Cara I’tikaf Lengkap Bagi Perempuan

Stylesphere – I’tikaf adalah ibadah dengan berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan memperbanyak doa, dzikir, dan ibadah lainnya.

Ibadah ini sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.

Tanda Anda Mendapatkan Lailatul Qadar

Seperti halnya ibadah lain, i’tikaf memiliki syarat sah yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah dilakukan di masjid yang menyelenggarakan sholat berjamaah.

Namun, bagaimana dengan i’tikaf bagi wanita? Apakah mereka harus melaksanakannya di masjid atau ada ketentuan lain? Berikut ulasannya, sebagaimana dirangkum dari NU Online.

Tempat Ibadah I’tikaf

Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjalankan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim melalui Sayyidatina Aisyah RA, yang berbunyi:

وَعَنْهَا: – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “Dari Aisyah RA, Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Aktivitas itu dilakukan hingga beliau wafat. Kemudian, para istrinya mengikuti i’tikaf pada waktu tersebut sepeninggal Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai tempat pelaksanaan i’tikaf.

  • Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa i’tikaf bisa dilakukan di masjid mana saja.
  • Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa i’tikaf hanya sah di masjid yang digunakan untuk sholat berjamaah dan sholat lima waktu secara rutin.

Pendapat ini didasarkan pada teks berikut:

المسجد شرط لصحة الاعتكاف. قال مالك والشافعي يصح في كل مسجد. وقال أبو حنيفة وأحمد يصح في كل مسجد تقام فيه الجماعة وتصلى فيه الصلوات كلها

Artinya: “Masjid adalah syarat sah ibadah i’tikaf. Imam Malik dan As-Syafi’i berpendapat bahwa i’tikaf sah di masjid mana pun. Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa i’tikaf sah di setiap masjid yang digunakan untuk sholat berjamaah dan sholat lima waktu.”

(Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 340).

Zakat Fitrah dan Kewajiban bagi Orang yang Berutang

Arti I’tikaf Bagi Perempuan

Namun, menurut Imam Abu Hanifah, perempuan dapat melakukan i’tikaf di rumah, tepatnya di mushala atau tempat yang biasa digunakan untuk sholat di dalam rumahnya.

وعند أبي حنيفة إنما يصح اعتكاف المرأة في مسجد بيتها وهو الموضع المهيأ في بيتها لصلاتها

Artinya: “Menurut Abu Hanifah, i’tikaf perempuan sah dilakukan di masjid dalam rumahnya, yaitu tempat yang disediakan untuk sholat di rumahnya.”

(Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 340).

Sementara itu, Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyarankan bahwa jika perempuan beri’tikaf di masjid, sebaiknya ia mengambil tempat di balik tirai yang biasa digunakan untuk menandai area sholat perempuan.

وإذا اعتكفت المرأة في المسجد، استحب لها أن تستتر بشيء؛ لأن أزواج النبي صلّى الله عليه وسلم لما أردن الاعتكاف أمرن بأبنيتهن، فضربن في المسجد، ولأن المسجد يحضره الرجال، وخير لهم وللنساء ألا يرونهن ولا يرينهم

Artinya: “Jika seorang perempuan beri’tikaf di masjid, ia dianjurkan untuk menutup diri dengan tirai, sebagaimana para istri Nabi Muhammad SAW ketika ingin beri’tikaf diperintahkan untuk berada di tempat yang dibangun bagi mereka di dalam masjid. Hal ini karena masjid juga dihadiri oleh pria bukan mahram. Maka, lebih baik bagi mereka dan para pria untuk tidak saling melihat satu sama lain.”

(Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 696-697).

Apakah Itu Darkil Asfal Minan Naar Neraka

Stylesphere – Setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Ada yang mengikuti petunjuk Allah, namun ada pula yang justru menjauh dari-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan banyak peringatan keras bagi mereka yang mengingkari kebenaran, termasuk tentang tempat kembalinya di akhirat.

Neraka bukan hanya tempat siksaan, tetapi juga peringatan atas kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana orang tua melarang anaknya dari sesuatu yang membahayakan, Allah pun memperingatkan manusia agar tidak terjerumus dalam kebinasaan.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa peringatan tentang neraka dalam Al-Qur’an bukanlah bentuk kebencian, melainkan kasih sayang Allah kepada manusia. Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk bertobat sebelum ajal menjemput.

“Peringatan dari Allah itu bukan karena kebencian, tetapi karena kasih sayang. Allah tidak ingin ada hamba-Nya yang masuk ke dalam kebinasaan,” ujar Ustadz Adi Hidayat dalam tayangan di kanal YouTube @Adi Hidayat Official.

Dalam video tersebut, ia juga membahas bahaya kemunafikan dan bagaimana orang-orang seperti ini dapat menyesatkan orang lain.

“Ada orang yang saat berbicara, kata-katanya menarik, retorikanya indah, logikanya seolah benar, tetapi justru menjauhkan dari Allah,” jelasnya.

Menurutnya, keselamatan di akhirat tidak hanya bergantung pada amal ibadah, tetapi juga pada keimanan yang benar.

Hindari jenis Manusia Ini

“Orang bisa saja sholat, puasa, dan zakat, tetapi tanpa iman, tetap celaka di akhirat,” ujar Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam ceramahnya.

Ia menyinggung kisah ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai seseorang yang dikenal baik di dunia.

“Ada orang non-Muslim yang dermawan, suka membantu, dan berdonasi. Bagaimana nasibnya di akhirat?” tuturnya.

Nabi menjawab berdasarkan Surah Al-Furqan ayat 23, yang menjelaskan bahwa perbuatan baik tanpa iman hanya akan dibalas di dunia.

“Jika amalnya untuk dunia, maka balasannya diberikan di dunia. Namun di akhirat, semua itu menjadi debu yang berterbangan,” jelasnya.

Karena itu, UAH mengingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran menyimpang.

“Jangan coba-coba mengikuti orang yang nyeleneh. Jangan penasaran dengan ajaran yang menyesatkan,” pesannya.

Ia juga menyoroti tipe orang yang sering membawa ayat Al-Qur’an, tetapi dengan pemahaman yang keliru. Mereka memotong ayat dan menggunakannya untuk membenarkan pendapat pribadi.

“Dalam Surah Al-Baqarah ayat 204, disebutkan ada orang yang perkataannya menarik, bahkan membawa ayat Al-Qur’an, tetapi justru berbahaya,” ujarnya.

Tanda Anda Mendapatkan Lailatul Qadar

Stylesphere – Setiap Muslim tentu menginginkan kebaikan, termasuk meraih Lailatul Qadar di sepertiga akhir Ramadhan. Siapa yang tidak ingin mendapatkan malam yang lebih baik daripada seribu bulan?

Lailatul Qadar adalah malam istimewa dalam Islam. Dalam surah Al-Qadr, Allah menyebutkan bahwa malam ini lebih utama dari seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut setara dengan beribadah selama minimal 83 tahun 4 bulan.

Keistimewaan Malam Ganjil di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Malam penuh berkah dan ampunan ini dapat diraih dengan ikhtiar, salah satunya dengan meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beruntunglah mereka yang berhasil mendapatkannya.

Lalu, bagaimana tanda seseorang telah meraih Lailatul Qadar? Simak penjelasan Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya.

Penjelasan Buya Yahya

Menurut Buya Yahya, tanda seseorang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar dapat dilihat dari perubahan dirinya setelah malam itu.

“Jika hari esok lebih baik dari hari kemarin, itulah tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar,” ujar Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Sabtu (22/3/2025).

Sebaliknya, jika seseorang tetap berperilaku buruk setelah malam itu—misalnya masih durhaka kepada orang tua—maka sejatinya ia belum benar-benar meraih Lailatul Qadar.

“Tanda paling jelas adalah perubahan ke arah yang lebih baik, semakin dekat kepada Allah di hari-hari dan tahun-tahun berikutnya,” tambahnya.

Karena itu, Buya Yahya berpesan agar di malam-malam terakhir Ramadhan, umat Islam memperbanyak amal baik dan berusaha memperbaiki diri keesokan harinya.

“Kalau keesokan harinya lebih baik, kemungkinan kita mendapat Lailatul Qadar. Tapi kalau masih terus bermaksiat, berarti kita jauh darinya. Sederhana sekali,” tuturnya.

Doa Rasulullah Menurut Gus Baha

Stylesphere – Setiap orang memiliki cara pandang berbeda tentang kehidupan. Ada yang melihatnya sebagai perjalanan penuh tantangan, sementara yang lain menganggapnya sebagai ladang untuk menanam kebaikan. Dalam Islam, kehidupan dan kematian memiliki makna mendalam yang harus dipahami dengan bijak.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh penting di PBNU, menjelaskan bahwa hidup adalah kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Dalam sebuah doa, Rasulullah SAW bersabda:

“Ya Allah, jadikan kehidupan ini sebagai penambahan saya untuk berbuat baik, dan jadikan kematian sebagai akhir dari semua keburukan saya.”

Menurut Gus Baha, doa ini mengajarkan bahwa hidup seharusnya dimanfaatkan untuk menambah amal saleh. Sebaliknya, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan akhir dari segala keburukan yang mungkin dilakukan manusia.

Dalam ceramahnya, yang dirangkum dari kanal YouTube @takmiralmukmin, Gus Baha menekankan bahwa selama hidupnya, manusia memiliki potensi untuk berbuat baik maupun buruk. Islam mengajarkan umatnya untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan menjadikan kematian sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri.

Pertanyaan Terkait meninggalnya Seseorang

Gus Baha mencontohkan bagaimana ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) menyikapi kematian seseorang, bahkan jika semasa hidupnya dikenal sebagai pelaku maksiat. Mereka tetap berusaha melihat sisi baik dari orang yang telah meninggal.

Dalam sebuah kisah, Gus Baha menyebut bahwa ketika seorang bajingan meninggal, para kiai tetap mencari kebaikan dalam dirinya. Mereka meyakini bahwa kematian telah mengakhiri segala potensi keburukannya, sehingga tidak ada alasan untuk terus menghakimi seseorang yang sudah tiada.

Sikap ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain. Setiap individu berpotensi melakukan kesalahan, sehingga yang lebih utama adalah memperbaiki diri selama masih diberi kesempatan hidup.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Hidup adalah waktu untuk beramal, sementara kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari.

Menurut Gus Baha, hidup bukanlah tentang siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang bisa memanfaatkannya untuk berbuat baik. Oleh karena itu, doa Rasulullah SAW yang menyatakan agar kehidupan menjadi tambahan untuk kebaikan dan kematian sebagai akhir dari keburukan, menjadi pedoman utama dalam menjalani hidup.

Di sisi lain, Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Amal baik akan mendapat balasan yang baik, sementara keburukan akan membawa dampak buruk, baik di dunia maupun di akhirat.

Gus Baha menekankan bahwa selama hidup, seseorang harus berusaha menghindari keburukan sejauh mungkin. Jika ajal menjemput, setidaknya ia meninggalkan dunia dalam keadaan yang lebih baik.

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Oleh karena itu, manusia harus mempersiapkan bekal yang cukup agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Buya Yahya Ungkap Ahli Puasa Yang Menjadi Ahli Neraka

Stylesphere – Dalam Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada sholat dan puasa, tetapi juga harus disertai dengan akhlak yang baik terhadap sesama. Seseorang bisa dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi jika perilakunya buruk, ibadahnya bisa kehilangan makna.

Banyak yang beranggapan bahwa rajin beribadah sudah cukup untuk menjamin keselamatan di akhirat. Namun, ajaran Islam menekankan bahwa hubungan dengan sesama manusia juga memiliki peran besar dalam menentukan nasib seseorang di akhirat.

KH Yahya Zainul Ma’arif, atau Buya Yahya, seorang ulama yang kerap membahas pentingnya akhlak dalam kehidupan, menyampaikan sebuah kisah dari zaman Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan hal ini.

“Ada seorang perempuan yang diceritakan di hadapan Nabi. Dia dikenal sebagai ahli ibadah—rajin berpuasa, sering bangun malam untuk sholat, dan ibadahnya luar biasa,” ujar Buya Yahya dalam kajian yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.

Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian. “Perempuan ini memang tekun beribadah, tetapi dikatakan, ‘Hanya saja, ya Rasulullah, dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya,’” lanjutnya.

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW memberikan jawaban tegas: “La khaira fiha, tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia ahli neraka,” sabda Rasulullah SAW.

Jangan menjadi Bangkrut di Akhirat

“Ada orang yang di dunia rajin ibadah, tetapi di akhirat bangkrut. Kenapa? Karena dia banyak menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, dan semua amalnya habis untuk membayar kesalahannya kepada sesama,” ujar Buya Yahya.

Ia mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya fokus pada ibadah pribadi, tetapi juga harus memperbaiki hubungan dengan sesama.

“Jika ingin ibadah kita diterima, pastikan tidak ada orang yang tersakiti oleh lisan dan perbuatan kita,” tegasnya.

Menurut Buya Yahya, menjaga lisan adalah bagian penting dari ibadah. Banyak hadits yang menekankan bahwa siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Allah akan menjaganya dari azab.

“Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.’ Ini adalah prinsip yang harus kita pegang,” jelasnya.

Buya Yahya juga mengajak umat Islam untuk selalu introspeksi diri. Jangan sampai merasa sudah beribadah dengan baik, tetapi tetap menyakiti orang lain melalui perkataan atau perbuatan.

“Jangan sampai kita rajin sholat dan puasa, tetapi justru menjadi ahli neraka karena lisan kita sendiri,” pesannya.

Menutup kajiannya, ia mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku. Ibadah yang dilakukan dengan susah payah bisa menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan akhlak yang baik terhadap sesama.

“Mari kita perbaiki diri. Tidak cukup hanya rajin ibadah, tapi pastikan juga kita tidak menjadi penyebab kesedihan orang lain,” tutupnya.

Manfaat Air Kelapa Disaat Buka Puasa

Stylesphere – Selama bulan Ramadan, menjaga asupan nutrisi yang tepat sangat penting untuk mendukung tubuh tetap bugar. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tubuh membutuhkan cairan dan energi untuk kembali beraktivitas.

Air kelapa menjadi pilihan ideal untuk berbuka puasa karena kaya akan manfaat. Minuman alami ini membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang, mencegah dehidrasi, serta memberikan energi alami.

Mengutip NU Online, Kamis (20/3/2025), air kelapa mengandung elektrolit penting seperti kalium, natrium, dan magnesium yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Selain itu, air kelapa juga mengandung vitamin C, karbohidrat, dan mineral yang membantu memulihkan energi serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Mengonsumsi air kelapa saat berbuka membantu tubuh beradaptasi setelah seharian berpuasa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa air kelapa dapat mencegah dehidrasi, yang sering menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan asupan air kelapa yang cukup, tubuh tetap terhidrasi dengan baik dan lebih siap menjalani aktivitas setelah berbuka.

Manfaat Air Kelapa

Berikut beberapa manfaat air kelapa saat berbuka puasa:

  • Mencegah Dehidrasi – Kandungan elektrolit yang tinggi membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang selama puasa.
  • Meningkatkan Energi – Karbohidrat dan elektrolit dalam air kelapa memberikan dorongan energi alami setelah seharian berpuasa.
  • Menjaga Kesehatan Kulit – Antioksidan dan vitamin C membantu menjaga kelembapan serta mendukung regenerasi sel kulit.
  • Menurunkan Tekanan Darah – Kandungan kalium dalam air kelapa berperan dalam membantu menurunkan tekanan darah.
  • Meningkatkan Sistem Imun – Vitamin B serta sifat antibakteri dan antivirusnya dapat mendukung sistem kekebalan tubuh.
  • Meningkatkan Fungsi Otot – Kalium membantu menjaga fungsi otot dan mencegah kram.
  • Menyehatkan Pencernaan – Dapat membantu mengatasi gangguan pencernaan, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
  • Menetralkan Asam Lambung – Berpotensi membantu menyeimbangkan kadar asam lambung, tetapi masih perlu diteliti lebih lanjut.

Memahami Sholat Tahajud Dengan Lengkap

Stylesphere – Sholat tahajud adalah sholat sunnah yang penuh berkah dan dianjurkan untuk dikerjakan di sepertiga malam. Waktu terbaiknya terbagi menjadi tiga bagian: sepertiga malam pertama, kedua, dan terakhir. Dari ketiganya, sepertiga malam terakhir dianggap paling utama karena bertepatan dengan waktu mustajab, saat doa lebih mudah dikabulkan.

Sholat tahajud dilakukan setelah tidur, dan waktu pastinya bersifat estimasi, tergantung pada lokasi geografis dan perubahan waktu sepanjang tahun. Meski ada waktu-waktu utama, yang lebih penting adalah konsistensi, niat, dan keikhlasan dalam menjalankannya. Tidak ada batasan waktu yang kaku, selama dilakukan dengan kesungguhan hati.

Keutamaan sholat tahajud terletak pada kedekatannya dengan waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa lebih mudah diterima. Setiap bagian waktu memiliki keutamaan tersendiri, namun yang lebih penting adalah konsistensi dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Tidak ada waktu yang pasti, yang utama adalah niat dan kesungguhan hati dalam beribadah.

Tiga Sepertiga Malam

Terdapat tiga waktu utama untuk melaksanakan sholat tahajud, yaitu sepertiga malam pertama, kedua, dan ketiga. Berikut penjelasan rinci mengenai ketiganya:

  • Sepertiga Malam Pertama: Waktu ini dimulai setelah sholat Isya hingga sekitar pukul 22.00. Meskipun termasuk waktu utama, beberapa sumber menyebutnya sebagai waktu yang “sangat utama” atau “utama.” Waktu ini cocok bagi mereka yang ingin melaksanakan sholat tahajud lebih awal.
  • Sepertiga Malam Kedua: Waktu ini berlangsung sekitar pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari. Banyak sumber menyebutkan waktu ini lebih utama dibandingkan sepertiga malam pertama. Waktu ini memberi kesempatan bagi mereka yang terlambat bangun setelah sholat Isya.
  • Sepertiga Malam Terakhir: Ini adalah waktu yang paling utama, dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari hingga menjelang Subuh. Beberapa sumber menekankan keutamaannya karena lebih dekat dengan waktu mustajab. Waktu ini sangat ideal bagi mereka yang ingin merasakan keutamaan sholat tahajud.

Sepertiga Malam Terakhir Yang Terpenting

Sepertiga malam terakhir dianggap waktu yang paling utama karena banyak hadits dan riwayat yang menyebutkan keutamaannya. Pada waktu ini, Allah SWT lebih dekat dengan hamba-Nya yang bermunajat, dan doa-doa yang dipanjatkan memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.

Selain itu, melaksanakan sholat tahajud pada sepertiga malam terakhir memberi kesempatan untuk lebih fokus dan khusyuk dalam beribadah. Jauh dari keramaian aktivitas sehari-hari, waktu ini memberikan ketenangan batin yang mendalam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, perlu diingat bahwa keutamaan sholat tahajud tidak hanya terletak pada waktu pelaksanaannya. Niat yang ikhlas dan kesungguhan hati dalam beribadah jauh lebih penting daripada sekadar memilih waktu.

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam

Stylesphere – Sering kali, tanpa disadari, kita mengucapkan kalimat yang mungkin dibenci oleh Allah SWT. Mengetahui dan memahami ucapan yang tidak disukai Allah adalah langkah penting dalam memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, terdapat petunjuk tentang ucapan yang harus dihindari agar terhindar dari murka Allah. Dengan memahami hal ini, kita dapat lebih bijak dalam berbicara dan senantiasa menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain.

Ucapan yang Dibenci Allah
Salah satu kalimat yang paling dibenci oleh Allah adalah ucapan yang mencerminkan kesombongan dan penolakan terhadap nasihat.

Ucapan seperti ini tidak hanya melukai perasaan orang lain yang berniat baik, tetapi juga mencerminkan sikap yang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa menjaga lisan dan perilakunya agar terhindar dari perkataan yang tidak diridhai oleh Allah SWT.

Menjaga Lisan sebagai Bentuk Ketaqwaan
Menjaga lisan bukan sekadar etika dalam pergaulan, tetapi juga merupakan bagian penting dari ketakwaan kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa perkataan seseorang mencerminkan keimanan dan akhlaknya.

Untuk memahami lebih dalam larangan tentang ucapan yang dibenci Allah, kita akan menelusuri hadits dan ayat Al-Qur’an yang relevan. Dengan begitu, kita bisa lebih berhati-hati dalam berbicara dan menghindari ucapan yang sia-sia serta menyakiti orang lain.

Marilah kita bersama-sama belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik dengan menjaga lisan dan memilih kata-kata yang membawa kebaikan.

Kata Yang Dibenci Allah

Kalimat yang dibenci Allah SWT adalah perkataan yang mengandung kesombongan dan keangkuhan, terutama ketika seseorang menolak ajakan untuk berbuat kebaikan dan bertakwa kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam buku “Hijrah Dahulu, Istikamah Kemudian” karya Hendra Bakti (2019).

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa salah satu kalimat yang paling dibenci Allah adalah ucapan yang menunjukkan kesombongan, terutama saat seseorang menolak nasihat untuk bertakwa.

Hadits tentang Kalimat yang Dibenci Allah
Dalam hadits riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan An-Nasa’i dalam Al-Yaum wa al-Lailah, yang disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah, Rasulullah SAW bersabda:

إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل اتق الله، فيقول عليك بنفسك

Artinya: “Kalimat yang paling dibenci Allah SWT adalah ketika seseorang menasihati temannya dengan mengatakan ‘Bertakwalah kepada Allah’, namun temannya justru menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri.'” (HR. Baihaqi dan An-Nasa’i)

Hadits ini menjelaskan dengan jelas bahwa Allah SWT sangat membenci sikap sombong, terutama ketika seseorang menolak nasihat kebaikan.

Jika seseorang diingatkan untuk bertakwa kepada Allah, tetapi ia malah menjawab, “Urus saja dirimu sendiri,” maka hal itu menunjukkan kesombongan dalam dirinya. Sikap seperti ini menghalangi seseorang dari kebaikan dan bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk saling menasihati dalam kebenaran.

Pentingnya Saling Menasihati dalam Islam
Allah SWT telah menegaskan dalam Surat Al-‘Asr ayat 3, bahwa orang-orang beriman harus saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Oleh karena itu, seorang Muslim seharusnya menerima nasihat dengan lapang dada, bukan justru menolaknya dengan kesombongan. Sikap rendah hati dalam menerima nasihat adalah cerminan ketakwaan dan akhlak yang baik, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Keistimewaan Malam Ganjil di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Stylesphere – Pendakwah Ustadz Khalid Basalamah menegaskan bahwa malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan harus menjadi target utama bagi setiap orang beriman. Pada malam-malam ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih giat beribadah kepada Allah SWT.

Sebagian besar umat Muslim memilih untuk melaksanakan i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dalam durasi tertentu, baik siang maupun malam, guna mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah SAW sendiri lebih banyak menghidupkan malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan dengan ibadah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah SAW memasuki sepuluh terakhir (Ramadan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamul lail), membangunkan keluarganya, serta mengencangkan sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih fokus beribadah)’.” (HR. Muslim, No. 1174)

Apa Keistimewaan Malam-Malam Ganjil di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan?


Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa di antara malam-malam tersebut, terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

“Allah menurunkan dalam surah Al-Qadr di dalam Al-Qur’an yang berbunyi (artinya), ‘Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.’ Atau setara dengan 83 tahun plus 4 bulan ibadah,” ujar Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Jumat (14/3/2025).

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil, dengan harapan mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.

Keistimewaan Lailatul Qadar, Ibadah Senilai Seribu Bulan

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa, di mana pahala ibadah yang dikerjakan pada malam tersebut dilipatgandakan.

Sebagai contoh, jika seseorang mengucapkan “Subhanallah” bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka pahalanya setara dengan mengucapkan kalimat tasbih selama seribu bulan, atau 83 tahun dan 4 bulan.

“Mungkin ada di antara kaum Muslimin yang belum bisa mencapai usia 80 tahun. Namun, jika ia melewati malam itu dan sempat beribadah, seperti berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berbakti kepada orang tua, atau sholat malam, maka semua itu akan dicatat pahalanya setara dengan seribu bulan,” tutur Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Jumat (14/3/2025).

Jangan Lewatkan Kesempatan Emas Lailatul Qadar


Karena keutamaannya yang luar biasa, Ustadz Khalid berpesan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mengajak kaum Muslimin untuk meningkatkan ibadah di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama dengan melakukan i’tikaf di masjid.

Bagaimana Jika Tidak Bisa I’tikaf di Masjid?


Lantas, apakah seseorang tetap bisa mengejar Lailatul Qadar jika tidak bisa beri’tikaf di masjid? Simak penjelasannya di bagian berikutnya.

Tidak Bisa I’tikaf? Tetap Kejar Lailatul Qadar di Mana Pun

Ustadz Khalid Basalamah menegaskan bahwa i’tikaf di masjid bukan satu-satunya cara untuk mengejar Lailatul Qadar. Bagi Muslim yang belum bisa beri’tikaf, tetap bisa mendapatkan keberkahan malam istimewa ini dengan memperbanyak ibadah di mana pun.

“Kalau Anda tidak bisa i’tikaf di masjid, Anda tetap bisa memperbanyak ibadah, sibuk di rumah, di jalanan berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau mendengarkan majelis ilmu. Dengan begitu, Anda dapat menutup Ramadan dengan amal-amal yang baik,” ujar Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Jumat (14/3/2025).

Lailatul Qadar Hanya Terjadi Sekali dalam Setahun


Ustadz Khalid menjelaskan bahwa Lailatul Qadar hanya terjadi sekali dalam setahun, dan waktu pastinya dirahasiakan oleh Allah SWT. Malam ini bisa jatuh pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan, dan setiap tahunnya bisa berbeda.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih giat beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan, serta meniatkan dalam hati agar Allah SWT memudahkan mereka mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.

“Oleh karena itu, di sepuluh terakhir Ramadan, dianjurkan semua Muslim untuk lebih giat beribadah dan meniatkan dalam hati. Semoga Allah mudahkan kita mendapatkan Lailatul Qadar,” pesan Ustadz Khalid.

Ini Dia Jadwal Untuk Membaca Qunut Witir

Stylesphere – Banyak Muslim melaksanakan sholat Witir di awal waktu saat bulan Ramadan, yakni setelah sholat Isya dan Tarawih. Hal ini berbeda dengan hari-hari biasa, di mana sholat Witir sering dijadikan sebagai penutup sholat malam.

Menurut Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), sholat Witir tidak harus selalu dilakukan setelah menunaikan sholat-sholat malam. Witir boleh dikerjakan lebih awal, kemudian seseorang tetap dapat melaksanakan sholat sunnah lagi jika bangun di malam hari.

“Jangan seperti sebagian orang yang salah paham. Dipikir sholat Witir adalah sholat penutup dan kalau bangun malam gak boleh sholat lagi. Itu salah paham,” jelas Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Kamis (13/3/2025).

Buya Yahya menegaskan, jika seseorang sudah sholat Witir sebelum tidur, lalu ia terbangun di malam hari, maka boleh melaksanakan sholat sunnah sebanyak yang diinginkan.

“Jadi, kalau Anda sudah Witir di awal waktu sebelum tidur, kemudian tertidur dan bangun, boleh sholat (sunnah) sebanyak-banyaknya,” lanjutnya.

Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan
Pada separuh terakhir bulan Ramadan, sebagian Muslim membaca doa qunut dalam sholat Witir, mirip seperti qunut dalam sholat Subuh. Doa qunut ini dibaca saat i’tidal pada rakaat terakhir sholat Witir.

Lalu, kapan tepatnya qunut Witir separuh terakhir Ramadan mulai dibaca dan bagaimana hukumnya? Simak penjelasannya berikut ini.

Dalil Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan

Salah satu dalil yang menjadi dasar pembacaan qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di bulan Ramadan adalah perkataan sahabat Nabi (atsar) berikut:

أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان. رواه أبو داود

Artinya: “Sesungguhnya Umar Ibn Khattab mengumpulkan masyarakat untuk sholat Tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka’b. Maka beliau sholat Tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak membaca doa qunut kecuali pada separuh yang kedua (mulai malam ke-16 Ramadan hingga seterusnya).” (HR. Abu Dawud).

Kapan Qunut Witir Ramadan Mulai Dibaca?
Berdasarkan hadis ini, doa qunut Witir mulai dibaca pada malam ke-16 Ramadan. Tahun ini, malam ke-16 Ramadan jatuh pada Sabtu, 15 Maret 2025 malam.

Biasanya, petugas bilal di masjid akan mengumumkan bahwa pada rakaat terakhir sholat Witir, imam akan membaca doa qunut. Praktik ini telah menjadi tradisi di banyak komunitas Muslim, khususnya dalam mazhab Syafi’i.

Hukum Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan

Mengutip NU Online, para ulama mazhab Syafi’i menghukumi sunnah membaca doa qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di separuh akhir Ramadan.

Sebagian ulama ada yang membolehkan qunut sepanjang Ramadan, namun pendapat yang paling kuat dalam mazhab Syafi’i adalah qunut hanya dikhususkan pada separuh akhir Ramadan.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menuturkan:

ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث: في جميع السنة، وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل

Artinya: “Menurut kami, disunnahkan membaca doa qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di separuh akhir Ramadan. Ada pula dari kalangan kami (Syafi’iyyah) yang berpendapat bahwa qunut disunnahkan sepanjang Ramadan. Sementara itu, pendapat lain menyatakan bahwa qunut dianjurkan di semua sholat sunnah, sebagaimana dalam mazhab Abu Hanifah. Namun, yang paling kuat dalam mazhab kami adalah pendapat pertama, yaitu membaca qunut hanya pada separuh akhir Ramadan.”

Dengan demikian, qunut Witir mulai dibaca pada malam ke-16 Ramadan, mengikuti pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Syafi’i.