Hukuman Bagi Pemalak di Agama Islam Menurut Gubernur Jawa Barat

Stylesphere – Di tengah persoalan ini, video lawas Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi melotot hadapi preman, lantas viral di media sosial.

Beredar di media sosial potongan video ketika Gubernur Dedi Mulyadi emosi menghadapi preman. Potongan video tersebut beredar setelah diunggah oleh beberapa akun di media sosial.

Dalam video itu memperlihatkan wajah Dedi Mulyadi yang sangat emosi. Mata Dedi sampai melotot ketika dia menghadapi permasalahan premanisme yang meresahkan masyarakat.

Ada dua potongan video, potongan video pertama memperlihatkan Dedi sedang mencari preman yang sempat terekam kamera warga melakukan pemalakan. Kemudian potongan video kedua memperlihatkan Dedi berhadapan langsung dengan preman dengan nada penuh amarah.

Potongan video Dedi Mulyadi menghadapi preman yang beredar luas ini tidak dilengkapi penjelasan kapan dan dimana itu terjadi.

Pengertian Preman

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), preman adalah seseorang yang melakukan kejahatan seperti penodongan atau pemerasan. Premanisme sendiri merupakan gaya hidup yang mengutamakan kekerasan. Dalam konteks kelompok, preman juga dapat disebut gangster ketika aktivitasnya dilakukan secara terorganisir dalam geng atau organisasi kriminal.

Dalam Islam, istilah yang lebih mendekati makna preman adalah Al-Muntahib, sedangkan perbuatannya disebut Nahab atau Intihab.

Definisi Al-Muntahib Menurut Para Ulama

  1. Ensiklopedi Fikih
    An-Nahab didefinisikan sebagai tindakan mengambil harta orang lain secara paksa dengan menindas korban secara terang-terangan. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 41/378)
  2. Mazhab Hanafi
    Intihab adalah mengambil harta orang lain secara terang-terangan dan memaksa, baik di kota maupun di desa. (Tabyin Haqaiq, 9/147)
  3. Mazhab Syafi’i
    Al-Muntahib adalah orang yang merampas harta orang lain dengan kekerasan dan paksaan secara terbuka serta diketahui oleh masyarakat. (An-Nadzm Al-Mustahdzab, 2/277)
  4. Mazhab Hambali
    Al-Muntahib adalah seseorang yang menggunakan kekuatan dan penindasan untuk merampas harta orang lain, menyerupai perampasan dalam peperangan. (Syarh Muntaha Al-Iradat, 11/209)

Dengan demikian, dalam Islam, tindakan premanisme termasuk perbuatan zalim yang dilarang, dan pelakunya dapat dikenai hukuman sesuai dengan ketentuan syariat.

Hukuman Untuk Para Preman

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Muntahib adalah seseorang yang merampas harta orang lain secara terang-terangan, dengan menggunakan kekuatan dan penindasan.

Hukuman bagi Muntahib/Preman

Dalam Islam, tidak ada hukuman khusus bagi Muntahib, karena tindakan Intihab berbeda dengan pencurian. Oleh karena itu, pelakunya tidak dikenai hukuman potong tangan. Hal ini ditegaskan dalam hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang muntahib tidak dihukum dengan potong tangan. Barang siapa yang melakukan intihab secara terang-terangan maka bukan termasuk pengikut jalan kami.” (HR. Abu Daud 4391, dishahihkan oleh Al-Albani)

Karena tidak ada aturan tetap terkait hukuman bagi Muntahib, penindakannya diserahkan kepada pemerintah. Pengadilan memiliki kewenangan untuk menjatuhkan hukuman berdasarkan tingkat kejahatan yang dilakukan, sesuai dengan hukum yang berlaku.

Tanda Anda Mendapatkan Lailatul Qadar

Stylesphere – Setiap Muslim tentu menginginkan kebaikan, termasuk meraih Lailatul Qadar di sepertiga akhir Ramadhan. Siapa yang tidak ingin mendapatkan malam yang lebih baik daripada seribu bulan?

Lailatul Qadar adalah malam istimewa dalam Islam. Dalam surah Al-Qadr, Allah menyebutkan bahwa malam ini lebih utama dari seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut setara dengan beribadah selama minimal 83 tahun 4 bulan.

Keistimewaan Malam Ganjil di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Malam penuh berkah dan ampunan ini dapat diraih dengan ikhtiar, salah satunya dengan meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beruntunglah mereka yang berhasil mendapatkannya.

Lalu, bagaimana tanda seseorang telah meraih Lailatul Qadar? Simak penjelasan Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya.

Penjelasan Buya Yahya

Menurut Buya Yahya, tanda seseorang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar dapat dilihat dari perubahan dirinya setelah malam itu.

“Jika hari esok lebih baik dari hari kemarin, itulah tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar,” ujar Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Sabtu (22/3/2025).

Sebaliknya, jika seseorang tetap berperilaku buruk setelah malam itu—misalnya masih durhaka kepada orang tua—maka sejatinya ia belum benar-benar meraih Lailatul Qadar.

“Tanda paling jelas adalah perubahan ke arah yang lebih baik, semakin dekat kepada Allah di hari-hari dan tahun-tahun berikutnya,” tambahnya.

Karena itu, Buya Yahya berpesan agar di malam-malam terakhir Ramadhan, umat Islam memperbanyak amal baik dan berusaha memperbaiki diri keesokan harinya.

“Kalau keesokan harinya lebih baik, kemungkinan kita mendapat Lailatul Qadar. Tapi kalau masih terus bermaksiat, berarti kita jauh darinya. Sederhana sekali,” tuturnya.

Doa Rasulullah Menurut Gus Baha

Stylesphere – Setiap orang memiliki cara pandang berbeda tentang kehidupan. Ada yang melihatnya sebagai perjalanan penuh tantangan, sementara yang lain menganggapnya sebagai ladang untuk menanam kebaikan. Dalam Islam, kehidupan dan kematian memiliki makna mendalam yang harus dipahami dengan bijak.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh penting di PBNU, menjelaskan bahwa hidup adalah kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Dalam sebuah doa, Rasulullah SAW bersabda:

“Ya Allah, jadikan kehidupan ini sebagai penambahan saya untuk berbuat baik, dan jadikan kematian sebagai akhir dari semua keburukan saya.”

Menurut Gus Baha, doa ini mengajarkan bahwa hidup seharusnya dimanfaatkan untuk menambah amal saleh. Sebaliknya, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan akhir dari segala keburukan yang mungkin dilakukan manusia.

Dalam ceramahnya, yang dirangkum dari kanal YouTube @takmiralmukmin, Gus Baha menekankan bahwa selama hidupnya, manusia memiliki potensi untuk berbuat baik maupun buruk. Islam mengajarkan umatnya untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan menjadikan kematian sebagai pengingat untuk selalu memperbaiki diri.

Pertanyaan Terkait meninggalnya Seseorang

Gus Baha mencontohkan bagaimana ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) menyikapi kematian seseorang, bahkan jika semasa hidupnya dikenal sebagai pelaku maksiat. Mereka tetap berusaha melihat sisi baik dari orang yang telah meninggal.

Dalam sebuah kisah, Gus Baha menyebut bahwa ketika seorang bajingan meninggal, para kiai tetap mencari kebaikan dalam dirinya. Mereka meyakini bahwa kematian telah mengakhiri segala potensi keburukannya, sehingga tidak ada alasan untuk terus menghakimi seseorang yang sudah tiada.

Sikap ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain. Setiap individu berpotensi melakukan kesalahan, sehingga yang lebih utama adalah memperbaiki diri selama masih diberi kesempatan hidup.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Hidup adalah waktu untuk beramal, sementara kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari.

Menurut Gus Baha, hidup bukanlah tentang siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang bisa memanfaatkannya untuk berbuat baik. Oleh karena itu, doa Rasulullah SAW yang menyatakan agar kehidupan menjadi tambahan untuk kebaikan dan kematian sebagai akhir dari keburukan, menjadi pedoman utama dalam menjalani hidup.

Di sisi lain, Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Amal baik akan mendapat balasan yang baik, sementara keburukan akan membawa dampak buruk, baik di dunia maupun di akhirat.

Gus Baha menekankan bahwa selama hidup, seseorang harus berusaha menghindari keburukan sejauh mungkin. Jika ajal menjemput, setidaknya ia meninggalkan dunia dalam keadaan yang lebih baik.

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Oleh karena itu, manusia harus mempersiapkan bekal yang cukup agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Manfaat Air Kelapa Disaat Buka Puasa

Stylesphere – Selama bulan Ramadan, menjaga asupan nutrisi yang tepat sangat penting untuk mendukung tubuh tetap bugar. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tubuh membutuhkan cairan dan energi untuk kembali beraktivitas.

Air kelapa menjadi pilihan ideal untuk berbuka puasa karena kaya akan manfaat. Minuman alami ini membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang, mencegah dehidrasi, serta memberikan energi alami.

Mengutip NU Online, Kamis (20/3/2025), air kelapa mengandung elektrolit penting seperti kalium, natrium, dan magnesium yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Selain itu, air kelapa juga mengandung vitamin C, karbohidrat, dan mineral yang membantu memulihkan energi serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Mengonsumsi air kelapa saat berbuka membantu tubuh beradaptasi setelah seharian berpuasa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa air kelapa dapat mencegah dehidrasi, yang sering menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan asupan air kelapa yang cukup, tubuh tetap terhidrasi dengan baik dan lebih siap menjalani aktivitas setelah berbuka.

Manfaat Air Kelapa

Berikut beberapa manfaat air kelapa saat berbuka puasa:

  • Mencegah Dehidrasi – Kandungan elektrolit yang tinggi membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang selama puasa.
  • Meningkatkan Energi – Karbohidrat dan elektrolit dalam air kelapa memberikan dorongan energi alami setelah seharian berpuasa.
  • Menjaga Kesehatan Kulit – Antioksidan dan vitamin C membantu menjaga kelembapan serta mendukung regenerasi sel kulit.
  • Menurunkan Tekanan Darah – Kandungan kalium dalam air kelapa berperan dalam membantu menurunkan tekanan darah.
  • Meningkatkan Sistem Imun – Vitamin B serta sifat antibakteri dan antivirusnya dapat mendukung sistem kekebalan tubuh.
  • Meningkatkan Fungsi Otot – Kalium membantu menjaga fungsi otot dan mencegah kram.
  • Menyehatkan Pencernaan – Dapat membantu mengatasi gangguan pencernaan, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
  • Menetralkan Asam Lambung – Berpotensi membantu menyeimbangkan kadar asam lambung, tetapi masih perlu diteliti lebih lanjut.

Perbedaan Durasi Puasa Dalam Berbagai Agama

Stylesphere – Bulan Ramadan tiba, umat Muslim di Indonesia akan menjalankan ibadah puasa selama 13 hingga 14 jam setiap harinya selama sebulan penuh. Namun, tahukah kamu bahwa durasi puasa di berbagai agama berbeda-beda? Ada yang berlangsung sehari penuh, beberapa jam, bahkan tanpa durasi tetap.

Puasa Ramadan menjadi momen spiritual bagi umat Islam, dengan durasi yang bervariasi tergantung lokasi dan panjangnya siang di masing-masing wilayah. Sementara itu, umat Hindu memiliki beragam jenis puasa dengan durasi yang berbeda, mulai dari beberapa jam hingga 24 jam penuh.

Setiap agama memiliki aturan dan tujuan masing-masing dalam berpuasa, menjadikannya sebagai bentuk ibadah yang memperkuat hubungan spiritual dan melatih pengendalian diri.

Setiap agama memiliki aturan dan tujuan tersendiri dalam berpuasa, termasuk dalam hal durasi dan cara menjalankannya.

  • Umat Kristen memiliki puasa yang lebih fleksibel dalam menentukan durasi, bahkan ada yang berlangsung hingga 40 hari.
  • Umat Konghucu menjalankan dua jenis puasa, yaitu rohani dan jasmani, dengan durasi yang bervariasi.
  • Umat Buddha lebih menekankan pengendalian diri dibandingkan dengan puasa total.

Salah satu perbedaan utama antara puasa dalam Islam dan agama lain adalah adanya sahur sebelum memulai puasa. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

“Yang membedakan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Meskipun tujuan utama puasa di berbagai agama adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan spiritualitas, cara dan durasinya sangat beragam. Berikut ini, Stylesphere merangkum perbedaan durasi puasa dalam lima agama, melansir dari berbagai sumber.

Durasi Puasa Dalam Agama Islam : Wajib dan Sunnah

Puasa dalam Islam merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Puasa Ramadan dilakukan selama satu bulan penuh (30 hari), dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Durasi puasa ini bervariasi tergantung letak geografis. Di Indonesia, pada tahun 2025, lamanya puasa diperkirakan sekitar 13-14 jam setiap harinya.

Selain puasa Ramadan, ada juga puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis. Durasi puasa sunnah ini umumnya sama dengan puasa wajib, yaitu dari fajar hingga maghrib, namun bagi sebagian orang yang menjalankan puasa sunnah tertentu, bisa dilakukan dengan durasi yang lebih fleksibel sesuai dengan niat dan kemampuan masing-masing individu.

Durasi Puasa Dalam Agama Hindu

Dalam agama Hindu, puasa atau Upawasa memiliki berbagai jenis dan durasi yang berbeda. Beberapa puasa bersifat wajib, seperti Siwaratri, yang dilakukan selama 24 jam atau lebih. Sementara itu, ada juga puasa pilihan, seperti Ekadashi, yang dilakukan sehari penuh.

Durasi puasa dalam agama Hindu sangat bervariasi, tergantung pada jenis puasa dan tradisi lokal. Beberapa puasa hanya berlangsung beberapa jam, sedangkan yang lain bisa sehari penuh atau bahkan lebih lama.

Menurut alimentarium.org, agama Hindu memiliki beberapa periode puasa yang umum dilakukan. Salah satunya adalah Ekadashi, yang dilakukan dua kali sebulan, tepat pada hari kesebelas setiap siklus bulan terbit dan terbenam. Selain itu, perayaan di awal tahun yang didedikasikan untuk menghormati Dewa Siwa juga merupakan salah satu momen penting dalam praktik puasa umat Hindu.

Durasi Puasa Dalam Agama Kristen

Dalam agama Kristen, tidak ada aturan baku mengenai durasi puasa. Puasa merupakan ibadah sukarela yang dilakukan berdasarkan kesadaran dan kehendak pribadi.

Durasi puasa dapat bervariasi, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari, bahkan ada yang berlangsung hingga 40 hari, seperti yang dilakukan dalam masa Prapaskah.

Umat Kristen biasanya berpuasa dengan menghindari makan dan minum, atau hanya mengonsumsi makanan tertentu. Tujuan utama dari puasa dalam agama Kristen adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan makna hidup, sebagai bentuk penguatan iman dan spiritualitas.

Durasi Puasa Dalam Konghucu

Dalam agama Konghucu, terdapat dua jenis puasa, yaitu puasa rohani dan puasa jasmani.

  • Puasa rohani berfokus pada pengendalian diri, dengan menahan diri dari perilaku buruk dan pikiran negatif.
  • Puasa jasmani berupa pantang makanan tertentu, seperti menjalani pola makan vegetarian.

Durasi puasa jasmani dalam Konghucu beragam, mulai dari sehari, beberapa hari, hingga dilakukan secara permanen. Puasa ini sering dikaitkan dengan hari-hari perayaan atau sembahyang, sebagai bentuk penghormatan dan refleksi spiritual.

Durasi Puasa Dalam Agama Buddha

Menurut reviewreligion.org, umat Buddha menjalankan puasa khusus yang dimulai pada bulan Agustus dan berlangsung selama 45 hari. Selama periode ini, mereka hanya diperbolehkan makan satu kali sehari, sementara di luar waktu makan, hanya diperbolehkan mengonsumsi cairan.

Puasa ini dilakukan dari siang hari hingga matahari terbit keesokan harinya dan umumnya dijalankan setahun sekali. Selain itu, umat Buddha juga dapat memilih untuk berpuasa pada hari-hari tertentu di luar periode tersebut.

Salah satu bentuk ibadah puasa dalam ajaran Buddha adalah Uposatha. Aturan puasa ini dapat berbeda tergantung pada aliran Buddha yang diikuti, tetapi umumnya mengikuti kalender Buddhis. Selama Uposatha, umat Buddha diperbolehkan minum, tetapi tidak diperkenankan makan.

Apakah Batal Puasa Mencium Istri Disaat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasa Gus Baha

Apakah Batal Puasa Mencium Istri Disaat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasa Gus Baha

Stylesphere – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah mencium pasangan saat berpuasa dapat membatalkan puasa.

Untuk menjawab hal ini, Gus Baha mengisahkan peran Aisyah dalam menjelaskan sunnah Rasulullah.

Aisyah sering meriwayatkan kebiasaan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri. Oleh karena itu, hukum mencium pasangan saat berpuasa dapat ditemukan dalam riwayat Aisyah.

Pertanyaan mengenai ciuman saat berpuasa di bulan Ramadan kerap menjadi perbincangan. Lantas, apakah hal ini dapat membatalkan puasa?

Sebelum menjawabnya, Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menekankan pentingnya peran Aisyah dalam sejarah Islam. Sebagai istri Rasulullah, Aisyah banyak meriwayatkan hadis yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan hubungan suami istri selama Ramadan.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Maimunah, salah satu istri Rasulullah, mengenai hukum mencium istri saat berpuasa. “Wahai Ummul Mukminin, saya memiliki istri yang cantik. Apakah mencium istri bisa membatalkan puasa?” tanyanya. Kisah ini dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @NUOnlineID.

Maimunah memberikan jawaban yang mengundang tawa. “Jangan tanya aku! Nabi tak pernah menciumku saat puasa. Coba tanyakan kepada Aisyah,” ujarnya. Jawaban ini menarik karena Maimunah adalah istri Rasulullah yang telah berusia lanjut.

Menurut Gus Baha, alasan Maimunah merespons demikian adalah karena Rasulullah lebih mungkin mencium Aisyah yang masih muda. “Entah Maimunah atau siapa, pokoknya istri Nabi yang jarang dicium,” ujar Gus Baha, yang membuat jamaah tertawa.

Apakah Batal Atau Tidak? Berikut Penjelasannya

Karena jawaban Maimunah belum memberikan kepastian, sahabat tersebut kemudian bertanya kepada Aisyah. Ia menegaskan bahwa pertanyaannya adalah perkara haq, sehingga Allah tidak malu untuk membahasnya.

“Apakah mencium istri membatalkan puasa?” tanya sahabat itu kepada Aisyah. Dengan tegas, Aisyah menjawab, “Nabi biasa menciumku saat puasa, tetapi beliau tetap berpuasa.”

Dari jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa mencium istri tidak membatalkan puasa, selama tidak menimbulkan syahwat berlebihan hingga menyebabkan keluarnya air mani.

Gus Baha menjelaskan bahwa dalam Islam, ada banyak hal yang tidak membatalkan puasa tetapi tetap perlu dikendalikan agar tidak berlebihan, termasuk ciuman antara suami dan istri.

Selain itu, Gus Baha juga menekankan bahwa Aisyah memiliki peran besar dalam menyampaikan ilmu agama. Banyak hadis yang diriwayatkan melalui Aisyah, yang bahkan tidak diketahui oleh istri-istri Rasulullah lainnya.

“Betapa banyak ilmu yang kita peroleh dari jalur Aisyah, yang kadang tidak diketahui oleh istri Nabi yang lain,” ujar Gus Baha dalam ceramahnya.

Dalam kajian fiqih, hukum mencium istri saat puasa memang tidak membatalkan puasa. Namun, dianjurkan untuk menahan diri, terutama bagi mereka yang belum mampu mengendalikan syahwatnya.

Bedakan Ciuman Nafsu dan Ciuman Sayang

Para ulama membedakan antara ciuman yang sekadar ungkapan kasih sayang dengan ciuman yang dapat menimbulkan syahwat. Jika yang kedua, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak menjerumuskan dalam hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Selain itu, mencium istri saat puasa juga memiliki hikmah lain, yakni menunjukkan bahwa Islam tidak melarang kasih sayang antara suami istri, selama dilakukan dalam batas yang diperbolehkan.

Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa yang menunjukkan bagaimana Rasulullah tetap menunjukkan rasa cintanya kepada istri-istrinya, bahkan di bulan Ramadhan.

Namun, bagi yang merasa ciuman bisa berpotensi membangkitkan syahwat secara berlebihan, maka lebih baik menghindarinya. Sebab, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga hati dan pikiran dari hal-hal yang bisa mengurangi pahala ibadah.

Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan ini tidak hanya sekadar boleh atau tidak, tetapi juga mempertimbangkan aspek pengendalian diri dan niat dari masing-masing individu.

Kesimpulannya, mencium istri saat puasa Ramadhan tidak membatalkan puasa, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Namun, bagi yang belum bisa mengendalikan diri, sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak sampai menimbulkan hal yang dilarang dalam puasa.Wallahu a’lam.