Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa Dzahaba: Wujud Syukur dan Harapan Pahala

Stylesphere – Momen berbuka puasa merupakan saat yang paling dinanti oleh umat Muslim setelah menahan lapar, haus, dan berbagai godaan selama seharian penuh. Di waktu yang penuh berkah ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengawali buka puasa dengan doa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang dianjurkan adalah doa buka puasa Dzahaba. Doa ini bukan sekadar bacaan, melainkan mengandung makna mendalam tentang kondisi fisik orang yang berpuasa serta harapan atas pahala dari Allah.

Memahami doa ini secara utuh—baik dalam tulisan Arab, latin, maupun arti terjemahannya—sangat penting bagi setiap Muslim. Selain menambah keberkahan saat berbuka, membaca doa ini juga membantu memperkuat nilai spiritual dalam ibadah puasa.

Berikut ini bacaan lengkap doa buka puasa Dzahaba, seperti dirangkum Anugerahslot islamic dari berbagai sumber, Senin (4/8/2025):

Tulisan Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Lafal Latin:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Doa ini mencerminkan rasa syukur karena telah menyelesaikan ibadah puasa serta keyakinan bahwa Allah akan memberikan ganjaran atas ketulusan dan kesabaran selama menjalankan puasa. Oleh karena itu, mengamalkan doa ini saat berbuka menjadi salah satu sunnah yang sebaiknya tidak ditinggalkan.

Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa “Dzahaba” yang Diajarkan Rasulullah SAW

Doa berbuka puasa yang diawali dengan kata “dzahaba” merupakan salah satu doa yang langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi menjadi bentuk pengakuan dan rasa syukur atas nikmat makanan serta minuman yang Allah SWT karuniakan setelah menahan diri sepanjang hari.

Berbeda dengan doa sebelum berbuka, doa dzahaba dianjurkan dibaca setelah membatalkan puasa, sebagai refleksi atas selesainya ibadah dan harapan diterimanya pahala dari Allah.

Doa ini memiliki kedudukan istimewa karena bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (HR. Abu Dawud No. 2357), yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri membacanya setiap kali berbuka.

Berikut bacaan lengkap doa buka puasa dzahaba:

Tulisan Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Lafal Latin:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Terjemahan Bahasa Indonesia:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Membaca doa ini mengandung harapan bahwa amal ibadah puasa yang telah dilakukan diterima dan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Ini sekaligus menjadi penutup spiritual yang indah setelah sehari penuh berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Makna Mendalam Doa Buka Puasa “Dzahaba” dalam Kehidupan Muslim

Doa buka puasa dzahaba merupakan ungkapan spiritual yang sarat makna dan dibaca oleh umat Muslim sesaat setelah membatalkan puasa. Doa ini bukan hanya sebuah bacaan, melainkan bentuk pengakuan tulus dan rasa syukur mendalam kepada Allah SWT atas nikmat-Nya, khususnya setelah seharian penuh menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Secara makna, doa ini sangat menggambarkan kondisi fisik dan emosional seseorang yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa. Kalimat “dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruq” berarti “telah hilang rasa haus dan urat-urat pun telah basah,” yang secara nyata mencerminkan kelegaan dan pemulihan tubuh setelah menerima makanan dan minuman pertama.

Sementara bagian akhir doa, “wa tsabatal ajru in syaa Allah,” mengandung harapan penuh akan ganjaran pahala dari Allah SWT. Frasa ini menjadi pengingat bahwa setiap amal yang dilakukan dengan keikhlasan, termasuk berpuasa, akan mendapatkan balasan terbaik dari-Nya, sesuai dengan janji dalam berbagai ajaran Islam.

Dengan membaca doa ini, seorang Muslim diajak untuk tidak hanya merasakan nikmat berbuka secara fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa ibadahnya adalah bagian dari perjalanan menuju keridhaan Allah SWT.

Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Buka Puasa Dzahaba?

Waktu yang paling tepat untuk membaca doa buka puasa dzahaba adalah setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya, yakni setelah makanan atau minuman pertama dikonsumsi. Artinya, doa ini tidak dibaca sebelum berbuka, melainkan sesudahnya, sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT.

Pemahaman ini penting karena dalam praktiknya, banyak orang yang keliru membaca doa dzahaba sebelum berbuka. Padahal, ada doa khusus yang dianjurkan dibaca sebelum berbuka puasa, yakni doa memohon keberkahan dan menerima amal puasa. Sementara doa dzahaba lebih bersifat sebagai refleksi dan bentuk syukur atas selesainya ibadah puasa.

Merujuk pada pedoman ibadah yang umum dianut, waktu setelah berbuka adalah momen yang sarat makna, karena tubuh telah menerima kembali energi, dan jiwa pun telah melalui proses pengendalian diri sepanjang hari. Dalam konteks ini, doa dzahaba menjadi penutup yang sempurna, mengakui bahwa rasa haus telah sirna, urat-urat telah terbasahi, dan pahala dari Allah SWT—in syaa Allah—telah ditetapkan.

Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW Saat Berbuka Puasa

Selain membaca doa dzahaba setelah berbuka, Rasulullah SAW juga mencontohkan sejumlah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada waktu berbuka puasa. Mengamalkan sunnah-sunnah ini tidak hanya meneladani akhlak Rasulullah, tetapi juga memberikan manfaat spiritual dan kesehatan bagi yang melakukannya.

Berikut adalah beberapa sunnah yang penting untuk dijaga saat berbuka:

1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk segera membatalkan puasa setelah azan Magrib dikumandangkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Tindakan ini menunjukkan kepatuhan terhadap waktu yang telah ditentukan dan menjaga tubuh agar tidak kekurangan energi terlalu lama.

2. Berbuka dengan Kurma atau Air

Sesuai dengan kebiasaan Rasulullah, berbukalah dengan kurma terlebih dahulu. Jika tidak tersedia, maka air putih menjadi pilihan yang dianjurkan. Dalam hadis riwayat Abu Dawud (No. 2355), Rasulullah bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, berbukalah dengan kurma, karena kurma itu mengandung keberkahan. Jika tidak ada kurma, berbukalah dengan air, karena air itu menyucikan.”

3. Berdoa Sebelum Berbuka

Sebelum menyentuh makanan atau minuman saat berbuka, dianjurkan untuk membaca doa berbuka puasa, memohon keberkahan dan pengampunan kepada Allah SWT. Ini merupakan doa sebelum berbuka, berbeda dengan doa dzahaba yang dibaca setelah makan.

4. Tidak Berlebihan Saat Makan

Meskipun tubuh merasa lapar setelah seharian berpuasa, tetaplah mengontrol diri dan hindari makan secara berlebihan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Sikap sederhana saat berbuka membantu menjaga kesehatan dan menguatkan nilai spiritual puasa.

5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memberikan makanan berbuka kepada orang lain, terutama kaum fakir, keluarga, atau tetangga. Dalam hadis riwayat Tirmidzi (No. 807), Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka pada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang menyebarkan keberkahan bagi semua.

Adab-Adab yang Dianjurkan Saat Berbuka Puasa

Selain mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, terdapat pula sejumlah adab berbuka puasa yang sebaiknya diperhatikan oleh setiap Muslim. Adab-adab ini tidak hanya melengkapi ibadah puasa secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menunjukkan akhlak Islami yang baik.

1. Berbuka Bersama Keluarga atau Komunitas

Momen berbuka merupakan waktu yang istimewa untuk mempererat silaturahmi. Berbuka bersama keluarga, tetangga, atau komunitas tidak hanya menciptakan suasana yang penuh kehangatan, tetapi juga menjadi ladang pahala karena membangun ukhuwah dan kebersamaan yang diberkahi.

2. Menjaga Kebersihan

Menjaga kebersihan sebelum dan sesudah berbuka adalah cerminan ajaran Islam yang menekankan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Pastikan tempat makan bersih, tangan dicuci sebelum makan, dan sisa makanan dibersihkan setelah selesai berbuka.

3. Tidak Menunda Shalat Magrib

Setelah membatalkan puasa, penting untuk segera menunaikan shalat Magrib di awal waktu. Jangan menunda terlalu lama hanya karena terlalu fokus pada hidangan berbuka. Shalat merupakan kewajiban utama yang harus tetap diutamakan setelah puasa.