Doa Meluluhkan Hati Orang Tua yang Tidak Merestui Hubungan

Stylesphere – Dalam sebuah hubungan, restu orang tua kerap menjadi fondasi penting bagi kebahagiaan dan kelancaran perjalanan cinta. Namun, ketika restu itu belum didapatkan, salah satu bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan adalah memanjatkan doa, memohon agar hati orang tua dilunakkan dan diberi pemahaman.

Doa merupakan wujud penghambaan dan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Umat Islam meyakini bahwa doa memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah hati dan keadaan. Dengan bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya, diharapkan hati orang tua yang semula belum merestui dapat dipenuhi kelembutan dan kebijaksanaan.

Seperti dijelaskan dalam buku Menurut Al-Qur’an dan Sunnah: Panduan Doa dalam Islam karya Dr. Ahmad Al-Muzammil (2018), doa adalah ibadah yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Melalui doa, seorang hamba meminta pertolongan Allah dalam setiap urusan, termasuk dalam urusan hati dan hubungan dengan orang-orang yang dicintai.

Berikut ulasan lengkap yang dirangkum Anugerahslot Islamic dari berbagai sumber, Senin (11/08/2025).

Doa Meluluhkan Hati Orang Tua

Dalam Islam, doa menjadi senjata utama seorang hamba dalam menghadapi segala persoalan hidup, termasuk saat berusaha mendapatkan restu orang tua. Bagi pasangan yang hubungannya belum direstui, memohon kepada Allah SWT agar hati orang tua dilunakkan adalah salah satu ikhtiar spiritual yang dianjurkan.

Berikut adalah salah satu doa yang dapat diamalkan, lengkap dengan bacaan Arab, latin, dan artinya:

Bacaan Arab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الَّذِيْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِي ….(sebut nama orang yang dituju)…. كَمَا سَخَّرْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى، وَلَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُدَ، فَإِنَّهُ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِإِذْنِكَ، نَاصِيَتُهُ فِيْ قَبْضَتِكَ، وَقَلْبُهُ فِيْ يَدِكَ، جَلَّ ثَنَاءُ وَجْهِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Bacaan Latin:
Allahumma innaka antal ‘azizul kabir, wa anaa ‘abduka adhdhoiifudzdzaliil, alladzii laa haula wa laa quwwata illaa bika. Allahumma sakhkhir li (sebut nama orang dimaksud) kama sakhkharta firauna li musa, wa layyin li qolbahuu kama layyanta al-hadiida li dawuda, fa innahu la yantiqu illa bi idznika, nashiyatuhuu fii qobdhatika, wa qolbuhuu fii yadika, jalla tsanaa-u wajhik, yaa arhamar raahimiin.

Artinya:
“Ya Allah, Engkau Maha Perkasa lagi Maha Besar, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah dan hina. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu. Ya Allah, tundukkanlah (sebut nama) kepadaku sebagaimana Engkau tundukkan Firaun kepada Musa, dan lembutkan hatinya sebagaimana Engkau melembutkan besi kepada Daud. Sesungguhnya ia tidak akan berbicara kecuali dengan izin-Mu. Ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Mu, dan hatinya berada di tangan-Mu. Maha Suci wajah-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”

Doa ini bisa diamalkan dengan menyebut nama orang tua yang ingin diluluhkan hatinya, sebagai wujud permohonan langsung kepada Allah SWT. Konsistensi dalam membacanya mencerminkan kesungguhan hati dalam mencari ridha Ilahi sekaligus restu orang tua.

Penelitian dari Journal of Islamic Psychology yang diterbitkan International Islamic University Malaysia (2020) menjelaskan bahwa doa untuk meluluhkan hati memiliki dasar yang kuat dalam tradisi Islam. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat kerap menjadikan doa sebagai media untuk menyentuh hati manusia, baik dalam urusan pribadi maupun sosial.

Doa-doa Pelengkap untuk Meluluhkan Hati dan Memohon Restu Orang Tua

Selain doa utama, terdapat sejumlah doa lain yang dapat diamalkan untuk memohon kelapangan hati, kemudahan urusan, dan restu dari orang tua. Doa-doa ini melengkapi ikhtiar spiritual dalam menghadapi situasi sulit terkait restu keluarga.

1. Doa Istikharah untuk Jodoh
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuatan-Mu, dan memohon karunia-Mu yang agung.”
Doa ini sangat bermanfaat saat memohon petunjuk terbaik dalam memilih pasangan hidup sekaligus berharap mendapatkan restu orang tua.

2. Doa Nabi Musa untuk Melapangkan Dada
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي

Robbisrohli shodrii, wa yassirli amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.

Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka memahami perkataanku.”
Doa ini membantu kelancaran komunikasi dengan orang tua agar niat baik tersampaikan dengan jelas.

3. Doa Memohon Cinta Allah
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ

Allahumma inni as’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wal-‘amalalladzi yuballighuni hubbak.

Artinya: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”
Dengan memohon cinta Allah, diharapkan hati orang tua juga ikut tergerak untuk memberi restu.

4. Doa Nabi Daud untuk Melembutkan Hati
اللَّهُمَّ لَيِّنْ لِي قَلْبَهُ، لَيِّنْتَ لِدَاوُدَ الْحَدِيدَ

Allahumma laiyin li qolbahu, laiyinta li Dawudal hadid.

Artinya: “Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan besi kepada Daud.”
Doa ini sering diamalkan untuk memohon kelembutan hati seseorang, termasuk orang tua yang bersikap keras.

5. Doa Memohon Restu dan Disenangi Orang Lain
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَوَسِّعْ لِي فِي رِزْقِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي، وَاجْعَلْنِي مَحْبُوبًا فِي قُلُوبِ عِبَادِكَ، وَعَزِيزًا فِي عُيُونِهِم، وَاجْعَلْنِي وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ، يَا كَثِيرَ النَّوَالِ، يَا حَسَنَ الْفِعَالِ، يَا قَائِمًا بِلَا زَوَالٍ، يَا مُبْدِئًا بِلَا مِثَالٍ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَالْمِنَّةُ، وَالصَّرْفُ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Robbi zidnii ‘ilman, wa wassi‘ lii fii rizqii, wabarik lii fiimaa razaqtanii, waj‘alnii mahbuuban fii quluubi ‘ibaadika, wa ‘aziizzan fii ‘uyuuni him, waj‘alnii wajihan fid-dunyaa wal-aakhirati minal muqorrobiin, yaa kasiiron nawaal, yaa hasanal fi‘aal, yaa qooimman billa zawaal, yaa mubdian bila mitsaal, falakal hamdu, wal minnatu, was-shorfu ‘ala kulli haal.

Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah ilmuku, luaskan rezekiku, berkahilah apa yang Engkau karuniakan padaku. Jadikan aku dicintai di hati hamba-hamba-Mu, mulia di mata mereka, dan termasuk orang-orang yang dekat kepada-Mu di dunia dan akhirat. Wahai Yang Maha Pemurah, Maha Indah perbuatan-Nya, Yang Kekal tanpa akhir, dan Yang Memulai tanpa contoh sebelumnya. Segala puji, karunia, dan pengaturan hanyalah milik-Mu dalam setiap keadaan.”
Doa ini dapat dimodifikasi dengan menambahkan “wa qalbi ummi” setelah kata “‘ibaadika” untuk secara khusus memohon agar disenangi di hati ibu.

Mengamalkan doa-doa ini secara rutin, disertai kesungguhan hati dan usaha nyata, menjadi bentuk kepasrahan penuh kepada Allah SWT. Setiap permohonan yang tulus akan selalu didengar dan direspon oleh-Nya dengan cara terbaik.

Waktu Mustajab untuk Berdoa Meluluhkan Hati Orang Tua

Menurut Adab al-Du‘a fi al-Islam karya Syaikh Abdullah Al-Fauzan (2019), terdapat waktu-waktu tertentu yang disebut mustajab untuk berdoa. Memanfaatkan momen-momen ini dengan penuh kekhusyukan dapat meningkatkan peluang terkabulnya doa, termasuk doa untuk meluluhkan hati orang tua yang belum merestui hubungan anaknya.

Berikut beberapa waktu yang dianjurkan untuk memanjatkan doa:

  1. Sepertiga Malam Terakhir (Tahajud)
    Waktu antara pukul 00.00–03.00 dini hari adalah saat yang sangat dianjurkan untuk berdoa. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa pada waktu ini Allah SWT “turun” ke langit dunia dan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang memohon kepada-Nya.
  2. Antara Azan dan Iqamah
    Berdasarkan hadis riwayat Ahmad, doa yang dipanjatkan di sela-sela azan dan iqamah tidak akan ditolak. Meski singkat, momen ini memiliki keberkahan yang besar.
  3. Ketika Turun Hujan
    Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa saat hujan turun adalah waktu yang penuh rahmat. Berdoa di bawah rintik hujan membawa keberkahan dan peluang terkabul yang lebih besar.
  4. Hari Jumat
    Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di hari Jumat terdapat satu waktu istimewa ketika doa seorang muslim pasti dikabulkan. Waktu ini diyakini berada pada sore hari menjelang magrib, khususnya setelah salat Ashar.
  5. Saat Sujud dalam Shalat
    Momen sujud adalah saat terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak doa ketika sujud, karena kedekatan ini menjadikan doa lebih mustajab.
  6. Setelah Shalat Fardhu
    Usai melaksanakan shalat wajib, dianjurkan untuk memanjatkan doa dengan hati yang tenang dan khusyuk. Waktu ini menjadi salah satu kesempatan emas untuk memohon kepada Allah SWT.

Dengan memanfaatkan waktu-waktu mustajab ini, doa untuk meluluhkan hati orang tua dapat disampaikan dalam kondisi spiritual terbaik. Selain menunjukkan kesungguhan, hal ini juga menjadi bentuk kepasrahan total kepada Allah SWT dalam mengharapkan restu dan ridha-Nya.

Adab Berdoa untuk Meluluhkan Hati Orang Tua

Dalam Islam, doa tidak hanya sekadar rangkaian kata permohonan, tetapi juga ibadah yang memiliki tata cara dan etika tertentu. Memperhatikan adab ketika memanjatkan doa, termasuk doa untuk meluluhkan hati orang tua, akan meningkatkan kualitas dan keberkahannya.

Berikut beberapa adab penting yang dianjurkan:

  1. Niat yang Ikhlas dan Tujuan yang Baik
    Doa harus dipanjatkan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk tujuan yang merugikan atau menyakiti pihak lain. Niat harus terbebas dari unsur negatif seperti dendam, iri hati, atau keinginan menguasai.
  2. Berada dalam Keadaan Suci
    Sebaiknya berdoa setelah berwudu dan dalam keadaan suci, menghadap kiblat. Hal ini menunjukkan penghormatan kepada Allah SWT sekaligus keseriusan dalam memohon.
  3. Mengawali dengan Pujian dan Shalawat
    Sebelum menyampaikan permohonan, awali doa dengan memuji Allah SWT, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan menyadari kelemahan diri sebagai hamba.
  4. Bertobat dan Memohon Ampunan
    Sebelum berdoa, hendaknya membersihkan diri dari dosa dengan bertobat dan memohon ampun. Hati yang bersih akan membuat doa lebih tulus dan mudah dikabulkan.

Penelitian yang dimuat dalam International Journal of Islamic Thought oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (2021) menegaskan bahwa etika berdoa dalam Islam menekankan aspek spiritual dan moral yang tinggi. Doa adalah dialog suci antara hamba dan Khaliq, sehingga harus disampaikan dengan kesadaran penuh akan kebesaran-Nya.

Dengan mematuhi adab ini, doa untuk meluluhkan hati orang tua akan memiliki makna yang lebih dalam dan peluang terkabul yang lebih besar.

Upaya Nyata untuk Meluluhkan Hati Orang Tua

Selain berdoa, Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan ikhtiar lahiriah—langkah-langkah praktis yang dapat membantu meluluhkan hati seseorang, termasuk orang tua yang belum memberikan restu. Usaha nyata ini menjadi pelengkap dari ikhtiar batin yang dilakukan melalui doa.

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

  1. Berperilaku Santun, Jujur, dan Amanah
    Sikap santun, kejujuran, dan amanah sering kali lebih menyentuh hati dibanding sekadar kata-kata manis. Tunjukkan kematangan pribadi serta rasa tanggung jawab melalui perilaku sehari-hari.
  2. Memberikan Hadiah dan Perhatian
    Rasulullah SAW bersabda: “Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari). Hadiah sederhana namun tulus dapat menumbuhkan kasih sayang dan menunjukkan kepedulian.
  3. Mendengarkan dengan Empati
    Jadilah pendengar yang baik dan tunjukkan empati terhadap perasaan orang tua. Memahami kekhawatiran mereka dengan sabar dapat membuka ruang dialog yang lebih hangat.
  4. Bersabar dan Istiqamah
    Meluluhkan hati membutuhkan waktu. Hindari sikap terburu-buru atau memaksa. Tetaplah konsisten dan sabar dalam menunjukkan niat baik.
  5. Bersikap Rendah Hati
    Kesombongan adalah sikap yang dibenci dalam Islam. Rendah hati akan membuat orang lain merasa lebih nyaman, terbuka, dan mau menerima kehadiran kita.
  6. Menghormati dan Mematuhi Keluarga
    Perhatikan harapan dan nasihat keluarga selama tidak bertentangan dengan syariat. Kepatuhan kepada orang tua dan keluarga adalah bagian dari adab dalam memperjuangkan hubungan.

Menggabungkan doa yang tulus dengan tindakan nyata yang baik akan memberikan hasil yang lebih optimal dalam meraih restu. Dengan kesabaran, konsistensi, dan niat yang ikhlas, insyaAllah hati yang keras pun dapat menjadi lembut.

Kekuatan Doa dalam Meluluhkan Hati Menurut Sejarah Islam

Dalam sejarah Islam, terdapat banyak kisah yang menegaskan bahwa doa adalah senjata ampuh seorang mukmin. Doa tidak hanya menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana untuk melembutkan hati seseorang—termasuk dalam konteks memohon restu orang tua.

Kisah-Kisah Teladan dalam Meluluhkan Hati

  1. Nabi Sulaiman AS dan Ratu Bilqis
    Dalam surah An-Naml, diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman AS mengajak Ratu Bilqis kepada kebenaran melalui hikmah, kelembutan, dan doa. Pendekatan beliau menunjukkan bahwa kelembutan hati sering kali lahir dari kebijaksanaan yang disertai doa.
  2. Nabi Ibrahim AS dan Kaumnya
    Walaupun kaumnya menolak keras ajakan kepada tauhid, Nabi Ibrahim AS tidak berhenti berdoa bagi kebaikan mereka. Kesabaran beliau menjadi contoh bahwa doa dapat menembus penolakan yang paling keras.
  3. Rasulullah SAW dalam Dakwahnya
    Rasulullah SAW menghadapi banyak tantangan dari kaumnya, namun beliau menanggapi dengan kesabaran, akhlak mulia, dan doa. Allah SWT menegaskan dalam Ali Imran ayat 159: “Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

Doa-Doa yang Dianjurkan untuk Melembutkan Hati

  1. Doa Nabi Daud AS
    Diriwayatkan dalam buku Setiap Doa Pasti Allah Kabulkan (Abu Ezza, 2012:27), doa ini dapat diamalkan untuk melembutkan hati: اللَّهُمَّ لَيِّنْ لِي قَلْبَهُ، لَيِّنْتَ لِدَاوُدَ الْحَدِيدَ
    Allahumma laiyin li qalbahu, laiyinta li Daudal hadid.
    Artinya: “Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan besi bagi Daud.”
  2. Doa Meluluhkan Hati dari Jarak Jauh اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَبِيرُ…
    Allaahumma innaka antal azizul kabir… (teks lengkap seperti di atas)
    Doa ini dianjurkan ketika ingin meluluhkan hati seseorang yang berada jauh dari kita, termasuk orang tua.
  3. Doa untuk Orang yang Membenci Kita
    Dikutip dari Tuntunan Lengkap Rukun Islam & Doa (Syarif Hidayatullah), doa ini dipanjatkan agar Allah melembutkan hati orang yang membenci kita: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ…
    Alhamdulillahi ala kulli halin… (teks lengkap seperti di atas)

Pelajaran yang Dapat Diambil

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, kisah para nabi menunjukkan bahwa kesabaran, doa, dan hikmah adalah kunci utama untuk meluluhkan hati manusia yang keras. Maka, doa yang dipanjatkan anak kepada Allah untuk meluluhkan hati orang tua yang belum merestui hubungan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.

Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa Dzahaba: Wujud Syukur dan Harapan Pahala

Stylesphere – Momen berbuka puasa merupakan saat yang paling dinanti oleh umat Muslim setelah menahan lapar, haus, dan berbagai godaan selama seharian penuh. Di waktu yang penuh berkah ini, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengawali buka puasa dengan doa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang dianjurkan adalah doa buka puasa Dzahaba. Doa ini bukan sekadar bacaan, melainkan mengandung makna mendalam tentang kondisi fisik orang yang berpuasa serta harapan atas pahala dari Allah.

Memahami doa ini secara utuh—baik dalam tulisan Arab, latin, maupun arti terjemahannya—sangat penting bagi setiap Muslim. Selain menambah keberkahan saat berbuka, membaca doa ini juga membantu memperkuat nilai spiritual dalam ibadah puasa.

Berikut ini bacaan lengkap doa buka puasa Dzahaba, seperti dirangkum Anugerahslot islamic dari berbagai sumber, Senin (4/8/2025):

Tulisan Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Lafal Latin:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Doa ini mencerminkan rasa syukur karena telah menyelesaikan ibadah puasa serta keyakinan bahwa Allah akan memberikan ganjaran atas ketulusan dan kesabaran selama menjalankan puasa. Oleh karena itu, mengamalkan doa ini saat berbuka menjadi salah satu sunnah yang sebaiknya tidak ditinggalkan.

Makna dan Bacaan Doa Buka Puasa “Dzahaba” yang Diajarkan Rasulullah SAW

Doa berbuka puasa yang diawali dengan kata “dzahaba” merupakan salah satu doa yang langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi menjadi bentuk pengakuan dan rasa syukur atas nikmat makanan serta minuman yang Allah SWT karuniakan setelah menahan diri sepanjang hari.

Berbeda dengan doa sebelum berbuka, doa dzahaba dianjurkan dibaca setelah membatalkan puasa, sebagai refleksi atas selesainya ibadah dan harapan diterimanya pahala dari Allah.

Doa ini memiliki kedudukan istimewa karena bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (HR. Abu Dawud No. 2357), yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sendiri membacanya setiap kali berbuka.

Berikut bacaan lengkap doa buka puasa dzahaba:

Tulisan Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Lafal Latin:

Dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Terjemahan Bahasa Indonesia:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”

Membaca doa ini mengandung harapan bahwa amal ibadah puasa yang telah dilakukan diterima dan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Ini sekaligus menjadi penutup spiritual yang indah setelah sehari penuh berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Makna Mendalam Doa Buka Puasa “Dzahaba” dalam Kehidupan Muslim

Doa buka puasa dzahaba merupakan ungkapan spiritual yang sarat makna dan dibaca oleh umat Muslim sesaat setelah membatalkan puasa. Doa ini bukan hanya sebuah bacaan, melainkan bentuk pengakuan tulus dan rasa syukur mendalam kepada Allah SWT atas nikmat-Nya, khususnya setelah seharian penuh menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Secara makna, doa ini sangat menggambarkan kondisi fisik dan emosional seseorang yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa. Kalimat “dzahaba azh-zhama’u wabtallatil ‘uruq” berarti “telah hilang rasa haus dan urat-urat pun telah basah,” yang secara nyata mencerminkan kelegaan dan pemulihan tubuh setelah menerima makanan dan minuman pertama.

Sementara bagian akhir doa, “wa tsabatal ajru in syaa Allah,” mengandung harapan penuh akan ganjaran pahala dari Allah SWT. Frasa ini menjadi pengingat bahwa setiap amal yang dilakukan dengan keikhlasan, termasuk berpuasa, akan mendapatkan balasan terbaik dari-Nya, sesuai dengan janji dalam berbagai ajaran Islam.

Dengan membaca doa ini, seorang Muslim diajak untuk tidak hanya merasakan nikmat berbuka secara fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa ibadahnya adalah bagian dari perjalanan menuju keridhaan Allah SWT.

Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Buka Puasa Dzahaba?

Waktu yang paling tepat untuk membaca doa buka puasa dzahaba adalah setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya, yakni setelah makanan atau minuman pertama dikonsumsi. Artinya, doa ini tidak dibaca sebelum berbuka, melainkan sesudahnya, sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT.

Pemahaman ini penting karena dalam praktiknya, banyak orang yang keliru membaca doa dzahaba sebelum berbuka. Padahal, ada doa khusus yang dianjurkan dibaca sebelum berbuka puasa, yakni doa memohon keberkahan dan menerima amal puasa. Sementara doa dzahaba lebih bersifat sebagai refleksi dan bentuk syukur atas selesainya ibadah puasa.

Merujuk pada pedoman ibadah yang umum dianut, waktu setelah berbuka adalah momen yang sarat makna, karena tubuh telah menerima kembali energi, dan jiwa pun telah melalui proses pengendalian diri sepanjang hari. Dalam konteks ini, doa dzahaba menjadi penutup yang sempurna, mengakui bahwa rasa haus telah sirna, urat-urat telah terbasahi, dan pahala dari Allah SWT—in syaa Allah—telah ditetapkan.

Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW Saat Berbuka Puasa

Selain membaca doa dzahaba setelah berbuka, Rasulullah SAW juga mencontohkan sejumlah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada waktu berbuka puasa. Mengamalkan sunnah-sunnah ini tidak hanya meneladani akhlak Rasulullah, tetapi juga memberikan manfaat spiritual dan kesehatan bagi yang melakukannya.

Berikut adalah beberapa sunnah yang penting untuk dijaga saat berbuka:

1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk segera membatalkan puasa setelah azan Magrib dikumandangkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Tindakan ini menunjukkan kepatuhan terhadap waktu yang telah ditentukan dan menjaga tubuh agar tidak kekurangan energi terlalu lama.

2. Berbuka dengan Kurma atau Air

Sesuai dengan kebiasaan Rasulullah, berbukalah dengan kurma terlebih dahulu. Jika tidak tersedia, maka air putih menjadi pilihan yang dianjurkan. Dalam hadis riwayat Abu Dawud (No. 2355), Rasulullah bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, berbukalah dengan kurma, karena kurma itu mengandung keberkahan. Jika tidak ada kurma, berbukalah dengan air, karena air itu menyucikan.”

3. Berdoa Sebelum Berbuka

Sebelum menyentuh makanan atau minuman saat berbuka, dianjurkan untuk membaca doa berbuka puasa, memohon keberkahan dan pengampunan kepada Allah SWT. Ini merupakan doa sebelum berbuka, berbeda dengan doa dzahaba yang dibaca setelah makan.

4. Tidak Berlebihan Saat Makan

Meskipun tubuh merasa lapar setelah seharian berpuasa, tetaplah mengontrol diri dan hindari makan secara berlebihan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 31:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Sikap sederhana saat berbuka membantu menjaga kesehatan dan menguatkan nilai spiritual puasa.

5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memberikan makanan berbuka kepada orang lain, terutama kaum fakir, keluarga, atau tetangga. Dalam hadis riwayat Tirmidzi (No. 807), Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka pada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang menyebarkan keberkahan bagi semua.

Adab-Adab yang Dianjurkan Saat Berbuka Puasa

Selain mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, terdapat pula sejumlah adab berbuka puasa yang sebaiknya diperhatikan oleh setiap Muslim. Adab-adab ini tidak hanya melengkapi ibadah puasa secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menunjukkan akhlak Islami yang baik.

1. Berbuka Bersama Keluarga atau Komunitas

Momen berbuka merupakan waktu yang istimewa untuk mempererat silaturahmi. Berbuka bersama keluarga, tetangga, atau komunitas tidak hanya menciptakan suasana yang penuh kehangatan, tetapi juga menjadi ladang pahala karena membangun ukhuwah dan kebersamaan yang diberkahi.

2. Menjaga Kebersihan

Menjaga kebersihan sebelum dan sesudah berbuka adalah cerminan ajaran Islam yang menekankan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Pastikan tempat makan bersih, tangan dicuci sebelum makan, dan sisa makanan dibersihkan setelah selesai berbuka.

3. Tidak Menunda Shalat Magrib

Setelah membatalkan puasa, penting untuk segera menunaikan shalat Magrib di awal waktu. Jangan menunda terlalu lama hanya karena terlalu fokus pada hidangan berbuka. Shalat merupakan kewajiban utama yang harus tetap diutamakan setelah puasa.

Kisah Hujan Tujuh Hari di Zaman Rasulullah: Tanda Keajaiban dan Kedekatan dengan Allah

Stylesphere – Dalam sejarah Islam, terdapat banyak kisah yang sarat makna dan mengandung pelajaran spiritual yang mendalam. Kisah-kisah ini tidak hanya mencerminkan keajaiban yang terjadi di masa Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi cermin hubungan yang kuat antara manusia dengan Tuhannya.

Salah satu peristiwa luar biasa yang patut direnungkan adalah turunnya hujan selama tujuh hari berturut-turut pada masa Nabi Muhammad SAW. Kejadian ini tidak hanya mencatat fenomena alam yang langka, tetapi juga mengandung pesan rohaniah yang kuat bagi umat Islam.

Kisah ini diceritakan kembali oleh ulama kharismatik asal Rembang yang dikenal sebagai santri kesayangan KH. Maemoen Zubair (Mbah Moen), yakni KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih akrab disapa Gus Baha. Dalam ceramahnya yang disampaikan melalui tayangan YouTube Short @miftahuddin763 pada Jumat (26/07/2025), Gus Baha membagikan peristiwa tersebut dengan penuh hikmah.

Menurut Gus Baha kepada Anugerahslot islamic, kisah hujan tanpa henti ini bermula dari datangnya seorang badui atau penduduk desa kepada Rasulullah SAW. Orang itu meminta agar Nabi memohon kepada Allah untuk menurunkan hujan. Namun, yang menarik, Rasulullah tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut dengan berdoa. Sebaliknya, beliau justru menyampaikan khutbah di hadapan umat saat shalat Jumat.

“Nabi tidak langsung berdoa ketika ada yang meminta hujan,” tutur Gus Baha. “Justru beliau menyampaikan khutbah—berbicara di depan orang banyak saat salat Jumat.”

Kisah Orang Desa yang Menyela Khutbah Rasulullah Demi Meminta Hujan

Dalam salah satu ceramahnya, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengisahkan sebuah momen menarik dan penuh pelajaran dari masa Rasulullah SAW. Kisah ini menggambarkan respons spontan seorang badui atau penduduk desa terhadap situasi krisis yang ia alami, sekaligus menunjukkan betapa besar rasa kebergantungan manusia terhadap rahmat Allah SWT.

Gus Baha menceritakan bahwa pada suatu waktu, Rasulullah SAW tengah menyampaikan khutbah Jumat di hadapan para sahabat. Seperti biasa, isi khutbah beliau penuh dengan seruan kepada takwa, ajakan berbuat kebaikan, serta nasihat-nasihat spiritual yang mendalam. Namun, seorang badui tampak tidak memperhatikan khutbah tersebut.

“Orang desa tidak punya etika, Nabi khutbah tidak didengarkan,” ujar Gus Baha dalam ceramahnya. Ia menggambarkan bagaimana si badui tidak peduli dengan khutbah yang disampaikan Rasulullah SAW, karena ada satu hal yang menurutnya jauh lebih mendesak saat itu: hujan.

Bagi si badui, krisis kekeringan yang tengah melanda merupakan masalah paling besar. Tanaman mati, hewan ternak kehausan, dan kehidupan ekonomi masyarakat desa porak-poranda akibat tidak turunnya hujan. Maka dengan lantang dan tanpa basa-basi, ia menyela khutbah Rasulullah SAW dan langsung menyampaikan keluhannya.

“Ya Rasulallah, dunia sudah rusak karena tidak ada hujan,” kata orang desa tersebut, seperti dituturkan oleh Gus Baha. Bahkan ia menimpali khutbah itu dengan pernyataan blak-blakan, “Sudah tidak usah khutbah, sekarang biar hujan bagaimana?”

Meskipun sikap orang desa tersebut secara lahiriah tampak kurang sopan, kisah ini justru memperlihatkan kejujuran, kepolosan, dan kesungguhan doa dari seorang hamba yang sedang benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan. Dari sinilah muncul hikmah besar bahwa Allah mendengar doa siapa pun, bahkan dari mereka yang mungkin tidak menyampaikan dengan cara yang sempurna.

Doa Rasulullah SAW yang Menghadirkan Hujan Selama Sepekan

Menanggapi permintaan orang badui yang menyela khutbah Jumat, Rasulullah SAW—meskipun tampak sedikit jengkel—tetap menunjukkan sifat kasih sayang dan kepemimpinannya. Beliau tidak menolak permintaan tersebut. Dengan penuh kerendahan hati, Rasulullah SAW kemudian menengadahkan tangan ke langit dan memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

“Rasulullah SAW mengangkat tangannya, dan seketika itu juga hujan turun,” tutur Gus Baha dalam ceramahnya. Ia menjelaskan bahwa meski Rasulullah tampak “agak mangkel”, hal itu merupakan ekspresi manusiawi, namun tentu saja tidak seperti emosi manusia biasa. Gus Baha pun dengan santun mengingatkan, “Tapi mangkelnya Nabi jangan kamu tiru.”

Setelah itu, Rasulullah SAW pulang ke rumahnya. Namun, satu hal yang luput adalah beliau belum sempat memanjatkan doa agar hujan tersebut berhenti. Maka terjadilah sesuatu yang luar biasa—hujan turun terus menerus selama tujuh hari tanpa henti.

“Rasulullah SAW tidak mencabut permintaannya, lalu beliau pulang. Maka hujan pun turun selama satu minggu,” jelas Gus Baha.

Akibat hujan yang tiada henti itu, kondisi lingkungan pun berubah drastis. Tanah yang awalnya kering kerontang, kini justru tergenang air. Kekeringan berubah menjadi banjir. Maka, si badui yang sebelumnya mengeluh karena kehausan, kembali datang kepada Rasulullah SAW.

“Ya Rasulallah, sekarang dunia rusak bukan karena kehausan, tetapi karena musibah banjir,” keluhnya.

Gus Baha menjelaskan bahwa bahkan malaikat pun tidak berani menghentikan hujan karena belum ada perintah dari Rasulullah SAW untuk menghentikannya.

“Malaikat mau menghentikan hujan tidak berani sebab Nabi tidak minta hujan dihentikan,” ujar Gus Baha.

Akhirnya, atas permintaan si badui itu, Rasulullah SAW kembali memanjatkan doa—kali ini agar hujan berhenti. Dan dengan izin Allah SWT, hujan pun berhenti.

Kisah ini bukan hanya mencerminkan keajaiban doa Rasulullah SAW, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam tentang komunikasi antara hamba dan Tuhannya, serta kebijaksanaan dalam menghadapi permintaan umat. Bila Anda ingin, saya juga bisa bantu mengolah kisah ini menjadi konten dakwah, artikel inspiratif, atau naskah ceramah.

Doa Agar Dagangan Laris dan Usaha Mendapat Keberkahan

stylesphere – Dalam menjalankan usaha, selain strategi dan kerja keras, penting bagi seorang muslim untuk memulai dengan doa sebagai bentuk pengharapan dan tawakal kepada Allah SWT. Doa tidak hanya membuka pintu keberkahan, tapi juga memperkuat niat baik serta ketabahan dalam menghadapi tantangan bisnis.

Berikut dua doa yang bisa diamalkan sebelum dan selama menjalankan usaha agar dagangan laris, bisnis berkembang, dan dilimpahi keberkahan:

1. Doa Sebelum Berdagang atau Memulai Usaha

📖 Lafal Arab:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ

📜 Latin:

Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāhi lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhim.

💬 Artinya:

“Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

Doa ini baik dibaca setiap kali hendak memulai usaha, membuka toko, atau menjajakan dagangan. Sebagai bentuk tawakal, doa ini menanamkan keyakinan bahwa segala usaha harus disandarkan pada kekuatan Allah SWT.

2. Doa untuk Memohon Keberkahan dan Kemajuan Bisnis

Doa ini diambil dari rangkaian ayat dalam Surah Al-Hasyr ayat 22–24, yang memuat nama-nama Allah (Asmaul Husna) dan dianjurkan untuk dibaca sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya dan permohonan keberkahan dalam segala usaha.

📖 Lafal Arab:

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

📜 Latin:

Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah(ti), huwar-raḥmānur-raḥīm(u).
Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), al-malikul-quddūsus-salāmul-mu’minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir(u), subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn(a).
Huwallāhul-khāliqul-bāri’ul-muṣawwiru lahul-asmā’ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).

💬 Artinya:

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Mahasejahtera, Pemberi keamanan, Pemelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah, Sang Pencipta, Sang Pembentuk, Yang Maha Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Ayat ini diyakini mengandung Asmaul Husna yang memiliki keutamaan luar biasa, dan sangat baik dibaca untuk memohon pertolongan Allah SWT agar usaha diberi keberkahan, kemajuan, dan kesuksesan.

1. Doa Sebelum Berdagang atau Memulai Usaha

Sebelum memulai usaha, seorang Muslim dianjurkan untuk bertawakal kepada Allah SWT. Berikut bacaan doa yang dapat diamalkan:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ
Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīm.

Artinya:
“Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

2. Doa Agar Bisnis Berkah, Maju, dan Sukses

Ayat-ayat berikut mengandung nama-nama Allah yang agung dan sangat dianjurkan dibaca untuk memohon keberkahan usaha:

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ… (Surah Al-Hasyr: 22–24)
Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a)…

Artinya:
“Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan nyata, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Pemberi Keamanan, Maha Mengawasi, Maha Perkasa, Maha Kuasa, dan Pemilik Keagungan. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Dialah Allah, Pencipta, Pembuat, dan Pembentuk rupa. Bagi-Nya nama-nama terbaik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

3. Doa Agar Dagangan Laris dan Menguntungkan

Doa ini memohon kepada Allah SWT agar diberikan rezeki yang luas tanpa kesulitan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالاً وَاسِعًا…
Allāhumma innī as-aluka an tarzuqanī rizqan ḥalālan wāsi’an ṭayyiban…

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rezeki yang halal, luas, dan baik, tanpa susah payah, tanpa beban, tanpa kesulitan, dan tanpa kelelahan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

4. Doa Agar Berhasil dalam Berdagang

Untuk kesuksesan yang menyeluruh dalam berdagang, doa berikut dapat dibaca dengan penuh harap:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صِحَّةً فِي إِيْمَانٍ…
Allāhumma innī as-aluka ṣiḥḥatan fī īmānin…

Artinya:
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kesehatan dalam keimanan, iman yang disertai akhlak mulia, kesuksesan yang diikuti dengan keberuntungan, serta curahan rahmat, keselamatan, ampunan, dan ridha-Mu.”

5. Doa Agar Dagangan Laris dan Mendatangkan Banyak Keuntungan

Doa ini berisi seruan kepada nama-nama Allah yang indah untuk memohon limpahan rezeki:

اللَّهُمَّ يَا أَحَدُ يَا وَاحِدُ يَا مَوْجُودُ…
Allāhumma yā Aḥad, yā Wāḥid, yā Mawjūd…

Artinya:
“Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu. Wahai Dzat Yang Maujud, Maha Pemurah, Maha Dermawan, Maha Luas Pemberian, Maha Kaya, Maha Pemberi, Maha Pembuka Rezeki, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Mengurus, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Pencipta langit dan bumi, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Limpahkanlah kepadaku anugerah kebaikan dari sisi-Mu yang membuatku tak lagi bergantung kepada selain Engkau.”

Perdagangan dalam Sejarah Islam: Jejak Profesi Para Nabi

Dalam Islam, berdagang bukanlah sekadar profesi biasa. Sejak dahulu, aktivitas ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan umat manusia—bahkan para nabi pun dikenal memiliki latar belakang sebagai pekerja keras di bidang perdagangan dan keahlian tangan.

Nabi Muhammad SAW sendiri adalah contoh nyata pedagang yang sukses sebelum diangkat menjadi rasul. Kejujuran, amanah, dan integritas beliau dalam berniaga membuatnya sangat dihormati di kalangan masyarakat Quraisy. Saking dipercayanya, Khadijah RA—seorang saudagar wanita yang kaya dan terpandang—menyerahkan urusan perdagangannya kepada Rasulullah, hingga akhirnya mereka menikah.

Dalam buku Hukum Bisnis Syariah karya Dr. Mardani disebutkan bahwa profesi berdagang termasuk salah satu pekerjaan paling tua di dunia. Para nabi terdahulu pun bekerja keras untuk menghidupi diri mereka. Misalnya, Nabi Daud dikenal sebagai pandai besi, Nabi Idris seorang penjahit, dan Nabi Musa pernah menjadi penggembala kambing.

Rasulullah SAW juga memberikan perhatian khusus pada etika dalam perdagangan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Jika keduanya (penjual dan pembeli) jujur dan terbuka, maka Allah akan memberkahi jual beli mereka. Namun jika mereka berdusta dan menyembunyikan, maka keberkahan jual beli itu akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah menegaskan pentingnya bekerja keras:

“Sebaik-baik penghasilan adalah dari pekerjaan tangan sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (jujur dan halal).” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Meski hadits populer yang berbunyi “sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan” tergolong lemah (dha’if) menurut sebagian ulama, namun nilai motivatifnya tetap bisa diambil. Intinya, berdagang memang merupakan salah satu jalan terbuka untuk memperoleh rezeki yang luas—selama dijalankan dengan cara yang halal, jujur, dan penuh tanggung jawab.

Niat Sholat Qobliyah Isya: Makna, Pentingnya, dan Tata Caranya

StylesphereSholat qobliyah Isya merupakan salah satu ibadah sunnah yang dikerjakan sebelum pelaksanaan sholat fardhu Isya. Meskipun hukumnya tidak wajib, sholat ini sangat dianjurkan bagi umat Islam karena berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurna ibadah harian. Salah satu aspek penting dalam pelaksanaan sholat sunnah ini adalah niat, yang menjadi penentu sah atau tidaknya suatu ibadah.

Pentingnya Niat dalam Sholat Qobliyah Isya

Niat adalah inti dari setiap ibadah. Dalam konteks sholat sunnah qobliyah Isya, niat menjadi penanda bahwa ibadah yang akan dilakukan adalah ibadah sunnah dua rakaat sebelum Isya, bukan ibadah lainnya. Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam jurnal Konsep Niat dalam Ibadah: Studi Fikih dan Psikologi Islam oleh Dedi Sutardi yang dimuat dalam Jurnal Al-Adyan (Vol. 13, No. 2, 2018). Dalam kajian tersebut, niat memiliki dua dimensi penting: aspek syar‘i dan aspek psikologis.

  • Secara syar‘i, niat berfungsi untuk membedakan jenis-jenis ibadah, termasuk sholat wajib dan sunnah.
  • Secara psikologis, niat merupakan bentuk kesadaran dan kesiapan jiwa seseorang dalam melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan.

Dengan kata lain, niat bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga refleksi dari kesungguhan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Berikut Anugerahslot islamic ulas selengkapnya niat sholat qobliyah isya melansir dari berbagai sumber, Sabtu (19/7/2025).

Tata Cara Sholat Qobliyah Isya

Sholat qobliyah Isya dilakukan sebanyak dua rakaat dan dikerjakan secara munfarid (sendirian), bukan berjamaah. Waktu pelaksanaannya adalah setelah adzan Isya berkumandang, tetapi sebelum sholat fardhu Isya didirikan. Berikut adalah contoh lafaz niat yang dapat dibaca dalam hati sebelum memulai sholat:

Ushalli sunnatal Isya qabliyatan rak‘ataini lillahi ta‘ala
Artinya: Aku niat sholat sunnah qobliyah Isya dua rakaat karena Allah Ta‘ala.

Penting untuk diingat bahwa niat cukup dilafazkan di dalam hati, dan tidak harus diucapkan dengan lisan. Namun, sebagian ulama membolehkan pengucapan lisan sebagai bentuk membantu konsentrasi dan penguatan niat di dalam hati.

Keutamaan dan Manfaat Sholat Qobliyah Isya

Walaupun tidak sepopuler sholat sunnah rawatib lainnya seperti qobliyah Subuh atau ba’diyah Maghrib, sholat sunnah sebelum Isya tetap memiliki nilai keutamaan. Di antara manfaatnya:

Melatih kedisiplinan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah tanpa pamrih atau paksaan.

Menambah pahala dan memperbanyak amalan sunnah.

Menyempurnakan kekurangan dalam sholat wajib, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits bahwa sholat sunnah berfungsi sebagai pelengkap jika ada kekurangan dalam sholat fardhu.

Dengan memahami makna dan tata cara sholat qobliyah Isya, seorang Muslim diharapkan dapat lebih khusyuk dan istiqamah dalam memperbanyak amal ibadah sunnah. Meskipun tidak diwajibkan, pelaksanaan sholat sunnah ini menjadi salah satu bentuk kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Memahami Status Sholat Qobliyah Isya: Sunnah Ghairu Muakkadah yang Tetap Bermakna

Sholat qobliyah Isya merupakan salah satu bentuk ibadah sunnah yang dilakukan sebelum pelaksanaan sholat fardhu Isya. Meskipun termasuk dalam kelompok sholat sunnah rawatib, statusnya berbeda dengan rawatib yang sangat dianjurkan (muakkadah). Ibadah ini tetap memiliki nilai dan keutamaan tersendiri meskipun tidak termasuk kebiasaan rutin Rasulullah ﷺ.

Klasifikasi Sholat Sunnah Rawatib

Dalam karya besar Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa sholat rawatib terbagi menjadi dua kategori utama:

  • Muakkadah (sangat dianjurkan): sholat sunnah yang secara konsisten dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan memiliki dasar yang kuat dalam hadits shahih.
  • Ghairu muakkadah (tidak terlalu ditekankan): sholat sunnah yang terkadang dilakukan Nabi, namun tidak secara rutin, atau tidak ada riwayat yang kuat menyatakan bahwa beliau selalu mengerjakannya.

Sholat qobliyah Isya masuk dalam kategori yang kedua. Menurut Imam Nawawi, tidak terdapat dalil yang shahih dan tegas yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ senantiasa melaksanakan sholat sunnah sebelum Isya. Oleh karena itu, ibadah ini tidak tergolong sunnah muakkadah.

Hadis Tentang Sholat Rawatib

Dasar klasifikasi ini merujuk pada hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut, Nabi ﷺ menyebutkan sholat rawatib muakkadah sebagai berikut:

  • Dua rakaat sebelum Subuh.
  • Dua rakaat sebelum dan dua sesudah Zuhur.
  • Dua rakaat setelah Maghrib.
  • Dua rakaat setelah Isya.

Tidak disebutkan adanya sholat sunnah sebelum Isya dalam daftar tersebut, sehingga ulama menyimpulkan bahwa qobliyah Isya bukan termasuk dalam sunnah yang ditekankan.

Bolehkah Melaksanakan Sholat Qobliyah Isya?

Meskipun tidak tergolong sunnah muakkadah, bukan berarti sholat qobliyah Isya tidak boleh dilakukan. Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa meskipun Nabi ﷺ tidak menjadikannya kebiasaan tetap, tidak ada larangan untuk melakukannya. Seorang Muslim yang ingin melaksanakan sholat sunnah dua rakaat sebelum Isya tetap boleh melakukannya, selama diniatkan sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Ini sejalan dengan prinsip umum dalam ibadah: selama tidak ada larangan, amalan sunnah yang dilakukan dengan niat yang ikhlas tetap memiliki nilai pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan

Sholat qobliyah Isya memang tidak termasuk dalam kategori sunnah rawatib muakkadah karena tidak ada dalil kuat yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ rutin mengerjakannya. Namun, sholat ini tetap bisa dilakukan sebagai bentuk amalan sunnah yang bernilai taqarrub kepada Allah SWT. Bagi siapa saja yang ingin menambah pahala dan memperkuat hubungan spiritualnya, melaksanakan dua rakaat sebelum Isya bisa menjadi salah satu upaya ibadah yang bermanfaat.

Niat Sholat Qobliyah Isya: Pentingnya dan Contoh Bacaan

Sholat qobliyah Isya adalah ibadah sunnah yang dikerjakan sebelum sholat fardhu Isya. Meskipun tidak wajib, pelaksanaannya sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin memperbanyak amalan sunnah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu rukun utama yang tidak boleh ditinggalkan dalam sholat ini—seperti halnya pada sholat lainnya—adalah niat.

Pentingnya Niat dalam Sholat

Niat merupakan elemen esensial dalam setiap ibadah, termasuk dalam sholat sunnah seperti qobliyah Isya. Fungsi utama niat adalah untuk membedakan antara satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya serta memastikan bahwa ibadah dilakukan dengan kesadaran dan tujuan yang jelas.

Tanpa niat, sholat dianggap tidak sah menurut mayoritas ulama fikih. Oleh karena itu, memahami dan menghadirkan niat dalam hati sebelum memulai sholat menjadi hal yang sangat penting.

Bacaan Niat Sholat Qobliyah Isya

Berikut adalah contoh bacaan niat sholat qobliyah Isya yang biasa digunakan:

  • Arab:
    أُصَلِّي سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
  • Latin:
    Ushalli sunnatal ‘isya’i rak‘ataini qabliyyatan lillahi ta‘ala.
  • Artinya:
    Aku niat sholat sunnah sebelum Isya dua rakaat karena Allah Ta‘ala.

Niat dalam Hati dan Pelafalan Lisan

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa niat cukup dilakukan dalam hati tanpa harus dilafalkan. Yang terpenting adalah menghadirkan kesadaran akan jenis sholat, jumlah rakaat, dan waktu pelaksanaannya. Contoh niat dalam hati bisa berbunyi:
“Saya niat sholat sunnah sebelum Isya dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Namun, jika ingin dilafalkan sebagai bentuk kebiasaan atau upaya untuk membantu menghadirkan kekhusyukan, sebagian ulama memperbolehkannya. Berikut contoh lafaz niat secara lisan yang biasa digunakan:

  • Arab:
    أُصَلِّي سُنَّةَ القَبْلِيَّةِ لِلْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
  • Latin:
    Ushalli sunnatal qabliyyati lil ‘isya’i rak‘ataini lillahi ta‘ala.

Perlu dicatat bahwa pelafalan niat seperti ini tidak pernah diajarkan secara eksplisit oleh Rasulullah ﷺ, namun sejumlah ulama memperbolehkannya sebagai sarana membantu kehadiran hati dalam ibadah.

Kesimpulan

Niat adalah rukun yang sangat penting dalam pelaksanaan sholat qobliyah Isya. Meskipun sholat ini bersifat sunnah, niat tetap harus dihadirkan dengan benar agar ibadah diterima di sisi Allah SWT. Melakukannya dengan kesadaran dan ketulusan hati menjadikan sholat sunnah ini bernilai lebih sebagai bentuk pendekatan diri kepada Sang Pencipta.

Hukum Sholat Qobliyah Isya: Antara Sunnah Ghairu Muakkadah dan Ibadah yang Mubah

Sholat qobliyah Isya menjadi salah satu topik yang menarik dalam pembahasan fikih Islam, khususnya dalam konteks hukum dan status kesunnahannya. Meskipun tidak sepopuler sholat sunnah rawatib lainnya seperti sebelum Subuh atau sebelum dan sesudah Zuhur, sholat ini tetap memiliki tempat dalam khazanah ibadah sunnah umat Islam.

Perbedaan Pandangan Ulama tentang Status Hukum

Secara umum, banyak ulama yang tidak memasukkan sholat qobliyah Isya ke dalam kategori sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dan rutin dikerjakan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sebaliknya, sholat ini lebih sering diklasifikasikan sebagai sunnah ghairu muakkadah atau bahkan sebagai ibadah mubah, yakni diperbolehkan namun tidak ditekankan.

Hal ini selaras dengan temuan dalam artikel berjudul “Analisis Sholat Sunnah Rawatib dalam Pandangan Ulama Mazhab” oleh Ahmad Khoirul Umam yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin (Volume 17, No. 2, 2018). Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa:

“Tidak ada kesepakatan (ijma’) dari para ulama tentang adanya sholat sunnah khusus sebelum Isya yang dilakukan secara rutin.”

Namun, sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali membolehkan pelaksanaan sholat sunnah sebelum Isya berdasarkan dalil umum tentang keutamaan memperbanyak sholat sunnah. Dengan kata lain, meskipun tidak ada riwayat kuat yang menyebut Nabi ﷺ secara konsisten melakukannya, melaksanakan sholat ini tetap diperbolehkan sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah.

Pandangan Berbeda: Sholat Qobliyah Isya sebagai Sunnah Muakkadah

Di sisi lain, dalam buku Kumpulan Risalah Bimbingan Sholat Lengkap karya Muhajir dan Abdul Gani Asykur (1989: hlm. 71), sholat qobliyah Isya justru dikategorikan sebagai sunnah muakkadah. Artinya, pelaksanaannya sangat dianjurkan karena dianggap menyempurnakan amalan sholat fardhu. Pandangan ini memperlihatkan adanya keberagaman pendapat di kalangan ulama maupun literatur keislaman klasik dan kontemporer.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap hukum ibadah sunnah seperti qobliyah Isya sangat bergantung pada metode istinbath (penggalian hukum) yang digunakan oleh para ulama, serta kekuatan dalil yang dijadikan dasar.

Jumlah Rakaat dan Waktu Pelaksanaan

Jika dikerjakan, sholat qobliyah Isya umumnya dilakukan sebanyak dua rakaat. Namun, sebagian pendapat menyebutkan bahwa boleh dikerjakan hingga empat rakaat, terutama jika diniatkan sebagai sholat sunnah mutlak atau sunnah ghairu muakkadah. Waktu pelaksanaannya adalah setelah adzan Isya dan sebelum dimulainya sholat fardhu Isya.

Kesimpulan

Sholat qobliyah Isya tidak termasuk dalam daftar sholat sunnah rawatib muakkadah berdasarkan mayoritas pandangan ulama. Namun, pelaksanaannya tetap diperbolehkan dan bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas. Perbedaan pandangan dalam hal ini menunjukkan fleksibilitas fikih Islam dalam menyikapi ibadah sunnah berdasarkan dalil yang ada. Bagi umat Muslim yang ingin memperbanyak amal kebaikan, sholat sunnah sebelum Isya dapat menjadi salah satu bentuk ibadah yang mendatangkan pahala dan keberkahan.

Tata Cara Sholat Qobliyah Isya yang Benar

Sholat qobliyah Isya merupakan ibadah sunnah dua rakaat yang dilaksanakan sebelum sholat fardhu Isya. Meski tidak tergolong sunnah muakkadah, sholat ini tetap dianjurkan bagi Muslim yang ingin memperbanyak amal kebaikan. Dari segi pelaksanaan, tata cara sholat qobliyah Isya pada dasarnya sama seperti sholat sunnah dua rakaat lainnya, dengan perbedaan utama terletak pada niat.

Syarat Sebelum Memulai Sholat

Sebelum melaksanakan sholat, pastikan beberapa syarat telah terpenuhi:

  • Berwudhu dan suci dari hadas kecil maupun besar.
  • Pakaian dan tubuh bersih dari najis.
  • Menutup aurat dengan pakaian yang layak.
  • Menghadap kiblat.
  • Mengetahui waktu sholat Isya telah masuk.

Langkah-langkah Pelaksanaan Sholat Qobliyah Isya

Berikut adalah urutan tata cara sholat qobliyah Isya dua rakaat:

  1. Berdiri Tegak Menghadap Kiblat
    Siapkan diri dengan khusyuk, kemudian niatkan sholat di dalam hati. Niat ini dapat pula dilafalkan sebagai bentuk penguatan niat.
  2. Takbiratul Ihram
    Angkat kedua tangan setinggi telinga sambil mengucapkan Allahu Akbar. Ini menandai dimulainya sholat.
  3. Membaca Doa Iftitah (sunnah, boleh dibaca): “Subhanakallahumma wa bihamdika…”
  4. Membaca Surah Al-Fatihah
    Wajib dibaca di setiap rakaat sebagai rukun sholat.
  5. Membaca Surah Pendek
    Pilih salah satu surah pendek dari Al-Qur’an, misalnya Al-Ikhlas, Al-Asr, atau lainnya.
  6. Rukuk dengan Tuma’ninah
    Membungkuk dengan tangan memegang lutut, punggung lurus, dan membaca Subhana rabbiyal ‘azhim (tiga kali).
  7. I’tidal
    Bangkit dari rukuk sambil membaca Sami‘allahu liman hamidah, rabbana lakal hamd.
  8. Sujud Pertama
    Sujud dengan tuma’ninah sambil membaca Subhana rabbiyal a‘la (tiga kali).
  9. Duduk di Antara Dua Sujud
    Duduk dengan tenang sambil membaca Rabbighfirli warhamni…
  10. Sujud Kedua
    Ulangi sujud seperti sebelumnya.
  11. Bangkit ke Rakaat Kedua
    Ulangi seluruh bacaan dan gerakan dari poin 4 sampai 10.
  12. Tasyahud Akhir
    Setelah sujud kedua di rakaat kedua, duduk tasyahud dan membaca doa tasyahud akhir.
  13. Salam
    Akhiri sholat dengan menoleh ke kanan dan kiri sambil mengucapkan Assalamu’alaikum warahmatullah.

Kesimpulan

Sholat qobliyah Isya adalah ibadah ringan namun bernilai yang bisa menjadi penambah pahala sekaligus penyempurna sholat fardhu. Meskipun tidak diwajibkan, melakukannya dengan penuh keikhlasan merupakan bentuk cinta kepada ibadah dan usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keutamaan Sholat Qobliyah Isya: Antara Pahala, Spiritualitas, dan Keseimbangan Jiwa

Sholat qobliyah Isya, meskipun tidak tergolong dalam kategori sunnah rawatib muakkadah, tetap memiliki berbagai keutamaan yang diakui dalam literatur fikih dan kajian keislaman. Ibadah sunnah ini bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga memiliki dampak spiritual dan psikologis yang signifikan bagi pelakunya. Berikut beberapa alasan mengapa sholat sunnah sebelum Isya tetap layak untuk diamalkan:

1. Bernilai Ibadah dan Berpahala Berdasarkan Hadis Umum

Dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam Nawawi tidak memasukkan sholat qobliyah Isya dalam daftar sholat sunnah rawatib muakkadah. Namun, hal ini tidak meniadakan nilai ibadah dari sholat tersebut. Hadis Nabi Muhammad ﷺ menyatakan:

“Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.”
(HR. Muslim No. 1163)

Hadis ini dipahami oleh para ulama sebagai dalil umum bahwa seluruh sholat sunnah di luar yang bersifat muakkadah tetap berpahala, selama dilakukan bukan pada waktu-waktu yang dilarang. Dengan demikian, sholat qobliyah Isya, meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sebagai kebiasaan Nabi ﷺ, tetap bernilai sebagai ibadah sunnah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Menambah Amal dan Menambal Kekurangan Sholat Wajib

Dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq menyebut bahwa tidak ditemukan riwayat yang kuat menunjukkan Nabi ﷺ secara rutin melaksanakan sholat sunnah sebelum Isya. Namun, beliau menekankan bahwa sholat sunnah secara umum dianjurkan sebagai sarana untuk menambah amal ibadah dan memperbaiki kekurangan yang mungkin terjadi dalam sholat fardhu.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

“Amal manusia yang pertama dihisab adalah sholat… Jika terdapat kekurangan, Allah berfirman: ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki sholat sunnah?’ Maka sholat sunnah itu akan menyempurnakan kekurangan sholat wajibnya.”
(HR. Abu Dawud No. 864, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Sholat qobliyah Isya dapat berfungsi sebagai pelengkap dan penambal jika ada kekurangan dalam pelaksanaan sholat fardhu Isya. Ini menegaskan pentingnya menjaga konsistensi dalam mengerjakan sholat sunnah.

3. Memperkuat Karakter Spiritual dan Psikologis

Lebih dari sekadar rutinitas ibadah, sholat sunnah seperti qobliyah Isya memiliki dampak positif pada aspek psikologis dan spiritual seseorang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nurul Hidayati, dimuat dalam Jurnal Ilmiah Islam Fitrah (Vol. 2, No. 1, 2020), ditemukan bahwa mahasiswa yang rutin mengerjakan sholat sunnah sebelum atau sesudah sholat fardhu menunjukkan tingkat ketenangan jiwa dan kedisiplinan yang lebih tinggi.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sholat sunnah berkontribusi dalam pembentukan karakter yang lebih stabil secara emosional dan lebih dekat secara spiritual kepada Allah. Dengan kata lain, keutamaan sholat qobliyah Isya tidak hanya berkaitan dengan pahala di akhirat, tetapi juga membawa manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Sholat qobliyah Isya meskipun bukan sunnah yang sangat ditekankan, tetap memiliki berbagai keutamaan dari segi pahala, perbaikan amal, hingga pengaruh positif terhadap karakter dan ketenangan jiwa. Melaksanakannya secara rutin adalah bentuk kesungguhan dalam memperbaiki diri dan memperkuat ikatan spiritual kepada Allah SWT.

Di Mana Sebaiknya Sholat Qobliyah Isya Dilaksanakan? Ini Penjelasannya

Pertanyaan tentang tempat terbaik untuk melaksanakan sholat sunnah qobliyah Isya kerap menjadi bahan diskusi di kalangan umat Muslim. Walaupun masjid merupakan tempat yang mulia untuk beribadah, Islam memberikan anjuran khusus terkait lokasi pelaksanaan sholat sunnah, termasuk sholat qobliyah Isya.

Anjuran Rasulullah SAW: Sholat Sunnah di Rumah

Dalam Buku Super Lengkap Shalat Sunah karya Ubaidurrahim El-Hamdy, dijelaskan bahwa tempat paling utama (afdhal) untuk melaksanakan sholat rawatib—baik sebelum (qobliyah) maupun setelah (ba’diyah) sholat fardhu—adalah di rumah. Hal ini mengikuti contoh langsung dari Rasulullah ﷺ, yang biasa mengerjakan sholat-sholat sunnah di kediaman beliau, bukan di masjid.

Anjuran ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

“Jadikanlah sholat (sunnah) kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini mengandung peringatan agar rumah tidak kosong dari cahaya ibadah. Menjadikan rumah sebagai tempat sholat sunnah akan menjadikannya penuh berkah dan kehidupan spiritual.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik sholat seseorang adalah sholat di rumahnya, kecuali sholat wajib.”
(HR. Bukhari dan Ahmad)

Hadis ini memperkuat pemahaman bahwa semua jenis sholat sunnah, termasuk qobliyah Isya, lebih utama dilakukan di rumah—selama tidak ada halangan seperti sempitnya tempat atau gangguan lain.

Keutamaan Melaksanakan Sholat Sunnah di Rumah

Melaksanakan sholat sunnah seperti qobliyah Isya di rumah memiliki beberapa keutamaan:

  1. Menghidupkan suasana spiritual dalam rumah.
    Rumah yang digunakan untuk beribadah akan terasa lebih tenteram dan jauh dari energi negatif.
  2. Menjauhkan diri dari riya’.
    Sholat di rumah lebih tersembunyi dari pandangan orang lain, sehingga meminimalkan potensi munculnya rasa ingin dipuji.
  3. Meneladani sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
    Dengan mencontoh kebiasaan Rasul, seorang Muslim menempatkan ibadahnya pada derajat yang lebih utama.

Kesimpulan

Meskipun sah dan boleh dilakukan di masjid, sholat sunnah qobliyah Isya—seperti halnya sholat rawatib lainnya—lebih dianjurkan untuk dilakukan di rumah. Ini sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ yang menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di rumah agar tidak menyerupai kuburan yang sunyi dari dzikir. Dengan menghidupkan rumah melalui ibadah sunnah, seorang Muslim tidak hanya mengejar pahala, tetapi juga membangun suasana spiritual yang berkah dalam lingkungan keluarganya.

Memahami Doa ASAD: Refleksi Spiritualitas dalam Dunia Pencak Silat

Stylesphere – Pencarian mengenai doa ASAD kerap memunculkan pertanyaan tentang asal-usul, struktur, serta kedudukannya dalam ajaran Islam. Perlu diketahui, doa ini bukan merupakan bagian dari doa-doa baku yang secara eksplisit tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadis. Sebaliknya, doa ASAD merupakan bentuk ekspresi spiritual yang tumbuh dari nilai-nilai budaya dan identitas organisasi, khususnya dalam lingkungan Perguruan Silat Nasional Ampuh, Sehat, Aman, Damai (Persinas ASAD).

Dalam lingkup Persinas ASAD, doa ini tidak sekadar menjadi rangkaian kata permohonan, melainkan sarana internalisasi nilai-nilai luhur seperti disiplin, kekuatan moral, dan keseimbangan batin. Doa ASAD biasanya dibacakan sebelum dan sesudah sesi latihan, sebagai pengingat bahwa setiap gerakan silat bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga harus dilandasi dengan niat yang ikhlas dan hati yang bersih.

Kalimat-kalimat dalam doa ini mencerminkan harapan akan kekuatan yang tidak hanya “ampuh,” tetapi juga dibingkai dalam semangat “sehat, aman, dan damai” — sejalan dengan makna akronim ASAD itu sendiri. Menariknya, tidak ada satu versi tunggal dari doa ASAD yang berlaku secara nasional. Setiap cabang atau generasi perguruan silat bisa saja memiliki redaksi doa yang sedikit berbeda, tergantung pada latar belakang budaya lokal atau penekanan nilai-nilai tertentu dalam ajarannya.

Menurut H. Hamdan Hamedan, MA dalam bukunya Koleksi Doa & Zikir Pilihan untuk Perlindungan Diri, setiap bentuk doa yang tidak bertentangan dengan syariat Islam dan bertujuan untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT tetap memiliki nilai ibadah. Selama kandungan doa tersebut tidak mengandung unsur syirik dan tetap sejalan dengan prinsip-prinsip akidah Islam, maka doa seperti ASAD bisa menjadi sarana spiritual yang sah dan bermakna.

Dengan demikian, doa ASAD dapat dipahami sebagai bentuk spiritualitas kontekstual — lahir dari lingkungan pencak silat, namun tetap berpijak pada niat yang lurus dan semangat pengabdian kepada Tuhan. Ia menjadi bagian dari praktik hidup yang menggabungkan aspek fisik, mental, dan spiritual secara harmonis.

Berikut ini Anugerahslot islami ulas selengkapnya, Jum’at (18/7/2025).

Bacaan Doa Asad dalam Bahasa Arab, Latin, dan Artinya

Berikut ini bacaab doa ASAD yang bisa anda amalkan sehari-hari: 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ 

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا عَلَى اللهِ 

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِيْ اْلأَرْضِ وَلاَ فِيْ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 

اللّٰهُمَّ افْتَحْ لَنَا حِكْمَتَكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا رَحْمَتَكَ يَاذَاالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ 

اللّٰهُمَّ اكْفِنَاهُمْ بِمَا شِئْتَ اللّٰهُمَّ اعْطِنَا الْعَافِيَتَ وَالْقُوَّةَ مِنْ عِنْدِكَ وَانْصُرْنَا عَلَى أَعْدَائِنَا وَاشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مَنْ أَفْسَدَنَا حَسْبُنَا اللهُ لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ 

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ 

بِسْمِ اللهِ عَلَى أَنْفُسِنَا وَدِيْنِنَا 

بِسْمِ اللهِ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ أَعْطَانَا رَبُّنَا 

بِسْمِ اللهِ خَيْرِ اْلأَسْمَاءِ 

بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَيَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ دَاءٌ 

بِسْمِ اللهِ افْتَتَحْنَا وَعَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا اللهُ اللهُ رَبُّنَا لاَ نُشْرُكُ بِهِ أَحَدًا نَسْأَلُكَ 

اللّٰهُمَّ بِخَيْرِكَ مِنْ خَيْرِكَ الَّذِى لاَيُعْطِيْهِ أَحَدٌ غَيْرُكَ عَزَّجَارُكَ وَجَلَّ ثَنَائُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ إِجْعَلْنَا فِيْ عِيَاذِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ سُلْطَانِ وَمِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَحْتَرِسُ بِكَ مِنْ شَرِّ جَمِيْعِ كُلِّ ذِيْ شَرِّ خَلَقْتَهُ وَنَحْتَرِزُ بِكَ مِنْهُمْ وَنُقَدِّمُ بَيْنَ أَيْدِيْنَا 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

وَمِنْ خَلْفِنَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

وَعَنْ يَمِيْنِنَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

وَعَنْ يَسَارِنَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

وَمِنْ فَوْقِنَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

وَمِنْ تَحْتِنَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 

Arab Latin: 

Bismillaahirrahmaanirrahiim 

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin 

Allaahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aali Muhammad 

Bismillaahi tawakaltu ‘alallaah 

Bismillaahilladzi laa yadhurru ma ‘asmihi syaiun fil ardhi, walaa fissamaai wahuwas samii’ul ‘aliim 

Laa haula walaa quwwata illa billaahil ‘aliyul ‘aziim 

Allaahummaftahlanaa hikmataka wansyur ‘alaynaa rahmataka yaa dzaljalaali wal ikram 

Allaahmmak finiihim bimaa syi’ta 

Allaahumma’thinaal ‘aafiyata wal quwwata min ‘indika wanshurnaa ‘ala a’dainaa wasydud wa thaataka ‘ala man afsadanaa 

Hasbiallaahu laa ilaaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘aziim 

Allaahumma inna naj’aluka fi buhuurihim wana’uudzubika min syuruu rihim 

Allaahuakbar allahuakbar allahuakbar 

Bismillaahi ‘ala nafsi wadiini, bismillahi ‘ala kulli syaiin a’thaanibni, bismillaahi khairul asmaa’ 

Bismillaahilladzi laa yadhurru ma’asmihi 

Bismillaahif tatahtu wa ‘alallaahi tawakkaltu allaahu allaahu rabbi laausyriku bihi ahadan as aluka 

Allaahumma bikhairika min khairikalladzii laa yu’thiihi ahadun ghairuka ‘azza wa jaa ruka, wajalla tsanaauka, wa laa ilaa ha ghairukaj ‘alnii fii ‘iyaazika min syari kulli sulthanin waminasy syaythaanir rajiim 

Allahumma inni ahtarisu bika, min syarri jamii’I kulli dzii syarri khalaqtahu wa ahtarizu bika minhum, wa uqaddimu baina yada 

Bismillaahirrahmaanirrahiim 

Qul huwallaahu ahad, allaahush shomad, lam yalid walam yuulad, walam yakun lahu kufuwan ahad 

Wamin khalfi (mitsla dzaalika) wa ‘an yamiin (mitsla dzaalika) wa ‘an yasaari (mitsla dzaalika) wamin fauqi (mitsla dzaalika) 

Allaahumma sholli ‘ala uhammad, wa ‘ala aali Muhammad, alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin 

Artinya: 

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 

Semoga Allah memberikan rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad. 

Dengan menyebut nama Allah, aku pasrah kepada Allah. 

Dengan nama Allah, zat yang tidak bisa memudaratkan beserta nama-Nya, apapun yang ada di bumi dan tidak memudaratkan apapun yang ada di langit. Dia, Allah, zat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Tidak ada daya dan upaya, serta tidak ada kekuatan kecuali hanya dari Allah, zat yang Maha Luhur dan Maha Besar. 

Ya Allah, bukakanlah untukku hikmah-Mu, dan bentangkanlah atasku rahmat-Mu, wahai zat yang memiliki kemuliaan dan keagungan. 

Ya Allah, semoga Engkau mencukupkan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. 

Ya Allah, berikanlah padaku kesehatan dan kekuatan dari sisi-Mu. 

Dan semoga Engkau menolong aku dari musuh-musuhku. 

Dan semoga Engkau memperkuat langkahku dalam menghadapi orang-orang yang hendak merusak aku. 

Ya Allah, semoga Engkau memberikan rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, dan segala puji bagi Allah.”

Makna Doa dalam Tradisi Persinas ASAD

Persinas ASAD merupakan salah satu perguruan silat terkemuka di Indonesia yang dikenal memiliki filosofi dan nilai-nilai khas dalam pembinaan anggotanya. Nama ASAD sendiri merupakan akronim dari Ampuh, Sehat, Aman, Damai—sebuah semboyan yang tidak sekadar menjadi identitas, tetapi juga menjadi prinsip hidup yang dijunjung tinggi oleh seluruh keluarga besar perguruan ini.

Dalam praktik sehari-hari, salah satu aspek penting yang membedakan Persinas ASAD adalah keberadaan doa ASAD, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan latihan. Doa ini biasanya dibacakan sebelum dan sesudah sesi latihan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar setiap aktivitas berlangsung dengan keberkahan, keselamatan, dan kekuatan spiritual.

Lebih dari itu, doa ASAD berfungsi sebagai media pembinaan mental dan karakter. Melalui pengucapannya secara rutin, para pesilat didorong untuk senantiasa menanamkan semangat positif, sikap rendah hati, dan nilai juang yang selaras dengan visi-misi Persinas ASAD.

Dengan demikian, doa ini bukan hanya bentuk ritual, tetapi juga wujud komitmen spiritual dalam menyeimbangkan kekuatan fisik dan kekuatan batin, menjadikan latihan silat sebagai sarana pembentukan pribadi yang tangguh, beretika, dan beriman.

Doa agar Dagangan Laris dan Banyak Pembeli, Ikhtiar Batin Penunjang Usaha

Stylesphere – Berdoa agar dagangan laris dan banyak pembeli merupakan salah satu bentuk ikhtiar batin yang penting dilakukan oleh para pedagang. Di samping usaha lahiriah seperti menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan terbaik, dan strategi pemasaran, doa menjadi bentuk ketergantungan hati kepada Allah SWT, Sang Maha Pemberi Rezeki.

Sebagai seorang Muslim, menyertakan doa dalam setiap langkah usaha bukan hanya menunjukkan keyakinan terhadap takdir Allah, tetapi juga memperkuat harapan dan semangat dalam berjualan. Doa menjadi penyeimbang spiritual yang dapat membuka pintu rezeki dan keberkahan dalam usaha yang dijalankan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), doa diartikan sebagai permohonan atau harapan kepada Tuhan. Doa mencerminkan rasa tunduk dan harap kepada kekuatan ilahi, dan dalam konteks berdagang, menjadi penguat batin bagi pelaku usaha agar tetap sabar dan konsisten menghadapi tantangan.

Dengan keyakinan dan doa yang sungguh-sungguh, seorang pedagang dapat menguatkan mental dan spiritualnya, sehingga lebih siap dalam menghadapi segala dinamika dunia usaha. Usaha yang disertai doa tidak hanya mengejar keuntungan, tapi juga ridha dan berkah dari Allah SWT.

Berikut Anugerahslot islamic ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Selasa (15/7/2025).

Makna Doa agar Dagangan Laris: Ikhtiar Spiritual dalam Usaha

Doa agar dagangan laris merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberi kelancaran, keberkahan, dan kemudahan dalam berdagang. Harapan yang dipanjatkan ini tidak hanya untuk menarik banyak pembeli dan memperoleh keuntungan, tetapi juga agar rezeki yang datang bersifat halal dan membawa kebaikan.

Dalam Islam, doa menjadi bagian penting dari ikhtiar spiritual. Seorang Muslim yang menjalankan usaha meyakini bahwa keberhasilan sejatinya berasal dari kehendak Allah SWT. Dengan berdoa, pedagang menunjukkan sikap tawakal, pengakuan atas keterbatasan dirinya, serta keyakinan bahwa rezeki adalah karunia dari Sang Pemberi Rezeki.

Doa ini juga mencerminkan rasa syukur dan keikhlasan. Bukan hanya sekadar meminta keuntungan material, tetapi juga sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus menguatkan niat agar usaha dijalankan dengan cara yang baik dan jujur.

Dari sisi psikologis, doa memberi ketenangan batin dan memperkuat semangat dalam berusaha. Pedagang yang konsisten berdoa akan merasa lebih yakin, optimis, dan termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas dagangannya, memberikan pelayanan terbaik, serta menerapkan strategi bisnis yang etis.

Sejalan dengan itu, Jurnal Mahasiswa FIAI-UII, at-Thullab, Vol. 2, No. 1, menyebutkan bahwa kesuksesan dalam bisnis tak lepas dari tiga prinsip utama: kepercayaan, etika, dan profit. Bisnis yang dibangun berdasarkan nilai-nilai tersebut—terutama jika dijalankan sesuai tuntunan Rasulullah SAW—tak hanya mengarah pada keberhasilan duniawi, tetapi juga membawa nilai-nilai ibadah dan keberkahan.

Dengan demikian, doa agar dagangan laris adalah bagian tak terpisahkan dari semangat berdagang dalam Islam: menggabungkan kerja keras, kejujuran, dan keyakinan kepada Allah SWT sebagai fondasi utama dalam mencari rezeki.

10 Bacaan Doa Agar Dagangan Laris Manis

Berikut adalah beberapa bacaan doa agar dagangan laris yang bisa diamalkan:

  1. Doa Meminta Agar Dagangan Laris:اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْئَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنَى رِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعْبٍ وَلَا مَشَقَّةٍ وَلَا ضَيْرٍ وَلَا نَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيAllahumma innii as aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’bin wa laa masyaqqatin wa laa dhairin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syaiin qadiir.Artinya: “Wahai Allah, aku memohon kepada-Mu untuk memberkahi bisnisku dengan limpahan rezeki yang halal, melimpah, dan tanpa kesulitan, tanpa beban, tanpa bahaya, dan tanpa kelelahan dalam mendapatkannya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
  2. Doa Agar Rezeki yang Didapatkan Berkah:يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًاYa hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.Artinya: “Ya Rabb yang Maha Kehidupan, Ya Rabb yang tidak membutuhkan bantuan siapapun, aku memohon pertolongan dan rahmat-Mu. Bimbinglah segala urusanku dengan rahmat-Mu, dan jangan biarkan aku menghadapinya sendiri, bahkan hanya sekejap mata, tanpa pertolongan dari-Mu, selamanya.”
  3. Doa Rezeki Nabi Isa:قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللهم رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَQala ‘īsabnu maryamallāhumma rabbanā anzil ‘alainā mā`idatam minas-samā`i takụnu lanā ‘īdal li`awwalinā wa ākhirinā wa āyatam mingka warzuqnā wa anta khairur-rāziqīn.Artinya: Isa, anak Maryam, memohon, “Wahai Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang menjadi kesempatan yang baik bagi kami, serta menjadi tanda kekuasaan-Mu. Berikanlah kami rezeki dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki.” (QS. Al-Maidah: 114).
  4. Doa Sebelum Berdagang:بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِي العظيم . (رواه الترميذي)Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaahi laa haula walaa quwwata illaa billaahilaliyyil`azhiim.Artinya: “Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah.”
  5. Doa Agar Dagangan Berkah:هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ٢٢ هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖHuwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah(ti), huwar-raḥmānur-raḥīm(u). Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), al-malikul-quddūsus-salāmul-mu’minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir(u), subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn(a). Huwallāhul-khāliqul-bāri’ul-muṣawwiru lahul-asmā’ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).Artinya: “Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. (Dialah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Dia (adalah) Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Damai, Yang Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Mengawasi, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, dan Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mewujudkan dari tiada, dan Yang Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
  6. Doa Agar Rezeki dalam Berdagang Berlimpah:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعْبِ وَلَا مَشَقَّةٍ وَلَا ضَيْرٍ وَلَا نَصَبٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.Allaahumma innii as-alukaan tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’bin wa laa masyaqqatin wa laa dhairin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir.Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki kepadaku berupa rezeki yang halal, luas, dan tanpa susah payah, tanpa memberatkan, tanpa membahayakan dan tanpa rasa lelah dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”
  7. Doa Agar Dagangan Sukses dan Menguntungkan:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَلُكَ صِحَّةً فِي إِيْمَانٍ وَإِمَانًا فِي حُسْنِ خُلُقٍ وَنَحَاحًا يَتْبَعُهُ فَلاحٌ وَرَحْمَةً مِنْكَ وَعَافِيَةً وَمَغْفِرَةً مِنْكَ وَرِضْوَانًا.Allaahumma innii as-aluka shihhatan fii iimaanin wa imaanaan fii husni khuluqin wa najaahan yatba’uhu falaahun wa rahmatan minka wa’aafiyatan wa maghfiratan minka wa ridhwaanaa.Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kemurnian iman dan akhlak yang terpuji, kesuksesan yang disertai dengan keberuntung- an, serta aku memohon rahmat, kesehatan, pengampunan, dan keridaan dari-Mu.”
  8. Doa Agar Dagangan Membawa Rezeki:اللَّهُمَّ يَا أَحَدُ يَا وَاحِدُ يَا مَوْجُودُ يَا جَوَّادُ يَا بَاسِطُ يَا كَرِيمُ يَا وَهَّابُ يَاذَا الطَّوْلِ يَا غَنِيُّ يَا مُغْنِي يَا فَتَّاحُ يَا رَزَّاقُ يَا عَلِيمُ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيمُ يَابَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَالجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَنَّانُ يَامَنَّانُ الْفَحْنِي مِنْكَ بِنَفْحَةٍ خَيْرٍ تُغْنِي عَمَّنْ سِوَاكَAllaahumma yaa ahadu yaa waahidu ya maujuudu yaa jawwaadu yaa baasithu yaa kariimu yaa wahhaabu yaa dzath thauli yaa ghaniyyu yaa mughnii yaa fattaahu yaa razzaaqu yaa ‘aliimu yaa hayyu yaa qayyuumu yaa rahmaanu yaa rahiimu yaa badii’us samaawati wal ardhi yaa dzal jalaali wal ikraam yaa hannaanu yaa mannaanu infahnii minka binafhati khairin tughninii ‘amman siwaaka.Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Esa tiada terbagi-bagi, wahai Dzat yang Maha Esa tiada bersekutu, wahai Dzat yang Maujud, wahai Dzat yang Maha pemurah, wahai Dzat yang Maha pembagi, wahai Dzat yang Mahamulia, wahai Dzat yang Maha pemberi, wahai Dzat yang memiliki Anugrah, wahai Dzat yang Mahakaya, wahai Dzat yang Maha pemberi wahai Dzat yang Maha pembuka pintu rezeki, wahai Dzat yang Maha mengetahui, ‘wahai Dzat yang Mahahidup, wahai Dzat yang Maha pengasih, wahai Dzat yang Maha penyayang, wahai Dzat yang Maha pemberi anugerah, limpahkanlah rezeki dari-Mu dengan kelimpahan sebaik-baiknya yang dapat memberikan kecukupan bagi diriku, terlepas dari pengharapan pemberian siapa pun selain Engkau.”
  9. Doa Agar Dagangan Ramai Pelanggan:قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُQāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li`aḥadim mim ba’dī, innaka antal-wahhāb.Artinya: “Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan (rezeki) yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
  10. Doa Agar Dagangan Terhindar dari Penipu:لا إلهَ إلَّا اللهُ وحدَهُ لَا شرِيكَ لَهُ، لَهُ الملْكُ، ولَهُ الحمْدُ، وهُوَ عَلَى كُلِّ شيءٍ قديرٌLa ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumitu, biyadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir.Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Atasnya kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Tips Agar Dagangan Laris Selain Berdoa

Selain mengamalkan doa agar dagangan laris, ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar usaha semakin sukses:

  1. Pastikan Produk Berkualitas: Kualitas produk adalah kunci utama menarik perhatian konsumen.
  2. Tentukan Target Pembeli: Kenali target pasar dan lakukan promosi yang tepat.
  3. Buat Jadwal Jualan yang Tepat: Sesuaikan jadwal dengan pola konsumsi target pasar.
  4. Prioritaskan Pelayanan Ramah: Berikan pelayanan terbaik dan perhatikan umpan balik pelanggan.
  5. Jual Produk Online dan Offline: Manfaatkan kedua platform untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
  6. Perbanyak Sedekah: Sedekah membuka pintu rezeki dan mendatangkan keberkahan.
  7. Berdagang dengan Sunnah Nabi: Jujur, adil, dan hindari riba dalam setiap transaksi.

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Berdagang

Selain melakukan amalan-amalan baik, hindari hal-hal berikut saat berdagang:

  1. Riba: Hindari transaksi keuangan yang mengandung riba.
  2. Menjual Barang Haram: Pastikan produk yang dijual halal dan tidak melanggar syariat.
  3. Bersekutu dengan Setan: Jauhi praktik mistis atau sihir untuk meningkatkan penjualan.
  4. Menipu dan Merugikan Pelanggan: Jujurlah dalam setiap transaksi dan hindari tindakan yang merugikan pelanggan.

Sholat Taubat: Waktu Terbaik dan Tata Caranya

Stylesphere – Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia tak luput dari kesalahan dan dosa. Sebagai umat Muslim, Allah SWT memberikan jalan untuk memperbaiki diri dan memohon ampunan melalui taubat, salah satunya dengan melaksanakan sholat taubat.

Sholat taubat merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang merasa telah melakukan kesalahan dan ingin kembali mendekat kepada Allah. Berikut rangkuman lengkap dari Anugerahslot islamic.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31:

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”

Kapan Waktu Sholat Taubat yang Utama?

Sholat taubat dapat dilakukan kapan saja, terutama setelah menyadari kesalahan dan merasa bersalah atas perbuatan dosa. Namun, ada waktu-waktu yang lebih utama untuk melaksanakannya:

  • Malam hari, khususnya sepertiga malam terakhir
  • Setelah sholat Isya dan sebelum Subuh
  • Setelah melakukan dosa atau maksiat, segera setelah menyesalinya

Catatan: Sholat taubat tidak dianjurkan dilakukan pada waktu-waktu yang dilarang untuk sholat, seperti saat matahari terbit, tepat di tengah hari, dan saat matahari terbenam.

Tata Cara Sholat Taubat

Sertai taubat dengan komitmen kuat untuk tidak mengulangi dosa yang sama.

  • Niat dalam hati untuk melaksanakan sholat taubat.
  • Melaksanakan dua rakaat sholat sunnah seperti biasa.
  • Setelah sholat, lanjutkan dengan memohon ampunan kepada Allah secara tulus dan bersungguh-sungguh.
  • Bacalah istighfar berulang-ulang, misalnya: Astaghfirullahal ‘adzim, alladzi la ilaha illa Huwal Hayyul Qayyum wa atubu ilaih.

Penutup

Sholat taubat adalah bentuk pengakuan dan kerendahan hati seorang hamba di hadapan Tuhannya. Allah Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

Jadi, jangan tunda taubat. Segera kembali kepada Allah, karena keberuntungan sejati adalah milik mereka yang terus berusaha memperbaiki diri.

Pengertian dan Keutamaan Sholat Taubat

Sholat taubat adalah sholat sunnah yang dikerjakan dengan niat memohon ampunan kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Ibadah ini menjadi wujud penyesalan yang mendalam serta tekad yang kuat untuk meninggalkan perbuatan maksiat dan kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia berwudhu dengan sempurna, kemudian mendirikan sholat dua rakaat dan memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.”
Kemudian Rasulullah membaca ayat:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah?” (QS. Ali Imran: 135)

Hadis ini menunjukkan bahwa sholat taubat adalah jalan spiritual yang kuat untuk menghapus dosa, asalkan dilakukan dengan penuh keikhlasan dan penyesalan yang tulus.

Hukum Sholat Taubat

Para ulama sepakat bahwa sholat taubat hukumnya sunnah, yakni sangat dianjurkan bagi siapa pun yang merasa telah melakukan kesalahan atau dosa. Namun, bertaubat itu sendiri hukumnya wajib bagi setiap muslim. Artinya, setiap kali seorang hamba menyadari dosanya, ia wajib segera bertaubat dan tidak menundanya.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menegaskan bahwa menunda taubat adalah dosa tersendiri yang juga perlu ditaubati. Ini memperjelas betapa pentingnya kesegeraan dalam kembali kepada Allah setelah berbuat salah.

Makna Taubat dan Tujuan Sholat Taubat

Secara bahasa, taubat berarti kembali — yakni kembali dari jalan yang salah menuju jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Dalam konteks ibadah, taubat mencerminkan usaha sadar seorang hamba untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menjauhi dosa.

Sholat taubat menjadi media untuk melengkapi proses taubat tersebut. Ia tidak hanya bentuk permohonan ampun, tetapi juga bentuk komitmen spiritual untuk meninggalkan dosa, memperbaiki diri, dan meraih ampunan Allah dengan kerendahan hati.

Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Sholat Taubat?

Sholat taubat adalah salah satu bentuk ibadah sunnah yang dapat dilakukan kapan saja, baik di siang maupun malam hari. Namun, terdapat waktu-waktu tertentu yang diharamkan untuk sholat, sehingga sholat taubat tidak boleh dikerjakan saat itu.

Menurut kajian Almas Abyan al-Fatih dalam el-Sunnah: Jurnal Kajian Hadis dan Integrasi Ilmu (2024), waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan sholat adalah:

  1. Saat fajar kedua (masuk waktu Subuh) hingga terbit matahari.
  2. Saat matahari terbit hingga naik sepenggalah.
  3. Saat matahari tepat di tengah langit (zawal) menjelang Dzuhur.
  4. Saat matahari mulai terbenam hingga masuk waktu Maghrib.

Sepertiga Malam Terakhir: Waktu Paling Mustajab

Meskipun sholat taubat bisa dikerjakan kapan saja (di luar waktu terlarang), para ulama menyepakati bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu paling utama untuk memohon ampunan kepada Allah SWT.

Penelitian tentang Praktik Thariqah Naqsyabandiyah di Malang menyebutkan bahwa sepertiga malam terakhir adalah saat paling mustajab untuk berdoa dan bertaubat, karena pada waktu tersebut Allah SWT membuka pintu rahmat-Nya selebar-lebarnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Bukhari:

“Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.’”
(HR. Bukhari, no. 1145)

Hadis ini menjadi dalil kuat bahwa taubat dan doa yang dipanjatkan di sepertiga malam terakhir memiliki kemungkinan besar untuk dikabulkan.

Pandangan Imam Al-Ghazali

Dalam kitab klasik Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan keutamaan sepertiga malam terakhir sebagai waktu paling mulia untuk beribadah. Ia menulis:

“Waktu yang paling utama untuk beribadah di malam hari adalah sepertiga malam terakhir, karena pada saat itu hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan kesungguhan lebih mudah diraih.”
(Ihya’ Ulumiddin, Juz I, Bab Qiyamul Lail)

Imam Al-Ghazali menambahkan bahwa sholat malam, termasuk sholat taubat, yang dilakukan dalam suasana hening dan penuh khusyuk ini berpotensi lebih besar diterima, karena bertepatan dengan turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT.

Keistimewaan Sholat Taubat di Sepertiga Malam Menurut Ulama dan Sains

Sholat taubat merupakan salah satu bentuk ibadah yang mencerminkan penyesalan mendalam atas dosa, serta tekad kuat untuk kembali kepada Allah SWT. Meskipun bisa dikerjakan kapan saja, para ulama dan bahkan kalangan ilmuwan sepakat bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu paling istimewa untuk melaksanakannya.

Pandangan Ilmiah Modern

Dalam jurnal Journal of Religion and Health oleh Abdullahi, S. (2018) berjudul “The Psychospiritual Benefits of Night Prayers in Islam”, dijelaskan bahwa bangun malam untuk berdoa atau sholat memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan jiwa. Secara biologis, waktu menjelang subuh menciptakan suasana paling kondusif untuk merenung, menenangkan diri, dan mendekat kepada Tuhan. Ketenangan ini dapat menstabilkan emosi dan mengurangi stres, sehingga menjadikan sholat malam sebagai terapi spiritual yang efektif.

Penjelasan Ulama dalam Kitab-Kitab Klasik

Dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, disebutkan bahwa:

“Sholat taubat terdiri dari dua rakaat yang dilakukan dengan penuh penyesalan dan niat untuk tidak mengulangi dosa. Waktu terbaiknya adalah malam hari, khususnya di sepertiga malam terakhir.”
(Fiqh Sunnah, Juz II, hal. 51)

Pandangan ini diperkuat oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam karya monumentalnya Madarij as-Salikin. Ia menulis:

“Waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah pada saat manusia tidur lelap dan jiwa dalam keadaan paling tenang, yaitu sepertiga malam terakhir.”
(Madarij as-Salikin, Jilid II, hal. 73)

Hal ini menunjukkan bahwa di saat mayoritas manusia terlelap, justru pintu-pintu langit terbuka lebar bagi mereka yang ingin bertaubat dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Kesimpulan: Harmoni Ilmu dan Iman

Dari berbagai pandangan ulama dan bukti ilmiah, dapat disimpulkan bahwa sholat taubat di sepertiga malam terakhir bukan hanya dianjurkan secara agama, tetapi juga bermanfaat secara psikologis. Waktu ini menjadi momen spiritual yang sangat istimewa untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, memperkuat mental, dan meraih ketenangan jiwa.

Tata Cara Memohon Ampunan Melalui Sholat Taubat

Tata cara sholat taubat pada dasarnya sama dengan sholat sunnah lainnya, yaitu terdiri dari dua rakaat. Buku Panduan Tata Cara Sholat Taubat Nasuha (Mutia Nurul Syahrani, 2018) menyebutkan urutan pelaksanaannya secara rinci, dimulai dengan niat.

Niat sholat taubat diucapkan dalam hati atau dilafalkan, yaitu: “Ushalli sunnatat taubati rak‘ataini lillahi ta‘āla”.

Setelah itu, dilanjutkan dengan takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek, rukuk, sujud, tasyahud, dan salam. Setelah selesai sholat, dianjurkan untuk membaca istighfar dan doa taubat. Bekal Islam menyatakan bahwa sholat taubat mengikuti rukun shalat sunnah lainnya, tapi niat menjadi inti utama praktik ini.

Berikut adalah bacaan istighfar yang dianjurkan setelah melaksanakan sholat taubat:

“Astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi”.

Artinya: ‘Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.’ Bacaan istighfar ini hendaknya diucapkan sebanyak 100 kali sambil diresapi artinya dalam hati dengan setulus-tulusnya.

Keutamaan Sholat Taubat

Sholat taubat memiliki banyak keutamaan bagi umat Muslim yang melaksanakannya.

  • Pengampunan Dosa Secara Langsung 

Salah satu keutamaan sholat taubat adalah pengampunan langsung dari Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa seseorang yang melakukan sholat taubat dengan tulus.

  • Pembersihan Jiwa dan Hati

Sholat taubat membersihkan hati dari dosa masa lalu. Memberikan rasa seolah “takhdiran baru,” menepis noda batin. Amalan ini menjadi “reset spiritual” yang menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas rohani.

  • Meningkatkan Kesadaran Diri

Sholat taubat memaksa pelakunya untuk merenungkan kesalahannya, Refleksi ini memacu introspeksi dan niat tidak mengulangi dosa. Kita menjadi lebih waspada dan bertanggung jawab terhadap amal harian.

  • Memperkuat Hubungan dengan Allah

Menjalani sholat taubat berarti mengakui kelemahan dan bergantung pada pengampunan Allah. Amalan ini mempererat hubungan spiritual, karena disertai dengan permintaan ampun dan komitmen berubah. Allah menjadikan bertaubat sebagai jalan menuju rahmat dan pengkhususan hati kepada-Nya.

  • Memberi Ketenangan Batin

Selain membersihkan dosa, sholat taubat menghantarkan ketenangan jiwa . Bebas dari rasa bersalah, hati menjadi ringan dan pikiran lebih fokus.Efeknya mirip terapi psikologis: mengurangi stres dan memberi rasa damai.

Pengertian Suhuf: Wahyu Ilahi dalam Bentuk Lembaran

Stylesphere – Dalam proses penyampaian wahyu kepada para nabi dan rasul, Allah SWT menurunkan wahyu dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah suhuf. Istilah ini merujuk pada lembaran-lembaran wahyu yang belum dibukukan menjadi sebuah kitab yang utuh seperti Taurat, Injil, Zabur, atau Al-Qur’an.

Secara umum, suhuf adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan dalam bentuk lembaran (ṣaḥīfah), yang berisi pesan-pesan moral, nasihat, dzikir, dan petunjuk hidup. Berbeda dari kitab suci yang bersifat lengkap dan sistematis, suhuf bersifat lebih ringkas dan sederhana, namun tetap memiliki peran penting dalam sejarah pewahyuan Ilahi.

Definisi Menurut Para Ahli

Dalam buku Materi Pendidikan Agama Islam (2019) karya M. Syukri Azwar Lubis, dijelaskan bahwa:

“Suhuf adalah lembaran-lembaran yang berisi kumpulan wahyu Allah SWT yang diberikan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia.”

Pernyataan ini menekankan bahwa suhuf merupakan wahyu yang memiliki bentuk fisik, berupa helai-helai lembaran, namun belum dihimpun menjadi mushaf atau kitab yang terorganisasi.

Sementara itu, dalam buku Konsep Mayoritas Ahlussunnah Wal Jamaah karya Idik Saeful Bahri, disebutkan bahwa:

“Suhuf adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada nabi dan rasul dalam bentuk lembaran yang tidak sempurna.”

Penjelasan ini memperjelas perbedaan utama antara suhuf dan kitab, di mana suhuf hanya berisi pesan-pesan pokok dan tidak lengkap secara struktur, sedangkan kitab adalah wahyu yang telah tersusun secara menyeluruh dan dijadikan pedoman abadi bagi umat.

Kesimpulan

Suhuf merupakan bentuk awal dari wahyu yang diberikan Allah kepada beberapa nabi, berisi ajaran-ajaran dasar, nilai moral, dan petunjuk singkat. Meskipun tidak sekomprehensif kitab suci, keberadaan suhuf sangat penting dalam sejarah kenabian dan pewahyuan, menjadi bagian dari proses penyampaian risalah Ilahi sebelum disempurnakan dalam bentuk kitab.

Disusun oleh Anugerahslot Islamic, Sabtu (12/7/2025).

Pengertian Suhuf dalam Islam: Lembaran Wahyu yang Menjadi Fondasi Ajaran Ilahi

Dalam ajaran Islam, suhuf merupakan salah satu bentuk wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada para nabi dan rasul sebelum adanya kitab suci yang tersusun rapi. Suhuf berfungsi sebagai pedoman hidup awal yang berisi ajaran dasar tentang keimanan, akhlak, dan petunjuk moral.

Definisi Suhuf Menurut KBBI dan Literatur Islam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), suhuf diartikan sebagai lembaran seperti halaman buku, surat, atau dokumen, dan dalam konteks Islam, istilah ini mengacu pada wahyu Ilahi yang disampaikan dalam bentuk lembaran kepada nabi dan rasul, sebelum dihimpun menjadi kitab.

Suhuf bersifat sementara dan tidak memuat hukum syariat secara rinci. Isinya terbatas pada pesan-pesan pokok seperti tauhid, moralitas, dan petunjuk umum kehidupan.

Asal Usul Bahasa dan Isi Suhuf

Dalam Ensiklopedia untuk Anak-Anak Muslim: Al-Mawsu’ah Lil-Attal al-Muslim, dijelaskan bahwa:

“Suhuf berasal dari kata ṣaḥīfah, bentuk jamak dari sahifah, yang berarti helai atau lembaran.”

Suhuf diartikan sebagai semacam kitab kecil yang diturunkan kepada para nabi, tetapi tidak berisi hukum agama secara mendetail, melainkan nasihat dan nilai-nilai dasar keagamaan.

Penjelasan dalam Buku Ajaran Islam

Dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/MTs Kelas VII karya Tatik Pudjiani, dkk., disebutkan bahwa:

“Suhuf adalah kumpulan wahyu Allah SWT yang ditulis dalam lembaran-lembaran terpisah, misalnya dari kulit binatang, pelepah kurma, atau bahan alam lainnya.”

Karena isinya yang singkat dan tidak sistematis, suhuf tidak dibukukan menjadi kitab. Namun demikian, ia mengandung prinsip dasar kehidupan beragama dan disampaikan kepada nabi-nabi terdahulu.

Pandangan M. Syukri Azwar Lubis

Dalam Materi Pendidikan Agama Islam, M. Syukri Azwar Lubis menegaskan bahwa:

“Suhuf adalah wahyu Allah dalam bentuk lembaran yang diberikan kepada para rasul sebagai pedoman hidup, berisi ajaran tentang akhlak, tauhid, dan nilai-nilai dasar keimanan.”

Suhuf menjadi fondasi spiritual yang mendahului penyempurnaan wahyu dalam bentuk kitab seperti Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Oleh karena itu, peran suhuf sangat penting dalam sejarah kenabian sebagai tonggak awal pembentukan ajaran Islam.

Kesimpulan

Suhuf merupakan bentuk awal dari wahyu Allah SWT yang disampaikan kepada nabi-nabi terdahulu dalam format lembaran-lembaran terpisah. Meski tidak sekomprehensif kitab suci, isi suhuf sangat bernilai karena mengandung ajaran-ajaran pokok tentang iman, moral, dan tuntunan hidup. Dengan memahami keberadaan suhuf, kita dapat lebih menghayati perjalanan pewahyuan yang membentuk dasar-dasar ajaran Islam.

Dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/MTs Kelas VIII karya Aris Abi Syaifullah dkk., disebutkan bahwa ada empat macam suhuf (lembaran wahyu) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi-nabi sebelum diturunkannya kitab-kitab suci. Berikut adalah rinciannya:

Empat Macam Suhuf dalam Islam

  1. Suhuf Nabi Syits A.S
    • Jumlah: 50 suhuf
    • Nabi Syits adalah putra Nabi Adam A.S, dan beliau menerima sejumlah besar lembaran wahyu untuk membimbing umatnya.
  2. Suhuf Nabi Idris A.S
    • Jumlah: 30 suhuf
    • Nabi Idris dikenal sebagai nabi pertama yang pandai menulis dan membaca, dan menerima suhuf yang berisi ajaran moral dan kebijaksanaan.
  3. Suhuf Nabi Ibrahim A.S
    • Jumlah: 50 suhuf
    • Disebutkan dalam QS. Al-A’la ayat 18–19, bahwa Nabi Ibrahim menerima suhuf sebagai pedoman keimanan dan kehidupan. Suhuf ini menjadi bagian penting dalam sejarah pewahyuan.
  4. Suhuf Nabi Musa A.S
    • Jumlah: 10 suhuf
    • Selain menerima kitab Taurat, Nabi Musa juga menerima sejumlah suhuf berisi prinsip-prinsip ajaran tauhid dan pedoman moral sebelum turunnya kitab secara utuh.

Dalil Al-Qur’an

“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, yaitu suhuf-suhuf yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa.”
(QS. Al-A’la: 18–19)

Kesimpulan

Keempat macam suhuf ini menunjukkan bahwa proses penyampaian wahyu kepada para nabi terjadi secara bertahap, melalui lembaran-lembaran (suhuf) yang berisi nilai-nilai dasar agama, tauhid, dan akhlak mulia sebelum disempurnakan dalam bentuk kitab suci. Suhuf tetap memiliki posisi penting dalam sejarah kenabian dan sebagai bagian dari warisan ajaran Allah SWT kepada umat manusia.

Perbedaan Suhuf dan Kitab dalam Islam: Memahami Dua Bentuk Wahyu Allah SWT

Meskipun suhuf dan kitab sama-sama merupakan wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada para nabi dan rasul, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam berbagai aspek. Pemahaman mengenai perbedaan ini penting agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan sejarah pewahyuan dan fungsinya bagi umat manusia.

1. Bentuk Fisik

  • Suhuf adalah lembaran-lembaran terpisah (ṣaḥīfah), tidak dijilid atau disusun menjadi kitab yang utuh. Media penulisannya bisa berupa kulit binatang, kayu, atau pelepah kurma. Karena tidak dibukukan, suhuf bersifat fleksibel tetapi mudah hilang atau rusak.
  • Kitab, sebaliknya, merupakan wahyu yang telah dibukukan secara sistematis, tersusun rapi menjadi mushaf atau kitab suci yang utuh, seperti Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an.

2. Isi dan Kelengkapan Ajaran

  • Suhuf hanya berisi ajaran-ajaran dasar seperti tauhid, nasihat moral, dan nilai kemanusiaan. Ia tidak mencakup hukum syariat secara rinci atau tata cara ibadah yang kompleks.
  • Kitab memiliki isi yang lengkap dan komprehensif, mencakup akidah, ibadah, muamalah, hingga hukum-hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.

3. Sasaran dan Masa Berlaku

  • Suhuf biasanya ditujukan untuk kaum atau masyarakat tertentu dengan masa berlaku yang terbatas sesuai zaman dan kebutuhan mereka.
  • Kitab diturunkan untuk umat yang lebih luas dan berlaku untuk jangka waktu panjang. Bahkan, Al-Qur’an berlaku hingga akhir zaman dan menjadi pedoman utama bagi seluruh umat Islam.

4. Contoh Nabi Penerima

  • Suhuf diterima oleh:
    • Nabi Ibrahim A.S (50 suhuf)
    • Nabi Musa A.S (10 suhuf sebelum Taurat)
    • Nabi Syits A.S (50 suhuf)
    • Nabi Idris A.S (30 suhuf)
  • Kitab diturunkan kepada:
    • Nabi Musa A.STaurat
    • Nabi Daud A.SZabur
    • Nabi Isa A.SInjil
    • Nabi Muhammad SAWAl-Qur’an

Dalil Al-Qur’an

“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, yaitu suhuf-suhuf Ibrahim dan Musa.”
(QS. Al-A’la: 18–19)

Ayat ini menunjukkan bahwa suhuf memang pernah menjadi bentuk wahyu yang sah, meski kini keberadaannya tidak semua tercatat secara tekstual atau diwariskan seperti kitab.

Kesimpulan

Secara ringkas, perbedaan antara suhuf dan kitab dapat dilihat dari:

AspekSuhufKitab
BentukLembaran terpisahTersusun rapi dan dibukukan (mushaf)
IsiPrinsip dasar agamaKomprehensif: akidah, ibadah, hukum
TujuanUntuk kaum tertentuUntuk umat yang lebih luas
Masa BerlakuTerbatas, sesuai zamanJangka panjang, bahkan hingga akhir zaman

Dengan memahami ini, umat Islam dapat lebih menghayati perkembangan wahyu Ilahi serta peran penting masing-masing bentuk wahyu dalam sejarah kenabian.

Makna dan Adab Mengucapkan “Tabarakallah”, Ungkapan Penuh Doa yang Kian Populer

Stylesphere – Dalam beberapa tahun terakhir, ungkapan “Tabarakallah” semakin sering terdengar di tengah percakapan umat Muslim, baik dalam interaksi langsung maupun di media sosial. Kalimat ini kerap digunakan sebagai ekspresi kekaguman atau doa, dan kini menjadi bagian dari budaya populer umat Islam.

Tidak hanya menjadi ucapan lisan sehari-hari, “Tabarakallah” juga banyak dijadikan caption oleh selebriti dan influencer di berbagai platform digital. Bahkan, tak sedikit kendaraan pribadi yang ditempeli stiker bertuliskan kalimat ini—menunjukkan bahwa ungkapan tersebut telah melebur ke dalam gaya hidup religius modern.

Namun, di balik popularitasnya, banyak yang masih bertanya-tanya: apa sebenarnya makna “Tabarakallah”? Kapan sebaiknya diucapkan, dan bagaimana adab dalam meresponsnya?

Makna “Tabarakallah”

Secara bahasa yang di rangkum Anugerahslot islamic, Tabarakallah (تبارك الله) berasal dari kata tabaraka yang berarti “Mahasuci” atau “Maha Berkah”. Maka, ungkapan ini berarti “Maha Berkah Allah” atau “Allah adalah sumber segala keberkahan”. Kalimat ini mencerminkan pengagungan terhadap Allah SWT dan biasanya diucapkan saat melihat sesuatu yang indah, mengagumkan, atau penuh kebaikan—dengan maksud memohon agar keberkahan Allah senantiasa menyertai.

Kapan Tabarakallah Diucapkan?

Ungkapan ini sering diucapkan ketika:

  • Mengagumi ciptaan Allah, seperti keindahan alam atau karya seni.
  • Melihat seseorang meraih nikmat atau keberhasilan, seperti bayi yang lucu, rumah baru, atau pencapaian akademis.
  • Sebagai bentuk apresiasi tanpa rasa iri, sekaligus mendoakan keberkahan bagi orang lain.

Apa Jawaban atas Ucapan Tabarakallah?

Ketika seseorang mengucapkan “Tabarakallah” kepada kita, tidak ada jawaban yang diwajibkan secara khusus, namun dianjurkan untuk menjawab dengan:

  • Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), atau
  • Wa fiika barakallah (dan semoga Allah juga memberkahimu).

Jawaban ini memperkuat makna saling mendoakan dalam Islam dan menunjukkan akhlak mulia dalam komunikasi antar sesama.

Kesimpulan:

“Tabarakallah” bukan sekadar tren religius, melainkan ungkapan sarat makna yang mencerminkan kekaguman, doa, dan rasa syukur. Penggunaannya yang kian meluas menunjukkan semangat umat Islam dalam menghadirkan nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan modern. Dengan memahami maknanya, kita bisa menggunakannya secara tepat dan menjadikannya bagian dari budaya tutur yang penuh keberkahan.

Makna “Tabarakallah”: Ungkapan Kekaguman yang Sarat Keberkahan

Kalimat “Tabarakallah” (تبارك الله) dalam bahasa Arab secara harfiah berarti “Maha Berkah Allah” atau dapat dimaknai pula sebagai doa: “Semoga Allah memberkahimu.” Ungkapan ini berasal dari akar kata baraka (برك), yang berarti berkah atau keberkahan.

Makna dalam Tafsir Ulama

Menurut para ulama tafsir, “Tabarakallah” adalah bentuk pujian kepada Allah SWT atas keagungan dan limpahan berkah-Nya. Dalam tafsir-tafsir klasik seperti Tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Ibn Kathir, disebutkan bahwa kata tabaraka membawa makna yang agung, melimpah, dan terus-menerus—menandakan bahwa keberkahan dari Allah bersifat kekal dan menyeluruh bagi seluruh makhluk-Nya.

Ungkapan ini tidak hanya menyoroti kebesaran Allah, tetapi juga menjadi pengakuan bahwa segala bentuk kebaikan dan keberhasilan datang dari-Nya.

Tabarakallah, Subhanallah, dan Masya Allah

Dalam percakapan sehari-hari, “Tabarakallah” sering digunakan secara bergantian dengan:

  • Subhanallah – “Maha Suci Allah”, biasanya diucapkan saat melihat sesuatu yang luar biasa atau untuk menyucikan Allah dari segala kekurangan.
  • Masya Allah – “Apa yang Allah kehendaki, itulah yang terjadi”, diucapkan sebagai bentuk takjub atau kekaguman atas sesuatu yang baik.

Meskipun mirip dalam konteks pujian dan kekaguman, “Tabarakallah” lebih menekankan pada unsur keberkahan dan doa agar sesuatu tetap dalam kebaikan dan rahmat Allah.

Penggunaan yang Dianjurkan

Kalimat ini kerap digunakan dalam berbagai situasi seperti:

  • Saat melihat sesuatu yang indah atau mengagumkan.
  • Saat mengomentari rezeki atau pencapaian orang lain.
  • Sebagai doa agar keberkahan Allah terus melimpah dalam suatu keadaan.

Kesimpulan:
“Tabarakallah” bukan sekadar ucapan kekaguman, tetapi juga doa dan pujian kepada Allah yang mencerminkan kesadaran akan sumber segala kebaikan. Dengan memahami maknanya secara mendalam, kita dapat menggunakan ungkapan ini tidak hanya sebagai ekspresi tren, tetapi sebagai bagian dari ibadah lisan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kapan Sebaiknya Mengucapkan “Tabarakallah”? Ini Penjelasan dan Dalilnya

Kalimat “Tabarakallah” adalah bentuk ucapan kebaikan yang mengandung pujian dan doa keberkahan. Ungkapan ini bisa diucapkan kapan saja, terutama dalam situasi-situasi yang melibatkan kekaguman, rasa syukur, dan penghindaran dari penyakit hati seperti iri atau dengki.

Kapan Kita Dianjurkan Mengucapkannya?

Kalimat ini sangat dianjurkan untuk diucapkan, khususnya ketika:

  • 🌿 Melihat sesuatu yang indah atau menakjubkan, baik berupa pemandangan, ciptaan Allah, atau prestasi seseorang.
  • 🌿 Mengungkapkan kekaguman tanpa memicu iri hati, menjaga hati agar tidak menimbulkan perasaan negatif terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.
  • 🌿 Mendoakan keberkahan bagi orang lain atas nikmat yang mereka miliki, seperti rumah baru, anak, kendaraan, atau keberhasilan.
  • 🌿 Menjauhkan diri dari dengki dan penyakit ‘ain (mata jahat) yang bisa timbul karena pandangan penuh hasad.
  • 🌿 Sebagai bentuk pujian terhadap ciptaan Allah, seraya mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari-Nya.

Dalil dari Ulama dan Hadits

Dalam kitab Zad al-Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, serta dalam penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika menafsirkan Surah Al-Kahfi, disebutkan bahwa pengucapan “Masya Allah Tabarakallah” sangat dianjurkan saat melihat sesuatu yang menakjubkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya ‘ain (mata jahat) dan sekaligus sebagai doa agar keberkahan Allah senantiasa menyertai.

Anjuran ini juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim:

“Jika salah satu dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka doakanlah keberkahan untuknya, karena mata ‘ain itu nyata.” (HR Al-Hakim)

Hadits ini menjadi dasar penting bahwa doa keberkahan seperti “Tabarakallah” memiliki fungsi bukan hanya sebagai pujian, tapi juga perlindungan spiritual terhadap orang lain dari dampak negatif pandangan mata yang iri.

Kesimpulan:
Ucapan “Tabarakallah” tidak hanya mencerminkan kekaguman, tapi juga wujud doa, empati, dan upaya menjaga hati tetap bersih. Mengucapkannya di saat yang tepat adalah bagian dari adab Islami yang patut dibiasakan, agar kebaikan tersebar dan penyakit hati terjauhkan dari diri dan orang sekitar.

Lafal “Tabarakallah” dalam Al-Qur’an: Bentuk Pujian dan Pengagungan kepada Allah SWT

Kalimat “Tabarakallah” dan bentuk turunannya banyak disebut dalam Al-Qur’an sebagai bentuk pujian, pengagungan, dan pengakuan akan kebesaran serta keberkahan Allah SWT. Kata tabaraka menunjukkan bahwa Allah adalah sumber segala kebaikan, kemuliaan, dan keberkahan yang terus-menerus.

Berikut ini beberapa contoh ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung kalimat tabarak sebagai bentuk sanjungan terhadap keagungan-Nya:

1. Surah Al-A’raf Ayat 54

تَبَارَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
Tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn

“Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah pemilik dan pengatur seluruh alam semesta yang penuh keberkahan.

2. Surah Al-Furqan Ayat 1

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ
Tabārakallażī nazzalal-furqāna ‘alā ‘abdihī

“Maha Berkah (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.”

Ayat ini memuji Allah sebagai Zat yang menurunkan petunjuk kepada umat manusia melalui Al-Qur’an.

3. Surah Ar-Rahman Ayat 78

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ
Tabāraka asmu rabbika ẓil-jalāli wal-ikrām

“Maha Berkah nama Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

Ungkapan ini mengagungkan nama Allah, menunjukkan bahwa bahkan nama-Nya pun penuh keberkahan.

4. Surah Al-Mu’minun Ayat 14

فَتَبَارَكَ اللّٰهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ
Fa tabārakallāhu aḥsanul-khāliqīn

“Maha Berkah Allah, sebaik-baik pencipta.”

Ayat ini diucapkan setelah menjelaskan proses penciptaan manusia, sebagai pengakuan atas kesempurnaan ciptaan Allah.

5. Surah Al-Mulk Ayat 1

تَبَارَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ
Tabārakallażī biyadihil-mulku

“Maha Berkah Allah, yang di tangan-Nya segala kerajaan.”

Ayat pembuka Surah Al-Mulk ini menekankan bahwa seluruh kekuasaan dan pemerintahan berada dalam genggaman Allah SWT.

Kesimpulan:
Penggunaan kata tabarak dalam Al-Qur’an menunjukkan bagaimana Allah SWT dipuji atas keberkahan-Nya yang luas, kekuasaan-Nya yang tak terbatas, dan kemuliaan-Nya yang agung. Kalimat “Tabarakallah” yang kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah refleksi dari ayat-ayat tersebut, sekaligus bentuk zikir dan pengakuan bahwa segala sesuatu yang indah, baik, dan mulia bersumber dari-Nya.

Adab Menjawab Ucapan “Tabarakallah”: Doa Balasan yang Dianjurkan dalam Islam

Ketika seseorang mengucapkan “Tabarakallah” kepada kita sebagai bentuk doa dan pujian, sangat dianjurkan untuk membalasnya dengan ucapan baik sebagai bentuk penghargaan dan doa balik. Dalam ajaran Islam, membalas kebaikan dengan kebaikan adalah bagian dari akhlak mulia.

Berikut beberapa ucapan balasan yang bisa digunakan sesuai konteks:

1. Jazakallah Khairan (جزاك الله خيرا)

Artinya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.
Ucapan ini bisa digunakan secara umum kepada siapa saja sebagai balasan atas doa atau kebaikan.

2. Barakallahu Fiik (بارك الله فيك)

Artinya: Semoga Allah memberkahimu.
Digunakan khusus untuk laki-laki.

3. Wafiiki Barakallah (وفيك بارك الله)

Artinya: Semoga Allah memberkahimu juga.
Ucapan ini ditujukan kepada perempuan.

4. Wafiikum Barakallah (وفيكم بارك الله)

Artinya: Semoga Allah memberkahi kalian juga.
Digunakan saat membalas ucapan dari lebih dari satu orang atau dalam konteks umum.

Dasar Hadis Tentang Membalas Kebaikan

Anjuran membalas ucapan atau perbuatan baik ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian, maka balaslah dia. Jika kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia.”
(HR. Abu Dawud)

Kesimpulan:
Menjawab “Tabarakallah” dengan ucapan doa yang baik adalah bentuk adab Islami dan penghargaan terhadap sesama. Selain memperkuat silaturahmi, balasan tersebut juga menjadi bentuk amal dan zikir yang membawa keberkahan dalam interaksi sehari-hari.