Tata cara Sholat Fardhu/Ashar Paling Lengkap

Tata cara Sholat Fardhu/Ashar Paling Lengkap

Stylesphere – Sholat fardhu merupakan ibadah wajib yang termasuk dalam rukun Islam, tepatnya rukun Islam kedua setelah syahadat. Dalam sehari semalam, umat Islam diwajibkan menunaikan lima waktu sholat, yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Meninggalkan salah satu sholat fardhu tanpa alasan yang dibenarkan merupakan dosa besar.

Kewajiban sholat ditegaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah An-Nisa ayat 103, yang menyatakan bahwa sholat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman. Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 43, Allah SWT juga memerintahkan umat Islam untuk menegakkan sholat bersama dengan kewajiban zakat.

Salah satu sholat fardhu yang harus dikerjakan adalah sholat Ashar. Lalu, berapa rakaat sholat Ashar? Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lebih rinci mengenai jumlah rakaat serta tata cara pelaksanaannya.

Jumlah Rakaat Sholat Ashar

Sholat Ashar merupakan salah satu dari lima sholat fardhu yang wajib dikerjakan oleh umat Islam setiap hari. Berdasarkan penjelasan dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, sholat Ashar terdiri dari empat rakaat.

Dalam pelaksanaannya, terdapat dua kali tasyahud atau at-Tahiyyat, yaitu pada rakaat kedua sebagai tasyahud awal dan pada rakaat keempat sebagai tasyahud akhir. Sholat ini memiliki peran penting dalam menjaga kedisiplinan dan keistiqamahan dalam beribadah, sehingga dianjurkan untuk dilaksanakan tepat waktu.

Waktu Sholat Ashar

Waktu sholat Ashar dimulai ketika bayangan suatu benda sudah sama panjang dengan benda aslinya. Biasanya, ini terjadi sekitar pukul 15.00 hingga 18.00, tergantung pada lokasi dan perubahan waktu dalam setahun.

Meskipun rentang waktunya cukup panjang, sholat Ashar sebaiknya dilaksanakan di awal waktu, yakni segera setelah adzan berkumandang. Dengan memahami jumlah rakaat serta waktu pelaksanaannya, diharapkan umat Islam dapat menunaikan sholat Ashar dengan tepat waktu dan penuh kekhusyukan.

Tata Cara Lengkap Sholat Ashar

Sholat Ashar merupakan salah satu dari lima sholat fardhu yang wajib dikerjakan oleh umat Islam setiap hari. Sholat ini terdiri dari empat rakaat dengan dua kali tasyahud, yaitu tasyahud awal pada rakaat kedua dan tasyahud akhir pada rakaat keempat. Agar sholat Ashar dapat dilakukan dengan sempurna, berikut adalah tata cara lengkapnya:

1. Membaca Niat

Sebelum memulai sholat, niat harus ditanamkan dalam hati. Beberapa ulama berpendapat bahwa niat cukup di dalam hati, tetapi jika diucapkan untuk membantu kekhusyukan, maka diperbolehkan. Berikut adalah lafadz niat sholat Ashar:

Niat Sholat Ashar Sendiri (Munfarid)
اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat melaksanakan sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Ashar sebagai Imam
اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat melaksanakan sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Ashar sebagai Makmum
اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an ma’muuman lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat melaksanakan sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Rakaat Pertama

  • Takbiratul Ihram (mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu Akbar).
  • Membaca doa iftitah (sunnah).
  • Membaca Surat Al-Fatihah.
  • Membaca surat atau ayat-ayat dari Al-Qur’an.
  • Rukuk (membungkuk sambil membaca bacaan rukuk).
  • I’tidal (kembali berdiri tegak sambil membaca bacaan i’tidal).
  • Sujud pertama (membaca bacaan sujud).
  • Duduk di antara dua sujud (membaca bacaan duduk di antara dua sujud).
  • Sujud kedua (membaca bacaan sujud).

3. Rakaat Kedua

  • Berdiri kembali dan membaca Surat Al-Fatihah.
  • Membaca surat atau ayat dari Al-Qur’an.
  • Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti pada rakaat pertama.
  • Setelah sujud kedua, duduk untuk tasyahud awal dan membaca bacaan tasyahud awal.
  • Berdiri kembali untuk melanjutkan rakaat ketiga.

4. Rakaat Ketiga

  • Membaca Surat Al-Fatihah tanpa doa iftitah.
  • Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti sebelumnya.

5. Rakaat Keempat

  • Membaca Surat Al-Fatihah.
  • Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti sebelumnya.
  • Setelah sujud kedua, duduk untuk tasyahud akhir dan membaca bacaan tasyahud akhir.
  • Mengucapkan salam ke kanan dan kiri sebagai tanda akhir sholat.

Dengan memahami dan mengikuti tata cara ini, sholat Ashar dapat dilaksanakan dengan sempurna sesuai tuntunan Islam. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dalam menunaikan ibadah sholat dengan khusyuk dan tepat waktu.

Mengatasi Rasa Takut Dengan Doa

Stylesphere – Rasa takut adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, baik dalam situasi yang asing, saat menghadapi tantangan besar, maupun dalam ketidakpastian. Perasaan ini bisa muncul kapan saja dan di mana saja, sering kali tanpa peringatan.

Meskipun ketakutan adalah reaksi wajar, terlalu larut dalam perasaan ini dapat membuat seseorang merasa tertekan dan tidak nyaman. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mengatasi rasa takut agar tetap tenang dan mampu menghadapi berbagai situasi dengan percaya diri.

Salah satu cara efektif untuk meredakan ketakutan adalah dengan berdoa. Doa dapat memberikan ketenangan batin, menumbuhkan rasa aman, dan memperkuat keyakinan dalam menghadapi tantangan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menganjurkan doa berikut untuk menghadapi rasa takut dan memohon perlindungan dari kejahatan:

اللَّهُمَّ إنَّا نَجْعَلُكَ في نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

Allahumma inna naj’aluka fi nuhurihim wa na’udzubika min syururihim.

Artinya:
“Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”

Dengan mengamalkan doa ini, kita dapat merasa lebih tenang dan yakin bahwa Allah selalu melindungi kita. Ketakutan yang muncul pun dapat dikendalikan dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih.

Mengatasi Rasa Takut dengan Doa

Rasa takut adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, baik dalam menghadapi situasi yang tidak familiar, tantangan besar, maupun ketidakpastian. Meskipun wajar, rasa takut yang berlebihan bisa menghambat seseorang dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mengatasinya agar tetap tenang dan percaya diri.

Salah satu cara terbaik untuk meredakan ketakutan adalah dengan berdoa. Doa dapat memberikan ketenangan batin, menumbuhkan rasa aman, dan memperkuat keyakinan dalam menghadapi berbagai situasi.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menganjurkan doa berikut untuk berlindung dari kejahatan:

اللَّهُمَّ إنَّا نَجْعَلُكَ في نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

Allahumma inna naj’aluka fi nuhurihim wa na’udzubika min syururihim.

Artinya:
“Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”

Selain itu, doa yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 250 juga bisa diamalkan untuk meminta kekuatan dan keteguhan hati:

رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabraw-wa tsabbit aqdaamanaa wansurnaa ‘alal qaumil kafiriin.

Artinya:
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

Dengan membaca doa-doa ini, kita dapat merasa lebih tenang, yakin bahwa Allah selalu melindungi, dan lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Amalan Bernilai Besar di Bulan Syawal

Stylesphere – Bulan Syawal menjadi momen yang dinanti umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan. Bulan ini dikenal sebagai bulan kemenangan yang penuh kebahagiaan, sekaligus kesempatan untuk meningkatkan ibadah.

Selain menjadi simbol kemenangan bagi umat Islam di seluruh dunia, Syawal juga disebut sebagai bulan ibadah karena terdapat amalan sunah dengan pahala yang besar.

Berikut beberapa ibadah yang bisa dilakukan di bulan Syawal untuk memperoleh pahala yang melimpah:

  1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
    Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa enam hari di bulan ini setelah Ramadhan, pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun.
  2. Menjalin Silaturahmi
    Momen Lebaran sering dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Ini adalah amalan yang dianjurkan dalam Islam karena mempererat hubungan antarsesama dan mendatangkan keberkahan.
  3. Bersedekah
    Berbagi rezeki dengan sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan, menjadi salah satu cara untuk menambah pahala di bulan Syawal.
  4. Memperbanyak Ibadah Sunnah
    Selain puasa, umat Islam dapat meningkatkan amalan sunnah lainnya seperti shalat Dhuha, Tahajud, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

Bulan Syawal memberikan kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan. Dengan menjalankan ibadah-ibadah tersebut, seorang Muslim dapat meraih keberkahan dan pahala yang melimpah.

Amalan Bernilai Besar di Bulan Syawal

Bulan Syawal adalah momen istimewa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan. Selain menjadi bulan kemenangan, Syawal juga merupakan kesempatan untuk meningkatkan ibadah dan memperoleh pahala yang melimpah. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan di bulan Syawal:

1. Puasa Syawal Enam Hari

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan besar. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Ayub Al Anshari, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim, Imam Ahmad juga meriwayatkan dari hadits Jabir).

2. Puasa Senin-Kamis

Puasa Senin dan Kamis merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat bersemangat dalam menjalankan puasa di hari-hari tersebut (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad).

Makna Mendalam Raya Idul Fitri Versi Gus Baha

Hari Senin dan Kamis juga merupakan waktu di mana amal manusia diajukan kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:

“Amal-amal perbuatan itu diajukan (diaudit) pada hari Senin dan Kamis, oleh karena itu aku ingin amal perbuatanku diajukan (diaudit) pada saat aku sedang puasa.” (HR Tirmidzi).

Para ulama juga menjelaskan bahwa menggabungkan niat puasa Senin-Kamis dengan puasa Syawal diperbolehkan dan tetap mendapatkan pahala dari kedua ibadah tersebut.

3. Puasa Ayyamul Bidh

Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Keutamaan puasa ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash RA:

“Puasa tiga hari di setiap bulannya adalah seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW memberikan tiga wasiat kepada Abu Darda:

“Rasulullah SAW berpesan kepadaku tiga hal yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa setiap tiga hari pada setiap bulannya, mengerjakan dua rakaat salat duha, serta salat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim).

4. Menjalin Silaturahmi

Syawal menjadi waktu yang tepat untuk menyambung tali silaturahmi. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga, lalu beliau menjawab:

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR Bukhari no. 5983).

Silaturahmi juga berkaitan dengan kelapangan rezeki dan umur yang diberkahi. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW memperingatkan bahaya memutus tali silaturahmi:

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia ini -berikut dosa yang disimpan untuknya di akhirat- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Kesimpulan

Bulan Syawal memberikan banyak peluang untuk meningkatkan amal ibadah. Dengan menjalankan puasa Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, serta menjaga tali silaturahmi, seorang Muslim dapat memperoleh keberkahan dan pahala yang melimpah. Memanfaatkan bulan ini dengan baik akan mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat hubungan sosial dengan sesama.

5. Bersedekah

Sedekah adalah amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilakukan kapan saja sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Sedekah dicintai oleh Allah SWT dan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Dengan bersedekah, seorang Muslim akan lebih berempati, terhindar dari sifat kikir, selalu bersyukur, serta mendapatkan keberkahan rezeki.

Nabi SAW bersabda:

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat lain, Asma’ binti Abi Bakr meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

6. Menikah di Bulan Syawal

Menikah di bulan Syawal merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW. Dahulu, orang-orang jahiliyah menganggap bahwa menikah di bulan Syawal akan mendatangkan kesialan. Rasulullah SAW membantah kepercayaan ini dengan menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal. Dalam hadis, Aisyah RA berkata:

“Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa menikah di bulan Syawal bukan sekadar tradisi, melainkan termasuk dalam sunnah Nabi.

7. I’tikaf

I’tikaf adalah amalan berdiam diri di masjid dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. Kebiasaan i’tikaf yang dilakukan di bulan Ramadhan juga dianjurkan untuk dilanjutkan di bulan Syawal.

Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Al-Fatawa (15/437) menyatakan:

“Tidak diragukan lagi bahwa i’tikaf di masjid merupakan salah satu bentuk ibadah. Baik di bulan Ramadan maupun selain Ramadan. Dan ia dianjurkan di bulan Ramadan dan selain Ramadan.”

I’tikaf bisa dilakukan dalam durasi waktu yang bervariasi, baik beberapa jam maupun sehari semalam (24 jam). Dengan melaksanakan i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan memperkuat hubungan spiritualnya dengan Allah SWT.

Kesimpulan

Bulan Syawal adalah kesempatan emas untuk meningkatkan ibadah dan memperoleh pahala yang melimpah. Dengan menjalankan puasa Syawal, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, menikah sesuai sunnah, serta melaksanakan i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keberkahan dalam kehidupannya.

Manchester City Mengucapkan Selamat Idul Fitri Dengan Pantun

Stylesphere – Klub-klub besar Eropa memang sering memberikan perhatian khusus kepada para penggemarnya di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang memiliki basis fans sepak bola yang besar. Manchester City tidak ketinggalan dengan mengunggah ucapan selamat Idul Fitri 2025 menggunakan gaya yang akrab dengan warganet Indonesia.

Ucapan yang dibawakan oleh Abdukodir Khusanov dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan pantun “Ubur-ubur Ikan Lele, Selamat Lebaran Le!” jelas menjadi daya tarik tersendiri. Ini menunjukkan bagaimana klub-klub besar memahami budaya dan tren yang sedang berkembang di kalangan penggemarnya.

Selain apresiasi terhadap Manchester City dan Khusanov, momen ini juga membuka obrolan tentang kemungkinan pemain Indonesia, seperti Rizky Ridho, untuk bisa bermain di Eropa. Komentar-komentar warganet yang mengaitkan hal ini menunjukkan harapan besar terhadap kemajuan sepak bola Indonesia.

Ucapan selamat Lebaran dari klub-klub Eropa memang selalu menarik perhatian. Biasanya, klub-klub lain seperti Manchester United, Barcelona, Liverpool, atau Arsenal juga memberikan ucapan serupa.

Sepak Terjang Khusanov

Manchester City mendatangkan Abdukodir Khusanov pada bursa transfer Januari 2025 dari klub Prancis, Lens, dengan nilai transfer 40 juta euro. Perekrutan bek asal Uzbekistan ini dilakukan untuk memperkuat lini pertahanan The Citizens yang mengalami banyak masalah sepanjang musim 2024/2025.

City memang menghadapi tantangan berat di Liga Inggris musim ini. Performa mereka menurun dibandingkan musim-musim sebelumnya, membuat peluang mempertahankan gelar juara semakin sulit. Cedera dan inkonsistensi para bek utama menjadi salah satu faktor utama mengapa City membutuhkan tambahan pemain di sektor belakang.

Khusanov diharapkan bisa memberikan stabilitas dalam pertahanan City. Meski masih muda, ia telah menunjukkan potensi besar saat bermain di Lens dan timnas Uzbekistan. Kini, tantangannya adalah beradaptasi dengan intensitas tinggi Premier League dan skema permainan Pep Guardiola.

Khusanov Ikut Tanding di Idul Fitri

Pada 30 Maret 2025, saat perayaan Idul Fitri di Inggris, Abdukodir Khusanov harus tetap melanjutkan tugasnya di lapangan bersama Manchester City di babak perempat final Piala FA melawan Bournemouth. Meski hari itu adalah hari kemenangan bagi umat Islam, Khusanov tidak bisa merayakan Idul Fitri secara tradisional karena harus bertanding.

City berhasil melaju ke semifinal setelah menang 2-1 lewat comeback dramatis di babak kedua. Namun, Khusanov tampil mengecewakan di pertandingan tersebut. Performanya kurang memuaskan, dan manajer Pep Guardiola memutuskan untuk menariknya keluar pada jeda pertandingan, menggantinya dengan Nico O’Reilly.

Meskipun begitu, kemenangan City tetap diraih, dan mereka melangkah ke semifinal Piala FA, meskipun Khusanov harus mencerna kekecewaan setelah penampilan kurang maksimal di laga tersebut.

Mengenal Tradisi Halal Bihalal Idul Fitri

Stylesphere – Tradisi halal bihalal di Indonesia menjadi momen penting setelah Idul Fitri untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Dalam acara ini, doa halal bihalal memiliki makna mendalam sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diterima amal ibadah selama Ramadhan serta diberikan keberkahan dan ampunan.

Menurut KBBI, halal bihalal adalah tradisi maaf-memaafkan setelah menjalankan ibadah puasa, biasanya dilakukan dalam pertemuan di suatu tempat seperti aula atau auditorium oleh sekelompok orang.

Doa dalam halal bihalal umumnya mengandung permohonan ampunan, kesejahteraan dunia dan akhirat, serta ungkapan syukur. Berikut adalah 9 doa halal bihalal yang dapat dibacakan dalam acara tersebut, sebagaimana disusun oleh Stylesphere.com pada Sabtu (22/3):

  1. Doa memohon ampunan dan rahmat
  2. Doa agar silaturahmi tetap terjaga
  3. Doa untuk keberkahan hidup
  4. Doa agar diberikan kesehatan dan keselamatan
  5. Doa memohon kelapangan rezeki
  6. Doa agar diberikan ketenangan hati
  7. Doa untuk para pemimpin dan masyarakat
  8. Doa bagi mereka yang telah wafat
  9. Doa agar diberikan istiqamah dalam kebaikan

Dengan doa-doa ini, acara halal bihalal menjadi lebih bermakna, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi tetapi juga sebagai pengingat untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan antar sesama.

Tradisi halal bihalal tidak hanya sekadar ajang silaturahmi dan saling memaafkan, tetapi juga menjadi momen untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Salah satu doa yang sering dibacakan dalam acara ini adalah doa permohonan agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan.

1. Doa Permohonan Penerimaan Ibadah

Doa ini mencerminkan harapan agar Allah menerima segala amal, shalat, dan doa yang telah dipanjatkan, sekaligus memohon penerimaan taubat.

Lafaz doa:
“Rabbanaa taqabbal minna salatanaa wa di’aanaa innaka antas samii’ul aliim. Taqabbal minnaa taubatanaa innaka antat tawwabur rahim.”

Artinya:
“Ya Tuhan kami, terimalah sholat kami dan terimalah permohonan kami. Sungguh Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sungguh Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.”

Doa ini memiliki makna mendalam dalam konteks halal bihalal, di mana pembersihan diri yang dimulai dari bulan Ramadhan diharapkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Doa Permohonan Penerimaan Amal

Doa ini juga sering dibacakan dalam acara halal bihalal, menegaskan harapan agar Allah menerima amal ibadah yang telah dilakukan.

Lafaz doa:
“Taqobalallahu minna wa minkum, taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya kariim.”

Artinya:
“Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita dan kamu semua, dan terimalah ya (Allah) Yang Maha Mulia.”

Doa ini sering diucapkan saat berjabat tangan dalam halal bihalal, menandakan bahwa selain meminta maaf kepada sesama, umat Islam juga berharap agar hubungan yang telah diperbaiki mendapat keberkahan dari Allah SWT.

Selain memiliki makna dalam konteks halal bihalal, frasa “Taqobalallahu minna wa minkum” juga umum digunakan sebagai ucapan selamat Idul Fitri di berbagai negara Muslim. Ini menunjukkan bahwa nilai penerimaan amal dan keberkahan ibadah adalah hal yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

3. Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat

Doa ini sering dibacakan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam acara halal bihalal, karena mencakup harapan akan kebaikan di dunia dan akhirat.

Lafaz doa:
“Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban naar.”

Artinya:
“Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa ini berasal dari QS. Al-Baqarah ayat 201 dan mencerminkan harapan akan kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat. Kebaikan di dunia mencakup kesehatan, rezeki yang berkah, keluarga yang harmonis, dan ilmu yang bermanfaat. Sementara kebaikan di akhirat meliputi kemudahan dalam sakaratul maut, pertolongan di hari perhitungan, dan akhirnya masuk ke dalam surga Allah SWT.

Dalam halal bihalal, doa ini menjadi pengingat bahwa tujuan silaturahmi bukan hanya untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga sebagai sarana meraih keberkahan dunia dan akhirat.

4. Doa Permohonan Ampunan untuk Umat Muslim

Doa ini mencerminkan semangat persaudaraan dalam Islam, dengan memohon ampunan bagi semua umat Muslim, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Lafaz doa:
“Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiinaa wal muslimaat al-ahyaa-i minhum wal amwaat. Innaka samii’un qariibun mujiibud da’wat yaa wadhiyal hajat.”

Artinya:
“Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, Muslim laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Mengabulkan doa, wahai Dzat yang memenuhi segala kebutuhan.”

Doa ini memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dengan mengajarkan umat untuk selalu mendoakan sesama. Selain menunjukkan rasa kepedulian, doa ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini sementara, dan pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT.

Dalam konteks halal bihalal, doa ini menjadi refleksi agar hubungan yang telah diperbaiki tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga membawa keberkahan di akhirat. Selain itu, mendoakan saudara seiman, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, merupakan bentuk amal yang akan terus mengalir pahalanya.

5. Doa Taubat dan Pengakuan Kebesaran Allah

Doa ini berisi pengakuan akan kebesaran Allah SWT sekaligus permohonan ampunan, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Lafaz doa:
“Subhanakallahumma Wabihamdika Lailla Anta Astagfiruka Waatubu Ilaik.”

Artinya:
“Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah SWT. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku memohon ampunan dan bertaubat hanya kepada-Mu.”

Doa ini mencakup empat unsur penting:

  1. Tasbih (mensucikan Allah)
  2. Tahmid (memuji Allah)
  3. Tauhid (mengakui keesaan Allah)
  4. Istighfar & Taubat (memohon ampunan dan kembali kepada Allah)

Dalam halal bihalal, doa ini memiliki makna mendalam karena momen tersebut adalah kesempatan untuk membersihkan hati dan meminta maaf atas kesalahan. Meskipun telah saling memaafkan sesama manusia, doa ini mengingatkan bahwa ampunan Allah tetap yang utama.

6. Doa Penerimaan Puasa dan Amal

Doa ini sering diucapkan setelah bulan Ramadhan dan dalam acara halal bihalal sebagai harapan agar ibadah puasa dan amal lainnya diterima oleh Allah SWT.

Lafaz doa:
“Taqabbalallahu minna wa minkum.”

Artinya:
“Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kita dan (puasa dan amal) dari kalian.”

Doa ini mengandung harapan agar segala amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Meskipun ibadah telah dilaksanakan, tidak ada jaminan bahwa semua diterima, sehingga permohonan ini menunjukkan sikap rendah hati dan berharap hanya kepada Allah.

Dalam konteks halal bihalal, doa ini juga mencerminkan semangat kebersamaan, karena tidak hanya memohon penerimaan amal untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Muslim.

Makna Mendalam Raya Idul Fitri Versi Gus Baha

StylesphereKH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), ulama ahli Al-Qur’an sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3iA Rembang, Jawa Tengah, menjelaskan makna mendalam dari Idul Fitri.

Murid kinasih Mbah Moen ini menerangkan bahwa Idul Fitri bermakna kembali ke fitrah, yakni keadaan manusia yang suci. Kembali di sini berarti kembali seperti asal mula manusia, yaitu ber-KTP surga, sebagaimana Nabi Adam dan istrinya yang awalnya tinggal di surga.

“Di Indonesia, Syawalan identik dengan minta maaf,” ujar Gus Baha dalam tayangan YouTube Short @emrofhak_chanel, Rabu (26/03/2025).

Ia juga menambahkan bahwa kata Ied berasal dari kosakata audun, yang berarti kembali.

KTP Surga

Gus Baha menjelaskan bahwa Idul Fitri menandai kembalinya manusia ke fitrah setelah dosa-dosanya dihapus selama bulan Ramadhan melalui puasa dan ibadah lainnya.

“Setelah kita puasa satu bulan, Insyaallah kita ber-KTP surga lagi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Idul Fitri berkaitan erat dengan sejarah Nabi Adam AS, yang awalnya tinggal di surga. “Dulu Nabi Adam di surga, beberapa anaknya juga lahir di surga. Jadi, sebenarnya KTP kita itu KTP surga, alamat tetap kita adalah surga,” jelasnya.

Namun, kehidupan dunia yang penuh kekhilafan membuat status itu seolah kabur. “Karena kita di dunia agak kacau, cara Jawa bilang agak bedigasan, status itu jadi samar. Semoga tidak hilang sepenuhnya,” tambahnya.

Menurut Gus Baha, bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk mengembalikan status tersebut. “Banyak ulama mengatakan al-‘ied minal ‘audi, artinya kembali. Kita yang dulu penduduk surga, Insyaallah dengan barokah Ramadhan, status itu bisa kembali,” paparnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa Idul Fitri adalah momentum kembali ke fitrah dan status kehambaan yang benar. “Disebut minal ‘aidin, kita kembali ke fitrah dan menjadi ahli surga,” tandasnya.

Pendosa Yang Diampuni

Ramadhan dikenal sebagai syahru maghfirah, bulan yang penuh ampunan. Segala amalan seperti shalat, puasa, sedekah, i’tikaf, dan zakat menjadi sarana penghapus dosa.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 133:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Puasa bertujuan menjadikan seseorang bertakwa. Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah mereka yang bersyukur. Dalam hidup, yang terpenting adalah merasa cukup. Sedekah, baik dalam kelapangan maupun kesempitan, adalah ujian sejauh mana kita mengingat Allah SWT.

Ciri-Ciri Orang yang Diampuni Dosanya

  1. Rajin menafkahkan hartanya di jalan Allah.
  2. Mampu mengendalikan amarah.
  3. Suka memaafkan kesalahan orang lain.
  4. Gemar berbuat baik.
  5. Memohon ampun kepada Allah saat berbuat dosa.

Dengan menjalankan amalan-amalan ini, seseorang dapat memperoleh ampunan dan kembali ke fitrah sebagai hamba yang bertakwa.