Zakat Fitrah dan Kewajiban bagi Orang yang Berutang

Stylesphere – Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim sebagai bentuk penyucian diri dan wujud kepedulian terhadap sesama.

Secara umum, zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk makanan pokok atau sejumlah uang yang setara, dengan tujuan membantu mereka yang membutuhkan agar dapat merayakan Idul Fitri dengan kebahagiaan yang sama.

Namun, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, banyak yang merasa ragu apakah mereka tetap diwajibkan membayar zakat fitrah, terutama bagi mereka yang memiliki utang.

Pertanyaannya, jika seseorang memiliki utang yang jatuh tempo bersamaan dengan kewajiban membayar zakat fitrah, mana yang harus didahulukan?

Dalam hal ini, Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, memberikan pandangannya mengenai kewajiban zakat fitrah bagi mereka yang sedang dalam keadaan berutang.

Zakat Fitrah Menurut Buya Yahya

Buya Yahya menjelaskan bahwa zakat fitrah memiliki tujuan utama untuk membersihkan jiwa, sehingga kewajiban ini berlaku bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat, tanpa terkecuali.

“Zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan jiwa kita. Oleh karena itu, zakat ini wajib bagi semua orang, termasuk anak kecil dan orang dewasa, baik yang kaya maupun miskin. Syaratnya adalah di hari raya ia memiliki cukup makanan untuk dirinya sendiri. Jika kebutuhan hari itu tercukupi, maka wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg beras per orang,” jelas Buya Yahya, dikutip dari YouTube Buya Yahya.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa dihadapkan pada situasi sulit, seperti memiliki utang yang harus dibayar pada waktu tertentu. Dalam kondisi ini, apakah ia tetap wajib membayar zakat fitrah?

Buya Yahya menjawab, “Jika benar-benar tidak memiliki sisa harta karena harus membayar utang, maka tidak wajib membayar zakat fitrah. Namun, jika utangnya belum jatuh tempo atau ingin membayar zakat dengan berutang terlebih dahulu, itu tetap sah.”

Dengan demikian, prioritas utama adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Jika seseorang memiliki kemampuan meskipun terbatas, maka membayar zakat fitrah tetap dianjurkan, bahkan jika harus mengutang.

Penjelasan Membayar Zakat Fitrah

Islam memberikan kelonggaran bagi mereka yang ingin menunaikan zakat fitrah, meskipun sedang dalam keterbatasan finansial. Seseorang diperbolehkan meminjam uang untuk membayar zakat fitrah, asalkan tidak terbebani oleh utang tersebut.

Buya Yahya menjelaskan, “Misalnya, seseorang memiliki uang tetapi baru akan tersedia setelah hari raya. Saat ini, ia benar-benar tidak punya uang sama sekali. Jika ia ingin mengutang untuk membayar zakat fitrah, itu sah dan diperbolehkan, meskipun tidak diwajibkan,” ujar Buya Yahya, dikutip dari YouTube Buya Yahya.

Namun, bagi mereka yang benar-benar tidak memiliki apa pun pada hari raya, sehingga bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar, maka kewajiban zakat fitrah tidak berlaku baginya.

“Jika seseorang memiliki utang yang jatuh tempo dan harus segera dibayar, sementara jika membayar zakat fitrah ia tidak memiliki uang atau makanan untuk hari itu, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah,” pungkas Buya Yahya.

Kesimpulannya, zakat fitrah tetap wajib bagi yang mampu, tetapi bagi yang benar-benar tidak memiliki apa-apa, Islam memberikan keringanan. Jika ingin membayar zakat dengan cara berutang, hal itu dibolehkan dan sah, selama tidak memberatkan diri sendiri.

Apakah Boleh Pakai Bahasa Indonesia Saat Berdoa Sujud?

Stylesphere – Setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Berdoa merupakan bentuk penghambaan yang menunjukkan bahwa seseorang selalu melibatkan Allah dalam hidupnya dan menyadari bahwa tanpa-Nya, ia tidak mampu berbuat apa-apa.

Agar doa lebih mudah dikabulkan, sebaiknya memanfaatkan waktu-waktu mustajab. Berdoa pada waktu-waktu tersebut memiliki peluang besar untuk diterima oleh Allah SWT.

Salah satu waktu mustajab yang dianjurkan adalah saat sujud dalam sholat, karena pada saat itu seorang hamba berada dalam posisi paling dekat dengan Allah SWT.

Ulama kharismatik Ustadz Abdul Somad (UAS) menyarankan umat Islam untuk memperbanyak doa saat sujud terakhir dalam sholat. Mengenai bahasa yang digunakan dalam doa, UAS menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama.

“Pertama, doa berbahasa Arab. Kedua, doa yang ma’tsur (terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah). Ketiga, doa berbahasa Indonesia,” ujar UAS, dikutip dari YouTube Ngaji From Home, Senin (10/3/2025).

Menurut UAS, ulama sepakat bahwa doa yang ma’tsur boleh dibaca saat sujud dalam sholat. Sedangkan doa berbahasa Arab masih menjadi perbedaan pendapat, di mana sebagian ulama membolehkannya, sementara sebagian lainnya tidak karena dianggap dapat membatalkan sholat.

Sementara itu, doa dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain selain Arab disepakati tidak boleh dilafalkan dalam sholat, karena bisa membatalkan sholat.

Lalu, bagaimana jika seseorang tidak hafal doa berbahasa Arab? UAS menyarankan agar tetap berdoa menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dalam hati, tanpa dilafalkan secara lisan.

“Jangan khawatir doa tidak didengar Allah jika dibaca dalam hati. Allah Mahatahu,” tutur UAS.

Penjelasan Doa Menurut ustadz Syafiq Riza Basalamah

Pendakwah Ustadz Syafiq Riza Basalamah menyarankan umat Muslim untuk memperbanyak doa saat sujud dalam sholat. Menurut beliau, doa tidak harus dilakukan hanya pada sujud terakhir, tetapi boleh di setiap sujud dalam sholat.

Bahasa yang Digunakan Saat Berdoa dalam Sujud
Lalu, dalam bahasa apa sebaiknya doa tersebut dibaca?

Ustadz Syafiq menjelaskan bahwa doa yang paling utama adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun, jika seseorang tidak mengetahui doa dari sunnah, maka diperbolehkan menggunakan bahasa Arab.

Bagaimana jika seseorang tidak bisa berdoa dalam bahasa Arab? Menurut Ustadz Syafiq, sebagian ulama membolehkan doa dalam bahasa yang dipahami, seperti bahasa Indonesia.

“Kalau memang dia tidak mampu berdoa dengan bahasa Arab, maka boleh (menggunakan bahasa Indonesia). Misalnya, berdoa meminta kesembuhan: ‘Ya Allah, ana punya umi sakit, tolong sembuhkan ya Allah’,” jelas Ustadz Syafiq, dikutip dari YouTube Surau TV Official.

Namun, beliau juga menegaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini. “Sebagian ulama mengharamkan, sebagian membolehkan,” tambahnya.

Bacaan Ritual Sholat Tidak Boleh Diganti
Ustadz Syafiq menekankan bahwa bacaan ritual sholat tidak boleh diganti ke bahasa lain. Misalnya, bacaan saat sujud “Subhâna Rabbiyal A’lâ wa bihamdih” tidak boleh diubah ke bahasa Indonesia.

“Tapi jika kita sedang memohon kepada Allah selain dari bacaan wajib dalam sholat, maka diperbolehkan. Maka, bagi yang tidak mampu berdoa dalam bahasa Arab, silakan menggunakan bahasa yang dipahami,” jelasnya.

Kesimpulannya, berdoa saat sujud sangat dianjurkan, dan bagi yang tidak bisa menggunakan bahasa Arab, sebagian ulama membolehkan doa dalam bahasa yang dipahami, selama itu bukan bagian dari bacaan ritual sholat.

Perbedaan Durasi Puasa Dalam Berbagai Agama

Stylesphere – Bulan Ramadan tiba, umat Muslim di Indonesia akan menjalankan ibadah puasa selama 13 hingga 14 jam setiap harinya selama sebulan penuh. Namun, tahukah kamu bahwa durasi puasa di berbagai agama berbeda-beda? Ada yang berlangsung sehari penuh, beberapa jam, bahkan tanpa durasi tetap.

Puasa Ramadan menjadi momen spiritual bagi umat Islam, dengan durasi yang bervariasi tergantung lokasi dan panjangnya siang di masing-masing wilayah. Sementara itu, umat Hindu memiliki beragam jenis puasa dengan durasi yang berbeda, mulai dari beberapa jam hingga 24 jam penuh.

Setiap agama memiliki aturan dan tujuan masing-masing dalam berpuasa, menjadikannya sebagai bentuk ibadah yang memperkuat hubungan spiritual dan melatih pengendalian diri.

Setiap agama memiliki aturan dan tujuan tersendiri dalam berpuasa, termasuk dalam hal durasi dan cara menjalankannya.

  • Umat Kristen memiliki puasa yang lebih fleksibel dalam menentukan durasi, bahkan ada yang berlangsung hingga 40 hari.
  • Umat Konghucu menjalankan dua jenis puasa, yaitu rohani dan jasmani, dengan durasi yang bervariasi.
  • Umat Buddha lebih menekankan pengendalian diri dibandingkan dengan puasa total.

Salah satu perbedaan utama antara puasa dalam Islam dan agama lain adalah adanya sahur sebelum memulai puasa. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

“Yang membedakan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Meskipun tujuan utama puasa di berbagai agama adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan spiritualitas, cara dan durasinya sangat beragam. Berikut ini, Stylesphere merangkum perbedaan durasi puasa dalam lima agama, melansir dari berbagai sumber.

Durasi Puasa Dalam Agama Islam : Wajib dan Sunnah

Puasa dalam Islam merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Puasa Ramadan dilakukan selama satu bulan penuh (30 hari), dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Durasi puasa ini bervariasi tergantung letak geografis. Di Indonesia, pada tahun 2025, lamanya puasa diperkirakan sekitar 13-14 jam setiap harinya.

Selain puasa Ramadan, ada juga puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis. Durasi puasa sunnah ini umumnya sama dengan puasa wajib, yaitu dari fajar hingga maghrib, namun bagi sebagian orang yang menjalankan puasa sunnah tertentu, bisa dilakukan dengan durasi yang lebih fleksibel sesuai dengan niat dan kemampuan masing-masing individu.

Durasi Puasa Dalam Agama Hindu

Dalam agama Hindu, puasa atau Upawasa memiliki berbagai jenis dan durasi yang berbeda. Beberapa puasa bersifat wajib, seperti Siwaratri, yang dilakukan selama 24 jam atau lebih. Sementara itu, ada juga puasa pilihan, seperti Ekadashi, yang dilakukan sehari penuh.

Durasi puasa dalam agama Hindu sangat bervariasi, tergantung pada jenis puasa dan tradisi lokal. Beberapa puasa hanya berlangsung beberapa jam, sedangkan yang lain bisa sehari penuh atau bahkan lebih lama.

Menurut alimentarium.org, agama Hindu memiliki beberapa periode puasa yang umum dilakukan. Salah satunya adalah Ekadashi, yang dilakukan dua kali sebulan, tepat pada hari kesebelas setiap siklus bulan terbit dan terbenam. Selain itu, perayaan di awal tahun yang didedikasikan untuk menghormati Dewa Siwa juga merupakan salah satu momen penting dalam praktik puasa umat Hindu.

Durasi Puasa Dalam Agama Kristen

Dalam agama Kristen, tidak ada aturan baku mengenai durasi puasa. Puasa merupakan ibadah sukarela yang dilakukan berdasarkan kesadaran dan kehendak pribadi.

Durasi puasa dapat bervariasi, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari, bahkan ada yang berlangsung hingga 40 hari, seperti yang dilakukan dalam masa Prapaskah.

Umat Kristen biasanya berpuasa dengan menghindari makan dan minum, atau hanya mengonsumsi makanan tertentu. Tujuan utama dari puasa dalam agama Kristen adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan makna hidup, sebagai bentuk penguatan iman dan spiritualitas.

Durasi Puasa Dalam Konghucu

Dalam agama Konghucu, terdapat dua jenis puasa, yaitu puasa rohani dan puasa jasmani.

  • Puasa rohani berfokus pada pengendalian diri, dengan menahan diri dari perilaku buruk dan pikiran negatif.
  • Puasa jasmani berupa pantang makanan tertentu, seperti menjalani pola makan vegetarian.

Durasi puasa jasmani dalam Konghucu beragam, mulai dari sehari, beberapa hari, hingga dilakukan secara permanen. Puasa ini sering dikaitkan dengan hari-hari perayaan atau sembahyang, sebagai bentuk penghormatan dan refleksi spiritual.

Durasi Puasa Dalam Agama Buddha

Menurut reviewreligion.org, umat Buddha menjalankan puasa khusus yang dimulai pada bulan Agustus dan berlangsung selama 45 hari. Selama periode ini, mereka hanya diperbolehkan makan satu kali sehari, sementara di luar waktu makan, hanya diperbolehkan mengonsumsi cairan.

Puasa ini dilakukan dari siang hari hingga matahari terbit keesokan harinya dan umumnya dijalankan setahun sekali. Selain itu, umat Buddha juga dapat memilih untuk berpuasa pada hari-hari tertentu di luar periode tersebut.

Salah satu bentuk ibadah puasa dalam ajaran Buddha adalah Uposatha. Aturan puasa ini dapat berbeda tergantung pada aliran Buddha yang diikuti, tetapi umumnya mengikuti kalender Buddhis. Selama Uposatha, umat Buddha diperbolehkan minum, tetapi tidak diperkenankan makan.

Begini Banyaknya Air Yang Diperlukan Tubuh Saat Puasa

Stylesphere – Menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa Ramadan sangat penting, terutama dalam hal asupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi. Dehidrasi dapat mengganggu kelancaran ibadah puasa, menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti sakit kepala, kelelahan, dan gangguan konsentrasi.

Menurut Hermina Hospitals (Selasa, 4 Maret 2025), tubuh lebih rentan mengalami dehidrasi saat berpuasa karena tidak mendapatkan asupan cairan selama beberapa jam. Untuk mengatasinya, disarankan menggunakan metode 8 gelas air per hari, yaitu:

  • 3 gelas saat sahur
  • 2 gelas saat berbuka
  • 2 gelas setelah berbuka
  • 1 gelas sebelum tidur

Selain minum air putih, konsumsi makanan yang mengandung banyak air seperti sayur dan buah juga membantu menjaga hidrasi tubuh. Sebaliknya, hindari minuman berkafein seperti kopi, teh, soda, dan minuman berenergi, karena bersifat diuretik yang dapat meningkatkan produksi urine dan mempercepat kehilangan cairan tubuh.

Manfaat Minum Air untuk Metabolisme

Mengutip Times of India, minum air putih dapat meningkatkan metabolisme tubuh melalui mekanisme termogenesis yang diinduksi oleh air. Hidrasi yang baik juga membantu metabolisme lemak serta mengendalikan nafsu makan, meskipun efeknya terhadap penurunan berat badan tidak terlalu besar.

Minum air dingin diketahui dapat membakar kalori tambahan, tetapi penurunan berat badan yang signifikan tetap memerlukan pola hidup sehat, termasuk pola makan yang seimbang dan olahraga teratur.

Metabolisme mencakup berbagai reaksi kimia dalam sel tubuh, yang berperan dalam mengubah makanan menjadi energi, menjaga keseimbangan suhu tubuh, dan membantu proses pencernaan serta pembuangan zat sisa.

Dengan menjaga hidrasi yang optimal selama Ramadan, tubuh dapat tetap bugar dan ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih lancar.

Perawatan Ekstra Untuk Tubuh Selama Puasa

Selain menjaga tubuh tetap terhidrasi, memastikan asupan nutrisi yang cukup selama sahur juga merupakan salah satu cara menjaga kesehatan selama berpuasa. Sahur berperan penting dalam menyediakan cadangan energi yang dibutuhkan tubuh sepanjang hari.

Tips Memilih Makanan Sehat untuk Sahur

Agar energi bertahan lebih lama, disarankan untuk mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti buah dan sayur. Selain itu, pilihlah karbohidrat kompleks sebagai sumber energi yang lebih stabil, seperti:

  • Nasi merah
  • Roti gandum utuh
  • Oatmeal
  • Kentang
  • Pasta

Beberapa penelitian juga merekomendasikan makanan tinggi protein dan lemak sehat, seperti telur, alpukat, dan kacang-kacangan, karena penyerapan nutrisinya lebih lambat, sehingga membantu menjaga cadangan energi lebih lama sepanjang hari.

Makan sahur dalam porsi yang cukup juga dapat membantu mencegah rasa mengantuk berlebihan di siang hari.

Makanan yang Dianjurkan saat Berbuka Puasa

Saat berbuka, mulailah dengan air putih dan sedikit makanan manis untuk mengembalikan energi tubuh secara perlahan.

Salah satu pilihan terbaik adalah tiga butir kurma, karena:
Sumber energi alami
Tinggi serat, baik untuk pencernaan
Membantu menghindari lonjakan kadar gula darah secara drastis

Dengan memperhatikan pola makan sehat saat sahur dan berbuka, tubuh akan tetap kuat dan bugar dalam menjalani ibadah puasa dengan optimal.

Tips Tidur Yang Baik di Bulan Puasa

Stylesphere – Memasuki bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Perubahan waktu sahur dan berbuka sering kali memengaruhi pola aktivitas harian, termasuk jam tidur.

Padahal, tidur yang berkualitas sangat penting agar tubuh tetap segar dan bugar selama menjalankan puasa. Dengan menjaga kebiasaan tidur yang baik, Anda dapat menjalani ibadah dengan penuh energi dan semangat.

Selama Ramadan, waktu tidur malam cenderung berkurang karena harus bangun lebih pagi untuk sahur. Jika pola tidur tidak diatur dengan baik, hal ini dapat menyebabkan kurang tidur, yang berdampak pada rasa lemas, kurang fokus, dan menurunnya daya tahan tubuh.

Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara istirahat, hidrasi, dan asupan nutrisi yang baik agar puasa tetap berjalan dengan lancar.

Dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia, Samsung membagikan beberapa tips tidur berkualitas agar Anda tetap bisa beristirahat dengan optimal meskipun jadwal tidur berubah selama Ramadan.

Dengan memahami pola tidur dan menerapkan kebiasaan istirahat yang sehat, Anda dapat memperoleh tidur yang lebih baik dan bangun dengan tubuh yang lebih segar keesokan harinya.

Beberapa Cara Tidur Yang Baik di Bulan Puasa

  • Ciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman

Dengan pembaruan terbaru aplikasi Samsung Healt, pengguna kini dapat memperoleh wawasan mengenai berbagai faktor yang memengaruhi tidur, seperti suhu ruangan, kelembapan, kualitas udara, hingga intensitas cahaya

Melalui data ini, Anda bisa menyesuaikan kondisi kamar agar lebih nyaman, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak dan berkualitas.

  • Pantau Tingkat Aktivitas Harian

Aktivitas fisik juga berperan penting dalam menentukan kualitas tidur. Fitur Energy Score di Samsung Health kini memungkinkan pengguna untuk melihat seberapa banyak energi yang digunakan sepanjang hari. Selain itu, fitur Activity Balance membantu mengevaluasi keseimbangan aktivitas harian dengan menganalisis data selama dua minggu terakhir.

Dengan informasi ini, Anda dapat mengetahui apakah rutinitas harian sudah cukup seimbang untuk mendukung tidur yang optimal dan memastikan tubuh tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa.

  • Ikuti Sleep Coaching untuk Pola Tidur Lebih Sehat

Pola tidur yang teratur penting untuk menjaga kesehatan selama Ramadan. Samsung Health menghadirkan fitur Sleep Coaching yang memantau pola tidur selama tujuh hari dan memberikan rekomendasi khusus berupa program pelatihan tidur yang sesuai dengan kebiasaan kamu.

Bahkan, kamu akan mendapatkan ‘hewan tidur’ sebagai representasi gaya tidur kamu, sehingga proses membentuk kebiasaan tidur sehat jadi lebih menyenangkan.

Memahami Syarat Sah Puasa agar Ibadah Diterima Allah SWT

Stylesphere – Puasa, sebagai salah satu rukun Islam yang penuh berkah, membutuhkan pemahaman yang mendalam agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah syarat sah puasa.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah syaratnya, ada empat syarat utama yang paling sering dibahas, yaitu:

  1. Beragama Islam
  2. Baligh (dewasa)
  3. Berakal sehat
  4. Mampu menjalankan puasa

Artikel ini akan membahas secara rinci keempat syarat tersebut, sekaligus memberikan tips agar ibadah puasa lebih bermakna.

1. Beragama Islam

Syarat pertama dan paling mendasar dalam menjalankan puasa Ramadan adalah beragama Islam. Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Muslim, Abdullah bin Umar RA menyebutkan:

“Islam didirikan atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakkan sholat, membayar zakat, melaksanakan haji di Baitullah (Ka’bah), dan berpuasa di bulan Ramadan.”

Dengan demikian, bagi non-Muslim, kewajiban berpuasa di bulan Ramadan tidak berlaku.

Pemahaman yang baik mengenai syarat sah puasa akan membantu kita menjalankan ibadah dengan lebih baik dan sesuai dengan tuntunan syariat. Dalam artikel ini, kita akan mengupas lebih dalam syarat-syarat lainnya serta cara agar puasa lebih bermakna.

Syarat sah puasa berikutnya adalah baligh atau telah mencapai usia dewasa. Seseorang yang belum baligh, baik laki-laki maupun perempuan, tidak memiliki kewajiban untuk berpuasa.

Usia baligh ditandai dengan tanda-tanda kematangan fisik dan mental, seperti keluarnya mani bagi laki-laki dan datangnya haid bagi perempuan.

Meskipun belum diwajibkan, anak-anak yang belum baligh tetap dianjurkan untuk menjalankan puasa sunnah sebagai bentuk latihan dan pembelajaran spiritual agar mereka terbiasa dengan ibadah ini sejak dini.

Akal Sehat Merupakan Syarat Sah Puasa

Syarat ketiga dalam menjalankan puasa adalah berakal sehat. Puasa merupakan ibadah yang membutuhkan kesadaran dan pemahaman. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami gangguan jiwa berat hingga tidak mampu memahami makna dan kewajiban puasa, maka kewajibannya gugur. Hal ini karena ibadah harus dilakukan dengan kesungguhan dan keikhlasan hati yang utuh.

Syarat terakhir adalah mampu, baik secara fisik maupun mental. Kemampuan fisik mencakup kondisi kesehatan yang memungkinkan seseorang untuk berpuasa tanpa membahayakan dirinya. Orang yang menderita penyakit kronis atau kondisi medis tertentu yang dapat memperburuk kesehatannya jika berpuasa diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di kemudian hari.

Selain fisik, kemampuan mental juga penting. Puasa membutuhkan kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi berbagai godaan serta tantangan sepanjang hari.

Selain empat syarat utama—beragama Islam, baligh, berakal sehat, dan mampu—beberapa sumber juga menyebutkan syarat tambahan, seperti tidak sedang dalam perjalanan jauh (musafir), suci dari haid dan nifas bagi perempuan, serta memiliki niat.

Meskipun demikian, empat syarat utama tersebut paling sering dibahas dalam hukum fikih. Karena terdapat berbagai pendapat dalam kajian fiqih, untuk pemahaman yang lebih mendalam, sebaiknya berkonsultasi dengan ulama atau merujuk pada referensi agama yang terpercaya.

Tips mendapatkan Puasa Yang Bermakna

  • Niat yang tulus: Pastikan niat puasa dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
  • Perbanyak ibadah sunnah: Selain puasa wajib, perbanyak ibadah sunnah seperti shalat tahajud, membaca Al-Quran, dan bersedekah.
  • Jaga kesehatan: Istirahat cukup, makan dan minum yang bergizi saat berbuka dan sahur.
  • Kontrol emosi: Hindari emosi negatif seperti marah dan iri hati.
  • Berbagi dengan sesama: Bersedekah dan membantu mereka yang membutuhkan.

Dengan memahami syarat sah puasa dan menerapkan tips di atas, semoga ibadah puasa Ramadan kita menjadi lebih sempurna dan bermakna. Ingat, jika ada keraguan mengenai keabsahan puasa karena kondisi tertentu, konsultasikan dengan ulama atau ahli agama untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci.

Apakah Boleh Memasak Sahur Sebelum Mandi?

Apakah Boleh Memasak Sahur Sebelum Mandi?

Stylephere – Kehidupan rumah tangga penuh dengan dinamika, dan salah satu bentuk ibadah dalam pernikahan adalah hubungan suami istri, termasuk di bulan Ramadan. Hubungan ini tentu hanya boleh dilakukan pada malam hari, karena jika dilakukan di siang hari akan membatalkan puasa.

Namun, muncul pertanyaan: apakah seseorang dalam kondisi junub boleh melakukan aktivitas, seperti memasak sahur? Apakah seorang wanita diperbolehkan memasak sahur sebelum mandi junub, dan apakah hal ini memengaruhi keabsahan puasanya?

Melansir Kemenag.go.id, menunda mandi junub dan mendahulukan aktivitas lain, seperti memasak atau pekerjaan rumah tangga lainnya, hukumnya diperbolehkan. Tidak ada larangan bagi seseorang yang sedang junub untuk melakukan kegiatan seperti memasak, menyapu, atau mencuci sebelum mandi junub.

Salah satu dalil yang mendukung kebolehan ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah berada dalam kondisi junub saat fajar tiba, kemudian beliau mandi sebelum melanjutkan ibadah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa menunda mandi junub untuk melakukan aktivitas lain, termasuk memasak sahur, tidak berpengaruh terhadap keabsahan puasa. Namun, disarankan untuk segera mandi agar dapat melaksanakan ibadah lainnya, seperti sholat Subuh, dalam keadaan suci.

Hukum Menunda Mandi Junub untuk Memasak Sahur di Bulan Ramadan


لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا جُنُبٌ، فَأَخَذَ بِيَدِي، فَمَشَيْتُ مَعَهُ حَتَّى قَعَدَ، فَانْسَلَلْتُ، فَأَتَيْتُ الرَّحْلَ، فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ وَهُوَ قَاعِدٌ، فَقَالَ: أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هِرٍّ، فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا أَبَا هِرٍّ إِنَّ المُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ

Aku bertemu Rasulullah dan aku pada saat itu dalam keadaan sedang junub, lalu beliau menggandeng tanganku, maka aku berjalan bersama beliau sampai beliau duduk, lalu aku keluar sebentar, aku menemui seseorang, lalu aku mandi, kemudian datang dan beliau sedang duduk, lalu berkata; Kemana saja kamu wahai Abu Hir? Aku berkata kepada beliau (bahwa aku tadi junub). Maka beliau bersabda: Subhanallah, wahai Abu Hir, sesunggugnya seorang mukmin tidak najis.”

Dalam kitab Fathul Al-Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar menjadikan hadis ini sebagai dasar kebolehan seseorang menunda mandi junub dan juga kebolehan dia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, seperti memasak, pergi ke pasar, dan lainnya. Beliau berkata sebagai berikut;

وفيه جواز تأخير الاغتسال عن أول وقت وجوبه ..وعلى جواز تصرف الجنب في حوائجه

“Hadis ini menjadi dalil kebolehan mengakhirkan mandi junub dari awal waktunya dan kebolehan orang yang junub melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhannya.”

Hanya saja, meski memasak sebelum mandi besar diperbolehkan, namun jika seseorang hendak makan atau minum setelah memasak, maka dia dianjurkan untuk wudhu terlebih dahulu. Hal ini karena menurut para ulama, makan dan minum tanpa wudhu dalam keadaan junub hukumnya makruh.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان جنبا فأراد أن يأكل أو ينام توضأ وضوءه للصلاة

“Apabila Rasulullah Saw berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak salat.”


Menjalankan Puasa Tetapi Tidak Sholat Apakah Boleh?

Menjalankan Puasa Tetapi Tidak Sholat Apakah Boleh?

Puasa Tanpa Sholat: Sah Secara Fikih, tetapi Kurang Sempurna di Sisi Allah

Stylesphere – Puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Muslim. Secara hukum fikih, puasa tetap sah meskipun seseorang tidak menjalankan sholat. Namun, sangat disayangkan jika ibadah yang sudah dilakukan menjadi kurang bernilai di sisi Allah karena meninggalkan sholat. Menjaga keseimbangan antara puasa dan sholat merupakan bentuk kesempurnaan ibadah seorang Muslim.

Saat Ramadan tiba, suasana ibadah terasa lebih kuat dibandingkan bulan lainnya. Banyak orang yang jarang menjalankan puasa sunnah, namun tetap berusaha berpuasa penuh selama sebulan. Di sisi lain, ada fenomena yang cukup sering terjadi di masyarakat, yaitu seseorang rajin berpuasa tetapi tidak menjalankan sholat.

Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai kalangan, baik anak muda maupun orang dewasa. Beberapa orang mungkin belum terbiasa menjalankan sholat lima waktu, tetapi tetap ingin berpuasa karena Ramadan hanya datang setahun sekali. Ada juga yang merasa lebih mudah menahan lapar dan haus dibandingkan meluangkan waktu untuk sholat.

Bagi sebagian orang, puasa memiliki daya tarik tersendiri. Atmosfer Ramadan yang penuh kebersamaan serta ajakan dari lingkungan sekitar, seperti keluarga dan teman, membuat banyak orang terdorong untuk menjalankannya. Sementara itu, sholat sering dianggap sebagai ibadah pribadi yang lebih sulit dijaga, terutama bagi mereka yang belum menjadikannya kebiasaan.

Kesibukan sehari-hari juga menjadi alasan umum seseorang meninggalkan sholat. Ada yang mengaku lupa sholat karena pekerjaan menumpuk, tertidur setelah sahur, atau terlalu lelah setelah berbuka. Padahal, semangat yang sama dalam menahan lapar dan haus bisa menjadi motivasi untuk lebih disiplin dalam menjalankan ibadah lainnya.

Menariknya, meskipun tidak sholat, banyak orang tetap berusaha menjalankan puasa dengan serius. Mereka menjaga diri dari makan dan minum, menahan emosi, serta berusaha melakukan kebaikan. Ada harapan bahwa Ramadan bisa menjadi titik awal perubahan, meskipun belum semua ibadah bisa dijalankan dengan sempurna.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga momen untuk membangun kebiasaan baik dalam ibadah. Jika seseorang mampu berpuasa selama sebulan penuh, bukan tidak mungkin kebiasaan baik lainnya, seperti sholat lima waktu, juga bisa mulai diterapkan secara perlahan.

Lalu, apakah puasa tetap sah jika seseorang tidak menjalankan sholat? Apakah menahan lapar dan haus saja sudah cukup tanpa menjalankan kewajiban lain dalam Islam? Jawabannya, secara hukum fikih, puasa tetap sah. Namun, puasa yang sempurna bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga memperbaiki diri dengan menjalankan seluruh kewajiban dalam Islam, termasuk sholat. Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk memperbaiki ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih baik.

Hukuman Bagi Orang Yang Puasa Tanpa Sholat

Jika seseorang meninggalkan sholat bukan karena mengingkari kewajibannya, melainkan karena malas atau lalai, maka ia tetap dianggap sebagai seorang Muslim. Dalam hal ini, puasanya tetap sah secara hukum, tetapi kehilangan nilai kesempurnaannya di sisi Allah.

Menurut kitab Taqriratus Sadidah, ada dua jenis pembatalan dalam ibadah puasa. Pertama, pembatalan yang hanya menghapus pahala puasa tetapi tidak membatalkan puasanya secara hukum. Kedua, pembatalan yang benar-benar membatalkan puasa sehingga wajib diganti di hari lain.

Meninggalkan sholat termasuk dalam kategori pertama, yaitu perbuatan yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala puasa, tetapi tidak membatalkan puasanya secara fikih. Artinya, orang tersebut tidak wajib mengganti puasanya, tetapi ia kehilangan keutamaan yang seharusnya diperoleh dari ibadah tersebut.

Seorang ulama mengibaratkan puasa tanpa sholat seperti tubuh tanpa roh. Secara fisik, seseorang tampak menjalankan ibadah, tetapi kehilangan maknanya karena tidak disertai dengan amalan utama seperti sholat.

Banyak orang merasa bahwa puasa lebih berat dibandingkan sholat, sehingga mereka lebih memilih berpuasa tetapi mengabaikan sholat. Padahal, dalam Islam, setiap ibadah saling berkaitan dan tidak bisa dipilih hanya berdasarkan keinginan pribadi.

Jika seseorang benar-benar ingin menjalankan ibadah dengan baik, maka seharusnya ia juga berusaha melaksanakan sholat. Sebab, sholat adalah penghubung utama antara hamba dengan Allah, sedangkan puasa adalah bentuk penyucian diri yang lebih sempurna jika disertai dengan sholat.

Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang yang hanya menjalankan ibadah tertentu, seperti puasa, tetapi lalai dalam ibadah lainnya. Hal ini menunjukkan masih kurangnya pemahaman mengenai ajaran Islam yang menekankan keseimbangan dalam beribadah.

Oleh karena itu, bagi mereka yang sudah terbiasa menjalankan puasa, hendaknya juga mulai membiasakan diri menjaga sholat. Jika seseorang mampu menahan lapar dan haus seharian demi menjalankan perintah Allah, tentu melaksanakan sholat lima waktu yang hanya membutuhkan beberapa menit tidak seharusnya menjadi hal yang sulit.

Pada akhirnya, meskipun puasa tanpa sholat tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, ibadah tersebut akan menjadi kurang bernilai di sisi Allah. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara puasa dan sholat merupakan bentuk kesempurnaan ibadah seorang Muslim.

Menelan Ludah Pada Saat Puasa Apakah Batal?

Menelan Ludah Pada Saat Puasa Apakah Batal?

Stylesphere – Bulan Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah, di mana umat Muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam pelaksanaannya, terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar puasa menjadi sah.

Selama berpuasa, kita diwajibkan menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengenai hukum menelan ludah, karena hal ini merupakan tindakan alami yang sulit dihindari.

Menanggapi hal ini, Buya Yahya, seorang ulama terkemuka yang sering memberikan penjelasan seputar fiqih, menyampaikan bahwa menelan ludah tidak membatalkan puasa. Namun, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar tidak mengganggu keabsahan puasa.

Meski tampak sepele, pemahaman yang tepat mengenai aturan-aturan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalankan sah dan diterima oleh Allah SWT.

Inilah Syarat Menelan Ludah Agar Tetap Sah Berpuasa

Sebagian besar umat Muslim mungkin belum mengetahui bahwa menelan ludah sendiri tidak membatalkan puasa, asalkan memenuhi syarat tertentu. Hal ini dijelaskan oleh Buya Yahya dalam salah satu ceramahnya.

“Syarat pertama adalah ludah itu berasal dari diri sendiri. Mungkin terdengar aneh, tapi ada saja yang bertanya soal ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Buya Yahya menjelaskan dengan contoh, “Misalnya, dalam momen harmonis rumah tangga, seorang suami mencium istrinya lalu tanpa sengaja menelan ludah pasangannya. Dalam kasus seperti ini, puasanya batal karena yang ditelan bukan ludahnya sendiri,” katanya, dikutip dari YouTube Al-Bahjah TV.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan menelan ludah yang tidak membatalkan puasa adalah ludah yang berasal dari diri sendiri.

Syarat kedua agar menelan ludah tidak membatalkan puasa adalah ludah tersebut masih berada di dalam mulut. Jika seseorang mengumpulkan ludah di dalam mulutnya hingga cukup banyak lalu menelannya, hal itu tetap tidak membatalkan puasa.

“Ludah yang masih berada di tempatnya, yaitu di dalam mulut, tidak membatalkan puasa. Para ulama bahkan menjelaskan bahwa jika seseorang mengumpulkan ludah hingga banyak lalu menelannya, puasanya tetap sah karena ludah tersebut masih berada di dalam mulut,” jelas Buya Yahya, ulama asal Blitar, Jawa Timur.

Syarat ketiga yang harus dipenuhi adalah bahwa ludah tersebut harus murni, tidak bercampur dengan zat lain.

“Menelan ludah tidak membatalkan puasa selama ludah tersebut masih murni, belum bercampur dengan sesuatu seperti permen atau makanan. Jika sudah bercampur, maka puasanya batal,” tambahnya.

Buya Yahya menegaskan bahwa sebagian besar ludah yang ditelan saat puasa adalah ludah yang aman. “Jika saya menelan ludah sendiri di siang hari Ramadan, itu tidak membatalkan puasa,” ujarnya.

Dengan memahami tiga syarat ini, kita dapat menjalani puasa dengan lebih tenang tanpa khawatir berlebihan mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak membatalkan puasa.

Apakah Batal Puasa Mencium Istri Disaat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasa Gus Baha

Apakah Batal Puasa Mencium Istri Disaat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasa Gus Baha

Stylesphere – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah mencium pasangan saat berpuasa dapat membatalkan puasa.

Untuk menjawab hal ini, Gus Baha mengisahkan peran Aisyah dalam menjelaskan sunnah Rasulullah.

Aisyah sering meriwayatkan kebiasaan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri. Oleh karena itu, hukum mencium pasangan saat berpuasa dapat ditemukan dalam riwayat Aisyah.

Pertanyaan mengenai ciuman saat berpuasa di bulan Ramadan kerap menjadi perbincangan. Lantas, apakah hal ini dapat membatalkan puasa?

Sebelum menjawabnya, Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menekankan pentingnya peran Aisyah dalam sejarah Islam. Sebagai istri Rasulullah, Aisyah banyak meriwayatkan hadis yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri selama Ramadan.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Maimunah, salah satu istri Rasulullah, mengenai hukum mencium istri saat berpuasa. “Wahai Ummul Mukminin, saya memiliki istri yang cantik. Apakah mencium istri bisa membatalkan puasa?” tanyanya. Kisah ini dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @NUOnlineID.

Maimunah memberikan jawaban yang mengundang tawa. “Jangan tanya aku! Nabi tak pernah menciumku saat puasa. Coba tanyakan kepada Aisyah,” ujarnya. Jawaban ini menarik karena Maimunah adalah istri Rasulullah yang telah berusia lanjut.

Menurut Gus Baha, alasan Maimunah merespons demikian adalah karena Rasulullah lebih mungkin mencium Aisyah yang masih muda. “Entah Maimunah atau siapa, pokoknya istri Nabi yang jarang dicium,” ujar Gus Baha, yang membuat jamaah tertawa.

Apakah Batal Atau Tidak? Berikut Penjelasannya

Karena jawaban Maimunah belum memberikan kepastian, sahabat tersebut kemudian bertanya kepada Aisyah. Ia menegaskan bahwa pertanyaannya adalah perkara haq, sehingga Allah tidak malu untuk membahasnya.

“Apakah mencium istri membatalkan puasa?” tanya sahabat itu kepada Aisyah. Dengan tegas, Aisyah menjawab, “Nabi biasa menciumku saat puasa, tetapi beliau tetap berpuasa.”

Dari jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa mencium istri tidak membatalkan puasa, selama tidak menimbulkan syahwat berlebihan hingga menyebabkan keluarnya air mani.

Gus Baha menjelaskan bahwa dalam Islam, ada banyak hal yang tidak membatalkan puasa tetapi tetap perlu dikendalikan agar tidak berlebihan, termasuk ciuman antara suami dan istri.

Selain itu, Gus Baha juga menekankan bahwa Aisyah memiliki peran besar dalam menyampaikan ilmu agama. Banyak hadis yang diriwayatkan melalui Aisyah, yang bahkan tidak diketahui oleh istri-istri Rasulullah lainnya.

“Betapa banyak ilmu yang kita peroleh dari jalur Aisyah, yang kadang tidak diketahui oleh istri Nabi yang lain,” ujar Gus Baha dalam ceramahnya.

Dalam kajian fiqih, hukum mencium istri saat puasa memang tidak membatalkan puasa. Namun, dianjurkan untuk menahan diri, terutama bagi mereka yang belum mampu mengendalikan syahwatnya.

Bedakan Ciuman Nafsu dan Ciuman Sayang

Para ulama membedakan antara ciuman yang sekadar ungkapan kasih sayang dengan ciuman yang dapat menimbulkan syahwat. Jika yang kedua, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak menjerumuskan dalam hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Selain itu, mencium istri saat puasa juga memiliki hikmah lain, yakni menunjukkan bahwa Islam tidak melarang kasih sayang antara suami istri, selama dilakukan dalam batas yang diperbolehkan.

Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa yang menunjukkan bagaimana Rasulullah tetap menunjukkan rasa cintanya kepada istri-istrinya, bahkan di bulan Ramadhan.

Namun, bagi yang merasa ciuman bisa berpotensi membangkitkan syahwat secara berlebihan, maka lebih baik menghindarinya. Sebab, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga hati dan pikiran dari hal-hal yang bisa mengurangi pahala ibadah.

Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan ini tidak hanya sekadar boleh atau tidak, tetapi juga mempertimbangkan aspek pengendalian diri dan niat dari masing-masing individu.

Kesimpulannya, mencium istri saat puasa Ramadhan tidak membatalkan puasa, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Namun, bagi yang belum bisa mengendalikan diri, sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak sampai menimbulkan hal yang dilarang dalam puasa.Wallahu a’lam.