Buya Yahya Ungkap Ahli Puasa Yang Menjadi Ahli Neraka

Stylesphere – Dalam Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada sholat dan puasa, tetapi juga harus disertai dengan akhlak yang baik terhadap sesama. Seseorang bisa dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi jika perilakunya buruk, ibadahnya bisa kehilangan makna.

Banyak yang beranggapan bahwa rajin beribadah sudah cukup untuk menjamin keselamatan di akhirat. Namun, ajaran Islam menekankan bahwa hubungan dengan sesama manusia juga memiliki peran besar dalam menentukan nasib seseorang di akhirat.

KH Yahya Zainul Ma’arif, atau Buya Yahya, seorang ulama yang kerap membahas pentingnya akhlak dalam kehidupan, menyampaikan sebuah kisah dari zaman Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan hal ini.

“Ada seorang perempuan yang diceritakan di hadapan Nabi. Dia dikenal sebagai ahli ibadah—rajin berpuasa, sering bangun malam untuk sholat, dan ibadahnya luar biasa,” ujar Buya Yahya dalam kajian yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.

Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian. “Perempuan ini memang tekun beribadah, tetapi dikatakan, ‘Hanya saja, ya Rasulullah, dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya,’” lanjutnya.

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW memberikan jawaban tegas: “La khaira fiha, tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia ahli neraka,” sabda Rasulullah SAW.

Jangan menjadi Bangkrut di Akhirat

“Ada orang yang di dunia rajin ibadah, tetapi di akhirat bangkrut. Kenapa? Karena dia banyak menyakiti orang lain, mengambil hak orang lain, dan semua amalnya habis untuk membayar kesalahannya kepada sesama,” ujar Buya Yahya.

Ia mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya fokus pada ibadah pribadi, tetapi juga harus memperbaiki hubungan dengan sesama.

“Jika ingin ibadah kita diterima, pastikan tidak ada orang yang tersakiti oleh lisan dan perbuatan kita,” tegasnya.

Menurut Buya Yahya, menjaga lisan adalah bagian penting dari ibadah. Banyak hadits yang menekankan bahwa siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Allah akan menjaganya dari azab.

“Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.’ Ini adalah prinsip yang harus kita pegang,” jelasnya.

Buya Yahya juga mengajak umat Islam untuk selalu introspeksi diri. Jangan sampai merasa sudah beribadah dengan baik, tetapi tetap menyakiti orang lain melalui perkataan atau perbuatan.

“Jangan sampai kita rajin sholat dan puasa, tetapi justru menjadi ahli neraka karena lisan kita sendiri,” pesannya.

Menutup kajiannya, ia mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku. Ibadah yang dilakukan dengan susah payah bisa menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan akhlak yang baik terhadap sesama.

“Mari kita perbaiki diri. Tidak cukup hanya rajin ibadah, tapi pastikan juga kita tidak menjadi penyebab kesedihan orang lain,” tutupnya.

Manfaat Air Kelapa Disaat Buka Puasa

Stylesphere – Selama bulan Ramadan, menjaga asupan nutrisi yang tepat sangat penting untuk mendukung tubuh tetap bugar. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tubuh membutuhkan cairan dan energi untuk kembali beraktivitas.

Air kelapa menjadi pilihan ideal untuk berbuka puasa karena kaya akan manfaat. Minuman alami ini membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang, mencegah dehidrasi, serta memberikan energi alami.

Mengutip NU Online, Kamis (20/3/2025), air kelapa mengandung elektrolit penting seperti kalium, natrium, dan magnesium yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Selain itu, air kelapa juga mengandung vitamin C, karbohidrat, dan mineral yang membantu memulihkan energi serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Mengonsumsi air kelapa saat berbuka membantu tubuh beradaptasi setelah seharian berpuasa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa air kelapa dapat mencegah dehidrasi, yang sering menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan asupan air kelapa yang cukup, tubuh tetap terhidrasi dengan baik dan lebih siap menjalani aktivitas setelah berbuka.

Manfaat Air Kelapa

Berikut beberapa manfaat air kelapa saat berbuka puasa:

  • Mencegah Dehidrasi – Kandungan elektrolit yang tinggi membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang selama puasa.
  • Meningkatkan Energi – Karbohidrat dan elektrolit dalam air kelapa memberikan dorongan energi alami setelah seharian berpuasa.
  • Menjaga Kesehatan Kulit – Antioksidan dan vitamin C membantu menjaga kelembapan serta mendukung regenerasi sel kulit.
  • Menurunkan Tekanan Darah – Kandungan kalium dalam air kelapa berperan dalam membantu menurunkan tekanan darah.
  • Meningkatkan Sistem Imun – Vitamin B serta sifat antibakteri dan antivirusnya dapat mendukung sistem kekebalan tubuh.
  • Meningkatkan Fungsi Otot – Kalium membantu menjaga fungsi otot dan mencegah kram.
  • Menyehatkan Pencernaan – Dapat membantu mengatasi gangguan pencernaan, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
  • Menetralkan Asam Lambung – Berpotensi membantu menyeimbangkan kadar asam lambung, tetapi masih perlu diteliti lebih lanjut.

Lakukan Amalan Ini Ketika Mempunyai Masalah Yang Sangat Rumit

Stylesphere – Setiap orang pasti menghadapi masalah dalam hidup, baik yang ringan maupun yang terasa begitu berat hingga tampak mustahil diselesaikan.

Dalam situasi seperti itu, banyak yang merasa buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mencoba berbagai cara, tetapi tetap tidak menemukan jalan keluar.

Pendakwah Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan bahwa ada amalan-amalan tertentu yang dapat menjadi perantara untuk mempermudah persoalan yang rumit.

“Bila Anda punya permohonan yang sulit, yang tampaknya mustahil, carilah amalan yang tidak biasa dan tidak mudah dikerjakan,” ujar UAH dalam ceramahnya yang dikutip dari kanal YouTube @bangkit_channel.

Menurutnya, kunci dikabulkannya doa adalah melakukan amalan yang jarang dilakukan oleh orang lain.

“Misalnya, saat kebanyakan orang tertidur, kita bangun untuk tahajud. Ketika orang lain menikmati makanan, kita berpuasa sunnah. Saat orang sibuk membaca berita, kita memilih membaca Al-Qur’an,” jelasnya.

Jalan Keluar

Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengutip sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang menekankan pentingnya mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣٥

Yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wabtaghû ilaihil-wasîlata wa jâhidû fî sabîlihî la‘allakum tuflihûn

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 35)

Menurut UAH, ayat ini mengajarkan bahwa setiap muslim harus meningkatkan ketakwaan dan berusaha mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar doa dan harapan mereka dikabulkan.

Seseorang yang menginginkan pertolongan Allah tidak bisa hanya diam tanpa usaha. Harus ada pengorbanan dalam bentuk amalan yang jarang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Misalnya, bagi yang menginginkan kelapangan rezeki, memperbanyak sedekah bisa menjadi jalan. Sementara itu, seseorang yang menginginkan ketenangan hati dapat meningkatkan bacaan Al-Qur’an dan memperbanyak dzikir.

Minta Dengan Tulus Hati

Bahkan dalam kehidupan para nabi dan ulama terdahulu, mereka selalu mengandalkan ibadah sebagai cara menghadapi masalah yang besar.

UAH mengingatkan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha seorang hamba yang sungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya.

Mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadah akan merasakan keajaiban dalam hidupnya, karena Allah selalu menepati janji-Nya.

Ketika doa terasa belum dikabulkan, bukan berarti Allah tidak mendengar, tetapi bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.

Kadang kala, seseorang merasa doa mereka lambat terkabul, padahal Allah sudah mengabulkannya dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat.

Oleh karena itu, UAH mengajak setiap muslim untuk terus berusaha dan tidak menyerah dalam berdoa serta meningkatkan kualitas ibadah.

Dengan begitu, setiap masalah yang datang tidak akan menjadi beban yang menyesakkan, melainkan sebagai jalan untuk lebih dekat kepada Allah.

Sebab, semakin besar ujian yang dihadapi, semakin besar pula peluang seseorang untuk mendapatkan pertolongan dan kemuliaan dari Allah.

Memahami Sholat Tahajud Dengan Lengkap

Stylesphere – Sholat tahajud adalah sholat sunnah yang penuh berkah dan dianjurkan untuk dikerjakan di sepertiga malam. Waktu terbaiknya terbagi menjadi tiga bagian: sepertiga malam pertama, kedua, dan terakhir. Dari ketiganya, sepertiga malam terakhir dianggap paling utama karena bertepatan dengan waktu mustajab, saat doa lebih mudah dikabulkan.

Sholat tahajud dilakukan setelah tidur, dan waktu pastinya bersifat estimasi, tergantung pada lokasi geografis dan perubahan waktu sepanjang tahun. Meski ada waktu-waktu utama, yang lebih penting adalah konsistensi, niat, dan keikhlasan dalam menjalankannya. Tidak ada batasan waktu yang kaku, selama dilakukan dengan kesungguhan hati.

Keutamaan sholat tahajud terletak pada kedekatannya dengan waktu mustajab, yaitu waktu di mana doa lebih mudah diterima. Setiap bagian waktu memiliki keutamaan tersendiri, namun yang lebih penting adalah konsistensi dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Tidak ada waktu yang pasti, yang utama adalah niat dan kesungguhan hati dalam beribadah.

Tiga Sepertiga Malam

Terdapat tiga waktu utama untuk melaksanakan sholat tahajud, yaitu sepertiga malam pertama, kedua, dan ketiga. Berikut penjelasan rinci mengenai ketiganya:

  • Sepertiga Malam Pertama: Waktu ini dimulai setelah sholat Isya hingga sekitar pukul 22.00. Meskipun termasuk waktu utama, beberapa sumber menyebutnya sebagai waktu yang “sangat utama” atau “utama.” Waktu ini cocok bagi mereka yang ingin melaksanakan sholat tahajud lebih awal.
  • Sepertiga Malam Kedua: Waktu ini berlangsung sekitar pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari. Banyak sumber menyebutkan waktu ini lebih utama dibandingkan sepertiga malam pertama. Waktu ini memberi kesempatan bagi mereka yang terlambat bangun setelah sholat Isya.
  • Sepertiga Malam Terakhir: Ini adalah waktu yang paling utama, dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari hingga menjelang Subuh. Beberapa sumber menekankan keutamaannya karena lebih dekat dengan waktu mustajab. Waktu ini sangat ideal bagi mereka yang ingin merasakan keutamaan sholat tahajud.

Sepertiga Malam Terakhir Yang Terpenting

Sepertiga malam terakhir dianggap waktu yang paling utama karena banyak hadits dan riwayat yang menyebutkan keutamaannya. Pada waktu ini, Allah SWT lebih dekat dengan hamba-Nya yang bermunajat, dan doa-doa yang dipanjatkan memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.

Selain itu, melaksanakan sholat tahajud pada sepertiga malam terakhir memberi kesempatan untuk lebih fokus dan khusyuk dalam beribadah. Jauh dari keramaian aktivitas sehari-hari, waktu ini memberikan ketenangan batin yang mendalam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, perlu diingat bahwa keutamaan sholat tahajud tidak hanya terletak pada waktu pelaksanaannya. Niat yang ikhlas dan kesungguhan hati dalam beribadah jauh lebih penting daripada sekadar memilih waktu.

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam

Stylesphere – Sering kali, tanpa disadari, kita mengucapkan kalimat yang mungkin dibenci oleh Allah SWT. Mengetahui dan memahami ucapan yang tidak disukai Allah adalah langkah penting dalam memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, terdapat petunjuk tentang ucapan yang harus dihindari agar terhindar dari murka Allah. Dengan memahami hal ini, kita dapat lebih bijak dalam berbicara dan senantiasa menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain.

Ucapan yang Dibenci Allah
Salah satu kalimat yang paling dibenci oleh Allah adalah ucapan yang mencerminkan kesombongan dan penolakan terhadap nasihat.

Ucapan seperti ini tidak hanya melukai perasaan orang lain yang berniat baik, tetapi juga mencerminkan sikap yang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa menjaga lisan dan perilakunya agar terhindar dari perkataan yang tidak diridhai oleh Allah SWT.

Menjaga Lisan sebagai Bentuk Ketaqwaan
Menjaga lisan bukan sekadar etika dalam pergaulan, tetapi juga merupakan bagian penting dari ketakwaan kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa perkataan seseorang mencerminkan keimanan dan akhlaknya.

Untuk memahami lebih dalam larangan tentang ucapan yang dibenci Allah, kita akan menelusuri hadits dan ayat Al-Qur’an yang relevan. Dengan begitu, kita bisa lebih berhati-hati dalam berbicara dan menghindari ucapan yang sia-sia serta menyakiti orang lain.

Marilah kita bersama-sama belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik dengan menjaga lisan dan memilih kata-kata yang membawa kebaikan.

Kata Yang Dibenci Allah

Kalimat yang dibenci Allah SWT adalah perkataan yang mengandung kesombongan dan keangkuhan, terutama ketika seseorang menolak ajakan untuk berbuat kebaikan dan bertakwa kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam buku “Hijrah Dahulu, Istikamah Kemudian” karya Hendra Bakti (2019).

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa salah satu kalimat yang paling dibenci Allah adalah ucapan yang menunjukkan kesombongan, terutama saat seseorang menolak nasihat untuk bertakwa.

Hadits tentang Kalimat yang Dibenci Allah
Dalam hadits riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan An-Nasa’i dalam Al-Yaum wa al-Lailah, yang disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah, Rasulullah SAW bersabda:

إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل اتق الله، فيقول عليك بنفسك

Artinya: “Kalimat yang paling dibenci Allah SWT adalah ketika seseorang menasihati temannya dengan mengatakan ‘Bertakwalah kepada Allah’, namun temannya justru menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri.'” (HR. Baihaqi dan An-Nasa’i)

Hadits ini menjelaskan dengan jelas bahwa Allah SWT sangat membenci sikap sombong, terutama ketika seseorang menolak nasihat kebaikan.

Jika seseorang diingatkan untuk bertakwa kepada Allah, tetapi ia malah menjawab, “Urus saja dirimu sendiri,” maka hal itu menunjukkan kesombongan dalam dirinya. Sikap seperti ini menghalangi seseorang dari kebaikan dan bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk saling menasihati dalam kebenaran.

Pentingnya Saling Menasihati dalam Islam
Allah SWT telah menegaskan dalam Surat Al-‘Asr ayat 3, bahwa orang-orang beriman harus saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Oleh karena itu, seorang Muslim seharusnya menerima nasihat dengan lapang dada, bukan justru menolaknya dengan kesombongan. Sikap rendah hati dalam menerima nasihat adalah cerminan ketakwaan dan akhlak yang baik, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Keistimewaan Malam Ganjil di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Stylesphere – Pendakwah Ustadz Khalid Basalamah menegaskan bahwa malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan harus menjadi target utama bagi setiap orang beriman. Pada malam-malam ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih giat beribadah kepada Allah SWT.

Sebagian besar umat Muslim memilih untuk melaksanakan i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dalam durasi tertentu, baik siang maupun malam, guna mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah SAW sendiri lebih banyak menghidupkan malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan dengan ibadah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah SAW memasuki sepuluh terakhir (Ramadan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamul lail), membangunkan keluarganya, serta mengencangkan sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih fokus beribadah)’.” (HR. Muslim, No. 1174)

Apa Keistimewaan Malam-Malam Ganjil di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan?


Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa di antara malam-malam tersebut, terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

“Allah menurunkan dalam surah Al-Qadr di dalam Al-Qur’an yang berbunyi (artinya), ‘Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.’ Atau setara dengan 83 tahun plus 4 bulan ibadah,” ujar Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Jumat (14/3/2025).

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil, dengan harapan mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.

Keistimewaan Lailatul Qadar, Ibadah Senilai Seribu Bulan

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa, di mana pahala ibadah yang dikerjakan pada malam tersebut dilipatgandakan.

Sebagai contoh, jika seseorang mengucapkan “Subhanallah” bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka pahalanya setara dengan mengucapkan kalimat tasbih selama seribu bulan, atau 83 tahun dan 4 bulan.

“Mungkin ada di antara kaum Muslimin yang belum bisa mencapai usia 80 tahun. Namun, jika ia melewati malam itu dan sempat beribadah, seperti berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berbakti kepada orang tua, atau sholat malam, maka semua itu akan dicatat pahalanya setara dengan seribu bulan,” tutur Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Jumat (14/3/2025).

Jangan Lewatkan Kesempatan Emas Lailatul Qadar


Karena keutamaannya yang luar biasa, Ustadz Khalid berpesan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia mengajak kaum Muslimin untuk meningkatkan ibadah di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama dengan melakukan i’tikaf di masjid.

Bagaimana Jika Tidak Bisa I’tikaf di Masjid?


Lantas, apakah seseorang tetap bisa mengejar Lailatul Qadar jika tidak bisa beri’tikaf di masjid? Simak penjelasannya di bagian berikutnya.

Tidak Bisa I’tikaf? Tetap Kejar Lailatul Qadar di Mana Pun

Ustadz Khalid Basalamah menegaskan bahwa i’tikaf di masjid bukan satu-satunya cara untuk mengejar Lailatul Qadar. Bagi Muslim yang belum bisa beri’tikaf, tetap bisa mendapatkan keberkahan malam istimewa ini dengan memperbanyak ibadah di mana pun.

“Kalau Anda tidak bisa i’tikaf di masjid, Anda tetap bisa memperbanyak ibadah, sibuk di rumah, di jalanan berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau mendengarkan majelis ilmu. Dengan begitu, Anda dapat menutup Ramadan dengan amal-amal yang baik,” ujar Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Jumat (14/3/2025).

Lailatul Qadar Hanya Terjadi Sekali dalam Setahun


Ustadz Khalid menjelaskan bahwa Lailatul Qadar hanya terjadi sekali dalam setahun, dan waktu pastinya dirahasiakan oleh Allah SWT. Malam ini bisa jatuh pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan, dan setiap tahunnya bisa berbeda.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih giat beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan, serta meniatkan dalam hati agar Allah SWT memudahkan mereka mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.

“Oleh karena itu, di sepuluh terakhir Ramadan, dianjurkan semua Muslim untuk lebih giat beribadah dan meniatkan dalam hati. Semoga Allah mudahkan kita mendapatkan Lailatul Qadar,” pesan Ustadz Khalid.

Ini Dia Jadwal Untuk Membaca Qunut Witir

Stylesphere – Banyak Muslim melaksanakan sholat Witir di awal waktu saat bulan Ramadan, yakni setelah sholat Isya dan Tarawih. Hal ini berbeda dengan hari-hari biasa, di mana sholat Witir sering dijadikan sebagai penutup sholat malam.

Menurut Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), sholat Witir tidak harus selalu dilakukan setelah menunaikan sholat-sholat malam. Witir boleh dikerjakan lebih awal, kemudian seseorang tetap dapat melaksanakan sholat sunnah lagi jika bangun di malam hari.

“Jangan seperti sebagian orang yang salah paham. Dipikir sholat Witir adalah sholat penutup dan kalau bangun malam gak boleh sholat lagi. Itu salah paham,” jelas Buya Yahya, dikutip dari YouTube Al Bahjah TV, Kamis (13/3/2025).

Buya Yahya menegaskan, jika seseorang sudah sholat Witir sebelum tidur, lalu ia terbangun di malam hari, maka boleh melaksanakan sholat sunnah sebanyak yang diinginkan.

“Jadi, kalau Anda sudah Witir di awal waktu sebelum tidur, kemudian tertidur dan bangun, boleh sholat (sunnah) sebanyak-banyaknya,” lanjutnya.

Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan
Pada separuh terakhir bulan Ramadan, sebagian Muslim membaca doa qunut dalam sholat Witir, mirip seperti qunut dalam sholat Subuh. Doa qunut ini dibaca saat i’tidal pada rakaat terakhir sholat Witir.

Lalu, kapan tepatnya qunut Witir separuh terakhir Ramadan mulai dibaca dan bagaimana hukumnya? Simak penjelasannya berikut ini.

Dalil Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan

Salah satu dalil yang menjadi dasar pembacaan qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di bulan Ramadan adalah perkataan sahabat Nabi (atsar) berikut:

أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان. رواه أبو داود

Artinya: “Sesungguhnya Umar Ibn Khattab mengumpulkan masyarakat untuk sholat Tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka’b. Maka beliau sholat Tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak membaca doa qunut kecuali pada separuh yang kedua (mulai malam ke-16 Ramadan hingga seterusnya).” (HR. Abu Dawud).

Kapan Qunut Witir Ramadan Mulai Dibaca?
Berdasarkan hadis ini, doa qunut Witir mulai dibaca pada malam ke-16 Ramadan. Tahun ini, malam ke-16 Ramadan jatuh pada Sabtu, 15 Maret 2025 malam.

Biasanya, petugas bilal di masjid akan mengumumkan bahwa pada rakaat terakhir sholat Witir, imam akan membaca doa qunut. Praktik ini telah menjadi tradisi di banyak komunitas Muslim, khususnya dalam mazhab Syafi’i.

Hukum Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan

Mengutip NU Online, para ulama mazhab Syafi’i menghukumi sunnah membaca doa qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di separuh akhir Ramadan.

Sebagian ulama ada yang membolehkan qunut sepanjang Ramadan, namun pendapat yang paling kuat dalam mazhab Syafi’i adalah qunut hanya dikhususkan pada separuh akhir Ramadan.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menuturkan:

ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث: في جميع السنة، وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل

Artinya: “Menurut kami, disunnahkan membaca doa qunut pada rakaat terakhir sholat Witir di separuh akhir Ramadan. Ada pula dari kalangan kami (Syafi’iyyah) yang berpendapat bahwa qunut disunnahkan sepanjang Ramadan. Sementara itu, pendapat lain menyatakan bahwa qunut dianjurkan di semua sholat sunnah, sebagaimana dalam mazhab Abu Hanifah. Namun, yang paling kuat dalam mazhab kami adalah pendapat pertama, yaitu membaca qunut hanya pada separuh akhir Ramadan.”

Dengan demikian, qunut Witir mulai dibaca pada malam ke-16 Ramadan, mengikuti pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Syafi’i.

Tiga Cara Allah SWT Mengabulkan Doa, Menurut Ustadz Khalid Basalamah

Enrutamex – Setiap Muslim tentu ingin doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Siapa yang tidak berharap ketika menyampaikan hajat-hajatnya, Allah langsung menerima dan mengabulkannya?

Pendakwah Ustadz Khalid Basalamah mengutip sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya, kecuali bagi mereka yang berbuat dosa dan memutus silaturahmi.

Ustadz Khalid menjelaskan bahwa cara Allah mengabulkan doa bisa terjadi dalam tiga bentuk:

Allah SWT segera mengabulkan doa
“Misalnya, seseorang berdoa meminta kesembuhan. Tiba-tiba ia bertemu dokter yang cocok, mendapatkan obat yang tepat, lalu sembuh. Atau seseorang terlilit utang, tiba-tiba ada yang membantunya melunasi utangnya, atau ia mendapatkan proyek yang bisa menutupi utangnya,” jelas Ustadz Khalid, dikutip dari YouTube Khalid Basalamah Official, Selasa (11/3/2025).

Allah SWT menyimpan doa tersebut sebagai pahala di akhirat
Jika doa tidak dikabulkan di dunia, Allah akan menyimpannya dan memberikan ganjaran yang lebih besar di akhirat.

Allah SWT menggantinya dengan menghindarkan dari musibah
Kadang, Allah tidak mengabulkan doa secara langsung, tetapi menggantinya dengan menghindarkan hamba-Nya dari bahaya atau musibah yang mungkin akan menimpanya.

Mendengar penjelasan ini, para Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Jika demikian, kami akan memperbanyak doa.” Nabi SAW pun bersabda, “Allah akan semakin banyak mengabulkan doa-doa kalian.”

Kesimpulannya, berdoa dengan penuh keyakinan adalah kunci, karena Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Waktu Mustajab untuk Berdoa di Bulan Ramadan

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa hadis tentang doa yang dikabulkan menunjukkan keutamaan berdoa secara umum. Namun, jika doa dipanjatkan pada waktu-waktu mustajab, maka peluang dikabulkannya akan jauh lebih besar. Salah satu waktu terbaik untuk berdoa adalah bulan Ramadan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari bulan Ramadan (semoga kita termasuk di dalamnya), dan setiap Muslim yang berdoa di bulan Ramadan, doanya akan dikabulkan.” (HR. Al-Bazzar & Ahmad)

Ustadz Khalid menekankan bahwa bulan Ramadan adalah waktu yang penuh keberkahan, sehingga umat Muslim sebaiknya memanfaatkan momen ini untuk berdoa sebanyak-banyaknya.

Lalu, kapan saja waktu-waktu mustajab untuk berdoa di bulan Ramadan? Berikut penjelasannya.

Tiga Waktu Mustajab untuk Berdoa di Bulan Ramadan

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa bulan Ramadan adalah waktu yang penuh keberkahan, di mana doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Berikut adalah tiga waktu mustajab untuk berdoa selama Ramadan:

  1. Waktu Sahur
    Waktu sahur merupakan salah satu waktu terbaik untuk berdoa, sebagaimana disebutkan dalam hadis Bukhari.

“Kata Nabi SAW, Tuhan kita Yang Mahatinggi dan Mahaberkah turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir (waktu sahur). Lalu Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan. Siapa saja yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka Aku akan ampuni,’” jelas Ustadz Khalid.

  1. Sepanjang Waktu Puasa
    Saat berpuasa, sepanjang waktu dari adzan Subuh hingga adzan Maghrib menjadi momen mustajab untuk berdoa. Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan memperbanyak doa, karena peluang dikabulkannya sangat besar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang terzalimi.” (HR. Ahmad, sanad shahih)

  1. Waktu Berbuka Puasa
    Dalam hadis hasan yang diriwayatkan Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu golongan yang doanya tidak ditolak adalah orang yang sedang berbuka puasa.

Oleh karena itu, sebelum berbuka, umat Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan berdoa kepada Allah SWT.

Semoga kita dapat memanfaatkan waktu-waktu mustajab ini dengan sebaik-baiknya untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Zakat Fitrah dan Kewajiban bagi Orang yang Berutang

Stylesphere – Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim sebagai bentuk penyucian diri dan wujud kepedulian terhadap sesama.

Secara umum, zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk makanan pokok atau sejumlah uang yang setara, dengan tujuan membantu mereka yang membutuhkan agar dapat merayakan Idul Fitri dengan kebahagiaan yang sama.

Namun, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, banyak yang merasa ragu apakah mereka tetap diwajibkan membayar zakat fitrah, terutama bagi mereka yang memiliki utang.

Pertanyaannya, jika seseorang memiliki utang yang jatuh tempo bersamaan dengan kewajiban membayar zakat fitrah, mana yang harus didahulukan?

Dalam hal ini, Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, memberikan pandangannya mengenai kewajiban zakat fitrah bagi mereka yang sedang dalam keadaan berutang.

Zakat Fitrah Menurut Buya Yahya

Buya Yahya menjelaskan bahwa zakat fitrah memiliki tujuan utama untuk membersihkan jiwa, sehingga kewajiban ini berlaku bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat, tanpa terkecuali.

“Zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan jiwa kita. Oleh karena itu, zakat ini wajib bagi semua orang, termasuk anak kecil dan orang dewasa, baik yang kaya maupun miskin. Syaratnya adalah di hari raya ia memiliki cukup makanan untuk dirinya sendiri. Jika kebutuhan hari itu tercukupi, maka wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg beras per orang,” jelas Buya Yahya, dikutip dari YouTube Buya Yahya.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa dihadapkan pada situasi sulit, seperti memiliki utang yang harus dibayar pada waktu tertentu. Dalam kondisi ini, apakah ia tetap wajib membayar zakat fitrah?

Buya Yahya menjawab, “Jika benar-benar tidak memiliki sisa harta karena harus membayar utang, maka tidak wajib membayar zakat fitrah. Namun, jika utangnya belum jatuh tempo atau ingin membayar zakat dengan berutang terlebih dahulu, itu tetap sah.”

Dengan demikian, prioritas utama adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Jika seseorang memiliki kemampuan meskipun terbatas, maka membayar zakat fitrah tetap dianjurkan, bahkan jika harus mengutang.

Penjelasan Membayar Zakat Fitrah

Islam memberikan kelonggaran bagi mereka yang ingin menunaikan zakat fitrah, meskipun sedang dalam keterbatasan finansial. Seseorang diperbolehkan meminjam uang untuk membayar zakat fitrah, asalkan tidak terbebani oleh utang tersebut.

Buya Yahya menjelaskan, “Misalnya, seseorang memiliki uang tetapi baru akan tersedia setelah hari raya. Saat ini, ia benar-benar tidak punya uang sama sekali. Jika ia ingin mengutang untuk membayar zakat fitrah, itu sah dan diperbolehkan, meskipun tidak diwajibkan,” ujar Buya Yahya, dikutip dari YouTube Buya Yahya.

Namun, bagi mereka yang benar-benar tidak memiliki apa pun pada hari raya, sehingga bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar, maka kewajiban zakat fitrah tidak berlaku baginya.

“Jika seseorang memiliki utang yang jatuh tempo dan harus segera dibayar, sementara jika membayar zakat fitrah ia tidak memiliki uang atau makanan untuk hari itu, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah,” pungkas Buya Yahya.

Kesimpulannya, zakat fitrah tetap wajib bagi yang mampu, tetapi bagi yang benar-benar tidak memiliki apa-apa, Islam memberikan keringanan. Jika ingin membayar zakat dengan cara berutang, hal itu dibolehkan dan sah, selama tidak memberatkan diri sendiri.

Apakah Boleh Pakai Bahasa Indonesia Saat Berdoa Sujud?

Stylesphere – Setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Berdoa merupakan bentuk penghambaan yang menunjukkan bahwa seseorang selalu melibatkan Allah dalam hidupnya dan menyadari bahwa tanpa-Nya, ia tidak mampu berbuat apa-apa.

Agar doa lebih mudah dikabulkan, sebaiknya memanfaatkan waktu-waktu mustajab. Berdoa pada waktu-waktu tersebut memiliki peluang besar untuk diterima oleh Allah SWT.

Salah satu waktu mustajab yang dianjurkan adalah saat sujud dalam sholat, karena pada saat itu seorang hamba berada dalam posisi paling dekat dengan Allah SWT.

Ulama kharismatik Ustadz Abdul Somad (UAS) menyarankan umat Islam untuk memperbanyak doa saat sujud terakhir dalam sholat. Mengenai bahasa yang digunakan dalam doa, UAS menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama.

“Pertama, doa berbahasa Arab. Kedua, doa yang ma’tsur (terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah). Ketiga, doa berbahasa Indonesia,” ujar UAS, dikutip dari YouTube Ngaji From Home, Senin (10/3/2025).

Menurut UAS, ulama sepakat bahwa doa yang ma’tsur boleh dibaca saat sujud dalam sholat. Sedangkan doa berbahasa Arab masih menjadi perbedaan pendapat, di mana sebagian ulama membolehkannya, sementara sebagian lainnya tidak karena dianggap dapat membatalkan sholat.

Sementara itu, doa dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain selain Arab disepakati tidak boleh dilafalkan dalam sholat, karena bisa membatalkan sholat.

Lalu, bagaimana jika seseorang tidak hafal doa berbahasa Arab? UAS menyarankan agar tetap berdoa menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dalam hati, tanpa dilafalkan secara lisan.

“Jangan khawatir doa tidak didengar Allah jika dibaca dalam hati. Allah Mahatahu,” tutur UAS.

Penjelasan Doa Menurut ustadz Syafiq Riza Basalamah

Pendakwah Ustadz Syafiq Riza Basalamah menyarankan umat Muslim untuk memperbanyak doa saat sujud dalam sholat. Menurut beliau, doa tidak harus dilakukan hanya pada sujud terakhir, tetapi boleh di setiap sujud dalam sholat.

Bahasa yang Digunakan Saat Berdoa dalam Sujud
Lalu, dalam bahasa apa sebaiknya doa tersebut dibaca?

Ustadz Syafiq menjelaskan bahwa doa yang paling utama adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun, jika seseorang tidak mengetahui doa dari sunnah, maka diperbolehkan menggunakan bahasa Arab.

Bagaimana jika seseorang tidak bisa berdoa dalam bahasa Arab? Menurut Ustadz Syafiq, sebagian ulama membolehkan doa dalam bahasa yang dipahami, seperti bahasa Indonesia.

“Kalau memang dia tidak mampu berdoa dengan bahasa Arab, maka boleh (menggunakan bahasa Indonesia). Misalnya, berdoa meminta kesembuhan: ‘Ya Allah, ana punya umi sakit, tolong sembuhkan ya Allah’,” jelas Ustadz Syafiq, dikutip dari YouTube Surau TV Official.

Namun, beliau juga menegaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini. “Sebagian ulama mengharamkan, sebagian membolehkan,” tambahnya.

Bacaan Ritual Sholat Tidak Boleh Diganti
Ustadz Syafiq menekankan bahwa bacaan ritual sholat tidak boleh diganti ke bahasa lain. Misalnya, bacaan saat sujud “Subhâna Rabbiyal A’lâ wa bihamdih” tidak boleh diubah ke bahasa Indonesia.

“Tapi jika kita sedang memohon kepada Allah selain dari bacaan wajib dalam sholat, maka diperbolehkan. Maka, bagi yang tidak mampu berdoa dalam bahasa Arab, silakan menggunakan bahasa yang dipahami,” jelasnya.

Kesimpulannya, berdoa saat sujud sangat dianjurkan, dan bagi yang tidak bisa menggunakan bahasa Arab, sebagian ulama membolehkan doa dalam bahasa yang dipahami, selama itu bukan bagian dari bacaan ritual sholat.