Tata cara Sholat Fardhu/Ashar Paling Lengkap

Tata cara Sholat Fardhu/Ashar Paling Lengkap

Stylesphere – Sholat fardhu merupakan ibadah wajib yang termasuk dalam rukun Islam, tepatnya rukun Islam kedua setelah syahadat. Dalam sehari semalam, umat Islam diwajibkan menunaikan lima waktu sholat, yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Meninggalkan salah satu sholat fardhu tanpa alasan yang dibenarkan merupakan dosa besar.

Kewajiban sholat ditegaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah An-Nisa ayat 103, yang menyatakan bahwa sholat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman. Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 43, Allah SWT juga memerintahkan umat Islam untuk menegakkan sholat bersama dengan kewajiban zakat.

Salah satu sholat fardhu yang harus dikerjakan adalah sholat Ashar. Lalu, berapa rakaat sholat Ashar? Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lebih rinci mengenai jumlah rakaat serta tata cara pelaksanaannya.

Jumlah Rakaat Sholat Ashar

Sholat Ashar merupakan salah satu dari lima sholat fardhu yang wajib dikerjakan oleh umat Islam setiap hari. Berdasarkan penjelasan dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, sholat Ashar terdiri dari empat rakaat.

Dalam pelaksanaannya, terdapat dua kali tasyahud atau at-Tahiyyat, yaitu pada rakaat kedua sebagai tasyahud awal dan pada rakaat keempat sebagai tasyahud akhir. Sholat ini memiliki peran penting dalam menjaga kedisiplinan dan keistiqamahan dalam beribadah, sehingga dianjurkan untuk dilaksanakan tepat waktu.

Waktu Sholat Ashar

Waktu sholat Ashar dimulai ketika bayangan suatu benda sudah sama panjang dengan benda aslinya. Biasanya, ini terjadi sekitar pukul 15.00 hingga 18.00, tergantung pada lokasi dan perubahan waktu dalam setahun.

Meskipun rentang waktunya cukup panjang, sholat Ashar sebaiknya dilaksanakan di awal waktu, yakni segera setelah adzan berkumandang. Dengan memahami jumlah rakaat serta waktu pelaksanaannya, diharapkan umat Islam dapat menunaikan sholat Ashar dengan tepat waktu dan penuh kekhusyukan.

Tata Cara Lengkap Sholat Ashar

Sholat Ashar merupakan salah satu dari lima sholat fardhu yang wajib dikerjakan oleh umat Islam setiap hari. Sholat ini terdiri dari empat rakaat dengan dua kali tasyahud, yaitu tasyahud awal pada rakaat kedua dan tasyahud akhir pada rakaat keempat. Agar sholat Ashar dapat dilakukan dengan sempurna, berikut adalah tata cara lengkapnya:

1. Membaca Niat

Sebelum memulai sholat, niat harus ditanamkan dalam hati. Beberapa ulama berpendapat bahwa niat cukup di dalam hati, tetapi jika diucapkan untuk membantu kekhusyukan, maka diperbolehkan. Berikut adalah lafadz niat sholat Ashar:

Niat Sholat Ashar Sendiri (Munfarid)
اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat melaksanakan sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Ashar sebagai Imam
اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat melaksanakan sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Ashar sebagai Makmum
اُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli fardhal ‘ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an ma’muuman lillahi ta’aala.

Artinya: “Aku niat melaksanakan sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Rakaat Pertama

  • Takbiratul Ihram (mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu Akbar).
  • Membaca doa iftitah (sunnah).
  • Membaca Surat Al-Fatihah.
  • Membaca surat atau ayat-ayat dari Al-Qur’an.
  • Rukuk (membungkuk sambil membaca bacaan rukuk).
  • I’tidal (kembali berdiri tegak sambil membaca bacaan i’tidal).
  • Sujud pertama (membaca bacaan sujud).
  • Duduk di antara dua sujud (membaca bacaan duduk di antara dua sujud).
  • Sujud kedua (membaca bacaan sujud).

3. Rakaat Kedua

  • Berdiri kembali dan membaca Surat Al-Fatihah.
  • Membaca surat atau ayat dari Al-Qur’an.
  • Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti pada rakaat pertama.
  • Setelah sujud kedua, duduk untuk tasyahud awal dan membaca bacaan tasyahud awal.
  • Berdiri kembali untuk melanjutkan rakaat ketiga.

4. Rakaat Ketiga

  • Membaca Surat Al-Fatihah tanpa doa iftitah.
  • Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti sebelumnya.

5. Rakaat Keempat

  • Membaca Surat Al-Fatihah.
  • Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti sebelumnya.
  • Setelah sujud kedua, duduk untuk tasyahud akhir dan membaca bacaan tasyahud akhir.
  • Mengucapkan salam ke kanan dan kiri sebagai tanda akhir sholat.

Dengan memahami dan mengikuti tata cara ini, sholat Ashar dapat dilaksanakan dengan sempurna sesuai tuntunan Islam. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dalam menunaikan ibadah sholat dengan khusyuk dan tepat waktu.

Mengatasi Rasa Takut Dengan Doa

Stylesphere – Rasa takut adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, baik dalam situasi yang asing, saat menghadapi tantangan besar, maupun dalam ketidakpastian. Perasaan ini bisa muncul kapan saja dan di mana saja, sering kali tanpa peringatan.

Meskipun ketakutan adalah reaksi wajar, terlalu larut dalam perasaan ini dapat membuat seseorang merasa tertekan dan tidak nyaman. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mengatasi rasa takut agar tetap tenang dan mampu menghadapi berbagai situasi dengan percaya diri.

Salah satu cara efektif untuk meredakan ketakutan adalah dengan berdoa. Doa dapat memberikan ketenangan batin, menumbuhkan rasa aman, dan memperkuat keyakinan dalam menghadapi tantangan. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menganjurkan doa berikut untuk menghadapi rasa takut dan memohon perlindungan dari kejahatan:

اللَّهُمَّ إنَّا نَجْعَلُكَ في نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

Allahumma inna naj’aluka fi nuhurihim wa na’udzubika min syururihim.

Artinya:
“Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”

Dengan mengamalkan doa ini, kita dapat merasa lebih tenang dan yakin bahwa Allah selalu melindungi kita. Ketakutan yang muncul pun dapat dikendalikan dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih.

Mengatasi Rasa Takut dengan Doa

Rasa takut adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, baik dalam menghadapi situasi yang tidak familiar, tantangan besar, maupun ketidakpastian. Meskipun wajar, rasa takut yang berlebihan bisa menghambat seseorang dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara mengatasinya agar tetap tenang dan percaya diri.

Salah satu cara terbaik untuk meredakan ketakutan adalah dengan berdoa. Doa dapat memberikan ketenangan batin, menumbuhkan rasa aman, dan memperkuat keyakinan dalam menghadapi berbagai situasi.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menganjurkan doa berikut untuk berlindung dari kejahatan:

اللَّهُمَّ إنَّا نَجْعَلُكَ في نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

Allahumma inna naj’aluka fi nuhurihim wa na’udzubika min syururihim.

Artinya:
“Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”

Selain itu, doa yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 250 juga bisa diamalkan untuk meminta kekuatan dan keteguhan hati:

رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabraw-wa tsabbit aqdaamanaa wansurnaa ‘alal qaumil kafiriin.

Artinya:
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

Dengan membaca doa-doa ini, kita dapat merasa lebih tenang, yakin bahwa Allah selalu melindungi, dan lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Mengenal Tradisi Halal Bihalal Idul Fitri

Stylesphere – Tradisi halal bihalal di Indonesia menjadi momen penting setelah Idul Fitri untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Dalam acara ini, doa halal bihalal memiliki makna mendalam sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diterima amal ibadah selama Ramadhan serta diberikan keberkahan dan ampunan.

Menurut KBBI, halal bihalal adalah tradisi maaf-memaafkan setelah menjalankan ibadah puasa, biasanya dilakukan dalam pertemuan di suatu tempat seperti aula atau auditorium oleh sekelompok orang.

Doa dalam halal bihalal umumnya mengandung permohonan ampunan, kesejahteraan dunia dan akhirat, serta ungkapan syukur. Berikut adalah 9 doa halal bihalal yang dapat dibacakan dalam acara tersebut, sebagaimana disusun oleh Stylesphere.com pada Sabtu (22/3):

  1. Doa memohon ampunan dan rahmat
  2. Doa agar silaturahmi tetap terjaga
  3. Doa untuk keberkahan hidup
  4. Doa agar diberikan kesehatan dan keselamatan
  5. Doa memohon kelapangan rezeki
  6. Doa agar diberikan ketenangan hati
  7. Doa untuk para pemimpin dan masyarakat
  8. Doa bagi mereka yang telah wafat
  9. Doa agar diberikan istiqamah dalam kebaikan

Dengan doa-doa ini, acara halal bihalal menjadi lebih bermakna, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi tetapi juga sebagai pengingat untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan antar sesama.

Tradisi halal bihalal tidak hanya sekadar ajang silaturahmi dan saling memaafkan, tetapi juga menjadi momen untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Salah satu doa yang sering dibacakan dalam acara ini adalah doa permohonan agar Allah menerima seluruh amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan.

1. Doa Permohonan Penerimaan Ibadah

Doa ini mencerminkan harapan agar Allah menerima segala amal, shalat, dan doa yang telah dipanjatkan, sekaligus memohon penerimaan taubat.

Lafaz doa:
“Rabbanaa taqabbal minna salatanaa wa di’aanaa innaka antas samii’ul aliim. Taqabbal minnaa taubatanaa innaka antat tawwabur rahim.”

Artinya:
“Ya Tuhan kami, terimalah sholat kami dan terimalah permohonan kami. Sungguh Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, sungguh Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.”

Doa ini memiliki makna mendalam dalam konteks halal bihalal, di mana pembersihan diri yang dimulai dari bulan Ramadhan diharapkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

2. Doa Permohonan Penerimaan Amal

Doa ini juga sering dibacakan dalam acara halal bihalal, menegaskan harapan agar Allah menerima amal ibadah yang telah dilakukan.

Lafaz doa:
“Taqobalallahu minna wa minkum, taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya kariim.”

Artinya:
“Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita dan kamu semua, dan terimalah ya (Allah) Yang Maha Mulia.”

Doa ini sering diucapkan saat berjabat tangan dalam halal bihalal, menandakan bahwa selain meminta maaf kepada sesama, umat Islam juga berharap agar hubungan yang telah diperbaiki mendapat keberkahan dari Allah SWT.

Selain memiliki makna dalam konteks halal bihalal, frasa “Taqobalallahu minna wa minkum” juga umum digunakan sebagai ucapan selamat Idul Fitri di berbagai negara Muslim. Ini menunjukkan bahwa nilai penerimaan amal dan keberkahan ibadah adalah hal yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

3. Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat

Doa ini sering dibacakan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam acara halal bihalal, karena mencakup harapan akan kebaikan di dunia dan akhirat.

Lafaz doa:
“Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban naar.”

Artinya:
“Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa ini berasal dari QS. Al-Baqarah ayat 201 dan mencerminkan harapan akan kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat. Kebaikan di dunia mencakup kesehatan, rezeki yang berkah, keluarga yang harmonis, dan ilmu yang bermanfaat. Sementara kebaikan di akhirat meliputi kemudahan dalam sakaratul maut, pertolongan di hari perhitungan, dan akhirnya masuk ke dalam surga Allah SWT.

Dalam halal bihalal, doa ini menjadi pengingat bahwa tujuan silaturahmi bukan hanya untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga sebagai sarana meraih keberkahan dunia dan akhirat.

4. Doa Permohonan Ampunan untuk Umat Muslim

Doa ini mencerminkan semangat persaudaraan dalam Islam, dengan memohon ampunan bagi semua umat Muslim, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Lafaz doa:
“Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiinaa wal muslimaat al-ahyaa-i minhum wal amwaat. Innaka samii’un qariibun mujiibud da’wat yaa wadhiyal hajat.”

Artinya:
“Ya Allah, ampunilah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, Muslim laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Mengabulkan doa, wahai Dzat yang memenuhi segala kebutuhan.”

Doa ini memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dengan mengajarkan umat untuk selalu mendoakan sesama. Selain menunjukkan rasa kepedulian, doa ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini sementara, dan pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT.

Dalam konteks halal bihalal, doa ini menjadi refleksi agar hubungan yang telah diperbaiki tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga membawa keberkahan di akhirat. Selain itu, mendoakan saudara seiman, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, merupakan bentuk amal yang akan terus mengalir pahalanya.

5. Doa Taubat dan Pengakuan Kebesaran Allah

Doa ini berisi pengakuan akan kebesaran Allah SWT sekaligus permohonan ampunan, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Lafaz doa:
“Subhanakallahumma Wabihamdika Lailla Anta Astagfiruka Waatubu Ilaik.”

Artinya:
“Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah SWT. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku memohon ampunan dan bertaubat hanya kepada-Mu.”

Doa ini mencakup empat unsur penting:

  1. Tasbih (mensucikan Allah)
  2. Tahmid (memuji Allah)
  3. Tauhid (mengakui keesaan Allah)
  4. Istighfar & Taubat (memohon ampunan dan kembali kepada Allah)

Dalam halal bihalal, doa ini memiliki makna mendalam karena momen tersebut adalah kesempatan untuk membersihkan hati dan meminta maaf atas kesalahan. Meskipun telah saling memaafkan sesama manusia, doa ini mengingatkan bahwa ampunan Allah tetap yang utama.

6. Doa Penerimaan Puasa dan Amal

Doa ini sering diucapkan setelah bulan Ramadhan dan dalam acara halal bihalal sebagai harapan agar ibadah puasa dan amal lainnya diterima oleh Allah SWT.

Lafaz doa:
“Taqabbalallahu minna wa minkum.”

Artinya:
“Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kita dan (puasa dan amal) dari kalian.”

Doa ini mengandung harapan agar segala amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Meskipun ibadah telah dilaksanakan, tidak ada jaminan bahwa semua diterima, sehingga permohonan ini menunjukkan sikap rendah hati dan berharap hanya kepada Allah.

Dalam konteks halal bihalal, doa ini juga mencerminkan semangat kebersamaan, karena tidak hanya memohon penerimaan amal untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Muslim.

Kenapa Tarawih Semakin Sepi?

Stylesphere – Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan kesempatan untuk memperbanyak ibadah, salah satunya adalah sholat Tarawih yang sangat dianjurkan di bulan suci ini.

Namun, menjelang akhir Ramadhan, jumlah jamaah Tarawih di masjid cenderung berkurang. Banyak orang mulai sibuk dengan persiapan Lebaran atau memilih melaksanakan Tarawih di rumah karena alasan kenyamanan dan keterbatasan waktu.

Meskipun demikian, sholat Tarawih memiliki banyak keutamaan yang tidak boleh diabaikan. Justru ketika jamaah semakin sedikit, ada keistimewaan luar biasa yang bisa diperoleh.

Lantas, apa saja keutamaan sholat Tarawih? Berikut ulasannya, dikutip dari islami.co.

Utamakan Sholat Tarawih

Sholat Tarawih memiliki banyak keutamaan, terutama jika dilakukan bersama imam. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang sholat malam bersama imam hingga selesai, maka akan ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa sholat Tarawih berjamaah sangat dianjurkan, karena memberikan pahala yang setara dengan sholat semalam penuh.

Selain itu, sholat Tarawih juga dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa ibadah (Tarawih) di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Hadis lain dari Abu Hurairah juga menegaskan keutamaan ini:

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hal ini, qiyam Ramadhan merujuk pada sholat Tarawih.

Menurut Imam An-Nawawi, ampunan ini berlaku untuk dosa-dosa kecil. Namun, beberapa ulama berpendapat bahwa pahala yang besar dari sholat Tarawih juga dapat meringankan dosa-dosa besar, selama dosa-dosa kecil telah terhapus.

Sholat Sunnah Jangan Dilewatkan

Sholat Tarawih di bulan Ramadhan merupakan sholat sunnah yang paling utama.

Menurut ulama madzhab Hambali, sholat yang paling utama adalah sholat sunnah yang dianjurkan dilakukan secara berjamaah, karena menyerupai sholat fardhu. Dalam urutan keutamaannya, sholat kusuf (gerhana) berada di peringkat pertama, diikuti oleh sholat Tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9633)

Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa sholat Tarawih adalah sunnah mu’akkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Menurut madzhab Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, sholat Tarawih menjadi bagian dari syiar Islam, sehingga umat Muslim dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan Tarawih.

Dalam pelaksanaannya, sholat Tarawih lebih utama dilakukan secara berjamaah daripada sendiri-sendiri. Imam Asy-Syafi’i dan mayoritas ulama lainnya menekankan bahwa sholat Tarawih lebih baik dikerjakan di masjid, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab dan para sahabat.

Dengan keutamaan-keutamaan ini, hendaknya umat Islam tidak meninggalkan sholat Tarawih, terutama di penghujung bulan Ramadhan.

Doa Rasulullah Menurut Gus Baha

Stylesphere – Setiap orang memiliki cara pandang berbeda tentang kehidupan. Ada yang melihatnya sebagai perjalanan penuh tantangan, sementara yang lain menganggapnya sebagai ladang untuk menanam kebaikan. Dalam Islam, kehidupan dan kematian memiliki makna mendalam yang harus dipahami dengan bijak.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh penting di PBNU, menjelaskan bahwa hidup adalah kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Dalam sebuah doa, Rasulullah SAW bersabda:

“Ya Allah, jadikan kehidupan ini sebagai penambahan saya untuk berbuat baik, dan jadikan kematian sebagai akhir dari semua keburukan saya.”

Menurut Gus Baha, doa ini mengajarkan bahwa hidup seharusnya dimanfaatkan untuk menambah amal saleh. Sebaliknya, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan akhir dari segala keburukan yang mungkin dilakukan manusia.

Dalam ceramahnya, yang dirangkum dari kanal YouTube @takmiralmukmin, Gus Baha menekankan bahwa selama hidupnya, manusia memiliki potensi untuk berbuat baik maupun buruk. Islam mengajarkan umatnya untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan menjadikan kematian sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri.

Pertanyaan Terkait meninggalnya Seseorang

Gus Baha mencontohkan bagaimana ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) menyikapi kematian seseorang, bahkan jika semasa hidupnya dikenal sebagai pelaku maksiat. Mereka tetap berusaha melihat sisi baik dari orang yang telah meninggal.

Dalam sebuah kisah, Gus Baha menyebut bahwa ketika seorang bajingan meninggal, para kiai tetap mencari kebaikan dalam dirinya. Mereka meyakini bahwa kematian telah mengakhiri segala potensi keburukannya, sehingga tidak ada alasan untuk terus menghakimi seseorang yang sudah tiada.

Sikap ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain. Setiap individu berpotensi melakukan kesalahan, sehingga yang lebih utama adalah memperbaiki diri selama masih diberi kesempatan hidup.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Hidup adalah waktu untuk beramal, sementara kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari.

Menurut Gus Baha, hidup bukanlah tentang siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang bisa memanfaatkannya untuk berbuat baik. Oleh karena itu, doa Rasulullah SAW yang menyatakan agar kehidupan menjadi tambahan untuk kebaikan dan kematian sebagai akhir dari keburukan, menjadi pedoman utama dalam menjalani hidup.

Di sisi lain, Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Amal baik akan mendapat balasan yang baik, sementara keburukan akan membawa dampak buruk, baik di dunia maupun di akhirat.

Gus Baha menekankan bahwa selama hidup, seseorang harus berusaha menghindari keburukan sejauh mungkin. Jika ajal menjemput, setidaknya ia meninggalkan dunia dalam keadaan yang lebih baik.

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Oleh karena itu, manusia harus mempersiapkan bekal yang cukup agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Ini Dia Jadwal Untuk Membaca Qunut Witir

Stylesphere – Banyak Muslim melaksanakan sholat Witir di awal waktu saat bulan Ramadan, yakni setelah sholat Isya dan Tarawih. Hal ini berbeda dengan hari-hari biasa, di mana sholat Witir sering dijadikan sebagai penutup sholat malam.

Menurut Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), sholat Witir tidak harus selalu dilakukan setelah menunaikan sholat-sholat malam. Witir boleh dikerjakan lebih awal, kemudian seseorang tetap dapat melaksanakan sholat sunnah lagi jika bangun di malam hari.

“Jangan seperti sebagian orang yang salah paham. Dipikir sholat Witir adalah sholat penutup dan kalau bangun malam gak boleh sholat lagi. Itu salah paham,” jelas Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Kamis (13/3/2025).

Buya Yahya menegaskan, jika seseorang sudah sholat Witir sebelum tidur, lalu ia terbangun di malam hari, maka boleh melaksanakan sholat sunnah sebanyak yang diinginkan.

“Jadi, kalau Anda sudah Witir di awal waktu sebelum tidur, kemudian tertidur dan bangun, boleh sholat (sunnah) sebanyak-banyaknya,” lanjutnya.

Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan
Pada separuh terakhir bulan Ramadan, sebagian Muslim membaca doa qunut dalam sholat Witir, mirip seperti qunut dalam sholat Subuh. Doa qunut ini dibaca saat i’tidal pada rakaat terakhir sholat Witir.

Lalu, kapan tepatnya qunut Witir separuh terakhir Ramadan mulai dibaca dan bagaimana hukumnya? Simak penjelasannya berikut ini.

Dalil Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan

Salah satu dalil yang menjadi dasar pembacaan qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di bulan Ramadan adalah perkataan sahabat Nabi (atsar) berikut:

أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان. رواه أبو داود

Artinya: “Sesungguhnya Umar Ibn Khattab mengumpulkan masyarakat untuk sholat Tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka’b. Maka beliau sholat Tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak membaca doa qunut kecuali pada separuh yang kedua (mulai malam ke-16 Ramadan hingga seterusnya).” (HR. Abu Dawud).

Kapan Qunut Witir Ramadan Mulai Dibaca?
Berdasarkan hadis ini, doa qunut Witir mulai dibaca pada malam ke-16 Ramadan. Tahun ini, malam ke-16 Ramadan jatuh pada Sabtu, 15 Maret 2025 malam.

Biasanya, petugas bilal di masjid akan mengumumkan bahwa pada rakaat terakhir sholat Witir, imam akan membaca doa qunut. Praktik ini telah menjadi tradisi di banyak komunitas Muslim, khususnya dalam mazhab Syafi’i.

Hukum Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan

Mengutip NU Online, para ulama mazhab Syafi’i menghukumi sunnah membaca doa qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di separuh akhir Ramadan.

Sebagian ulama ada yang membolehkan qunut sepanjang Ramadan, namun pendapat yang paling kuat dalam mazhab Syafi’i adalah qunut hanya dikhususkan pada separuh akhir Ramadan.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menuturkan:

ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث: في جميع السنة، وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل

Artinya: “Menurut kami, disunnahkan membaca doa qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di separuh akhir Ramadan. Ada pula dari kalangan kami (Syafi’iyyah) yang berpendapat bahwa qunut disunnahkan sepanjang Ramadan. Sementara itu, pendapat lain menyatakan bahwa qunut dianjurkan di semua sholat sunnah, sebagaimana dalam mazhab Abu Hanifah. Namun, yang paling kuat dalam mazhab kami adalah pendapat pertama, yaitu membaca qunut hanya pada separuh akhir Ramadan.”

Dengan demikian, qunut Witir mulai dibaca pada malam ke-16 Ramadan, mengikuti pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Syafi’i.