutip dari Tuntunan Lengkap Rukun Islam & Doa (Syarif Hidayatullah), doa ini dipanjatkan agar Allah melembutkan hati orang yang membenci kita: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ… Alhamdulillahi ala kulli halin… (teks lengkap seperti di atas)
Pelajaran yang Dapat Diambil
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, kisah para nabi menunjukkan bahwa kesabaran, doa, dan hikmah adalah kunci utama untuk meluluhkan hati manusia yang keras. Maka, doa yang dipanjatkan anak kepada Allah untuk meluluhkan hati orang tua yang belum merestui hubungan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.
Stylesphere – Dalam ajaran Islam, akikah dan kurban termasuk ibadah sunnah muakadah — yaitu amalan sunnah yang sangat dianjurkan.
Mengutip Anugerahslotfai.umsu.ac.id, kurban merupakan ibadah yang dilakukan umat Muslim sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Ibadah ini melibatkan penyembelihan hewan tertentu dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tata cara yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Al-Qâdhi Abu Syuja’ dalam Kitab Matan al-Ghayah wa at-Taqrîb pada bab Kurban dan Akikah menjelaskan bahwa kedua ibadah ini berstatus sunnah muakadah.
“Kurban itu sunnah muakad. Untuk kurban, cukup dengan anak domba atau kambing kacang berusia dua tahun, unta berusia dua tahun, dan sapi berusia dua tahun. Unta dan sapi dapat untuk tujuh orang, sedangkan kambing hanya untuk satu orang,” — Abu Syuja, Kitab Taqrib (9/8/2025)
Sementara itu, akikah adalah penyembelihan hewan yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia tersebut. Dalam pelaksanaannya, akikah untuk anak laki-laki dilakukan dengan dua ekor kambing atau domba, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor.
Pertanyaan yang kerap muncul kemudian adalah: jika keduanya sama-sama sunnah muakadah, mana yang sebaiknya didahulukan? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat pelaksanaan akikah dan kurban memiliki kemiripan dari segi jenis ibadah maupun tata cara penyembelihan hewan.
Kurban dan Akikah: Sama-sama Sunnah, Mana yang Lebih Didahulukan?
Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan bahwa kurban dan akikah merupakan ibadah sunnah. Bedanya, kurban dilakukan untuk diri sendiri sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, sedangkan akikah adalah sunnah bagi orang tua yang memiliki anak.
“Tidak ada sunnah untuk mengakikahkan diri sendiri. Kesunnahan akikah berlaku bagi orang tua ketika memiliki anak,” terang Buya Yahya dalam tayangan YouTube Al Bahjah TV.
Buya menjelaskan, akikah dianjurkan sejak anak lahir hingga sebelum baligh. Jika sudah melewati batas waktu tersebut, kesunnahan akikah bagi ayah gugur, dan tidak berdosa bila tidak dilakukan. Bahkan, sebagian ulama mazhab Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa akikah hukumnya mubah, seperti sedekah biasa, dan hanya wajib bagi Nabi Muhammad SAW, bukan umatnya.
Karena itu, Buya menegaskan agar umat Islam tidak bingung memilih antara akikah atau kurban. Jika ingin berkurban, maka silakan melaksanakannya walaupun belum pernah diakikahi oleh orang tua.
Namun, ada situasi di mana kurban lebih diutamakan. Misalnya, seorang anak lahir pada awal bulan Dzulhijjah dan dana yang tersedia hanya cukup untuk salah satu ibadah. Dalam kondisi ini, kurban sebaiknya didahulukan karena waktunya terbatas, yakni hanya pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Sementara akikah dapat dilakukan di lain waktu.
Sebaliknya, jika waktu pelaksanaan kurban masih lama sedangkan anak baru lahir, akikah bisa didahulukan jika dana mencukupi. Nantinya, saat Idul Adha tiba, ibadah kurban tetap bisa dilaksanakan sesuai kemampuan.
Bolehkah Niat Berkurban Digabungkan dengan Akikah?
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Arif Zuhri menyatakan, meski secara hukum keduanya memiliki kesamaan akan tetapi kurban dan akikah sejatinya memiliki ketentuan yang berbeda.
Mengutip pendapat Imam Syafi’i yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia dalam hukum fiqih, antara kurban dan akikah tidak bisa digabung, karena keduanya memiliki tujuan dan sebab yang berbeda.
“Tidak bisa menyatukan antara kurban dan aqiqah. Kalau diniatkan untuk kurban ya kurban Kalau niat ya berarti aqiqah. Syarat untuk kurban dan aqiqah kan mampu. Kalau tidak mampu dua-duanya pilih salah satu karena punya ketentuan yang berbeda antara kurban dan aqiqah” kata Arif Zuhri, dikutip dari umm.ac.id.
Dia juga mengatakan, akikah memiliki batasan waktu misalnya dilaksanakan pada hari ketujuh, hari ke-14 atau hari ke-21 dari kelahiran anak. Ada juga pendapat yang membolehkan pelaksanaan akikah dilakukan sampai si anak akan memasuki usia baligh.
Sementara, kurban dilaksanakan sebagai tebusan diri sendiri dan hanya dilaksanakan di hari Raya Idul Adha.
Apabila ada yang belum melaksanakan akikah untuk anaknya, namun juga ingin melaksanakan kurban akan lebih baik jika dilakukan dua-duanya apabila memiliki kemampuan. Namun jika tidak memiliki kemampuan, maka dianjurkan memilih salah satunya saja dan lainnya bisa ditunda.
Syarat Hewan Kurban dan Akikah
Muhammad bin Qasim Al-Ghazi dalam Kitab Fathul Qarib bab Kurban dan akikah menjelaskan tentang syarat hewan kurban dan akikah, mengenai fisik dan umur hewan yang boleh disembelih.
Syarat Hewan Kurban:
Domba harus berumur 1 tahun dan menuju umur 2 tahun.
Kambing harus berumur 2 tahun dan menuju umur 3 tahun serta sudah tanggal 2 giginya.
Unta harus berumur 5 tahun dan menuju umur 6 tahun serta sudah tanggal 2 giginya.
Sapi harus berumur 2 tahun dan menuju umur 3 tahun serta sudah tanggal 2 giginya.
Dari sisi fisik hewan tersebut harus lengkap dan sehat. Maka hewan yang buta total, lumpuh total, sakit total dan atau sangat kurus tidak diperbolehkan untuk hewan kurban.
Sementara, hewan yang tidak memiliki kelamin atau tanduknya pecah masih diperbolehkan untuk kurban. Namun, hewan yang kuping atau ekornya terpotong tidak diperbolehkan untuk kurban.
Syarat Hewan Akikah:
Masih menurut Qasim al-Ghazi, ketentuan mengenai hewan akikah, mengenai fisik dan umur hewan akikah secara umum sama dengan hewan kurban. Namun, dalam pelaksanaan akikah, hanya domba dan kambing yang memenuhi persyaratan.
“Ketahuilah sesungguhnya usia binatang akikah, dan selamat dari cacat yang bisa mengurangi daging, dan memakannya, dan mensedekahkan sebagiannya, dan tidak boleh menjualnya dan menjadi wajib sebab nadzar, hukumnya adalah sesuai dengan hukum yang telah dijelaskan di dalam permasalahan binatang kurban,” jelasnya, dikutip dari Fathul Qarib.
Stylesphere – Dalam ajaran Islam, neraka adalah alam balasan yang Allah SWT ciptakan sebagai tempat bagi manusia yang mempertanggungjawabkan dosa-dosanya di dunia. Al-Qur’an dan hadis menjelaskan bahwa neraka memiliki beberapa tingkatan dengan nama, karakteristik, dan penghuni yang berbeda-beda.
Setiap tingkatan neraka mengandung azab yang sesuai dengan jenis dosa yang dilakukan manusia selama hidupnya. Nama-nama neraka tersebut menjadi peringatan keras bagi umat Islam untuk senantiasa bertakwa, menjauhi larangan Allah, dan menjalankan perintah-Nya.
Pemahaman mengenai tingkatan neraka memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran spiritual dan menguatkan iman. Seperti yang dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, pengetahuan tentang akhirat, termasuk keberadaan neraka, merupakan bagian dari rukun iman, yaitu iman kepada hari akhir, yang wajib diyakini oleh setiap muslim.
Berikut ulasan lengkap mengenai nama-nama neraka dan penjelasannya, dirangkum Anugerahslot islamic dari berbagai sumber, Jumat (8/8/2025).
Neraka dalam Islam
Neraka dalam bahasa Arab disebut “nar” yang berarti api atau “jahannam” yang merujuk pada tempat siksaan di akhirat. Konsep neraka dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai tempat hukuman, namun juga sebagai manifestasi keadilan Allah SWT terhadap perbuatan manusia.
Al-Quran menyebutkan berbagai nama neraka dengan karakteristik yang berbeda-beda. Setiap nama memiliki makna khusus yang menggambarkan jenis siksaan dan golongan orang yang akan menghuninya. Para ulama telah menjelaskan bahwa perbedaan nama ini menunjukkan tingkatan dan gradasi hukuman sesuai dengan berat ringannya dosa.
Menurut Kitab Ahwal al-Qubur wa Ahwal Ahl al-Akhirah karya Imam Ibn Rajab al-Hanbali, neraka memiliki tujuh tingkatan dengan nama-nama khusus yang disebutkan dalam Al-Quran. Setiap tingkatan memiliki penghuni dan jenis siksaan yang berbeda sesuai dengan perbuatan mereka di dunia.
Pemahaman tentang neraka bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai peringatan dan motivasi untuk berbuat kebaikan. Para ulama menekankan bahwa Allah SWT Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Nama-Nama Neraka dan Karakteristiknya
1. Jahannam
Jahannam merupakan nama neraka yang paling umum disebutkan dalam Al-Quran. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “tempat yang sangat panas”. Neraka Jahannam digambarkan sebagai tempat dengan api yang sangat menyala dan tidak pernah padam.
2. Saqar
Saqar adalah neraka dengan api yang menyala-nyala dan memanggang. Dalam Al-Quran Surah Al-Muddatsir ayat 42-43, Allah SWT menyebutkan neraka Saqar sebagai tempat bagi orang-orang yang tidak melaksanakan shalat dan tidak memberi makan orang miskin.
3. Hutamah
Hutamah berarti “penghancur” atau “pemecah belah”. Neraka ini disebutkan dalam Al-Quran Surah Al-Humazah sebagai tempat bagi orang-orang yang suka mencela, menghina, dan mengumpulkan harta secara berlebihan.
4. Jaheem
Jaheem adalah neraka dengan api yang menyala dan melahap segala sesuatu. Nama ini disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran sebagai tempat bagi orang-orang yang berbuat kezaliman dan menyakiti sesama.
5. Ladha
Ladha atau Laza merupakan neraka dengan api yang memiliki kekuatan dahsyat. Dalam Al-Quran Surah Al-Ma’arij, neraka ini digambarkan sebagai api yang mencabut kulit kepala.
6. Havia
Neraka Havia disebutkan dalam Al-Quran sebagai tempat yang sangat dalam dan gelap. Api neraka ini digambarkan sebagai api yang sangat panas dan mengerikan bagi penghuninya.
7. Sa’ir
Sa’ir berarti “api yang menyala” dan merupakan salah satu nama neraka yang disebutkan dalam Al-Quran. Neraka ini digambarkan sebagai tempat dengan api yang tidak pernah padam dan siksaan yang berkelanjutan.
8. Hawiyah
Hawiyah adalah neraka yang digambarkan sebagai jurang yang sangat dalam. Nama ini disebutkan dalam Al-Quran Surah Al-Qari’ah sebagai tempat bagi orang-orang yang amal kebaikannya ringan di timbangan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Islamic Research Foundation, klasifikasi nama-nama neraka ini menunjukkan keadilan Allah dalam memberikan balasan sesuai dengan jenis dan tingkat kesalahan yang dilakukan manusia.
Tingkatan dan Derajat Neraka
Neraka memiliki tujuh tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat dosa dan kesalahan penghuninya. Tingkatan paling atas ditempati oleh orang-orang Islam yang melakukan dosa besar namun masih beriman, sementara tingkatan paling bawah untuk orang-orang kafir dan munafik.
Setiap tingkatan memiliki nama khusus dan jenis siksaan yang berbeda. Perbedaan ini menunjukkan keadilan Allah SWT dalam memberikan balasan yang proporsional terhadap perbuatan setiap hamba-Nya. Para ulama menjelaskan bahwa tidak semua penghuni neraka akan kekal, sebagian akan keluar setelah menerima hukuman sesuai dosanya.
Konsep tingkatan neraka ini juga menjadi motivasi bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan memahami gradasi hukuman di akhirat, manusia diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak di dunia.
Tafsir Al-Qurtubi menjelaskan secara detail tentang tingkatan neraka dan karakteristik masing-masing tingkatannya berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis yang sahih.
Golongan Orang yang Akan Menghuni Neraka
Pelaku Dosa Besar (Kabair)
Golongan pertama adalah mereka yang melakukan dosa-dosa besar seperti pembunuhan, zina, riba, dan syirik. Para pelaku dosa besar akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatan mereka, kecuali jika Allah mengampuni atau mereka bertaubat sebelum meninggal dunia.
Orang-Orang Kafir
Al-Quran secara tegas menyebutkan bahwa orang-orang kafir akan kekal dalam neraka. Mereka yang menolak untuk beriman kepada Allah dan rasul-Nya akan mendapat azab yang pedih di akhirat nanti.
Pelaku Kezaliman
Orang-orang yang berbuat zalim terhadap sesama manusia, baik dalam bentuk penindasan, korupsi, maupun pelanggaran hak asasi manusia, akan mendapat balasan di neraka sesuai dengan tingkat kezaliman yang dilakukannya.
Orang yang Sombong dan Takabbur
Kesombongan merupakan sifat yang sangat dibenci Allah SWT. Orang-orang yang sombong dan merasa dirinya superior dibanding orang lain akan mendapat tempat di neraka sebagai balasan atas sikapnya.
Menurut Kitab Riyadh ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi, klasifikasi penghuni neraka ini berdasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis shahih yang menjelaskan tentang balasan di akhirat.
Hikmah dan Pelajaran dari Konsep Neraka
Konsep neraka dalam Islam mengandung banyak hikmah dan pelajaran penting bagi kehidupan manusia. Pertama, neraka berfungsi sebagai sistem keadilan ilahi yang menjamin setiap perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal. Kedua, pengetahuan tentang neraka menjadi motivator kuat untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran.
Ketiga, konsep neraka mengajarkan tentang tanggung jawab individual setiap manusia terhadap perbuatannya. Tidak ada yang dapat menanggung dosa orang lain dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri di hadapan Allah SWT. Keempat, pemahaman tentang neraka menumbuhkan rasa takut yang sehat (khauf) kepada Allah, yang merupakan salah satu sifat wajib bagi setiap mukmin.
Hikmah lainnya adalah mendorong manusia untuk senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri. Dengan mengetahui konsekuensi dari perbuatan dosa, manusia diharapkan akan lebih berhati-hati dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amal saleh.
Ihya Ulum ad-Din karya Imam Al-Ghazali menekankan bahwa perenungan tentang akhirat, termasuk neraka, merupakan salah satu cara untuk membersihkan jiwa dan meningkatkan kualitas spiritual seseorang.
Cara Menghindari Azab Neraka
Beriman dan Bertakwa
Langkah pertama dan utama untuk menghindari neraka adalah dengan beriman kepada Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Iman yang kuat menjadi benteng pertama dari berbagai godaan dan kemaksiatan.
Amal Saleh
Melakukan amal saleh secara konsisten merupakan cara efektif untuk menghindari azab neraka. Amal saleh meliputi ibadah ritual seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, serta amal sosial seperti membantu sesama dan berbuat adil.
Bertaubat
Bertaubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh) dapat menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan. Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat dan akan mengampuni segala dosanya asalkan taubatnya memenuhi syarat dan rukun yang benar.
Istighfar dan Dzikir
Memperbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah SWT dapat menjadi penghapus dosa dan pelindung dari azab neraka. Rasulullah SAW menganjurkan untuk istighfar minimal 100 kali setiap hari.
Berbuat Baik kepada Sesama
Islam mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia, terutama kepada orang tua, kerabat, tetangga, dan kaum dhuafa. Perbuatan baik ini akan menjadi tabungan amal di akhirat.
Menurut Kitab At-Taubah karya Imam Ibn Taimiyah, kombinasi antara iman, amal saleh, dan taubat nasuha merupakan formula lengkap untuk menghindari azab neraka dan meraih keridhaan Allah SWT.
Stylesphere – Wudhu merupakan salah satu syarat sahnya sholat yang memiliki tata cara khusus sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Wudhu bukan sekadar aktivitas membasuh anggota tubuh, tetapi sebuah ritual spiritual yang penuh makna, di mana seorang Muslim mempersiapkan diri secara fisik dan batin untuk menghadap Allah SWT.
Menurut Muhammad Ajib, Lc., MA dalam bukunya yang berjudul Fiqih Wudhu Versi Madzhab Syafi’iy, secara bahasa kata wudhu’ (الوُضوء ) dalam bahasa Arab berasal dari kata al-wadha’ah (الوَضَاءَة ). Kata ini bermakna an-Nadhzafah (النظافة ) yaitu kebersihan.
Menurut istilah syar’i, wudhu adalah aktivitas khusus yang diawali dengan niat. Atau aktivitas menggunakan air pada anggota badan khusus yang diawali dengan niat.
Dalam praktiknya, banyak umat Islam bertanya-tanya mengenai status hukum dari beberapa bagian dalam wudhu, termasuk membasuh atau mengusap kedua telinga. Apakah hal ini termasuk rukun wudhu (wajib) atau hanya sunah?
Pertanyaan ini tidak hanya muncul di kalangan awam, tetapi juga menjadi bahan kajian dalam kitab-kitab fiqih klasik yang disusun oleh para ulama dari empat mazhab besar: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Berikut ini Anugerahslot islamic ulas seputar hukum mengusap telinga dalam wudhu menurut pendapat para ulama dari berbagai mazhab, seperti dirangkum dari berbagai sumber, Minggu (03/08/25).
Dalil-Dalil Terkait Mengusap Telinga
1. Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 6:
Latin: yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ qumtum ilash-shalâti faghsilû wujûhakum wa aidiyakum ilal-marâfiqi wamsaḫû biru’ûsikum wa arjulakum ilal-ka‘baîn.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Ma’idah: 6)
Dalam ayat ini, kepala disebutkan secara eksplisit, tetapi telinga tidak disebutkan secara khusus. Maka para ulama merujuk kepada hadis untuk menjelaskan status telinga.
2. Hadis Nabi SAW
Rasulullah SAW bersabda:
الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ
Latin : “al-udzunāni mina ar-ra’si
Artinya:
“Kedua telinga itu termasuk bagian dari kepala.” (HR. Abu Dawud no. 134, At-Tirmidzi no. 36; Hasan menurut sebagian ulama)
Dalam riwayat lain dijelaskan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَسَحَ أُذُنَيْهِ دَاخِلَهُمَا بِالسَّبَّابَتَيْنِ وَخَالَفَ إِبْهَامَيْهِ إِلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ فَمَسَحَ ظَاهِرَهُمَا وَبَاطِنَهُمَا
Latin : “Anna Rasūlallāh -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- masaḥa udzunaihi dākhilahumā bis-sabbābataini wa khālafa ibhāmaihi ilā ẓāhiri udzunaihi, fa-masaḥa ẓāhirahumā wa bāṭinahumā.”
Artinya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian dalam kedua telinganya dengan kedua jari telunjuknya dan kedua ibu jari mengusap bagian luar telingaa. Jadi, beliau mengusap bagian luar dan dalam dari dua telinga.” (HR. Ibnu Majah no. 439)
Pendapat Ulama Mengenai Hukum Mengusap Telinga Saat Wudhu
1. Mazhab Syafi’i
Menurut Imam An-Nawawi (w. 676 H), mengusap kedua telinga adalah sunah dalam wudhu, bukan wajib. Imam Nawawi mengatakan, “Mengusap kedua telinga adalah sunah dalam wudhu menurut kami (Syafi’iyah), bukan wajib.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/407)
Syafi’iyah berpendapat bahwa karena telinga tidak disebutkan dalam ayat wudhu, maka statusnya tidak wajib. Hadis Nabi SAW yang menjelaskan tentang telinga dijadikan dasar pensunahan.
2. Mazhab Hanafi
Dalam mazhab Hanafi, mengusap telinga juga dianggap sunah. Imam Al-Kasani dalam Bada’i as-Shana’i menyebutkan: “Mengusap kedua telinga adalah sunah, karena Nabi SAW melakukannya dalam wudhu, tetapi tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur’an tentang itu.”
3. Mazhab Maliki
Imam Malik memiliki pendapat yang lebih kuat: mengusap telinga adalah wajib, karena dianggap bagian dari kepala.
Dalam Al-Mudawwanah, Imam Malik berkata: “Barang siapa mengusap kepalanya dan tidak mengusap telinganya, maka wudhunya tidak sah.” (Al-Mudawwanah al-Kubra, 1/23)
Namun, sebagian ulama Maliki menyebut bahwa yang dimaksud kepala mencakup telinga, sehingga wajib diusap bersama kepala.
4. Mazhab Hanbali
Dalam mazhab Hanbali, mengusap kedua telinga juga dianggap wajib, karena hadis yang menyatakan “telinga bagian dari kepala”. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan: “Mengusap telinga itu wajib, karena termasuk kepala.” (Al-Mughni, 1/101)
Berdasarkan perbedaan ini, umat Islam hendaknya mengikuti pendapat mazhab yang diyakini atau dianutnya. Namun, mengusap telinga tetap dianjurkan oleh semua mazhab sebagai bagian dari kesempurnaan wudhu dan mengikuti sunnah Nabi SAW.
Stylesphere – Fenomena menyusutnya aliran Sungai Eufrat dalam beberapa tahun terakhir telah menimbulkan keprihatinan luas, tidak hanya dari sisi lingkungan dan sosial-ekonomi, tetapi juga dari sudut pandang keagamaan. Sungai legendaris yang mengalir melewati Turki, Suriah, dan Irak ini kini mengalami penurunan debit air yang sangat signifikan.
Penyusutan Debit Air yang Mengkhawatirkan
Data dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan bahwa sejak tahun 2003 hingga 2010, Sungai Eufrat mengalami pengurangan volume air hingga 144 juta kilometer kubik. Pemerintah Irak bahkan mengeluarkan peringatan bahwa jika tren ini terus berlanjut, Eufrat bisa benar-benar mengering pada tahun 2040.
Kondisi ini diperburuk oleh sejumlah faktor seperti pembangunan bendungan besar di hulu sungai, perubahan iklim global, serta konflik geopolitik di kawasan yang menghambat kerja sama pengelolaan sumber daya air lintas negara.
Perspektif Islam: Tanda Kiamat?
Di kalangan umat Islam, fenomena ini juga memicu perbincangan serius terkait dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah mengeringnya Sungai Eufrat dan terbukanya harta karun berupa gunung emas di bawahnya.
Hal ini dijelaskan dalam jurnal berjudul Kaidah Dalam Interaksi dan Interpretasi Terhadap Nas-nas Tanda Hari Kiamat karya Lukmanul Hakim Sudahnan (2019). Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa sebagian umat Muslim mengaitkan kejadian ini dengan nubuwat kenabian, meskipun tafsir terhadap hadis tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.
Perlu Pendekatan Ilmiah dan Spiritual
Meskipun hadis-hadis tersebut menjadi perhatian, para ahli mengingatkan agar tidak tergesa-gesa dalam menafsirkan setiap bencana atau fenomena alam sebagai tanda kiamat. Pendekatan ilmiah tetap penting untuk memahami akar permasalahan dan mencari solusi yang konkret terhadap krisis air yang tengah berlangsung.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi pengingat spiritual bagi umat manusia untuk menjaga alam dan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Mengeringnya Sungai Eufrat dan Hadis Nabi: Antara Tanda Kiamat dan Peringatan Moral
Fenomena surutnya aliran Sungai Eufrat belakangan ini menarik perhatian luas, bukan hanya dari sisi krisis air dan geopolitik, tetapi juga dalam perspektif eskatologi Islam. Banyak umat Muslim mulai mengaitkan kejadian ini dengan salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Kiamat tidak akan terjadi sampai Sungai Eufrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan akulah orang yang selamat.'” (HR. Muslim No. 2894)
Hadis ini tidak hanya menggambarkan peristiwa fisik, tetapi juga memperingatkan dampak sosial dan moral dari kerakusan manusia terhadap kekayaan dunia.
Tiga Tahapan dalam Hadis
Hadis ini menggambarkan tiga fase penting yang akan terjadi:
Pengeringan Sungai Eufrat Tahap pertama adalah berkurangnya air sungai secara drastis — fenomena yang saat ini tengah berlangsung akibat perubahan iklim, pembangunan bendungan di hulu, dan konflik regional.
Munculnya “Gunung Emas” Tahap selanjutnya adalah munculnya kekayaan besar yang selama ini tersembunyi di dasar sungai. Banyak yang menafsirkan “gunung emas” ini secara simbolik sebagai sumber daya strategis seperti minyak, gas alam, atau potensi ekonomi lain yang bisa memicu perebutan.
Konflik Global dan Kehancuran Massal Perebutan kekayaan tersebut digambarkan akan menimbulkan pertumpahan darah besar-besaran, bahkan 99 dari 100 orang yang ikut terlibat akan terbunuh. Hal ini mengisyaratkan bahwa kerakusan manusia dapat membawa kehancuran kolektif.
Larangan Mengambil Emas: Peringatan dari Nabi
Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan tegas agar tidak mengambil harta tersebut, seolah menjadi peringatan agar manusia tidak terjerumus dalam fitnah kekayaan yang dapat memicu kehancuran. Ini merupakan bentuk perlindungan spiritual dari jebakan duniawi yang bersifat merusak.
Penafsiran Kontekstual: Pendekatan Fazlur Rahman
Dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965), Fazlur Rahman menekankan pentingnya memahami hadis dalam konteks historis dan sosialnya. Ia mengingatkan bahwa hadis-hadis profetik seperti ini tidak sekadar ramalan literal, tetapi juga mengandung nilai moral yang mendalam.
Menurut Rahman, hadis tentang Eufrat dan gunung emas bukan sekadar narasi kiamat, melainkan peringatan terhadap sifat serakah manusia yang bisa menghancurkan tatanan sosial. Dengan demikian, pesan utama hadis ini adalah agar manusia menjauhi keserakahan dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan dunia.
Krisis Air Sungai Eufrat dan Demam Emas di Suriah: Antara Kenyataan dan Harapan
Sungai Eufrat kini menghadapi krisis air yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian dan pasokan air bersih, tetapi juga memicu gejolak sosial baru: perburuan emas.
Melansir laporan Shafaq News tertanggal 1 Agustus 2025, puluhan warga di pedesaan Raqqa, Suriah, terlihat berkerumun di tepi sungai yang mengering. Dengan alat sederhana, mereka menggali lapisan pasir sungai yang surut, berharap menemukan butiran emas mentah yang mungkin tersembunyi di dasar Eufrat.
Kondisi Fisik Sungai yang Memburuk
Krisis ini bukan sekadar penurunan permukaan air biasa. Data ilmiah menunjukkan keparahan situasi:
Penurunan debit air tercatat mencapai 18 milimeter per bulan setiap abad, menandakan tren jangka panjang yang mengkhawatirkan.
Volume air Sungai Eufrat kini hanya setengah dari rata-rata aliran tahunannya.
Ketinggian air berada pada titik terendah sepanjang sejarah pencatatan modern.
Kualitas air juga menurun drastis, akibat meningkatnya konsentrasi polutan yang tidak terencerkan.
Lapisan sedimentasi mineral mulai terekspos di dasar sungai yang mengering, mengundang spekulasi tentang kandungan logam mulia.
Apakah Ada Emas di Sungai Eufrat?
Ahli geologi Khaled al-Shammari, dalam wawancaranya dengan Shafaq News, menjelaskan bahwa keberadaan endapan mineral memang lazim di sepanjang aliran Sungai Eufrat, terutama karena sungai ini melintasi wilayah yang kaya unsur geologis. Namun, ia menekankan bahwa penampakan batuan berkilau atau pasir mengilap tidak serta-merta menunjukkan adanya emas.
“Butuh analisis geokimia dan survei mineralogi mendalam untuk memastikan kandungan emas,” ujar al-Shammari. Ia memperingatkan bahwa spekulasi tanpa dasar ilmiah hanya akan memperburuk kondisi sosial yang sudah rapuh di wilayah tersebut.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana krisis lingkungan bisa berubah menjadi krisis sosial. Warga yang terhimpit kemiskinan dan keterbatasan sumber daya mencoba mengadu nasib di tengah pengeringan sungai, berharap menemukan “gunung emas” seperti yang disinggung dalam hadis-hadis eskatologis.
Namun, ketidaktahuan akan realita geologis dan absennya panduan resmi justru dapat memicu eksploitasi, penipuan, atau bahkan konflik horizontal di tengah masyarakat lokal.
Demam Emas di Tepi Eufrat: Antara Realitas Sosial dan Pantulan Hadis
Krisis air di Sungai Eufrat kini melahirkan fenomena sosial yang kompleks. Penyusutan air secara ekstrem tidak hanya mengguncang ekosistem dan pertanian di sepanjang aliran sungai, tetapi juga memicu euforia baru: aktivitas pencarian emas secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Berawal dari kemunculan gundukan bebatuan berkilau di salah satu tepi sungai yang mengering, masyarakat mulai berbondong-bondong melakukan penggalian. Apa yang awalnya hanya harapan spekulatif, kini telah berkembang menjadi aktivitas penambangan rakyat yang masif dan tak terorganisir.
Karakteristik Fenomena Sosial di Tepi Eufrat
Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi yang terjadi dalam ruang krisis. Ciri-ciri utamanya meliputi:
Penambangan massal dengan alat sederhana seperti sekop, cangkul, bahkan tangan kosong.
Munculnya perkemahan sementara, berupa tenda-tenda darurat yang berdiri berderet di sepanjang tepi sungai.
Lonjakan harga alat tambang, menciptakan ekonomi mikro berbasis kebutuhan lokal yang dadakan.
Munculnya broker amatir, yang membeli hasil temuan dari para penambang untuk dijual kembali ke pasar gelap atau kolektor.
Tidak adanya regulasi atau pengawasan dari otoritas pemerintah atau lembaga keamanan.
Fenomena ini menempatkan masyarakat dalam kondisi yang rentan terhadap eksploitasi, konflik horizontal, serta bahaya lingkungan akibat aktivitas tambang liar.
Cerminan Hadis dalam Realitas Kontemporer
Dalam dimensi keislaman, fenomena ini juga menjadi bahan renungan teologis. Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyebutkan bahwa salah satu tanda mendekati kiamat adalah mengeringnya Sungai Eufrat hingga muncul “gunung emas” yang menyebabkan manusia saling bunuh dalam perebutannya.
Menariknya, penelitian Abdul Fatah Idris dalam Jurnal Wahana Akademika (2016) menegaskan bahwa manifestasi hadis-hadis eskatologis seperti ini tidak selalu harus dipahami secara literal, melainkan bisa ditafsirkan dalam konteks sosial, ekonomi, dan geopolitik masa kini. Misalnya, “gunung emas” dapat dipahami sebagai simbol sumber daya langka yang menjadi pemicu konflik.
Refleksi dan Implikasi
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini sekadar gejolak ekonomi rakyat, atau cerminan dari tanda-tanda kenabian yang mulai menampakkan wujudnya di era modern? Terlepas dari jawabannya, yang jelas adalah bahwa:
Krisis ekologi dapat melahirkan gejolak sosial yang tidak terkendali.
Masyarakat membutuhkan bimbingan, bukan hanya dalam aspek ekonomi, tapi juga spiritual dan edukatif agar tidak terjebak dalam ilusi dan eksploitasi.
Negara dan ulama perlu hadir bersama, memberikan arahan yang bijak antara realitas dan kepercayaan.
Gunung Emas di Eufrat: Tafsir Hadis di Tengah Kenyataan Kontemporer
Fenomena mengeringnya Sungai Eufrat tidak hanya menjadi isu ekologi dan sosial, tetapi juga memicu perbincangan intens di kalangan umat Islam. Hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan kemunculan “gunung emas” ketika Sungai Eufrat mengering kini kembali mencuat sebagai topik diskusi publik dan akademik. Namun, para ulama dan cendekiawan Islam memiliki beragam pandangan terkait bagaimana seharusnya hadis tersebut dimaknai dalam konteks masa kini.
1. Tafsir Literal: Emas Fisik di Dasar Sungai
Sebagian ulama memahami gunung emas secara literal, yakni sebagai endapan emas murni yang akan muncul ketika sungai benar-benar mengering. Munculnya bebatuan berkilau di wilayah Raqqa, Suriah—yang kemudian memicu aktivitas penambangan rakyat—menjadi dasar bagi mereka yang mendukung pendekatan ini.
Namun demikian, belum ada bukti ilmiah kuat yang memastikan keberadaan emas dalam jumlah signifikan di dasar Sungai Eufrat. Para ahli geologi seperti Khaled al-Shammari juga menekankan pentingnya analisis laboratorium untuk memastikan komposisi mineral yang ditemukan masyarakat.
2. Tafsir Simbolik: Sumber Daya Strategis
Pendekatan simbolis dipilih oleh sejumlah mufasir klasik dan kontemporer, seperti Ibn Katsir dan ulama modern lainnya. Mereka menafsirkan “emas” bukan dalam bentuk harfiah, melainkan sebagai simbol kekayaan besar yang memicu konflik global.
Dalam konteks ini, minyak bumi, atau yang sering dijuluki emas hitam, dianggap sebagai bentuk modern dari kekayaan tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa kawasan yang dilintasi Sungai Eufrat—yakni Irak, Suriah, dan sekitarnya—merupakan poros penting energi dunia, dan menjadi medan perebutan geopolitik selama beberapa dekade terakhir.
3. Tafsir Kontekstual: Peringatan Moral bagi Manusia
Cendekiawan Muslim ternama seperti Fazlur Rahman menekankan pentingnya membaca hadis dalam kerangka moral dan historis. Dalam karyanya Major Themes of the Qur’an (1980), Rahman menjelaskan bahwa inti dari nash-nash semacam ini bukan pada benda atau peristiwanya, melainkan pada perilaku manusia yang dilanda keserakahan dan perebutan kekuasaan.
Dengan demikian, kemunculan “gunung emas” adalah simbol fitnah yang memicu bencana kemanusiaan, sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa 99 dari 100 orang akan terbunuh karena memperebutkannya. Pesannya adalah peringatan keras terhadap ambisi buta yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Peringatan Ulama: Jangan Gegabah Menarik Kesimpulan
Ulama Suriah, Asaad Al Hamdani, dalam wawancaranya dengan Shafaq News, memperingatkan bahwa umat Islam tidak boleh tergesa-gesa mengaitkan setiap fenomena alam dengan tanda-tanda kiamat. Menurutnya, pemahaman terhadap hadis-hadis semacam ini harus dikaji dengan hati-hati, melibatkan para ahli agama, sejarah, dan ilmu pengetahuan agar tidak jatuh pada spekulasi yang menyesatkan.
Kesimpulan: Tafsir Beragam, Hikmah Tetap Sama
Baik dimaknai secara literal, simbolis, maupun kontekstual, intisari dari hadis tentang gunung emas adalah peringatan terhadap kerakusan manusia dan dampaknya bagi kemanusiaan. Fenomena di Sungai Eufrat hari ini seharusnya menjadi momentum bagi refleksi kolektif—bukan hanya soal potensi emas, tetapi soal arah peradaban kita di tengah krisis sumber daya dan moralitas.
Krisis Sungai Eufrat: Antara Bencana Lingkungan dan Ketegangan Geopolitik
Sungai Eufrat, salah satu sungai tertua dan terpenting dalam sejarah peradaban manusia, kini menghadapi krisis multidimensi yang mengancam stabilitas sosial, ekonomi, dan politik di kawasan Timur Tengah. Mengalir melewati Turki, Suriah, dan Irak, sungai ini kini mengalami penyusutan dramatis yang berdampak langsung pada kehidupan jutaan manusia.
Dampak Kemanusiaan: Krisis Air, Pangan, dan Kesehatan
Kekeringan di Sungai Eufrat telah menyebabkan penurunan produksi pangan secara drastis. Di Suriah, produksi gandum—bahan pangan pokok utama—dilaporkan anjlok hingga 75%, memperburuk krisis pangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akibat konflik bersenjata.
Selain itu, krisis air bersih semakin parah. Wabah penyakit menular seperti kolera, diare, dan demam tifoid merebak luas sejak 2022, sebagaimana dicatat oleh British Medical Journal (BMJ). Kondisi sanitasi yang buruk dan kelangkaan air mempercepat penyebaran penyakit di kamp-kamp pengungsi dan wilayah-wilayah miskin.
Jutaan warga, khususnya petani dan peternak, terpaksa bermigrasi meninggalkan lahan mereka yang tak lagi subur. Akibatnya, terjadi ketegangan sosial di daerah tujuan migrasi, seiring dengan meningkatnya kompetisi atas sumber daya yang semakin langka.
Dampak Ekonomi: Runtuhnya Pertanian, Munculnya Ekonomi Rakyat
Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), krisis ini telah menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar, terutama pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal di Suriah dan Irak. Nilainya mencapai miliaran dolar.
Di sisi lain, fenomena penambangan rakyat di sepanjang bantaran sungai akibat surutnya air memicu ekonomi mikro baru. Masyarakat menggunakan peralatan sederhana untuk menggali tanah demi menemukan batu berkilau yang diyakini mengandung emas. Meski memberi harapan sesaat, aktivitas ini belum cukup untuk menutup kerugian besar dari sektor tradisional.
Dampak Geopolitik: Sungai sebagai Titik Ketegangan Transnasional
Persoalan Sungai Eufrat tidak hanya terkait cuaca ekstrem dan perubahan iklim, tetapi juga politik pengelolaan air lintas negara. Ketiga negara yang dilalui sungai ini memiliki pendekatan dan kepentingan yang berbeda.
Faktor-faktor Geopolitik Utama:
Proyek GAP Turki: Inisiatif pembangunan besar yang mencakup 22 bendungan dan pembangkit listrik tenaga air. Proyek ini menahan sebagian besar aliran air menuju Suriah dan Irak.
Konflik internal Suriah: Membuat negara ini tidak mampu mengelola infrastruktur air secara efektif.
Ketergantungan Irak: Negara ini bergantung hampir sepenuhnya pada air dari sungai yang bermula di luar wilayahnya.
Ketiga negara kini berada dalam kompetisi strategis untuk mempertahankan kontrol atas sungai yang makin menyusut. Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), situasi ini mencerminkan tantangan baru dalam pengelolaan sumber daya transnasional di tengah krisis iklim dan ketidakstabilan politik regional.
Penutup: Krisis Eufrat sebagai Cermin Peradaban
Mengeringnya Sungai Eufrat bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga peristiwa simbolik yang mencerminkan ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia dan daya dukung alam. Dampaknya merentang dari aspek spiritual, sebagaimana dibahas dalam diskursus keislaman tentang “gunung emas”, hingga konsekuensi nyata dalam geopolitik dan kemanusiaan.
Eufrat kini berdiri sebagai cermin krisis peradaban modern—di mana eksploitasi, konflik, dan perubahan iklim bersatu dalam satu alur yang suram. Jalan keluar memerlukan kerja sama lintas negara, pendekatan ilmiah, dan kebijakan yang berkeadilan terhadap sumber daya bersama.
Stylesphere – Abu Thalib merupakan sosok paman yang memegang peranan penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak usia dini. Sejak wafatnya Abdul Muthalib, kakek Nabi, ketika Nabi masih berusia delapan tahun, Abu Thalib dengan penuh kasih mengambil alih tanggung jawab mengasuh dan melindungi keponakannya.
Selama bertahun-tahun, Abu Thalib menunjukkan kesetiaan dan pengabdian luar biasa. Meskipun ia tidak secara resmi memeluk agama Islam, komitmennya dalam mendukung perjuangan Nabi tidak pernah surut. Ia selalu berdiri di garda depan ketika Nabi menghadapi tekanan, ancaman, dan penolakan dari kaum Quraisy.
Dikutip dari Anugerahslot Baznas.go.id, perlindungan yang diberikan Abu Thalib bukan hanya bentuk kasih sayang keluarga, tetapi juga menjadi pondasi penting dalam perjalanan dakwah Islam di Mekah. Perannya yang konsisten dan tak tergantikan menjadikannya salah satu figur sentral dalam sejarah awal penyebaran Islam.
Sebagai paman dan pelindung, Abu Thalib menunjukkan bahwa nilai-nilai kebenaran dan kesetiaan dapat melampaui batas formal keyakinan. Dukungan tanpa pamrih yang ia berikan kepada Nabi Muhammad SAW tetap dikenang sebagai salah satu bentuk pengabdian paling luhur dalam sejarah Islam.
Abu Thalib: Sosok Pelindung dan Pengasuh Setia Nabi Muhammad SAW
Abu Thalib, yang memiliki nama asli Abdu Manaf bin Abdul Muthalib, merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW dari jalur ayah. Setelah wafatnya sang kakek, Abdul Muthalib, Abu Thalib mengambil peran sebagai wali dan pengasuh utama Nabi yang saat itu masih berusia delapan tahun. Hubungan antara keduanya sangat erat, bahkan melebihi kedekatan antara ayah dan anak kandung.
Sebagai salah satu tokoh terkemuka dari suku Quraisy, Abu Thalib memiliki pengaruh yang besar di tengah masyarakat Mekah. Pengaruh ini ia gunakan sepenuhnya untuk melindungi keponakannya, terutama ketika dakwah Islam mulai disampaikan secara terbuka dan menghadapi penolakan keras dari kalangan Quraisy. Di tengah tekanan yang semakin besar, Abu Thalib tetap berdiri teguh mendampingi Nabi, menjadi perisai yang melindunginya dari berbagai ancaman.
Dikutip dari Darussunnah.sch.id, Abu Thalib bukan hanya sekadar paman, melainkan figur pengasuh sejati yang selalu mendampingi Rasulullah SAW, bahkan sejak beliau masih kecil. Kasih sayangnya begitu besar hingga melebihi rasa cintanya terhadap anak-anaknya sendiri. Ketulusan dan pengabdiannya menjadi salah satu pondasi penting yang menguatkan langkah dakwah Rasulullah di masa awal Islam.
Kesetiaan Abu Thalib dalam Melindungi Nabi dari Ancaman Quraisy
Abu Thalib memegang peranan vital dalam melindungi Nabi Muhammad SAW dari berbagai ancaman yang datang dari kaum Quraisy. Sebagai pemimpin terhormat dari Bani Hasyim, ia menggunakan pengaruh dan kedudukannya untuk menjadi tameng bagi keponakannya. Ketika tekanan dan ancaman dari kaum Quraisy semakin gencar, Abu Thalib tetap berdiri teguh, menolak setiap upaya mereka untuk menghentikan dakwah Nabi.
Tegar dalam Masa Pemboikotan
Salah satu bentuk pengorbanan terbesar Abu Thalib terlihat saat kaum Quraisy memberlakukan pemboikotan ekonomi dan sosial terhadap Bani Hasyim. Selama tiga tahun masa yang penuh kesulitan itu, Abu Thalib tetap setia mendampingi dan melindungi Nabi Muhammad SAW. Ia rela menanggung penderitaan dan kelaparan demi menjaga keutuhan keluarganya serta mempertahankan prinsipnya untuk melindungi keponakan yang dicintainya.
Menolak Tekanan dan Imbalan
Kaum Quraisy berulang kali mengirim delegasi kepada Abu Thalib, meminta agar ia menghentikan dakwah keponakannya. Mereka bahkan menawarkan imbalan berupa harta dan kekuasaan. Namun Abu Thalib tidak tergoda. Dengan penuh keyakinan, ia menolak semua tawaran tersebut dan terus berdiri di sisi Nabi.
Pelindung yang Dihormati
Posisi Abu Thalib yang disegani di kalangan masyarakat Mekah menjadikannya tameng yang kuat bagi Nabi Muhammad SAW. Karena wibawanya, kaum Quraisy tidak berani bertindak lebih jauh terhadap Nabi selama Abu Thalib masih hidup. Keberadaannya menjadi jaminan keamanan yang sangat berarti dalam masa awal dakwah Islam.
Dukungan Moral yang Menguatkan
Lebih dari sekadar pelindung fisik, Abu Thalib juga menjadi sumber kekuatan moral dan emosional bagi Nabi Muhammad SAW. Dukungan dan kasih sayangnya memberikan ketenangan serta kekuatan batin bagi Nabi dalam menghadapi berbagai rintangan dan ujian.
Menurut penelitian dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, Abu Thalib mengasuh dan melindungi Nabi selama sekitar 42 tahun. Ia bahkan lebih mengutamakan keponakannya tersebut dibanding anak-anaknya sendiri — sebuah bukti nyata dari cinta dan pengorbanan yang luar biasa.
Peran Abu Thalib dalam Perjalanan Awal Dakwah Islam
Abu Thalib tidak hanya dikenal sebagai pelindung Nabi Muhammad SAW, tetapi juga terlibat langsung dalam sejumlah peristiwa penting yang mewarnai perjalanan awal Islam. Salah satu peristiwa bersejarah terjadi ketika Nabi masih berusia sekitar 12 tahun. Dalam sebuah perjalanan dagang ke Syam (Suriah), Abu Thalib membawa keponakannya yang masih muda untuk menemaninya. Di sana, mereka bertemu dengan seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira.
Pendeta Buhaira melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad muda, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Ia pun memperingatkan Abu Thalib agar segera membawa kembali keponakannya ke Mekah. Buhaira khawatir, jika identitas kenabian Muhammad diketahui oleh orang-orang Yahudi, keselamatannya akan terancam. Abu Thalib pun tanpa ragu membatalkan sisa perjalanannya dan segera pulang, demi melindungi keponakan tercintanya.
Ketika masa kenabian tiba dan Nabi Muhammad mulai menerima wahyu serta berdakwah secara terbuka, Abu Thalib kembali menunjukkan peran kuncinya. Ia tidak hanya memberikan perlindungan pribadi, tetapi juga menggerakkan Bani Hasyim untuk berdiri di belakang Nabi. Meskipun tidak semua dari mereka telah menerima Islam, Abu Thalib berhasil menggalang perlindungan kolektif dari keluarganya, sehingga kaum Quraisy tidak dapat bertindak semena-mena terhadap Nabi.
Dikutip dari Baznas.go.id, saat kaum Quraisy memberlakukan pemboikotan ekonomi dan sosial terhadap Bani Hasyim sebagai bentuk tekanan terhadap dakwah Nabi, Abu Thalib tetap berada di garis depan. Selama tiga tahun masa boikot tersebut, ia setia mendampingi Nabi meski harus menanggung penderitaan yang berat bersama keluarga besarnya. Dukungan dan perlindungan yang ia berikan menjadi bukti nyata dari kesetiaan dan cinta yang tulus kepada keponakan yang diakuinya lebih dari sekadar keluarga—tetapi sebagai amanah besar yang harus dijaga dengan segenap jiwa.
Kontroversi Keimanan Abu Thalib dalam Sejarah Islam
Status keimanan Abu Thalib telah menjadi topik perdebatan panjang di kalangan ulama dan sejarawan Muslim. Dalam sejumlah riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab hadis sahih, disebutkan bahwa Abu Thalib menolak mengucapkan kalimat syahadat hingga akhir hayatnya, meskipun Nabi Muhammad SAW secara pribadi memintanya berulang kali menjelang wafatnya.
Namun demikian, tidak sedikit ulama yang mengkritisi dan mempertanyakan validitas riwayat-riwayat tersebut. Dengan menggunakan pendekatan naqd al-matn (kritik isi hadis), mereka menilai bahwa hadis-hadis tersebut patut dikaji ulang, terutama karena bertentangan dengan kenyataan historis bahwa Abu Thalib selama puluhan tahun menjadi pelindung utama Rasulullah SAW dan dakwah Islam, bahkan di saat seluruh kota Mekah menentang ajaran keponakannya itu.
Salah satu argumen yang sering diajukan adalah kenyataan bahwa Abu Thalib membiarkan bahkan mendukung anak-anaknya seperti Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib untuk memeluk Islam tanpa menunjukkan penolakan atau tekanan. Ia juga tidak pernah melarang aktivitas dakwah Nabi, dan justru dengan tegas menolaknya dihentikan meski menghadapi tekanan, boikot, hingga ancaman dari kaum Quraisy.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, pendekatan naqd al-matn terhadap hadis-hadis yang menyatakan kekafiran Abu Thalib menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tersebut bertentangan dengan logika, akal sehat, serta fakta-fakta sejarah yang tercatat dengan kuat. Karena itu, beberapa akademisi dan cendekiawan Islam menilai bahwa menyimpulkan kekafiran Abu Thalib secara mutlak tidaklah tepat tanpa memperhatikan konteks sosial, politik, dan historis saat itu.
Dengan demikian, meskipun perdebatan ini belum berakhir dan tetap menjadi perbedaan pandangan di kalangan umat Islam, peran penting Abu Thalib dalam menjaga keselamatan Nabi Muhammad dan mendukung dakwah Islam tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah awal Islam.
Tahun Kesedihan: Wafatnya Abu Thalib dan Dampaknya bagi Dakwah Nabi
Tahun kesepuluh dalam perjalanan kenabian dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn atau “Tahun Kesedihan”. Sebutan ini muncul karena pada tahun tersebut, dua sosok terdekat Nabi Muhammad SAW wafat: pamannya, Abu Thalib, dan tak lama kemudian, sang istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid.
Wafatnya Abu Thalib merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Nabi, tidak hanya secara emosional, tetapi juga dari sisi perlindungan dakwah. Selama puluhan tahun, Abu Thalib telah menjadi tameng utama bagi Rasulullah dari tekanan dan ancaman kaum Quraisy. Sebagai tokoh terhormat dari Bani Hasyim, pengaruh Abu Thalib membuat banyak pihak enggan mengganggu Nabi secara langsung.
Namun setelah kepergiannya, situasi berubah drastis. Tanpa pelindung kuat seperti Abu Thalib, kaum Quraisy merasa lebih leluasa untuk menindas dan mengganggu Nabi Muhammad SAW. Ancaman yang sebelumnya dibatasi oleh rasa hormat terhadap Abu Thalib, kini mulai terbuka dan semakin intens.
Kesedihan Rasulullah atas wafatnya pamannya menunjukkan kedekatan luar biasa di antara mereka. Abu Thalib bukan hanya seorang wali, tetapi juga sahabat setia yang selalu berada di sisinya, dalam suka maupun duka. Ia memberikan dukungan tanpa syarat, bahkan ketika tidak secara terbuka menerima ajaran Islam.
Dikutip dari Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), peristiwa wafatnya Abu Thalib menjadi pukulan yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Tiga hari setelahnya, Khadijah pun wafat, menambah kesedihan yang mendalam di hati Nabi. Kehilangan dua sosok paling berpengaruh dalam hidupnya menjadikan tahun tersebut benar-benar sebagai ‘Aam al-Huzn — masa penuh duka dalam perjalanan kenabian.
Stylesphere – Momen berbuka puasa merupakan saat yang paling dinanti oleh umat Muslim setelah menahan lapar, haus, dan berbagai godaan selama seharian penuh. Di waktu yang penuh berkah ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengawali buka puasa dengan doa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang dianjurkan adalah doa buka puasa Dzahaba. Doa ini bukan sekadar bacaan, melainkan mengandung makna mendalam tentang kondisi fisik orang yang berpuasa serta harapan atas pahala dari Allah.
Memahami doa ini secara utuh—baik dalam tulisan Arab, latin, maupun arti terjemahannya—sangat penting bagi setiap Muslim. Selain menambah keberkahan saat berbuka, membaca doa ini juga membantu memperkuat nilai spiritual dalam ibadah puasa.
Berikut ini bacaan lengkap doa buka puasa Dzahaba, seperti dirangkum Anugerahslot islamic dari berbagai sumber, Senin (4/8/2025):
Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.
Artinya:
“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”
Doa ini mencerminkan rasa syukur karena telah menyelesaikan ibadah puasa serta keyakinan bahwa Allah akan memberikan ganjaran atas ketulusan dan kesabaran selama menjalankan puasa. Oleh karena itu, mengamalkan doa ini saat berbuka menjadi salah satu sunnah yang sebaiknya tidak ditinggalkan.
Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa “Dzahaba” yang Diajarkan Rasulullah SAW
Doa berbuka puasa yang diawali dengan kata “dzahaba” merupakan salah satu doa yang langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi menjadi bentuk pengakuan dan rasa syukur atas nikmat makanan serta minuman yang Allah SWT karuniakan setelah menahan diri sepanjang hari.
Berbeda dengan doa sebelum berbuka, doa dzahaba dianjurkan dibaca setelah membatalkan puasa, sebagai refleksi atas selesainya ibadah dan harapan diterimanya pahala dari Allah.
Doa ini memiliki kedudukan istimewa karena bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (HR. Abu Dawud No. 2357), yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri membacanya setiap kali berbuka.
Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.
Terjemahan Bahasa Indonesia:
“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”
Membaca doa ini mengandung harapan bahwa amal ibadah puasa yang telah dilakukan diterima dan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Ini sekaligus menjadi penutup spiritual yang indah setelah sehari penuh berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.
Makna Mendalam Doa Buka Puasa “Dzahaba” dalam Kehidupan Muslim
Doa buka puasa dzahaba merupakan ungkapan spiritual yang sarat makna dan dibaca oleh umat Muslim sesaat setelah membatalkan puasa. Doa ini bukan hanya sebuah bacaan, melainkan bentuk pengakuan tulus dan rasa syukur mendalam kepada Allah SWT atas nikmat-Nya, khususnya setelah seharian penuh menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.
Secara makna, doa ini sangat menggambarkan kondisi fisik dan emosional seseorang yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa. Kalimat “dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruq” berarti “telah hilang rasa haus dan urat-urat pun telah basah,” yang secara nyata mencerminkan kelegaan dan pemulihan tubuh setelah menerima makanan dan minuman pertama.
Sementara bagian akhir doa, “wa tsabatal ajru in syaa Allah,” mengandung harapan penuh akan ganjaran pahala dari Allah SWT. Frasa ini menjadi pengingat bahwa setiap amal yang dilakukan dengan keikhlasan, termasuk berpuasa, akan mendapatkan balasan terbaik dari-Nya, sesuai dengan janji dalam berbagai ajaran Islam.
Dengan membaca doa ini, seorang Muslim diajak untuk tidak hanya merasakan nikmat berbuka secara fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa ibadahnya adalah bagian dari perjalanan menuju keridhaan Allah SWT.
Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Buka Puasa Dzahaba?
Waktu yang paling tepat untuk membaca doa buka puasa dzahaba adalah setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya, yakni setelah makanan atau minuman pertama dikonsumsi. Artinya, doa ini tidak dibaca sebelum berbuka, melainkan sesudahnya, sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT.
Pemahaman ini penting karena dalam praktiknya, banyak orang yang keliru membaca doa dzahaba sebelum berbuka. Padahal, ada doa khusus yang dianjurkan dibaca sebelum berbuka puasa, yakni doa memohon keberkahan dan menerima amal puasa. Sementara doa dzahaba lebih bersifat sebagai refleksi dan bentuk syukur atas selesainya ibadah puasa.
Merujuk pada pedoman ibadah yang umum dianut, waktu setelah berbuka adalah momen yang sarat makna, karena tubuh telah menerima kembali energi, dan jiwa pun telah melalui proses pengendalian diri sepanjang hari. Dalam konteks ini, doa dzahaba menjadi penutup yang sempurna, mengakui bahwa rasa haus telah sirna, urat-urat telah terbasahi, dan pahala dari Allah SWT—in syaa Allah—telah ditetapkan.
Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW Saat Berbuka Puasa
Selain membaca doa dzahaba setelah berbuka, Rasulullah SAW juga mencontohkan sejumlah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada waktu berbuka puasa. Mengamalkan sunnah-sunnah ini tidak hanya meneladani akhlak Rasulullah, tetapi juga memberikan manfaat spiritual dan kesehatan bagi yang melakukannya.
Berikut adalah beberapa sunnah yang penting untuk dijaga saat berbuka:
1. Menyegerakan Berbuka
Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk segera membatalkan puasa setelah azan Magrib dikumandangkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” Tindakan ini menunjukkan kepatuhan terhadap waktu yang telah ditentukan dan menjaga tubuh agar tidak kekurangan energi terlalu lama.
2. Berbuka dengan Kurma atau Air
Sesuai dengan kebiasaan Rasulullah, berbukalah dengan kurma terlebih dahulu. Jika tidak tersedia, maka air putih menjadi pilihan yang dianjurkan. Dalam hadis riwayat Abu Dawud (No. 2355), Rasulullah bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, berbukalah dengan kurma, karena kurma itu mengandung keberkahan. Jika tidak ada kurma, berbukalah dengan air, karena air itu menyucikan.”
3. Berdoa Sebelum Berbuka
Sebelum menyentuh makanan atau minuman saat berbuka, dianjurkan untuk membaca doa berbuka puasa, memohon keberkahan dan pengampunan kepada Allah SWT. Ini merupakan doa sebelum berbuka, berbeda dengan doa dzahaba yang dibaca setelah makan.
4. Tidak Berlebihan Saat Makan
Meskipun tubuh merasa lapar setelah seharian berpuasa, tetaplah mengontrol diri dan hindari makan secara berlebihan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Sikap sederhana saat berbuka membantu menjaga kesehatan dan menguatkan nilai spiritual puasa.
5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memberikan makanan berbuka kepada orang lain, terutama kaum fakir, keluarga, atau tetangga. Dalam hadis riwayat Tirmidzi (No. 807), Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka pada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang menyebarkan keberkahan bagi semua.
Adab-Adab yang Dianjurkan Saat Berbuka Puasa
Selain mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, terdapat pula sejumlah adab berbuka puasa yang sebaiknya diperhatikan oleh setiap Muslim. Adab-adab ini tidak hanya melengkapi ibadah puasa secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menunjukkan akhlak Islami yang baik.
1. Berbuka Bersama Keluarga atau Komunitas
Momen berbuka merupakan waktu yang istimewa untuk mempererat silaturahmi. Berbuka bersama keluarga, tetangga, atau komunitas tidak hanya menciptakan suasana yang penuh kehangatan, tetapi juga menjadi ladang pahala karena membangun ukhuwah dan kebersamaan yang diberkahi.
2. Menjaga Kebersihan
Menjaga kebersihan sebelum dan sesudah berbuka adalah cerminan ajaran Islam yang menekankan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Pastikan tempat makan bersih, tangan dicuci sebelum makan, dan sisa makanan dibersihkan setelah selesai berbuka.
3. Tidak Menunda Shalat Magrib
Setelah membatalkan puasa, penting untuk segera menunaikan shalat Magrib di awal waktu. Jangan menunda terlalu lama hanya karena terlalu fokus pada hidangan berbuka. Shalat merupakan kewajiban utama yang harus tetap diutamakan setelah puasa.
Stylesphere – Pemberian amnesti oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menjadi sorotan publik. Dengan disetujuinya amnesti oleh DPR RI, Hasto resmi dinyatakan bebas dari hukuman.
Meski Hasto bukan satu-satunya penerima amnesti—tercatat lebih dari 1.000 terpidana lainnya juga mendapatkan pengampunan—namun namanya menjadi yang paling menonjol di tengah pemberitaan. Langkah ini pun menuai berbagai reaksi dari masyarakat.
Tak kalah menarik perhatian adalah keputusan Presiden Prabowo memberi abolisi kepada ekonom dan mantan pejabat publik, Tom Lembong. Dengan abolisi ini, proses hukum terhadap Tom dihentikan, dan ia dinyatakan lepas dari segala tuntutan pidana.
Menariknya, praktik pemberian pengampunan seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah. Dalam tradisi Islam, Rasulullah Muhammad SAW pernah melakukan pemberian maaf secara besar-besaran dalam peristiwa bersejarah Fathu Makkah (Penaklukan Makkah) yang terjadi pada tahun ke-8 Hijriyah (630 M).
Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah memimpin pasukan berjumlah 10.000 orang dari Madinah menuju Makkah. Penaklukan berlangsung hampir tanpa perlawanan karena penduduk Makkah, di bawah pimpinan Abu Sufyan, memilih menyerah.
Rasulullah kemudian memberikan amnesti umum kepada para penduduk Makkah, termasuk para tokoh yang sebelumnya menjadi musuh Islam. Mereka yang mendapatkan pengampunan ini dikenal dengan sebutan al-thulaqa, atau “orang-orang yang dimaafkan”. Banyak dari mereka, termasuk dari kalangan Bani Umayyah, kemudian memeluk Islam dan menjadi bagian dari masyarakat Madinah.
Dikutip dari Anugerahslot Islamic, Senin (1/8/2025), “Pada saat penaklukan Kota Makkah, orang-orang yang diberi amnesti umum disebut al-thulaqa, yakni orang-orang yang terbebaskan karena adanya amnesti.”
Langkah Presiden Prabowo dalam memberikan amnesti dan abolisi ini pun menimbulkan perbincangan hangat. Sejarah menunjukkan bahwa pengampunan bisa menjadi jalan menuju rekonsiliasi, meski tidak lepas dari kontroversi.
Kisah Pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah dan Strategi Rasulullah Menuju Fathu Makkah
Pada masa itu, sebuah perjanjian penting telah disepakati antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy, yakni Perjanjian Hudaibiyah. Kesepakatan ini berisi komitmen kedua belah pihak untuk menghentikan segala bentuk peperangan selama 10 tahun.
Namun, perjanjian tersebut akhirnya dilanggar. Pelanggaran dimulai dari salah satu sekutu Quraisy, yakni Kabilah Bani Bakr, yang menyerang dan membunuh anggota Kabilah Khuza’ah—sebuah kabilah yang menjadi sekutu Rasulullah SAW. Insiden ini menjadi pemicu ketegangan antara kedua kubu.
Meski pelanggaran ini tergolong berat, Rasulullah SAW tidak langsung mengambil langkah agresif dengan menyerang Makkah. Padahal, kekuatan pasukan Islam saat itu telah cukup besar, apalagi jika dikombinasikan dengan dukungan dari kabilah-kabilah sekutu.
Setelah kabar pelanggaran tersebut sampai ke Madinah, Quraisy mengirimkan Abu Sufyan sebagai utusan untuk memperbarui kembali perjanjian Hudaibiyah. Abu Sufyan berharap bisa meredakan konflik dan memperpanjang masa damai. Namun, upayanya di Madinah tidak membuahkan hasil. Rasulullah dan para sahabat tidak memberikan jawaban yang ia harapkan. Abu Sufyan pun kembali ke Makkah tanpa membawa kesepakatan baru.
Dalam Shahih al-Sirah an-Nabawiyah karya Ibrahim Al-Ali, dijelaskan bahwa setelah kegagalan misi Abu Sufyan, Rasulullah SAW mulai menyusun strategi untuk menghadapi Quraisy. Beliau mempersiapkan pasukan sebanyak 10.000 orang untuk bergerak menuju Makkah. Untuk menjaga Madinah selama keberangkatannya, Rasulullah menunjuk Abu Raham al-Ghifari sebagai pemimpin sementara.
Rasulullah juga bermusyawarah dengan para sahabat dan menginstruksikan kepada kaum Muslimin agar bersiap-siap menghadapi perjalanan besar ini. Peristiwa inilah yang kelak dikenal sebagai Fathu Makkah, penaklukan Makkah yang menjadi salah satu momen paling monumental dalam sejarah Islam.
Fathu Makkah: Dari Diplomasi Menuju Hari Kasih Sayang
Setelah berbagai upaya diplomatik dilakukan dengan para tokoh Quraisy, Rasulullah SAW akhirnya memimpin langsung pasukan kaum Muslimin memasuki Kota Makkah pada tanggal 20 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah, atau bertepatan dengan 11 Januari 630 Masehi. Sebanyak 10.000 pasukan turut serta dalam peristiwa besar ini, dengan tujuan menagih komitmen atas Perjanjian Hudaibiyah yang sebelumnya telah dilanggar oleh pihak Quraisy.
Kabar keberangkatan pasukan ke Makkah disambut dengan suka cita oleh para prajurit Muslim. Mereka merasa saat itu adalah momen yang telah lama dinanti—kemenangan atas kota kelahiran mereka yang selama ini menjadi pusat perlawanan terhadap Islam.
Salah satu panglima pembawa bendera, Sa’d bin Ubadah, terbawa semangat hingga mengucapkan kalimat penuh gairah kemenangan:
“Hari ini adalah hari pembalasan dan kehancuran bagi mereka!” (al-yaum yaum al-malhamah), serunya lantang.
Namun ketika Rasulullah SAW mendengar seruan tersebut, beliau segera menegurnya melalui Ali bin Abi Thalib. Tak hanya itu, Rasulullah mencopot Sa’d dari tugasnya sebagai pembawa bendera dan menunjuk putranya, Qays bin Sa’d bin Ubadah, sebagai pengganti.
Rasulullah lalu mengoreksi ucapan tersebut dengan menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam dan bermakna:
“Hari ini adalah hari kasih sayang” (al-yaum yaum al-marhamah), tegas beliau kepada seluruh pasukan.
Tindakan Rasulullah ini menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa. Di tengah kondisi pasukan yang sedang membara oleh semangat jihad, beliau tetap menjunjung tinggi prinsip rahmat dan pengendalian diri. Ia tahu bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal merebut kota, tetapi juga menaklukkan hati.
Sementara itu, penduduk Makkah diliputi kegelisahan. Melihat besarnya jumlah pasukan Islam yang datang, mereka sadar bahwa pelanggaran atas gencatan senjata yang disepakati dalam Perjanjian Hudaibiyah kini berbalik menjadi ancaman serius. Mereka tahu, posisi mereka lemah di hadapan kekuatan kaum Muslimin yang semakin solid dan strategis.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya menjadi pelajaran berharga dalam sejarah Islam—bagaimana kemenangan tidak dijadikan ajang balas dendam, melainkan sebagai momen memaafkan dan merangkul.
Fathu Makkah: Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah di Bulan Ramadan
Peristiwa Fathu Makkah menjadi salah satu momen paling monumental dalam sejarah Islam. Tidak seperti Perang Badar yang melibatkan pertempuran terbuka, penaklukan Makkah terjadi tanpa adanya perlawanan berarti. Umat Islam berhasil mengambil alih kota suci tersebut dari kaum Quraisy tanpa pertumpahan darah. Ini bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga kemenangan moral dan spiritual.
Setibanya di Makkah, Rasulullah SAW langsung memerintahkan penyucian kawasan Ka’bah dan Masjidil Haram dari segala bentuk berhala dan simbol kemusyrikan yang selama ini dijadikan sesembahan oleh kaum kafir Quraisy. Ketika menghancurkan patung-patung tersebut, Rasulullah membacakan firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 81:
“Katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
Ayat ini menjadi simbol dari berakhirnya masa kekufuran di tanah suci dan hadirnya cahaya kebenaran Islam yang mencerahkan.
Setelah pembersihan Ka’bah, Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan dari atas Ka’bah. Momen ini sangat menyentuh: suara panggilan tauhid itu keluar dari lisan seorang mantan budak yang dahulu disiksa dan direndahkan oleh kaum Quraisy karena keimanannya. Kini, Bilal berdiri di tempat tertinggi di Makkah, memanggil manusia kepada Allah.
Alih-alih membalas dendam atas perlakuan Quraisy di masa lalu, Rasulullah justru memberikan amnesti umum kepada penduduk Makkah. Beliau meneladani sikap Nabi Yusuf AS, dengan mengutip Surah Yusuf ayat 92:
“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Sikap mulia Rasulullah ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada dominasi, melainkan pada kemampuan memaafkan dan membangun perdamaian.
Fathu Makkah pun dikenang sebagai peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan—bulan yang penuh rahmat dan pengampunan. Tidak hanya berhasil menghapuskan simbol-simbol kemusyrikan, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang dan rekonsiliasi dalam masyarakat yang sebelumnya dipenuhi konflik.
Stylesphere – Al-Muhyi merupakan salah satu dari 99 Asmaul Husna, yang berarti Maha Menghidupkan. Nama mulia ini menggambarkan kekuasaan Allah SWT dalam memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk-Nya, baik secara jasmani maupun ruhani.
Memahami makna Al-Muhyi menuntun kita pada kesadaran bahwa hidup ini sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya. Allah SWT tidak hanya menciptakan kehidupan, tetapi juga memberikan kualitas hidup terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.
Dalam buku Cari Saja Allah karya Ahmad Kamil Arsyad dijelaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak untuk menghidupkan sesuatu yang mati. Dengan kehendak-Nya, apa yang sebelumnya tidak memiliki tanda-tanda kehidupan pun bisa diberi daya hidup. Hal ini menunjukkan betapa agung dan tak terbatasnya kuasa Allah SWT.
Kemampuan Allah untuk menghidupkan juga tercermin dalam kehidupan manusia sehari-hari—dari terciptanya janin dalam rahim hingga tumbuhnya tanaman dari benih yang semula kering. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa Al-Muhyi bukan hanya konsep, tetapi hadir dalam realitas kehidupan.
Dengan merenungi makna Al-Muhyi, umat Islam diajak untuk memperkuat keimanan, senantiasa bersyukur atas nikmat kehidupan, serta menyerahkan seluruh urusan hidup dan mati hanya kepada Allah SWT.
Makna Al-Muhyi: Allah Maha Menghidupkan
Secara bahasa, Al-Muhyi berarti “Yang Menghidupkan.” Dalam Asmaul Husna, Al-Muhyi menggambarkan salah satu sifat Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Menghidupkan dan Pemberi kehidupan kepada seluruh makhluk-Nya. Nama ini menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kuasa mutlak untuk menciptakan, menghidupkan, dan memelihara kehidupan di alam semesta.
Allah SWT menghidupkan manusia dari sesuatu yang tidak bernyawa, yaitu dari air mani. Dialah yang memberi ruh kepada janin, membentuknya menjadi makhluk hidup yang sempurna. Di akhir zaman nanti, Allah juga akan menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang telah mati dan mengembalikannya ke dalam tubuh yang telah hancur di hari kebangkitan.
Lebih dari sekadar menghidupkan secara fisik, Allah juga mampu menghidupkan hati manusia yang mati—yakni hati yang lalai dan jauh dari cahaya iman—dengan ilmu, petunjuk, dan keimanan. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan-Nya tidak hanya menyentuh aspek jasmani, tapi juga ruhani.
Tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam menghidupkan dapat pula dilihat pada bumi yang kering dan tandus. Ketika Allah menurunkan hujan, bumi yang mati itu kembali hidup dan subur. Fenomena ini menjadi pengingat nyata bahwa Allah mampu menghidupkan kembali yang telah mati.
Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, yang demikian itu pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ar-Rum: 50)
Memahami sifat Al-Muhyi mengajarkan kita untuk bersyukur atas kehidupan yang Allah karuniakan, dan senantiasa menjaga hati agar tetap hidup dengan keimanan dan ketaatan.
Al-Muhyi: Allah Maha Menghidupkan, Sang Pemilik Kehidupan
Al-Muhyi adalah salah satu dari 99 Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah SWT yang mencerminkan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Nama ini berarti Maha Menghidupkan, dan memahami maknanya dapat memperkuat keyakinan seorang Muslim bahwa kehidupan hanya berasal dari Allah semata.
Dalam buku 99 Rahasia Keajaiban Asmaul Husna karya Syafi’ie el-Bantanie, dijelaskan bahwa Al-Muhyi mengingatkan manusia bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu hidup tanpa izin dan kekuasaan Allah. Kehidupan, dalam bentuk apa pun, adalah anugerah mutlak dari-Nya.
Tak ada manusia yang mampu menciptakan kehidupan, bahkan dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Allah-lah yang menciptakan dan menghidupkan manusia, hewan, tumbuhan, bahkan menghidupkan kembali tanah yang gersang dengan turunnya hujan. Kelak di hari kiamat, Allah juga akan menghidupkan kembali semua yang telah mati untuk menghadapi hisab.
Firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 39 menegaskan:
“Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti Dia dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fussilat: 39)
Ayat ini menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh logika atau kemampuan manusia. Seperti halnya bumi yang kembali hidup setelah mati, demikian pula Allah mampu menghidupkan manusia di akhirat nanti, meskipun tubuh mereka telah hancur.
Mengimani Al-Muhyi membuat seorang Muslim lebih bersyukur atas hidup yang dimilikinya, lebih sadar akan kefanaan dunia, dan lebih semangat untuk menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran-Nya.
Meneladani Sifat Al-Muhyi: Menghidupkan Kebaikan di Muka Bumi
Allah SWT adalah Al-Muhyi, Dzat yang Maha Menghidupkan segala yang ada di alam semesta. Sebagai bentuk keimanan dan penghambaan, umat Islam tidak hanya diwajibkan meyakini sifat ini, tetapi juga meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani sifat Al-Muhyi berarti berupaya menjaga kehidupan, memelihara lingkungan, dan menebarkan nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu bentuk nyatanya adalah dengan bersyukur atas nikmat hidup, melaksanakan perintah Allah, dan istiqamah dalam beribadah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Barang siapa yang memelihara (kehidupan seorang manusia), maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga kelangsungan hidup sesama, termasuk melalui tindakan yang melindungi dan menghidupkan semangat kebaikan dalam masyarakat.
Menurut buku Meneladani 99 Sifat Allah terbitan Tiga Serangkai, beberapa keutamaan dari meneladani sifat Al-Muhyi antara lain:
Menjaga dan melestarikan alam: Kesadaran bahwa kehidupan tidak bisa dipisahkan dari alam membuat manusia bertanggung jawab terhadap kelestariannya.
Menebarkan kebaikan kepada seluruh makhluk Allah: Termasuk dalam bentuk sedekah, tolong-menolong, dan menjaga hak sesama.
Membangun silaturahim dan kasih sayang: Karena hidup yang berkah tumbuh dari hubungan yang harmonis antar manusia.
Menghidupkan malam dengan ibadah: Seperti Qiyamullail dan doa-doa yang menyejukkan hati.
Mendekatkan diri pada Al-Qur’an: Dengan rutin membaca, merenungi, dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan meneladani Al-Muhyi, seorang Muslim bukan hanya menjaga kehidupan secara fisik, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam dirinya dan masyarakat. Inilah wujud nyata seorang hamba yang hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kehidupan yang lebih besar.