Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa Dzahaba: Wujud Syukur dan Harapan Pahala

Stylesphere – Momen berbuka puasa merupakan saat yang paling dinanti oleh umat Muslim setelah menahan lapar, haus, dan berbagai godaan selama seharian penuh. Di waktu yang penuh berkah ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengawali buka puasa dengan doa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang dianjurkan adalah doa buka puasa Dzahaba. Doa ini bukan sekadar bacaan, melainkan mengandung makna mendalam tentang kondisi fisik orang yang berpuasa serta harapan atas pahala dari Allah.

Memahami doa ini secara utuh—baik dalam tulisan Arab, latin, maupun arti terjemahannya—sangat penting bagi setiap Muslim. Selain menambah keberkahan saat berbuka, membaca doa ini juga membantu memperkuat nilai spiritual dalam ibadah puasa.

Berikut ini bacaan lengkap doa buka puasa Dzahaba, seperti dirangkum Anugerahslot islamic dari berbagai sumber, Senin (4/8/2025):

Tulisan Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Lafal Latin:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Doa ini mencerminkan rasa syukur karena telah menyelesaikan ibadah puasa serta keyakinan bahwa Allah akan memberikan ganjaran atas ketulusan dan kesabaran selama menjalankan puasa. Oleh karena itu, mengamalkan doa ini saat berbuka menjadi salah satu sunnah yang sebaiknya tidak ditinggalkan.

Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa “Dzahaba” yang Diajarkan Rasulullah SAW

Doa berbuka puasa yang diawali dengan kata “dzahaba” merupakan salah satu doa yang langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi menjadi bentuk pengakuan dan rasa syukur atas nikmat makanan serta minuman yang Allah SWT karuniakan setelah menahan diri sepanjang hari.

Berbeda dengan doa sebelum berbuka, doa dzahaba dianjurkan dibaca setelah membatalkan puasa, sebagai refleksi atas selesainya ibadah dan harapan diterimanya pahala dari Allah.

Doa ini memiliki kedudukan istimewa karena bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (HR. Abu Dawud No. 2357), yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri membacanya setiap kali berbuka.

Berikut bacaan lengkap doa buka puasa dzahaba:

Tulisan Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Lafal Latin:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Terjemahan Bahasa Indonesia:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Membaca doa ini mengandung harapan bahwa amal ibadah puasa yang telah dilakukan diterima dan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Ini sekaligus menjadi penutup spiritual yang indah setelah sehari penuh berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Makna Mendalam Doa Buka Puasa “Dzahaba” dalam Kehidupan Muslim

Doa buka puasa dzahaba merupakan ungkapan spiritual yang sarat makna dan dibaca oleh umat Muslim sesaat setelah membatalkan puasa. Doa ini bukan hanya sebuah bacaan, melainkan bentuk pengakuan tulus dan rasa syukur mendalam kepada Allah SWT atas nikmat-Nya, khususnya setelah seharian penuh menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Secara makna, doa ini sangat menggambarkan kondisi fisik dan emosional seseorang yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa. Kalimat “dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruq” berarti “telah hilang rasa haus dan urat-urat pun telah basah,” yang secara nyata mencerminkan kelegaan dan pemulihan tubuh setelah menerima makanan dan minuman pertama.

Sementara bagian akhir doa, “wa tsabatal ajru in syaa Allah,” mengandung harapan penuh akan ganjaran pahala dari Allah SWT. Frasa ini menjadi pengingat bahwa setiap amal yang dilakukan dengan keikhlasan, termasuk berpuasa, akan mendapatkan balasan terbaik dari-Nya, sesuai dengan janji dalam berbagai ajaran Islam.

Dengan membaca doa ini, seorang Muslim diajak untuk tidak hanya merasakan nikmat berbuka secara fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa ibadahnya adalah bagian dari perjalanan menuju keridhaan Allah SWT.

Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Buka Puasa Dzahaba?

Waktu yang paling tepat untuk membaca doa buka puasa dzahaba adalah setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya, yakni setelah makanan atau minuman pertama dikonsumsi. Artinya, doa ini tidak dibaca sebelum berbuka, melainkan sesudahnya, sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT.

Pemahaman ini penting karena dalam praktiknya, banyak orang yang keliru membaca doa dzahaba sebelum berbuka. Padahal, ada doa khusus yang dianjurkan dibaca sebelum berbuka puasa, yakni doa memohon keberkahan dan menerima amal puasa. Sementara doa dzahaba lebih bersifat sebagai refleksi dan bentuk syukur atas selesainya ibadah puasa.

Merujuk pada pedoman ibadah yang umum dianut, waktu setelah berbuka adalah momen yang sarat makna, karena tubuh telah menerima kembali energi, dan jiwa pun telah melalui proses pengendalian diri sepanjang hari. Dalam konteks ini, doa dzahaba menjadi penutup yang sempurna, mengakui bahwa rasa haus telah sirna, urat-urat telah terbasahi, dan pahala dari Allah SWT—in syaa Allah—telah ditetapkan.

Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW Saat Berbuka Puasa

Selain membaca doa dzahaba setelah berbuka, Rasulullah SAW juga mencontohkan sejumlah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada waktu berbuka puasa. Mengamalkan sunnah-sunnah ini tidak hanya meneladani akhlak Rasulullah, tetapi juga memberikan manfaat spiritual dan kesehatan bagi yang melakukannya.

Berikut adalah beberapa sunnah yang penting untuk dijaga saat berbuka:

1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk segera membatalkan puasa setelah azan Magrib dikumandangkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Tindakan ini menunjukkan kepatuhan terhadap waktu yang telah ditentukan dan menjaga tubuh agar tidak kekurangan energi terlalu lama.

2. Berbuka dengan Kurma atau Air

Sesuai dengan kebiasaan Rasulullah, berbukalah dengan kurma terlebih dahulu. Jika tidak tersedia, maka air putih menjadi pilihan yang dianjurkan. Dalam hadis riwayat Abu Dawud (No. 2355), Rasulullah bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, berbukalah dengan kurma, karena kurma itu mengandung keberkahan. Jika tidak ada kurma, berbukalah dengan air, karena air itu menyucikan.”

3. Berdoa Sebelum Berbuka

Sebelum menyentuh makanan atau minuman saat berbuka, dianjurkan untuk membaca doa berbuka puasa, memohon keberkahan dan pengampunan kepada Allah SWT. Ini merupakan doa sebelum berbuka, berbeda dengan doa dzahaba yang dibaca setelah makan.

4. Tidak Berlebihan Saat Makan

Meskipun tubuh merasa lapar setelah seharian berpuasa, tetaplah mengontrol diri dan hindari makan secara berlebihan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Sikap sederhana saat berbuka membantu menjaga kesehatan dan menguatkan nilai spiritual puasa.

5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memberikan makanan berbuka kepada orang lain, terutama kaum fakir, keluarga, atau tetangga. Dalam hadis riwayat Tirmidzi (No. 807), Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka pada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang menyebarkan keberkahan bagi semua.

Adab-Adab yang Dianjurkan Saat Berbuka Puasa

Selain mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, terdapat pula sejumlah adab berbuka puasa yang sebaiknya diperhatikan oleh setiap Muslim. Adab-adab ini tidak hanya melengkapi ibadah puasa secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menunjukkan akhlak Islami yang baik.

1. Berbuka Bersama Keluarga atau Komunitas

Momen berbuka merupakan waktu yang istimewa untuk mempererat silaturahmi. Berbuka bersama keluarga, tetangga, atau komunitas tidak hanya menciptakan suasana yang penuh kehangatan, tetapi juga menjadi ladang pahala karena membangun ukhuwah dan kebersamaan yang diberkahi.

2. Menjaga Kebersihan

Menjaga kebersihan sebelum dan sesudah berbuka adalah cerminan ajaran Islam yang menekankan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Pastikan tempat makan bersih, tangan dicuci sebelum makan, dan sisa makanan dibersihkan setelah selesai berbuka.

3. Tidak Menunda Shalat Magrib

Setelah membatalkan puasa, penting untuk segera menunaikan shalat Magrib di awal waktu. Jangan menunda terlalu lama hanya karena terlalu fokus pada hidangan berbuka. Shalat merupakan kewajiban utama yang harus tetap diutamakan setelah puasa.

Panduan Mandi Wajib Pria dalam Islam: Tata Cara yang Benar dan Sesuai Sunnah

Stylesphere – Dalam ajaran Islam, mandi wajib atau ghusl merupakan bentuk pensucian diri dari hadas besar yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim. Bagi kaum pria, mandi wajib menjadi keharusan setelah mengalami junub, mimpi basah, atau selesai melakukan hubungan suami istri. Memahami tata cara mandi wajib pria yang benar dan sesuai dengan tuntunan sunnah sangat penting agar ibadah yang dilakukan sah dan diterima oleh Allah SWT.

Mandi wajib tidak hanya bermakna membersihkan tubuh secara lahiriah, tetapi juga menjadi bentuk penyucian spiritual. Ini adalah momen untuk menyegarkan jiwa dan memperbarui niat dalam beribadah serta mendekatkan diri kepada Allah. Berikut rangkuman lengakap Anugerahslot islamic.

Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Sunnah Nabi

Dalam Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq (2008), dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki urutan tertentu dalam melaksanakan mandi wajib. Tata cara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Berniat dalam hati untuk menghilangkan hadas besar.
  2. Mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali.
  3. Membersihkan kemaluan dan bagian tubuh yang terkena najis.
  4. Berwudhu seperti hendak shalat.
  5. Menyiram seluruh tubuh dengan air, dimulai dari sisi kanan, kemudian sisi kiri.
  6. Memastikan air mengenai seluruh bagian tubuh, termasuk sela-sela rambut, lipatan kulit, dan bagian tersembunyi lainnya.

Tata cara ini bukan hanya menekankan kebersihan fisik, tetapi juga mengajarkan keteraturan, kesempurnaan, dan kesadaran spiritual dalam bersuci.

Pentingnya Meratakan Air ke Seluruh Tubuh

Penjelasan serupa juga tercantum dalam Ensiklopedi Fikih Islam karya Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi. Ia menegaskan bahwa salah satu syarat sahnya mandi wajib adalah meratakan air ke seluruh tubuh tanpa ada bagian yang terlewat. Ini termasuk bagian-bagian yang sering terlupakan seperti lipatan kulit, belakang telinga, dan sela-sela jari.

Lebih dari Sekadar Ritual Fisik

Mandi wajib sejatinya bukan hanya sekadar prosedur teknis, tetapi merupakan cerminan adab dan kesucian dalam Islam. Kesungguhan dalam menjalankan tata cara mandi wajib mencerminkan penghormatan terhadap ibadah dan komitmen untuk menjaga kebersihan lahir maupun batin.

Kesimpulan:

Mandi wajib bagi pria merupakan kewajiban penting yang menyertai berbagai kondisi hadas besar. Melaksanakannya sesuai sunnah Nabi SAW bukan hanya menjadikan ibadah sah, tetapi juga membawa ketenangan dan kesegaran spiritual. Dengan memahami tata caranya secara menyeluruh, kita bisa menjalani ibadah dengan lebih sempurna dan penuh makna.

Bacaan Niat Mandi Wajib Pria yang Sesuai Syariat

Mandi wajib merupakan salah satu bentuk ibadah penyucian diri dari hadas besar yang diwajibkan dalam Islam. Sebelum memulai mandi wajib, penting bagi seorang Muslim untuk membaca niat, karena niat adalah syarat sahnya ibadah menurut mayoritas ulama, termasuk dalam madzhab Syafi’i.

Berikut beberapa bacaan niat mandi wajib pria yang dapat digunakan:

1. Bacaan Niat Mandi Wajib yang Sederhana

Arab:
نَوَيْتُ الغُسْلَ لِرَفْعِ الجِنَابَةِ

Latin:
Nawaitul ghusla li raf’il janabati.

Artinya:
“Saya berniat mandi untuk menghilangkan junub.”

Bacaan ini umum digunakan dan mencukupi syarat sah niat dalam konteks mandi wajib setelah junub atau mimpi basah.

2. Bacaan Niat Mandi Wajib yang Lebih Lengkap

Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillahi ta’ala.

Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah, aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar, fardhu karena Allah Ta’ala.”

Bacaan ini lebih lengkap dan menegaskan bahwa mandi tersebut dilakukan sebagai kewajiban ibadah karena Allah SWT.

Kapan Niat Harus Dibaca?

Dalam madzhab Syafi’i, niat harus dilakukan bersamaan dengan menyiramkan air pertama kali ke tubuh. Artinya, niat tidak cukup hanya diucapkan sebelumnya, tetapi harus diiringi dengan tindakan awal dari mandi wajib itu sendiri.

Kesimpulan:

Membaca niat sebelum mandi wajib adalah bagian penting dalam pelaksanaan ibadah bersuci dari hadas besar. Baik menggunakan niat yang singkat maupun yang lengkap, yang terpenting adalah menghadirkan kesadaran dalam hati bahwa mandi tersebut dilakukan untuk menghilangkan hadas dan karena Allah SWT. Lakukan niat dengan sungguh-sungguh agar mandi wajib sah dan ibadah setelahnya diterima.

Tata Cara Mandi Wajib Pria Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Sebagai seorang Muslim, penting untuk mengetahui dan menghafalkan tata cara mandi wajib atau ghusl sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Mandi wajib dilakukan untuk menghilangkan hadas besar dan menyucikan diri sebelum beribadah. Berikut ini adalah langkah-langkah mandi wajib pria sesuai sunnah:

1. Membaca Niat

Langkah pertama adalah membaca niat mandi wajib. Niat dilakukan dalam hati, dan dapat dilafalkan seperti:

Nawaitul ghusla li raf’il janabati
“Saya berniat mandi untuk menghilangkan junub.”

2. Membasuh Kedua Telapak Tangan

Disunnahkan untuk mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali. Hal ini bertujuan agar tangan bersih dari najis atau kotoran sebelum melanjutkan ke bagian tubuh lainnya.

3. Membersihkan Kotoran pada Bagian Tersembunyi

Bersihkan bagian tubuh yang rentan najis, terutama area kemaluan, pusar, ketiak, dan lipatan-lipatan tubuh lainnya. Gunakan tangan kiri untuk membersihkan bagian-bagian tersebut.

4. Mencuci Tangan Kembali Menggunakan Sabun

Setelah membersihkan kemaluan dan bagian najis, cucilah tangan kembali, idealnya dengan menggosokkannya ke tanah atau tembok (sebagai simbol penghilangan najis), kemudian bilas dengan air dan sabun.

5. Berwudu Seperti untuk Sholat

Lakukan wudu sebagaimana biasa saat hendak sholat. Mulai dari membasuh wajah, tangan, menyapu kepala, dan membasuh kaki. Anda boleh menunda membasuh kaki hingga akhir mandi jika berdiri di tempat yang tergenang air.

6. Membersihkan Pangkal Rambut

Masukkan jari-jari tangan ke pangkal rambut dan usap kulit kepala hingga air merata. Setelah itu, siram kepala sebanyak tiga kali hingga air menyentuh seluruh bagian rambut dan kulit kepala.

7. Membasuh Seluruh Tubuh

Guyur seluruh tubuh dengan air secara merata, dimulai dari sisi kanan, lalu sisi kiri. Gosok-gosok badan dan pastikan air membasahi semua bagian tubuh, termasuk area tersembunyi seperti sela jari kaki, pusar, telinga, dan lipatan kulit lainnya.

8. Membaca Doa Setelah Mandi Wajib

Setelah selesai mandi, dianjurkan membaca doa berikut:

Arab:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Latin:
Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahumma-j‘alni minat-tawwabiin, waj‘alni minal-muthathohhiriin.

Artinya:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.”

Kesimpulan:

Mandi wajib bukan hanya ritual bersih-bersih, melainkan ibadah yang menuntut ketertiban, kebersihan, dan kesungguhan hati. Dengan mengikuti tata cara mandi wajib pria sesuai sunnah, seorang Muslim tidak hanya menjaga kesucian fisik, tetapi juga meraih keutamaan spiritual sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

Sunnah-Sunnah dalam Mandi Junub Menurut Imam al-Ghazali

Mandi junub tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kewajiban bersuci dari hadas besar, tetapi juga menjadi sarana untuk menyempurnakan ibadah dan meneladani tuntunan Rasulullah SAW. Menurut laman resmi Kementerian Agama RI, beberapa sunnah dalam mandi junub dijelaskan secara rinci oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Bidâyatul Hidâyah. Berikut adalah sunnah-sunnah tersebut:

1. Membasuh Kedua Tangan Tiga Kali

Sebelum memulai mandi junub, disunnahkan untuk membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali sebagai langkah awal dalam membersihkan diri.

2. Membersihkan Kotoran dan Najis

Sunnah berikutnya adalah membersihkan najis atau kotoran yang masih menempel di tubuh, khususnya di bagian-bagian tersembunyi seperti kemaluan, pusar, dan lipatan tubuh.

3. Berwudhu dengan Sempurna

Lakukan wudhu sebagaimana ketika hendak melaksanakan salat. Ini menjadi bentuk kesempurnaan dalam bersuci sebelum mandi.

4. Mengguyur Kepala Tiga Kali Disertai Niat

Guyurlah kepala sebanyak tiga kali, sambil menghadirkan niat dalam hati untuk menghilangkan hadas besar. Ini merupakan inti dari mandi junub.

5. Mengguyur Tubuh dari Kanan ke Kiri

Disunnahkan mengguyur bagian tubuh sebelah kanan terlebih dahulu sebanyak tiga kali, kemudian bagian kiri dengan jumlah yang sama.

6. Menggosok Tubuh Tiga Kali

Gosok seluruh tubuh, baik bagian depan maupun belakang, sebanyak tiga kali. Hal ini membantu memastikan air benar-benar merata ke seluruh tubuh.

7. Menyela Rambut dan Jenggot

Bagi yang memiliki rambut tebal atau jenggot, disunnahkan untuk menyela-nyelanya agar air mencapai pangkal rambut dan tidak ada bagian yang tertinggal.

8. Memastikan Air Mengenai Lipatan Kulit

Pastikan air mengalir ke bagian tubuh yang tersembunyi seperti lipatan kulit, belakang telinga, dan sela-sela jari. Ini menunjukkan kehati-hatian dalam menyucikan diri.

9. Menghindari Menyentuh Kemaluan Setelah Wudhu

Jika setelah berwudhu tangan menyentuh kemaluan, disarankan untuk memperbarui wudhu. Hal ini untuk menjaga kesempurnaan wudhu dalam rangkaian mandi.

Kesimpulan:

Mandi junub adalah bagian dari adab bersuci yang sangat ditekankan dalam Islam. Melakukan sunnah-sunnah di atas tidak hanya menyempurnakan ibadah mandi wajib, tetapi juga menjadi bentuk keteladanan terhadap praktik Rasulullah SAW. Memahami dan mengamalkannya adalah cerminan dari ketekunan dan kehati-hatian seorang Muslim dalam menjaga kesucian lahir dan batin.

Penyebab Seorang Pria Wajib Mandi Junub dalam Islam Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Dalam ajaran Islam, ghusl atau mandi wajib merupakan salah satu bentuk ibadah yang bertujuan untuk menyucikan diri dari hadas besar. Mandi wajib menjadi syarat utama sebelum melaksanakan ibadah-ibadah yang memerlukan kesucian, seperti sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, thawaf, dan ibadah lainnya. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang mewajibkan seorang pria untuk melakukan mandi wajib, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadis, dan sunnah Rasulullah SAW:

1. Keluar Mani Karena Syahwat, Baik Saat Terjaga Maupun Tidur (Mimpi Basah)

Apabila air mani keluar karena rangsangan syahwat—baik karena hubungan suami istri, masturbasi, atau mimpi basah—maka wajib bagi pria untuk mandi junub. Rasulullah SAW bersabda:

“Air (mandi) itu karena air (mani).”
(HR. Muslim, no. 343)

Dalam hadis lain, Ummu Salamah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang laki-laki yang bermimpi basah, dan beliau bersabda:

“Kalau ia melihat air (mani), maka ia harus mandi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa keluarnya mani dalam kondisi apa pun tetap mewajibkan mandi, asalkan ada tanda fisik berupa keluarnya cairan tersebut.

2. Berhubungan Suami Istri, Meskipun Tidak Sampai Keluar Mani

Dalam Islam, mandi wajib juga diwajibkan bagi pria yang melakukan hubungan intim, meskipun tidak sampai mengalami ejakulasi. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila dua kemaluan bertemu (terjadi penetrasi), maka wajib mandi, meskipun tidak keluar mani.”
(HR. Muslim, no. 349)

Hadis ini menegaskan bahwa hubungan badan dengan penetrasi sudah cukup menjadi sebab wajibnya mandi, meski tidak terjadi keluarnya mani.

3. Masuk Islam (Bagi Mualaf)

Bagi seorang pria yang memeluk Islam, disyariatkan untuk mandi wajib sebagai simbol penyucian diri dari kehidupan sebelumnya. Hal ini merujuk pada kisah sahabat Qais bin ‘Ashim:

“Qais bin ‘Ashim masuk Islam, lalu Nabi SAW memerintahkannya mandi.”
(HR. Abu Dawud, no. 355)

Para ulama menyebutkan bahwa mandi ini dianjurkan bahkan diwajibkan sebagai bentuk awal dari kebersihan fisik dan spiritual setelah memeluk agama Islam.

4. Kematian (Jenazah Wajib Dimandikan)

Seorang Muslim yang wafat wajib dimandikan oleh sesama Muslim. Ini merupakan bagian dari fardhu kifayah bagi umat Islam yang hidup. Memandikan jenazah adalah bentuk penghormatan terakhir sekaligus penyucian sebelum dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan.

Kesimpulan:

Mandi wajib merupakan kewajiban yang memiliki dimensi ibadah sekaligus kebersihan dalam Islam. Seorang pria harus memahami situasi-situasi yang mewajibkan mandi junub agar dapat menjalankan ibadah dengan sah dan sempurna. Dengan mematuhi sunnah Rasulullah SAW dalam bersuci, seorang Muslim akan senantiasa berada dalam kondisi suci, baik secara lahir maupun batin.

Jejak Kebaikan di Tanah Suci: Kisah Sebuah Amal yang Memabrurkan 600 Ribu Jemaah Haji

Stylesphere – Di antara jutaan langkah yang menapaki Tanah Suci setiap tahunnya, terselip kisah-kisah menakjubkan yang sarat keajaiban dan pelajaran hidup. Dari kerumunan para jemaah yang menjalankan rukun Islam kelima ini, muncul cerita-cerita sederhana namun memiliki dampak luar biasa—bukan hanya bagi satu orang, melainkan hingga ratusan ribu jiwa.

Sering kali, sebuah amalan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan dan keyakinan mendalam menjadi sebab turunnya keberkahan yang melimpah. Seolah semesta turut menjadi saksi bahwa setiap amal baik yang dilakukan dengan tulus tidak pernah sia-sia. Bahkan, balasan dari Allah tak hanya menyentuh pelaku amal tersebut, tetapi juga menjalar sebagai kebaikan yang dirasakan oleh banyak orang di sekitarnya.

Salah satu kisah menyentuh ini berasal dari pengalaman seorang hamba Allah yang amalannya menjadi sebab diterimanya haji lebih dari 600 ribu orang. Kisah penuh hikmah ini dimuat oleh Anugerahslot Online pada Sabtu, 14 Juni 2025.

Kisah Diterimanya Haji Ibnu Muwafaq

Setelah ditelusuri lebih lanjut, kata Kiai Taufik, diketahui bahwa Ibnu Muwafaq sebenarnya tidak jadi menunaikan ibadah haji. Ia memilih jalan berbeda—yang ternyata justru jauh lebih mulia di mata Allah. Biaya yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun dari pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu, tidak jadi ia pakai untuk berangkat ke Tanah Suci. Sebaliknya, seluruhnya ia sedekahkan kepada penduduk sebuah kampung miskin yang sangat membutuhkan bantuan.

“Padahal, Ibnu Muwafaq mengumpulkan biaya hajinya dengan susah payah selama tiga dekade,” tutur Kiai Taufik. “Namun karena keikhlasan dan ketulusan amalnya, Allah membalasnya dengan pahala luar biasa—bukan hanya untuk dirinya sendiri. Kemabrurannya menjadi sebab diterimanya haji 600 ribu jamaah saat itu.”

Dalam riwayat lain yang juga disampaikan Kiai Taufik, disebutkan bahwa sebenarnya ada enam orang yang memperoleh derajat haji mabrur. Setiap satu orang dari mereka membawa berkah bagi seratus ribu jamaah lainnya. Dengan kata lain, kemabruran keenam orang ini menjadi sebab diterimanya haji seluruh rombongan.

“Artinya, ada bentuk ibadah yang nilainya bisa lebih agung daripada haji itu sendiri,” ujar Kiai Taufik. “Yaitu kedermawanan, empati, dan simpati yang tulus kepada sesama, terutama kepada mereka yang lemah.”

Keutamaan Ibadah yang Ikhlas

Setelah ditelusuri lebih lanjut, kata Kiai Taufik, diketahui bahwa Ibnu Muwafaq sebenarnya tidak jadi menunaikan ibadah haji. Ia memilih jalan berbeda—yang ternyata justru jauh lebih mulia di mata Allah. Biaya yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun dari pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu, tidak jadi ia pakai untuk berangkat ke Tanah Suci. Sebaliknya, seluruhnya ia sedekahkan kepada penduduk sebuah kampung miskin yang sangat membutuhkan bantuan.

“Padahal, Ibnu Muwafaq mengumpulkan biaya hajinya dengan susah payah selama tiga dekade,” tutur Kiai Taufik. “Namun karena keikhlasan dan ketulusan amalnya, Allah membalasnya dengan pahala luar biasa—bukan hanya untuk dirinya sendiri. Kemabrurannya menjadi sebab diterimanya haji 600 ribu jamaah saat itu.”

Dalam riwayat lain yang juga disampaikan Kiai Taufik, disebutkan bahwa sebenarnya ada enam orang yang memperoleh derajat haji mabrur. Setiap satu orang dari mereka membawa berkah bagi seratus ribu jamaah lainnya. Dengan kata lain, kemabruran keenam orang ini menjadi sebab diterimanya haji seluruh rombongan.

“Artinya, ada bentuk ibadah yang nilainya bisa lebih agung daripada haji itu sendiri,” ujar Kiai Taufik. “Yaitu kedermawanan, empati, dan simpati yang tulus kepada sesama, terutama kepada mereka yang lemah.”

Mengenal Tradisi Halal Bihalal Idul Fitri

Mengenal Tradisi Halal Bihalal Idul Fitri

Stylesphere – Tradisi halal bihalal di Indonesia menjadi momen penting setelah Idul Fitri untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Dalam acara ini, doa halal bihalal memiliki makna mendalam sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diterima amal ibadah selama Ramadhan serta diberikan keberkahan dan ampunan.

Menurut KBBI, halal bihalal adalah tradisi maaf-memaafkan setelah menjalankan ibadah puasa, biasanya dilakukan dalam pertemuan di suatu tempat seperti aula atau auditorium oleh sekelompok orang.

Doa dalam halal bihalal umumnya mengandung permohonan ampunan, kesejahteraan dunia dan akhirat, serta ungkapan syukur. Berikut adalah 9 doa halal bihalal yang dapat dibacakan dalam acara tersebut, sebagaimana disusun oleh Stylesphere.com pada Sabtu (22/3):

  1. Doa memohon ampunan dan rahmat
  2. Doa agar silaturahmi tetap terjaga
  3. Doa untuk keberkahan hidup
  4. Doa agar diberikan kesehatan dan keselamatan
  5. Doa memohon kelapangan rezeki
  6. Doa agar diberikan ketenangan hati
  7. Doa untuk para pemimpin dan masyarakat
  8. Doa bagi mereka yang telah wafat
  9. Doa agar diberikan istiqamah dalam kebaikan

Dengan doa-doa ini, acara halal bihalal menjadi lebih bermakna, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi tetapi juga sebagai pengingat untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan antar sesama.

Tradisi halal bihalal tidak hanya sekadar ajang silaturahmi dan saling memaafkan, tetapi juga menjadi momen untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Salah satu doa yang sering dibacakan dalam acara ini adalah doa permohonan agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan.

1. Doa Permohonan Penerimaan Ibadah

Doa ini mencerminkan harapan agar Allah menerima segala amal, shalat, dan doa yang telah dipanjatkan, sekaligus memohon penerimaan taubat.

Lafaz doa:
“Rabbanaa taqabbal minna salatanaa wa di’aanaa innaka antas samii’ul aliim. Taqabbal minnaa taubatanaa innaka antat tawwabur rahim.”

Artinya:
“Ya Tuhan kami, terimalah sholat kami dan terimalah permohonan kami. Sungguh Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sungguh Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.”

Doa ini memiliki makna mendalam dalam konteks halal bihalal, di mana pembersihan diri yang dimulai dari bulan Ramadhan diharapkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Doa Permohonan Penerimaan Amal

Doa ini juga sering dibacakan dalam acara halal bihalal, menegaskan harapan agar Allah menerima amal ibadah yang telah dilakukan.

Lafaz doa:
“Taqobalallahu minna wa minkum, taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya kariim.”

Artinya:
“Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita dan kamu semua, dan terimalah ya (Allah) Yang Maha Mulia.”

Doa ini sering diucapkan saat berjabat tangan dalam halal bihalal, menandakan bahwa selain meminta maaf kepada sesama, umat Islam juga berharap agar hubungan yang telah diperbaiki mendapat keberkahan dari Allah SWT.

Selain memiliki makna dalam konteks halal bihalal, frasa “Taqobalallahu minna wa minkum” juga umum digunakan sebagai ucapan selamat Idul Fitri di berbagai negara Muslim. Ini menunjukkan bahwa nilai penerimaan amal dan keberkahan ibadah adalah hal yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

3. Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat

Doa ini sering dibacakan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam acara halal bihalal, karena mencakup harapan akan kebaikan di dunia dan akhirat.

Lafaz doa:
“Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban naar.”

Artinya:
“Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa ini berasal dari QS. Al-Baqarah ayat 201 dan mencerminkan harapan akan kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat. Kebaikan di dunia mencakup kesehatan, rezeki yang berkah, keluarga yang harmonis, dan ilmu yang bermanfaat. Sementara kebaikan di akhirat meliputi kemudahan dalam sakaratul maut, pertolongan di hari perhitungan, dan akhirnya masuk ke dalam surga Allah SWT.

Dalam halal bihalal, doa ini menjadi pengingat bahwa tujuan silaturahmi bukan hanya untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga sebagai sarana meraih keberkahan dunia dan akhirat.

4. Doa Permohonan Ampunan untuk Umat Muslim

Doa ini mencerminkan semangat persaudaraan dalam Islam, dengan memohon ampunan bagi semua umat Muslim, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Lafaz doa:
“Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiinaa wal muslimaat al-ahyaa-i minhum wal amwaat. Innaka samii’un qariibun mujiibud da’wat yaa wadhiyal hajat.”

Artinya:
“Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, Muslim laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Mengabulkan doa, wahai Dzat yang memenuhi segala kebutuhan.”

Doa ini memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dengan mengajarkan umat untuk selalu mendoakan sesama. Selain menunjukkan rasa kepedulian, doa ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini sementara, dan pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT.

Dalam konteks halal bihalal, doa ini menjadi refleksi agar hubungan yang telah diperbaiki tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga membawa keberkahan di akhirat. Selain itu, mendoakan saudara seiman, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, merupakan bentuk amal yang akan terus mengalir pahalanya.

5. Doa Taubat dan Pengakuan Kebesaran Allah

Doa ini berisi pengakuan akan kebesaran Allah SWT sekaligus permohonan ampunan, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Lafaz doa:
“Subhanakallahumma Wabihamdika Lailla Anta Astagfiruka Waatubu Ilaik.”

Artinya:
“Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah SWT. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku memohon ampunan dan bertaubat hanya kepada-Mu.”

Doa ini mencakup empat unsur penting:

  1. Tasbih (mensucikan Allah)
  2. Tahmid (memuji Allah)
  3. Tauhid (mengakui keesaan Allah)
  4. Istighfar & Taubat (memohon ampunan dan kembali kepada Allah)

Dalam halal bihalal, doa ini memiliki makna mendalam karena momen tersebut adalah kesempatan untuk membersihkan hati dan meminta maaf atas kesalahan. Meskipun telah saling memaafkan sesama manusia, doa ini mengingatkan bahwa ampunan Allah tetap yang utama.

6. Doa Penerimaan Puasa dan Amal

Doa ini sering diucapkan setelah bulan Ramadhan dan dalam acara halal bihalal sebagai harapan agar ibadah puasa dan amal lainnya diterima oleh Allah SWT.

Lafaz doa:
“Taqabbalallahu minna wa minkum.”

Artinya:
“Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kita dan (puasa dan amal) dari kalian.”

Doa ini mengandung harapan agar segala amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Meskipun ibadah telah dilaksanakan, tidak ada jaminan bahwa semua diterima, sehingga permohonan ini menunjukkan sikap rendah hati dan berharap hanya kepada Allah.

Dalam konteks halal bihalal, doa ini juga mencerminkan semangat kebersamaan, karena tidak hanya memohon penerimaan amal untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Muslim.