Kebenaran Islam Akan Bertahan Hingga Kiamat

Stylesphere – Manusia selalu mencari jawaban atas pertanyaan besar dalam hidup. Namun, kebenaran sejati—yang berbasis ilmu, logika, dan kepastian—akan tetap bertahan hingga akhir zaman. Islam menawarkan konsep ketuhanan yang tidak hanya berbasis keyakinan, tetapi juga logika yang kuat.

Sejak kecil, umat Islam diajarkan sifat-sifat Allah, seperti wujud, qidam, dan baqa, yang berkaitan langsung dengan eksistensi alam semesta. Ulama sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA di Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menegaskan bahwa konsep ketuhanan dalam Islam bersifat mutlak dan tidak akan berubah.

“Ketika kita diajari sifat-sifat Allah, itu bukan sekadar teori agama, tapi juga logika yang bertahan hingga hari kiamat. Masa alam raya yang ada ini muncul begitu saja tanpa sebab? Ketiadaan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu,” ujar Gus Baha dalam ceramahnya, dikutip dari kanal YouTube @MuhammadNurBinYusuf.

Menurutnya, kebenaran tidak harus disaksikan langsung agar bisa diterima. Logika tetap berlaku di sepanjang zaman. Sebagai contoh, tidak ada angka baru di luar angka satu, yang menunjukkan adanya prinsip dasar kehidupan yang tidak bisa diubah. Islam menawarkan pemahaman yang selaras dengan logika manusia, sehingga ajarannya tetap relevan dari masa ke masa.

Gus Baha Menjelaskan

Gus Baha mengutip perkataan Imam Al-Amudi yang menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini berawal dari satu kesatuan. Tidak ada angka dua tanpa angka satu, dan segala sesuatu merupakan cabang dari prinsip dasar yang satu.

Prinsip ini juga berlaku dalam memahami keesaan Allah. Keberadaan-Nya tidak memerlukan pembuktian fisik karena keteraturan alam semesta sudah cukup menjadi bukti. Setiap aspek kehidupan menunjukkan adanya desain yang mustahil muncul secara kebetulan.

“Ketika seseorang berpikir secara logis, dia akan menyadari bahwa segala sesuatu pasti memiliki asal. Jika kita melihat keteraturan di alam semesta, pasti ada yang menciptakannya. Ini adalah hukum yang berlaku hingga kiamat,” ujar Gus Baha.

Sebagai contoh, seseorang tidak perlu melihat langsung mukjizat Nabi Musa untuk mempercayai keagungan Allah. Cukup dengan memahami bahwa alam semesta memiliki keteraturan, maka sudah jelas ada Dzat yang mengaturnya.

Gus Baha juga menyinggung bagaimana pemikiran ateis sering kali bertentangan dengan logika mereka sendiri. Seorang ateis yang menolak keberadaan Tuhan tetap harus menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki asal.

Menurutnya, nihilisme—yang beranggapan bahwa segala sesuatu berasal dari ketiadaan—tidak masuk akal. Ketiadaan tidak mungkin menghasilkan keberadaan. Hanya sesuatu yang wujud yang bisa menyebabkan keberadaan lainnya.

Kebenaran semacam ini tidak membutuhkan nabi atau wali untuk menjaganya, karena logika manusia sendiri akan membimbingnya ke arah yang benar. Inilah yang membuat ajaran Islam tetap relevan di sepanjang zaman.

Teori Ilmiah Gus Baha

Gus Baha menegaskan bahwa sejarah membuktikan teori ilmiah yang didasarkan pada logika yang benar akan bertahan, sedangkan teori tanpa dasar kuat akan hilang seiring waktu.

Begitu pula dalam memahami keesaan Allah. Konsep ini tidak berubah sejak dahulu hingga sekarang karena didasarkan pada logika yang tidak bisa disangkal.

“Sehebat apa pun seorang ilmuwan atau filsuf, dia tidak akan bisa menciptakan logika baru yang bertentangan dengan kebenaran dasar ini. Segala sesuatu pasti memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri,” ujar Gus Baha.

Karena itu, pemahaman agama yang logis akan tetap bertahan. Orang yang berpikir jernih akan memahami bahwa ajaran Islam tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga ilmiah dan rasional.

Konsep ini juga yang membuat banyak ilmuwan terkemuka akhirnya mengakui keberadaan Tuhan. Semakin dalam mereka meneliti alam semesta, semakin jelas keteraturan yang membuktikan adanya pencipta.

Pada akhirnya, kebenaran sejati tidak akan tergoyahkan oleh zaman. Kebenaran itu bersumber dari Allah dan akan tetap bertahan hingga hari kiamat.

Doa Rasulullah Menurut Gus Baha

Stylesphere – Setiap orang memiliki cara pandang berbeda tentang kehidupan. Ada yang melihatnya sebagai perjalanan penuh tantangan, sementara yang lain menganggapnya sebagai ladang untuk menanam kebaikan. Dalam Islam, kehidupan dan kematian memiliki makna mendalam yang harus dipahami dengan bijak.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh penting di PBNU, menjelaskan bahwa hidup adalah kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Dalam sebuah doa, Rasulullah SAW bersabda:

“Ya Allah, jadikan kehidupan ini sebagai penambahan saya untuk berbuat baik, dan jadikan kematian sebagai akhir dari semua keburukan saya.”

Menurut Gus Baha, doa ini mengajarkan bahwa hidup seharusnya dimanfaatkan untuk menambah amal saleh. Sebaliknya, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan akhir dari segala keburukan yang mungkin dilakukan manusia.

Dalam ceramahnya, yang dirangkum dari kanal YouTube @takmiralmukmin, Gus Baha menekankan bahwa selama hidupnya, manusia memiliki potensi untuk berbuat baik maupun buruk. Islam mengajarkan umatnya untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan menjadikan kematian sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri.

Pertanyaan Terkait meninggalnya Seseorang

Gus Baha mencontohkan bagaimana ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) menyikapi kematian seseorang, bahkan jika semasa hidupnya dikenal sebagai pelaku maksiat. Mereka tetap berusaha melihat sisi baik dari orang yang telah meninggal.

Dalam sebuah kisah, Gus Baha menyebut bahwa ketika seorang bajingan meninggal, para kiai tetap mencari kebaikan dalam dirinya. Mereka meyakini bahwa kematian telah mengakhiri segala potensi keburukannya, sehingga tidak ada alasan untuk terus menghakimi seseorang yang sudah tiada.

Sikap ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain. Setiap individu berpotensi melakukan kesalahan, sehingga yang lebih utama adalah memperbaiki diri selama masih diberi kesempatan hidup.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Hidup adalah waktu untuk beramal, sementara kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari.

Menurut Gus Baha, hidup bukanlah tentang siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang bisa memanfaatkannya untuk berbuat baik. Oleh karena itu, doa Rasulullah SAW yang menyatakan agar kehidupan menjadi tambahan untuk kebaikan dan kematian sebagai akhir dari keburukan, menjadi pedoman utama dalam menjalani hidup.

Di sisi lain, Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Amal baik akan mendapat balasan yang baik, sementara keburukan akan membawa dampak buruk, baik di dunia maupun di akhirat.

Gus Baha menekankan bahwa selama hidup, seseorang harus berusaha menghindari keburukan sejauh mungkin. Jika ajal menjemput, setidaknya ia meninggalkan dunia dalam keadaan yang lebih baik.

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Oleh karena itu, manusia harus mempersiapkan bekal yang cukup agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Apakah Batal Puasa Mencium Istri Disaat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasa Gus Baha

Apakah Batal Puasa Mencium Istri Disaat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasa Gus Baha

Stylesphere – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah mencium pasangan saat berpuasa dapat membatalkan puasa.

Untuk menjawab hal ini, Gus Baha mengisahkan peran Aisyah dalam menjelaskan sunnah Rasulullah.

Aisyah sering meriwayatkan kebiasaan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri. Oleh karena itu, hukum mencium pasangan saat berpuasa dapat ditemukan dalam riwayat Aisyah.

Pertanyaan mengenai ciuman saat berpuasa di bulan Ramadan kerap menjadi perbincangan. Lantas, apakah hal ini dapat membatalkan puasa?

Sebelum menjawabnya, Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menekankan pentingnya peran Aisyah dalam sejarah Islam. Sebagai istri Rasulullah, Aisyah banyak meriwayatkan hadis yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri selama Ramadan.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Maimunah, salah satu istri Rasulullah, mengenai hukum mencium istri saat berpuasa. “Wahai Ummul Mukminin, saya memiliki istri yang cantik. Apakah mencium istri bisa membatalkan puasa?” tanyanya. Kisah ini dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @NUOnlineID.

Maimunah memberikan jawaban yang mengundang tawa. “Jangan tanya aku! Nabi tak pernah menciumku saat puasa. Coba tanyakan kepada Aisyah,” ujarnya. Jawaban ini menarik karena Maimunah adalah istri Rasulullah yang telah berusia lanjut.

Menurut Gus Baha, alasan Maimunah merespons demikian adalah karena Rasulullah lebih mungkin mencium Aisyah yang masih muda. “Entah Maimunah atau siapa, pokoknya istri Nabi yang jarang dicium,” ujar Gus Baha, yang membuat jamaah tertawa.

Apakah Batal Atau Tidak? Berikut Penjelasannya

Karena jawaban Maimunah belum memberikan kepastian, sahabat tersebut kemudian bertanya kepada Aisyah. Ia menegaskan bahwa pertanyaannya adalah perkara haq, sehingga Allah tidak malu untuk membahasnya.

“Apakah mencium istri membatalkan puasa?” tanya sahabat itu kepada Aisyah. Dengan tegas, Aisyah menjawab, “Nabi biasa menciumku saat puasa, tetapi beliau tetap berpuasa.”

Dari jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa mencium istri tidak membatalkan puasa, selama tidak menimbulkan syahwat berlebihan hingga menyebabkan keluarnya air mani.

Gus Baha menjelaskan bahwa dalam Islam, ada banyak hal yang tidak membatalkan puasa tetapi tetap perlu dikendalikan agar tidak berlebihan, termasuk ciuman antara suami dan istri.

Selain itu, Gus Baha juga menekankan bahwa Aisyah memiliki peran besar dalam menyampaikan ilmu agama. Banyak hadis yang diriwayatkan melalui Aisyah, yang bahkan tidak diketahui oleh istri-istri Rasulullah lainnya.

“Betapa banyak ilmu yang kita peroleh dari jalur Aisyah, yang kadang tidak diketahui oleh istri Nabi yang lain,” ujar Gus Baha dalam ceramahnya.

Dalam kajian fiqih, hukum mencium istri saat puasa memang tidak membatalkan puasa. Namun, dianjurkan untuk menahan diri, terutama bagi mereka yang belum mampu mengendalikan syahwatnya.

Bedakan Ciuman Nafsu dan Ciuman Sayang

Para ulama membedakan antara ciuman yang sekadar ungkapan kasih sayang dengan ciuman yang dapat menimbulkan syahwat. Jika yang kedua, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak menjerumuskan dalam hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Selain itu, mencium istri saat puasa juga memiliki hikmah lain, yakni menunjukkan bahwa Islam tidak melarang kasih sayang antara suami istri, selama dilakukan dalam batas yang diperbolehkan.

Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa yang menunjukkan bagaimana Rasulullah tetap menunjukkan rasa cintanya kepada istri-istrinya, bahkan di bulan Ramadhan.

Namun, bagi yang merasa ciuman bisa berpotensi membangkitkan syahwat secara berlebihan, maka lebih baik menghindarinya. Sebab, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga hati dan pikiran dari hal-hal yang bisa mengurangi pahala ibadah.

Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan ini tidak hanya sekadar boleh atau tidak, tetapi juga mempertimbangkan aspek pengendalian diri dan niat dari masing-masing individu.

Kesimpulannya, mencium istri saat puasa Ramadhan tidak membatalkan puasa, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Namun, bagi yang belum bisa mengendalikan diri, sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak sampai menimbulkan hal yang dilarang dalam puasa.Wallahu a’lam.