Buya Yahya Ungkap Ahli Puasa Yang Menjadi Ahli Neraka
Stylesphere – Dalam Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada sholat dan puasa, tetapi juga harus disertai dengan akhlak yang baik terhadap sesama. Seseorang bisa dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi jika perilakunya buruk, ibadahnya bisa kehilangan makna.
Banyak yang beranggapan bahwa rajin beribadah sudah cukup untuk menjamin keselamatan di akhirat. Namun, ajaran Islam menekankan bahwa hubungan dengan sesama manusia juga memiliki peran besar dalam menentukan nasib seseorang di akhirat.
KH Yahya Zainul Ma’arif, atau Buya Yahya, seorang ulama yang kerap membahas pentingnya akhlak dalam kehidupan, menyampaikan sebuah kisah dari zaman Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan hal ini.
“Ada seorang perempuan yang diceritakan di hadapan Nabi. Dia dikenal sebagai ahli ibadah—rajin berpuasa, sering bangun malam untuk sholat, dan ibadahnya luar biasa,” ujar Buya Yahya dalam kajian yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian. “Perempuan ini memang tekun beribadah, tetapi dikatakan, ‘Hanya saja, ya Rasulullah, dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya,’” lanjutnya.
Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW memberikan jawaban tegas: “La khaira fiha, tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia ahli neraka,” sabda Rasulullah SAW.
Jangan menjadi Bangkrut di Akhirat

“Ada orang yang di dunia rajin ibadah, tetapi di akhirat bangkrut. Kenapa? Karena dia banyak menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, dan semua amalnya habis untuk membayar kesalahannya kepada sesama,” ujar Buya Yahya.
Ia mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya fokus pada ibadah pribadi, tetapi juga harus memperbaiki hubungan dengan sesama.
“Jika ingin ibadah kita diterima, pastikan tidak ada orang yang tersakiti oleh lisan dan perbuatan kita,” tegasnya.
Menurut Buya Yahya, menjaga lisan adalah bagian penting dari ibadah. Banyak hadits yang menekankan bahwa siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Allah akan menjaganya dari azab.
“Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.’ Ini adalah prinsip yang harus kita pegang,” jelasnya.
Buya Yahya juga mengajak umat Islam untuk selalu introspeksi diri. Jangan sampai merasa sudah beribadah dengan baik, tetapi tetap menyakiti orang lain melalui perkataan atau perbuatan.
“Jangan sampai kita rajin sholat dan puasa, tetapi justru menjadi ahli neraka karena lisan kita sendiri,” pesannya.
Menutup kajiannya, ia mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku. Ibadah yang dilakukan dengan susah payah bisa menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan akhlak yang baik terhadap sesama.
“Mari kita perbaiki diri. Tidak cukup hanya rajin ibadah, tapi pastikan juga kita tidak menjadi penyebab kesedihan orang lain,” tutupnya.