Apakah Boleh Memasak Sahur Sebelum Mandi?

Apakah Boleh Memasak Sahur Sebelum Mandi?

Stylephere – Kehidupan rumah tangga penuh dengan dinamika, dan salah satu bentuk ibadah dalam pernikahan adalah hubungan suami istri, termasuk di bulan Ramadan. Hubungan ini tentu hanya boleh dilakukan pada malam hari, karena jika dilakukan di siang hari akan membatalkan puasa.

Namun, muncul pertanyaan: apakah seseorang dalam kondisi junub boleh melakukan aktivitas, seperti memasak sahur? Apakah seorang wanita diperbolehkan memasak sahur sebelum mandi junub, dan apakah hal ini memengaruhi keabsahan puasanya?

Melansir Kemenag.go.id, menunda mandi junub dan mendahulukan aktivitas lain, seperti memasak atau pekerjaan rumah tangga lainnya, hukumnya diperbolehkan. Tidak ada larangan bagi seseorang yang sedang junub untuk melakukan kegiatan seperti memasak, menyapu, atau mencuci sebelum mandi junub.

Salah satu dalil yang mendukung kebolehan ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah berada dalam kondisi junub saat fajar tiba, kemudian beliau mandi sebelum melanjutkan ibadah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa menunda mandi junub untuk melakukan aktivitas lain, termasuk memasak sahur, tidak berpengaruh terhadap keabsahan puasa. Namun, disarankan untuk segera mandi agar dapat melaksanakan ibadah lainnya, seperti sholat Subuh, dalam keadaan suci.

Hukum Menunda Mandi Junub untuk Memasak Sahur di Bulan Ramadan


لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا جُنُبٌ، فَأَخَذَ بِيَدِي، فَمَشَيْتُ مَعَهُ حَتَّى قَعَدَ، فَانْسَلَلْتُ، فَأَتَيْتُ الرَّحْلَ، فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ وَهُوَ قَاعِدٌ، فَقَالَ: أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هِرٍّ، فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا أَبَا هِرٍّ إِنَّ المُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ

Aku bertemu Rasulullah dan aku pada saat itu dalam keadaan sedang junub, lalu beliau menggandeng tanganku, maka aku berjalan bersama beliau sampai beliau duduk, lalu aku keluar sebentar, aku menemui seseorang, lalu aku mandi, kemudian datang dan beliau sedang duduk, lalu berkata; Kemana saja kamu wahai Abu Hir? Aku berkata kepada beliau (bahwa aku tadi junub). Maka beliau bersabda: Subhanallah, wahai Abu Hir, sesunggugnya seorang mukmin tidak najis.”

Dalam kitab Fathul Al-Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar menjadikan hadis ini sebagai dasar kebolehan seseorang menunda mandi junub dan juga kebolehan dia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, seperti memasak, pergi ke pasar, dan lainnya. Beliau berkata sebagai berikut;

وفيه جواز تأخير الاغتسال عن أول وقت وجوبه ..وعلى جواز تصرف الجنب في حوائجه

“Hadis ini menjadi dalil kebolehan mengakhirkan mandi junub dari awal waktunya dan kebolehan orang yang junub melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhannya.”

Hanya saja, meski memasak sebelum mandi besar diperbolehkan, namun jika seseorang hendak makan atau minum setelah memasak, maka dia dianjurkan untuk wudhu terlebih dahulu. Hal ini karena menurut para ulama, makan dan minum tanpa wudhu dalam keadaan junub hukumnya makruh.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان جنبا فأراد أن يأكل أو ينام توضأ وضوءه للصلاة

“Apabila Rasulullah Saw berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak salat.”


Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *